
Acara makan malam yang direncanakan oleh Rivan di restoran mewah berjalan dengan lancar. Dan dia telah berhasil mengembalikan senyum cerah Tiara. Terlihat wajah Tiara yang sudah bisa tersenyum seperti biasanya dan kini wajahnya terlihat tenang dan lebih cerah dari sebelumnya yang sangat susah tersenyum.
Bukan hanya senyuman Tiara saja yang sudah kembali lagi, terlihat Tiara sudah kembali berbicara banyak. Seolah dia benar benar telah melupakan kejadian kemarin malam dimana Bella yang sekali lagi datang ke rumah mereka menggoda Rivan dan berusaha menghancurkan rumah tangga mereka.
Tentu saja hal itu membuat Rivan sangat senang akhirnya bisa melihat wajah istrinya yang kembali ceria seperti sebelumnya. Dan masih ada satu misinya untuk memberikan kejutan yang spesial untuk Tiara. Dan dia berharap kejutan yang akan dia berikan kali ini bisa membuat istrinya semakin bahagia.
" Makasih ya mas, kamu udah ngembaliin mood aku jadi lebih baik" saat ini mereka berdua sedang berada di dalam mobil setelah selesai makan malam.
" Sama sama, sayang. Aku akan melakukan apa saja untuk bisa melihat senyuman istri cantikku ini" sahut Rivan dengan senyum di bibirnya yang sedari tadi tidak pernah hilang.
Rivan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang dan sudah lima belas menit berlalu. Tiara mengalihkan pandangannya ke arah kaca samping mobil dan dia baru menyadari jika Rivan mengemudikan mobilnya ke arah yang berbeda menuju rumah mereka. Sebelum memutar lebih jauh nantinya, Tiara harus memberitahu terlebih dulu pada suaminya
" Mas, ini bukan arah ke rumah kita loh?!" ucap Tiara dengan wajah yang kebingungan
" Masa, sih" sahut Rivan dengan pura pura tidak tak tahu sambil mengetuk ngetuk kemudi yang dipegangnya.
Tiara langsung mencubit pinggang Rivan dengan kesal. " Jangan bercanda deh, mas" kata Tiara melihat wajah Rivan dengan kesal, masih sempat sempatnya suaminya itu bercanda saat seperti ini. " Kamu mau kita kemana lagi sih, mas? Ini tuh udah hampir tengah malam banget loh, mas" lanjutnya masih dengan raut wajah yang kesal tapi penasaran dengan sikap suaminya.
Saat ini waktu memang sudah menunjukkan pukul setengah 11 malam. Itu dikarenakan tadi mereka berangkat ke restoran juga sudah terlalu malam. Alhasil mereka keluar dari restoran hampir tengah malam dan untungnya restoran yang mereka kunjungi tadi memang buka sampai jam 11 malam.
" Aku mau kasih kejutan lagi buat kamu, sayang" jawab Rivan dengan senyum yang merekah.
" Kamu mau ngasih kejutan apalagi sih, mas?" tanya Tiara semakin kesal dengan sikap suaminya yang selalu memberikan kejutan tak terduga untuk dirinya. Entah itu kejutan yang membahagiakan ataupun kejutan yang membuat moodnya buruk.
" Kamu tuh sudah terlalu sering kasih kejutan buat aku, mas. Jangan sampai kejutan kali ini bikin mood aku tambah jelek ya, mas!" lanjut Tiara seperti sebuah ancaman.
" Aku pastikan kejutan kali ini akan membuat mood kamu semakin lebih baik, sunshine" sahut Rivan memegang tangan Tiara untuk meyakinkannya, tapi dia masih belum ada niat untuk memberitahukan kejutan yang akan diberikan untuk Tiara.
__ADS_1
Kali ini tidak ada percakapan lebih lanjut, hanya sayup sayup suara musik yang terdengar.
Tiara sudah tidak ingin bertanya lebih lanjut soal kejutan yang akan diberikan oleh suaminya. Karena dia yakin suaminya tidak akan pernah memberitahu semuanya sebelum kejutan itu ada di depan mereka. Dia hanya bisa meyakinkan hatinya bahwa suaminya pasti tidak akan mengecewakan dirinya.
Rivan sendiri fokus menyetir dengan sebelah tangannya yang terus menggenggam tangan Tiara untuk terus meyakinkannya tanpa mengatakan apapun lagi. Dia berharap mobil mereka segera sampai di tempat tujuan sehingga dia bisa melihat reaksi yang akan ditampilkan oleh istrinya melihat kejuatan yang dia berikan.
Mobil mereka masuk ke dalam sebuah kawasan perumahan elit dengan penjagaan yang cukup ketat. Rivan segera membawa mobilnya masuk ke dalam kawasan perumahan tersebut setelah melewati penjagaan pos keamanan.
Setelah melewati beberapa rumah mewah di kawasan perumahan tersebut, Rivan menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah dengan pagar yang menjulang tinggi. Rivan segera memasukkan mobilnya setelah pintu pagar dibuka oleh seorang penjaga rumah.
Tiara hanya bisa diam sambil menatap rumah yang ada di depan matanya. Rumah tersebut tidak kalah mewah dan besar daripada rumah yang saat ini mereka tempati. Rumah tersebut berlantai 2, tapi halamannya lebih luas daripada rumah mereka.
" Ini rumah siapa, mas?" tanya Tiara yang heran dengan kelakuan suaminya yang berkunjung ke rumah orang di waktu tengah malam seperti saat ini.
Rivan langsung mematikan mesin mobilnya setelah mobilnya berhenti tepat di depan rumah tersebut. " Ini rumah baru kita, sayang" jawab Rivan dengan senyum merekah.
Tiara membulatkan matanya dan menatap wajah suaminya tidak percaya. " Mas, jangan bercanda deh..." tepis Tiara masih belum yakin.
" Aku serius, sayang" jawab Rivan dengan tegas. " Yuk, masuk" ajaknya.
Rivan keluar dari mobil diikuti oleh Tiara yang belum bisa mempercayai ucapan suaminya meskipun sudah dijawab dengan tegas. Rivan menggandeng tangan Tiara dan membawanya masuk ke dalam rumah tersebut. Sejenak Tiara terpesona dengan keindahan di dalam rumah tersebut.
" Mas... kita kan udah ada rumah, kenapa beli lagi sih?" protes Tiara dengan keras sambil menggelengkan kepalanya.
Rivan tau jika dia membeli rumah terkesan pemborosan apalagi mereka sudah punya rumah. Meskipun uangnya lebih dari cukup untuk membeli rumah tersebut. Tapi dibalik itu semua ada alasan kuat kenapa Rivan memutuskan untuk pindah dari rumah mereka yang sekarang.
Rivan merasa tidak nyaman lagi tinggal di rumah yang sekarang mereka tempati. Karena Bella yang sudah tau rumahnya dan beberapa kali datang ke rumah mereka meneror tak kenal waktu. Rivan tidak mau kedatangan Bella sampai berpengaruh pada keharmonisan rumah tangganya yang baru saja dia jalani bersama Tiara.
__ADS_1
" Ini nggak ada hubungannya sama Bella kan, mas?" tebak Tiara.
Padahal dirinya sudah merasa nyaman tinggal di rumah yang sudah mereka tempati saat ini. Terlebih rumah mereka berdekatan dengan rumah utama dan juga rumah Vani. Dimana kalau dirinya merasa kesepian, kapan saja dia bisa berkunjung ke rumah utama atau ke rumah Vani. Meskipun sebenarnya Vani yang lebih sering datang ke rumah mereka.
Tanpa sadar Rivan meremas tangan Tiara dan rahangnya mengeras. Nama Bella masih membawa sedikit efek kesal di hati Rivan. Seolah nama itu adalah nama terlarang untuk disebutkan.
Dapat Tiara lihat dengan jelas ekspresi suaminya dan dia rasakan juga remasan tangan Rivan. Bukannya merasa kesakitan, Tiara diam diam justru tertawa kecil. " Serius, mas?" tanya Tiara masih berusaha menahan tawanya.
Rivan langsung melonggarkan remasan tangannya begitu tersadar dengan candaan istrinya. " Maaf....sakit ya?" Rivan langsung mengusap usap pergelangan tangan Tiara dan yang tadi dia remas dengan kuat.
Tiara langsung menggeleng dengan pasti dan Rivan menghembuskan nafasnya dengan berat karena tanpa sengaja menyakiti istrinya.
" Biar aman dan nggak diteror kayak penagih hutang, sayang...." seloroh Rivan dan kini dia sudah bisa bersikap santai.
" Iya.... tapi nggak harus pindah kayak gini kan bisa, mas" Tiara mencoba memberi saran pada Rivan.
Karena menurut Tiara, rumah yang mereka tempati saat ini sudah begitu banyak kenangan manis yang mereka rasakan. Sayang sekali kalau harus mereka tinggalkan dan pindah ke tempat yang baru. Ya, meskipun nantinya sewaktu waktu mereka masih bisa berkunjung ke sana.
" Mau menghindar terus menerus kayak apapun, Bella pasti akan datang lagi, sayang. Dan itu pasti akan mengganggu kenyamanan kita nantinya. Aku tidak akan membiarkan itu semua teyjadi, sayang" sahut Rivan dengan menyampaikan pendapatnya.
Tiara diam dan berfikir sejenak. Pasti ada sesuatu hal yang terjadi, hingga Bella terus nekat meneror Rivan dan dirinya seperti itu.
" So?" tanya Tiara dengan pertanyaan yang ambigu.
" So?" ulang Rivan yang bingung dengan pertanyaan yang dilontarkan istrinya.
" Jadi kenapa, mas bisa putus sama dia?" Tiara memperjelas pertanyaannya karena dia begitu penasaran dengan kisah masa lalu mereka, sampai Bella menjadi orang yang senekat itu.
__ADS_1
Tiara masih menebak dalam hatinya, alasan sebenarnya kenapa Rivan seolah menganggap Bella itu seperti kuman yang harus dihindari.
Rivan hanya bisa menghela nafas panjang lalu membuangnya dengan pelan. Mungkin ini adalah saat yang tepat memberitahu semuanya pada Tiara. Siapa Bella dan kenapa hubungan mereka bisa seperti sekarang ini.