Suddenly Married

Suddenly Married
Bikin Aku Panas Dingin


__ADS_3

Tiara yang masih berada di dalam kamar mandi dengan tubuh yang masih polos tanpa sehelai benangpun mencoba mendengar dengan seksama ucapan suaminya yang berada di balik kamar mandi. Mendengar suara Rivan barusan membuat Tiara bertanya tanya dan bingung dengan dahinya yang mengernyit. Rivan yang biasanya bersikap tegas dan berwibawa kenapa sekarang suaranya terdengar menjadi gugup dan kaku?


" Hastjimm..." rupanya dingin juga rasanya malam malam nggak pakai baju sehabis mandi, apalagi dengan suhu kamar mandi yang lembab hingga membuat Tiara langsung terkena flu karena kedinginan.


" Mas... buruan dong... dingin nih" Tiara sudah mulai tidak sabar dengan tubuh yang menggigil dan melilitkan handuk kecil yang dia pegang,tapi hanya bisa menutupi sebagian tubuhnya saja.


Rivan menatap kamar mandi dengan wajah tak percaya. Apakah ini petunjuk lain dari Tiara, setelah sebelumnya bersikap manja pada Rivan, menggodanya dan mengajaknya bermesraan secara tanggung. Lalu sekarang ini??


Tidak! terakhir mereka bicara Tiara bilang kalau dirinya sudah siap Tiara akan langsung mengatakannya pada Rivan.


Tapi, disisi lain.... Tiara itu tipe perempuan yang memendam apa yang diinginkan, apalagi jika dia merasa tak nyaman. Jadi, bisa saja ini adalah cara Tiara untuk menyampaikan secara tidak langsung pada Rivan.


Rivan menggeleng tidak sependapat dengan pemikirannya saat ini. Dia tau siapa istrinya, dia tidak percaya bahwa baju yang dimaksud istrinya bukanlah baju yang dipegangnya saat ini. Rivan pun kembali membuka kantong belanjaan yang sama, bukannya mendapatkan baju yang lain justru Rivan mendapatkan beberapa baju yang sama dengan yang dipegangnya saat ini.


Jantung Rivan semakin berdetak semakin hebatnya saat melihat beberapa lingerie yang tak kalah seksi dengan tangan diambilnya tadi. Masih belum percaya Rivan kembali membuka kantong belanjaan yang lainnya dan kali ini mata Rivan semakin melotot, dengan nafas yang sudah naik turun melihat pemandangan yang ada di depan matanya.


Sebuah alat kontrasepsi yang terlihat baru saja dibeli.


Ini sih apalagi namanya kalau bukan petunjuk yang diberikan Tiara secara nggak langsung. Rivan sudah tidak bisa berfikir dengan benar, kali ini semua penemuannya membuat otaknya terus berfikir bahwa 'Tiara sudah siap'.


" Huaajtimm..." kembali suara flu Tiara terdengar dari kamar mandi.


Nafas Rivan semakin menderu tidak karuan membayangkan malam ini akan menjadi malam pertama mereka. Dengan perlahan Rivan berjalan ke kamar mandi dengan membawa baju lingerie yang diambilnya dari awal.


" Sayang... ini bajunya..." ucap Rivan dengan menahan seluruh gejolak yang memberontak sekujur tubuhnya untuk bisa menerobos masuk ke dalam kamar mandi. Bayangan Tiara yang akan memakai lingerie yang baru diberikannya terus berputar di bayangan Rivan.


" Makasih, mas..." ujar Tiara sambil mengambil baju yang diberikan suaminya saat pintu kamar mandi dia buka sedikit.


Awalnya Tiara yang merasa bangga dan senang dengan otak cerdiknya saat menyuruh Rivan untuk mengambilkan baju tidurnya. Tiba tiba senyum tersebut langsung menghilang ketika dia menyadari baju lingerie dengan warna peach yang diberikan oleh Rivan kini berada di tangannya.

__ADS_1


Tiara kini mematung dan salah tingkah di dalam kamar, memikirkan bagaimana caranya dia bersikap layaknya pengantin baru. Cepat atau lambat peristiwa ini akan terjadi dan tidak bisa dihindari lagi oleh Tiara.


Sebagai seorang istri, Tiara harus siap menyerahkan diri seutuhnya pada Rivan, suaminya yang sah. Rivan tidak hanya berhak atas dirinya, namun dia juga berhak untuk menikmati dirinya. Tiara semakin panik dengan pemikiran Yanga terlintas di otaknya.


Sementara itu Rivan yang masih setia berada di luar, terdengar semakin gelisah. Akmal duduk di ranjang dengan wajah menunduk dan tangannya mengusap wajahnya berusaha menahan gairahnya yang membara. Dengan resah Rivan berdiri dan berjalan mendekati pintu kamar mandi lagi, lali menggedor pintu tersebut.


" Sayang... aku rasa ada yang harus kamu jelasin ke aku..." suara Rivan terdengar bergetar karena khayalannya yang semakin liar.


Tiara yang terkejut karena gedoran Rivan di pintu membuatnya tersadar dan dia juga dapat mendengar keanehan suara Rivan yang membuatnya semakin bergidik.


" Aku..."


" Buruan, Ara!" suara Rivan langsung dengan tidak sabar, memotong ucapan Tiara yang bingung ingin menjawab apa.


Bahkan Tiara sampai melonjak kecil saat mendengar suara Rivan yang tak terduga dengan nada keras. Tiara kembali melihat lingerie yang ada di tangannya yang baru saja dia remas.


" Sebentar! ini juga lagi buru buru" sahut Tiara dengan wajah yang mulai gelisah tak tau harus mencari alasan apalagi untuk Rivan.


" Ya keluarnya jangan cepet cepet juga dong, dinikmatin dulu gitu, mas..." ucap Tiara buru buru tanpa sadar ucapannya membuat Rivan terdiam mencerna maksud dari ucapan istrinya.


Setelah sadar dengan ucapannya barusan, mata Taira langsung terbelalak hingga menepuk keras dahinya dan menutup erat mulutnya yang menganga lebar. " Nita sialan! si mesum sialan!" kutuk Tiara menahan kesal pada Nita yang menyebarkan virus celetukan mesumnya pada Tiara.


Diluar, wajah Rivan sudah memerah merasa salah tingkah. Untuk sesaat Rivan bingung menanggapi ucapan Tiara barusan.


" Tuh kan! kamu mancing aku terus kan dari tadi?! Buka, Ara! Jangan sampai aku dobrak nih pintu!" ujar Rivan dengan seru semakin tidak bisa menahan kesabarannya karena ulah Tiara yang membuatnya semakin frustasi.


" Eh, jangan! maksud aku kamu santai dulu aja di sofa bawah...." sahut Tiara mencoba membujuk suaminya agar mau keluar dari kamar mereka.


" Aku serius, Ara! buruan keluar!" paksa Rivan tidak mendengarkan alasan istrinya, dengan tangannya yang menggedor pintu kamar mandi. Bagaimana harus terus sabar, jika melihat istrinya yang menyebalkan seperti sekarang ini...?

__ADS_1


Suara Rivan terdengar begitu menyeramkan tidak ingin menambahkan kemarahan suaminya. Sebenarnya dia juga ingin segera keluar dari kamar mandi, tapi mana mungkin dia keluar dengan tubuh yang tanpa busana atau memakai lingerie yang sama sekali tidak membantu menutup tubuhnya.


" Ini sih, sama aja gak pakai baju" keluh Tiara dengan suara pelan kenapa malam ini rasanya begitu kacau dan sial sekali. " Aku di sini dulu aja, kamu kalau ngantuk tidur aja duluan, mas..." ucap Tiara mencari alasan sekaligus membujuk suaminya agar mau tidur terlebih dahulu.


" Kita sama sama tau, kalau aku udah gak bisa tidur lagi, Ara.... buruan keluar!" kembali Rivan duduk di atas ranjang sambil mengusap usap wajahnya. Nafasnya sudah semakin menderu harus menahan gairahnya serta menahan amarah dan kesalnya karena ulah istrinya yang sangat menjengkelkan.


" Ini semua karena ulah si Nita sialan, dia sengaja nukar semua belanjaan baju gue" ucap Tiara pelan, merasa geram dengan ulah sahabatnya.


Beberapa kali Tiara bersin lagi karena tubuhnya sudah semakin kedinginan, menyadari dirinya yang belum memakai baju hingga menghentikan kekesalannya.


" Ma... boleh ambilin aku baju lagi nggak?" tanya Tiara dengan ragu dengan suara yang sudah sedikit serak meskipun dia tau apa yang akan didengarnya.


" Buat apa?! buat ngambilin baju kamu yang buat aku lebih bikin aku panas dingin lagi?! Cepetan keluar, Tiara!" seru Rivan dengan menggeram dan kesabarannya mulai habis.


Tiara semakin bingung dan pusing mendengar jawaban Rivan yang sudah terlanjur emosi dan sulit diajak kerjasama.


" Aduh... gimana nih..?" ujar Tiara yang pasrah dan tubuhnya semakin menggigil.


Dilihatnya piyamanya yang sudah basah begitu juga dengan pakaian kotor yang di pakai keluar tadi juga sudah basah semua. Lalu beralih melihat lingerie yang ada di genggaman tangannya. Memakai itu atau tidak memakai pakaian sama sekali dan keluar menghadapi Rivan.


Akhirnya dengan berat hati Tiara memakai lingerie tersebut. Setelah memakainya Tiara semakin dibuat kagum dan takjub akan nyamannya bahan baju tersebut. Keseluruhan pakaian tersebut begitu lembut.


Tiara berkaca di depan cermin besar yang menampilkan keseluruhan tubuhnya. Tiara berdecak kagum pada penampilannya kali ini, meskipun panjang baju tersebut sangatlah pendek tapi menurutnya tidak masalah mengingat baju tersebut adalah baju tidur dan tidak dipakai didepan umum.


" Wah... keren juga nih baju..." ujar Tiara pelan dalam hati merasa puas.


Dia merasa tubuhnya sangat bagus dan menarik saat memakai lingerie tersebut. Dia tersenyum sendiri melihat tubuhnya yang tidak kalah seksinya dengan artis artis yang tampil di televisi. Sepertinya dia akan rela bercermin seharian dengan menggunakan gaun seperti itu.


" Tiara....!!" suara Rivan yang keras dan ketukan di pintu kamar mandi mengembalikan kesadaran Tiara. Benar juga Rivan masih setia menunggunya di luar.

__ADS_1


" Ceklek!" suara pintu kamar mandi terbuka hingga membuat kedua pasang mata bersitatap dengan intesns.


__ADS_2