
Masih dengan tubuh yang sama sama polos dan berpelukan di balik selimut. Mereka berdua seakan enggan untuk bangun dari ranjang mereka. Rivan bahkan memeluk tubuh polos Tiara dan seolah tidak ingin melepaskannya.
Kegiatan semalam seolah terekam dengan jelas di dalam otak mereka masing masing, hingga mereka terus mengingatnya.
Berulang kali Rivan menyatakan perasaan cintanya, tapi tidak sedikitpun Tiara balik membalasnya. Ada sedikit kecewa yang dirasakan Rivan saat dirinya tidak mendengar balasan cintanya.
" Semua tentang kamu membuatku gila" balas Tiara sambil mengecup dada suaminya.
" Segila apa?" tantang Rivan sambil menggoda dan dia ingin sekali mendengar perasaan istrinya saat itu juga.
Apakah Tiara juga masih belum bisa menyatakan perasaannya, sementara itu dia sudah menyerahkan tubuhnya tanpa paksaan semalaman pada Rivan? entahlah hanya Tiara yang tau apa yang dia rasakan.
" Segila..... lagi?" balas Tiara, mengulang kata yang diucapkan Rivan berkali kali semalam. Tiara seolah mereka ulang kata kata andalan Rivan saat dia meminta haknya lagi.
Rivan langsung membuka matanya lebar, dengan senyuman mengembang. Saat mengingat semalam dirinya merasa kurang saat melakukan penyatuan dengan istrinya untuk pertama kalinya. Dan tanpa merasa lelah dan puas, dia selalu bertanya 'lagi', 'lagi' entah sampai berapa kali.
Tiara yang masih berada dalam dekapan Rivan langsung mencium dada Rivan dan bergerak turun. Sontak saja membuat Rivan semakin membulatkan matanya dengan lebar oleh tindakan istrinya yang semakin nakal.
" Tiara.... aku suka kegilaan kamu, sayang" Rivan menengadah membiarkan Tiara yang mulai berani nakal menggodanya.
" Ukhh" Rivan benar benar sudah tidak mampu menahan diri lagi, setelah begitu digoda oleh istri.
Rivan membalikkan tubuh Tiara yang kembali berada dalam kuasanya dan menahan kedua tangannya ke samping kepalanya. Sementara itu Tiara bukannya merasa takut, dia justru tersenyum puas yang melihat suaminya siap menggila karena ulahnya.
" Tanggung jawab!" seru Rivan yang mencium kembali bibir istrinya yang terlihat semakin seksi menurutnya.
Kembali Rivan melancarkan aksinya melesak kuat ke dalam tubuh Tiara. Tapi setelahnya Rivan diam tanpa bergerak melihat mata sayu istrinya yang sudah diliputi oleh nafsu.
"Mas..." ucap Tiara dengan tak sabar.
" Say that you love me..." minta Rivan.
" Buruan mas..." bujuk Tiara yang geram.
" Bilang dulu, kalau kamu cinta sama aku" paksa Rivan dengan masih menggoda istrinya agar mau mengatakan apa yang ingin dia dengar
__ADS_1
Nafas Tiara mulai menderu, dia tau bahwa suaminya saat ini sedang mempermainkan dirinya. Rasanya dia sudah tak tahan dan tidak dapat berfikir lagi.
" I love you so much, Rivan!" seru Tiara yang sudah tidak tahan lagi dengan suara memohon.
Rivan tersenyum bahagia penuh kemenangan. Permohonan Tiara membuat Rivan begitu puas telah mengerjai istrinya, dan kembali menyerang Tiara tanpa ragu lagi. Dia kembali menjadi pemimpin sepenuhnya dan segera menyelesaikan kegiatan mereka.
*
*
*
Matanya langsung terbuka dengan lebar saat mengetahui jam sudah menunjukkan pukul setengah 7 pagi. Dia harus segera bangun dan bersiap siap untuk bekerja.
Rivan melihat ke samping di mana istrinya yang terlihat kelelahan sedang menutup matanya. Dalam hati ada rasa sesal dan kasihan, karena dirinya yang terus menyerang Tiara tanpa ampun bahkan dia meminta lagi dan lagi hingga mereka melakukannya beberapa kali.
" Dia pasti kelelahan" ucap Rivan dengan pelan, lalu mencium dahi Tiara dengan pelan agar tidak membangunkan tidur sang istri yang sepertinya sudah terlelap dalam tidurnya.
Rivan menyelimuti tubuh polos istrinya dengan selimut tebal. Lalu Rivan bergerak perlahan turun dari ranjang dan langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah sangat lengket karena semalaman dirinya seolah bermandikan air keringat.
Rivan segera keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang melilit di pinggang kebawah di atas lutut. Serta handuk kecil yang berada di bahunya untuk mengeringkan rambutnya yang masih basah oleh air. Tadi dia belum sempat mengambil baju kerjanya.
" Mas..." rupanya Tiara terbangun saat Rivan menutup pintu kamar mandi dan mencium aroma wangi sabun mandi dan sampo yang digunakan oleh suaminya.
Rivan langsung menoleh dan tersenyum melihat istrinya yang sudah membuka matanya. " Kamu sudah bangun sayang?" tanya Rivan.
Rivan berjalan menghampiri istrinya yang masih tiduran dengan malas di atas ranjang. Tiara melihat wajah segar suaminya yang selesai mandi dengan tetesan air dari rambut cepaknya membuat suaminya tersebut terlihat sangat tampan. Apalagi bau wangi dari tubuh Rivan yang begitu menggoda.
" Hemmm..." jawab Tiara hanya dengan bergumam sambil mengangguk pelan. Tubuhnya saat ini serasa remuk redam dan terasa sakit semua.
" Kamu pasti lelah, sebaliknya istirahat dan nggak usah berangkat ke butik" ucap Rivan yang sudah duduk di atas ranjang dan mencium dahi Tiara.
Tiara mengangguk pelan dengan senyum tipis menghiasi bibirnya, memang dirinya sepertinya tidak akan sanggup untuk pergi berangkat bekerja dengan tubuhnya yang terasa sakit seperti sekarang ini.
" Aku siap siap dulu" kembali Rivan mengecup bibir Tiara sekilas dan bangkit dari duduknya.
__ADS_1
Tiara yang melihat punggung suaminya terdapat beberapa bekas cakaran membuat matanya membelalak. " Mas... auhh" Tiara memanggil Rivan dan berniat bangun dari tidurnya, tapi tiba tiba dia mengaduh sakit.
Sementara Rivan yang memang masih belum jauh berjalan langsung terkejut saat mendengar istrinya yang memanggilnya kemudian kesakitan.
" Kamu kenapa, sayang ?" kembali Rivan menghampiri istrinya dan duduk di sebelah istrinya yang terlihat menahan sakit. " Apa ada yang sakit?" lanjut Rivan yang melihat Tiara menggigit bibir bawahnya seperti menaham sakit, dan dia langsung membantu istrinya untuk duduk dan bersandar di kepala ranjang.
" Gimana, masih ada yang sakit?" tanya lagi Rivan dengan khawatir.
" Aku gak pa pa mas" jawab Tiara kemudian setelah punggungnya menyandar dengan sempurna. " Apa ini sakit?" tanya Tiara yang berusaha memegang bahu serta punggung suaminya dengan tangan satunya memegang selimutnya agar tidak melorot dari tubuh polosnya.
Rivan mencoba melihat ke arah punggungnya yang tidak dapat dia lihat, tapi kini dia tau apa maksud pertanyaan istrinya. Tadi dia juga sempat melihat di cermin saat merasakan punggungnya sedikit perih saat terkena air hangat dan ternyata itu semua adalah ulah dari istrinya.
Rivan tersenyum lalu membelai wajah istrinya yang terlihat mengkhawatirkan dirinya. " Ini gak seberapa dengan rasa sakit yang kamu rasakan semalam, sayang" jawab Rivan.
Tiara akhirnya bisa bernafas lega, tadinya dia begitu khawatir suaminya kesakitan karena punggungnya yang dipenuhi oleh bekas cakarannya.
" Sakitnya tidak seberapa dengan apa yang kamu berikan untukku" ucap Rivan. " Ini sudah siang, aku siap siap dulu ya" lanjutnya yang langsung diangguki oleh Tiara.
Rivan langsung bersiap siap di walk in closed. Dan tidak lama dia keluar lagi dan dilihatnya sang istri masih setia duduk di atas ranjang sambil memegang ponsel.
" Kamu sudah mau berangkat, mas? nggak sarapan dulu?" tanya Tiara yang melihat suaminya sudah rapi.
" Nanti aku sarapan di kantor aja" jawab Rivan.
" Aaahhh..." tiba tiba Tiara berteriak, rupanya Rivan langsung mengangkat tubuh polos istrinya.
" Kamu ini apa apaan sih, mas!" seru Tiara dengan wajah kesalnya, yang langsung menutup aset berharganya karena selimut yang menutupinya merosot begitu dia digendong oleh Rivan.
" Hehe... kamu gak perlu malu, aku sudah melihat semuanya semalam, sayang" ucap Rivan sambil menggeleng melihat kelakuan istrinya yang menahan malu. " Tubuh kamu masih sakit, kamu harus berendam dan mandi agar kembali segar dan tubuh kamu nggak akan sakit lagi" lanjutnya langsung membawa tubuh Tiara masuk ke dalam kamar mandi.
Dengan pelan Rivan meletakkan tubuh polos istrinya ke dalam bathtub yang masih kosong. Dia segera menyalakan air hangat untuk mengisi bathtub agar istrinya bisa berendam di sana.
" Sekarang kamu berendam, biar tubuh kamu lebih segar. Aku berangkat kerja dulu" ucap Rivan kemudian mencium seluruh wajah istrinya.
Tiara mencium tangan kanan suaminya seperti biasanya saat mereka akan memulai aktifitas masing masing. " Terima kasih, mas. Hati hati di jalan, jangan lupa nanti sarapan" ucap Tiara sebelum suaminya pergi meninggalkan dirinya.
__ADS_1
Rivan tersenyum dan mengangguk dengan cepat. " Aku pergi dulu" pamitnya kemudian langsung keluar dari kamar mandi dan meninggalkan istrinya untuk beristirahat di rumah. Tiara menatap tubuh suaminya yang pergi keluar dari kamar mandi dan mulai merilekskan tubuhnya di bathtub.