
Mobil yang dikemudikan Rivan melaju dengan pelan menuju ke rumah pak Hendra. Karena ini adalah hari libur sudah pasti akan terjadi kemacetan di mana mana karena banyak orang yang pergi menghabiskan waktu libur mereka untuk keluar rumah bersama keluarga.
Sementara itu di dalam keluarga pak Hendra seorang wanita paruh baya yang sedang sibuk di dapur dengan acara memasaknya. Tadi siang Tiara sudah memberitahu orang tuanya bahwa dia dan suaminya akan berkunjung ke rumah mereka malam hari.
Saat mendengar kabar itu Bu Suci sangat senang dan penuh semangat pergi ke pasar untuk membeli bahan bahan untuk keperluan memasak. Dengan penuh semangatnya beliau langsung bereksperimen dengan di dapur. Kali ini beliau membuat beberapa masakan yang cukup mewah.
Setelah selesai dengan ekperimennya Bu Suci langsung menyajikan semua menu makanannya yang telah di buat di atas meja makan. Dia hanya menunggu kedatangan anak dan menantunya untuk mencicipi rasa masakan yang baru dia masak.
" Yah, Rivan dan Tiara sudah datang?" tanya bu Suci penasaran yang sedang sibuk di dapur.
" Belum, bu... paling pas makan malam mereka datangnya" jawab pak Hendra sambil membaca buku dengan tenang di ruang tamu.
Pak Hendra menutup bukunya kemudian berjalan ke dapur untuk melihat istrinya yang sedari tadi sudah sibuk sendiri di dapur. Sebelumnya pak Hendra sempat menawarkan bantuan tapi ditolak langsung oleh sang istri yang memang ingin memasak sendiri.
" Sepertinya ibu benar benar semangat banget menyambut kedatangan Tiara dan Rivan?" ucap pak Hendra tersenyum tipis sambil berdiri di sebelah meja makan.
Di sana sudah tersaji begitu banyak hidangan makan malam untuk menyambut kedatangan anak dan menantu kesayangan mereka.
" Ya iyalah, yah. Malam ini ibu masak spesial buat mereka" sahut Bu Suci yang terlihat sangat bahagia sambil membersihkan peralatan dapur yang kotor.
" Sepertinya tenaga ayah memang tidak dibutuhkan" kata pak Hendra
" Ibu sudah selesai dari tadi, yah. Ayah kembali saja ke depan dan tunggu kedatangan mereka, ibu mau beresin semuanya dulu sebelum Tiara dan Rivan datang" sahut Bu Suci dan menyuruh suaminya untuk kembali menunggu anak dan menantu mereka di depan.
Pak Hendra kembali lagi ke ruang tamu dan duduk di sofa kemudian melanjutkan lagi membaca buku yang tadi sempat dia hentikan. Tidak lama Bu Suci datang membawakan secangkir teh hangat untuk suaminya setelah beliau selesai membersihkan peralatan masak yang tadi digunakan.
Akhirnya mereka berdua menunggu kedatangan Tiara dan Rivan di ruang tamu sambil mengobrol ringan.
" Bu... yah ..." tidak lama terdengar suara Tiara memanggil kedua orang tuanya dari arah pintu depan.
__ADS_1
Bu Suci dan pak Hendra langsung saling menatap dan tersenyum. Hingga akhirnya mereka tersadar bahwa orang yang sedang mereka tunggu sudah datang. Mereka tersenyum bersama dan buru buru menuju ke pintu depan.
" Kalian kenapa lama banget naympeknya?" tanya bu Suci yang melihat kedatangan anak dan menantunya dan langsung berhambur memeluk putri semata wayangnya.
" Apa kabarnya Van?" tanya pak Hendra menerima uluran tangan Rivan yang mengajaknya bersalaman dan menepuk bahu kekar Rivan penuh bangga. Beliau juga tersenyum, sekali lagi rumahnya akan kembali ramai dengan keberadaan anak anak mereka.
" Alhamdulillah baik yah" sahut Rivan setelah mencium tangan kanan ayah mertuanya yang mengangguk.
" Bu ini tadi aku masak sendiri loh. Nanti ibu harus cobain gimana rasanya" Tiara menyerahkan tempat makan yang berisi lauk hasil masakannya tadi pagi. Bu Suci langsung menerimanya dengan senang hati.
" Yuk, masuk ke dalam. Wajah kalian terlihat lelah, sebaiknya kalian mandi aja dulu sana" kata pak Hendra.
Mereka berempat masuk ke dalam rumah bersama. Tiara segera mencari dua handuk dan dan tanpa sadar menarik Rivan masuk ke dalam kamar mandi bersama.
Sementara pak Hendra dan bu Suci hanya bisa menggeleng gelengkan kepala bersama melihat kelakuan putrinya. Sudah terbuang di dalam pikiran mereka bahwa Tiara dan Rivan sudah terbiasa mandi bersama. Seperti saat ini mereka tanpa rasa sungkan langsung masuk ke dalam kamar mandi bersama di rumah orang tua Tiara.
Bu Suci segera membereskan makanan yang dibawa oleh Tiara dan meletakkannya di meja makan bersama dengan menu masakan yang sudah dibuatnya. Kini masakan sudah tersaji semua dengan cantik dan begitu menggugah selera.
Seusai mandi Tiara dan Rivan duduk di meja makan berhadapan langsung dengan bu Suci dan pak Hendra yang sudah duduk terlebih dahulu di hadapan mereka. Tiara dan Rivan langsung menikmati secangkir teh hangat yang sudah dicampur lemon dan madu oleh bu Suci.
" Ya ampun enak banget.... kalah deh hotel bintang lima" kata Rivan mengucap syukur setelah menikmati seteguk teh hangat buatan bu Suci.
Bu Suci langsung tersenyum bahagia sekali, dia merasa sangat dihargai oleh Rivan, si anak ketemu besar. " Kita langsung makan aja ya?" ajak bu Suci setelah dirasa seluruh keluarga sudah berkumpul semua di meja makan.
Mereka semua kompak langsung mengangguk mengiyakan ajakan bu Suci. Pak Hendra memulai terlebih dahulu mengambil nasi uduk yang masih mengepul hangat. Kemudian diikuti oleh bu Suci yang tidak hanya mengambil nasi untuk piringnya sendiri, tapi juga piring Rivan dan Tiara.
" Kalian makan yang banyak, ya. Ibu bikinnya tadi banyak banget nih" menuangkan tiga sendok nasi untuk Rivan dan Tiara.
Tiara dan Rivan hanya bisa saling tatap dengan perasaan bingung. Bagaimana mereka berdua akan menghabiskan nasi yang menumpuk di piring mereka. Tapi ternyata belum ada lima menit nasi di piring mereka sudah habis setengah. Itu karena menu masakan bu Suci yang menggugah selera dan rasanya enak sekali.
__ADS_1
" Ara sudah ketemu sama orang tua kamu kan, nak Rivan?" tanya bu Suci di tengah makan malam mereka ya g diselingi dengan obrolan ringan sehingga makan malam terasa menyenangkan bagi Rivan.
" Sudah, bu" jawab Rivan.
" Sudah sungkem belum dia?" tanya bu Suci lagi sambil mengarahkan dagunya pada Tiara yang hanya bisa mengernyit.
" Sudahlah bu. Bahkan aku juga sudah ketemu sama kek Gun juga kok" kali ini Tiara yang menjawab pertanyaan ibunya sendiri. Dia tau betul akan maksud ibunya itu apakah dirinya mengerti bersikap sopan santun saat bertemu keluarga dengan besannya.
Rivan mengangguk mengiyakan saat mendapat tatapan penuh pertanyaan dari mertuanya bahwa yang dikatakan Tiara benar adanya. Pak Hendra dan bu Suci menghela nafas lega mengetahui putri mereka bisa menjaga dirinya dengan baik di keluarga mertuanya.
" Kalian tinggal bersama keluarga besar Sanjaya?" tanya pak Hendra.
" Nggak yah, kita tinggal sendiri berdua di rumah kami" jawab Rivan sambil menggeleng.
" Rumah mas Rivan, adiknya dan rumah orang tuanya itu berada dalam satu lahan yang luas banget. Seluas perumahan elit, Bu. Makanya lain kali ibu sama ayah main ke rumah, jangan sok sibuk kalau diajakin" goda Tiara.
" Iya ibu sama ayah bisa main ke rumah kami" sahut Rivan menyetujui ide istrinya. " Nanti kalau ada waktu kita makan bareng, ya. Keluarga Sanjaya sama keluarga Hendrawan" lanjut Rivan mengusulkan untuk mempertemukan keluarganya dengan keluarga istrinya suatu saat nanti.
" Ibu malu nak Rivan. Kamu kan tau ibu orangnya ceplas ceplos, Van" ucap bu Suci, dia tidak sanggup membayangkan jika dirinya bertemu dan berbicara dengan keluarga besannya yang berasal dari masyarakat kalangan atas.
" Nggak apa apalah, Bu. Bunda juga orang sama ceplas ceplos" sahut Rivan. " Apalagi kek Gun orangnya malah lebih nyeleneh lagi, sepertinya ibu bakalan cocok sama kek Gun. Iya gak, sayang?" lanjutnya dan kali ini dia minta dukungan dari istrinya untuk membenarkan kata katanya.
Tiara mengangguk membenarkan. " Iya bener, mereka semua orangnya asyik. Lalu ayah pasti bakalan cocok sama ayah Tama" ucap Tiara membenarkan ucapan suaminya.
" Yakin, bunda kamu nggak bakal risih lihat ibu bawel kayak gini? ibu kan cuma orang biasa" kata bu Suci masih berkecil hati.
" Loh, bunda juga orang biasa, bu. Bukan dari keluarga kerajaan" kata Rivan.
" Ah kamu bisa aja, Van" kata bu Suci sambil tertawa, hingga semua yang ada di sana ikut tertawa semuanya.
__ADS_1
Mereka berempat melanjutkannya makan malam mereka dengan terus saling mengobrol ringan. Hingga tidak terasa perut mereka terasa kenyang.