
Mereka berdua telah selesai dengan acara makan siang bersama, sesuai dengan permintaan Tiara. Dan Tiara juga sudah menyampaikan maksud dan tujuannya mengajak Rivan bertemu sekaligus makan siang bersama.
Dan beruntungnya Rivan sudah menyetujui apa yang tadi dia katakan. Dan sebentar lagi setelah pertemuannya dengan Rivan selesai, dia akan langsung menemui orang yang sudah membuat janji dengan Tiara untuk memenuhi tanggungannya selama ini.
" Sepertinya jam istirahat kamu sudah hampir habis, mas" ucap Tiara sambil melihat jam tangan yang melingkar sempurna di pergelangan tangannya. Dia ingin beranjak dari duduknya dan mengajak Rivan untuk segera pergi dari restoran tersebut.
Tapi Rivan masih setia duduk di tempatnya seolah tidak ada niatan untuk pergi dari sana. Rivan juga langsung menghentikan Tiara yang ingin beranjak dari duduknya.
" Tunggu dulu, sayang. Masih ada satu pertanyaan yang harus kamu jawab" ucap Rivan sebelum mengajak Tiara pergi dari restoran tersebut.
Tiara yang sudah berdiri dari duduknya langsung menoleh dan dilihatnya Rivan masih setia duduk di tempatnya. Tanpa ada yang menyuruh Tiara langsung kembali duduk dan menatap suaminya yang sedari tadi menatapnya.
" Apa?" tanya balik Tiara yang sudah duduk dengan tenang di tempatnya semula, tapi dengan kedua alisnya yang berkerut tajam merasa bingung dengan ucapan Rivan.
" Kalau uang itu bukan untuk membelikan hadiah kakek. Lalu kamu ingin menggunakan uang itu buat apa?" tanya Rivan penuh selidik dan penasaran.
Dia ingin istrinya selalu terbuka dan mengatakan semua masalah yang terjadi dalam hidupnya pada Rivan. Begitu juga sebaliknya, karena sekarang mereka adalah suami istri, jadi tidak ada satu hal pun yang harus ditutupi dari pasangannya.
Pertanyaan itu sukses membuat Tiara langsung terdiam tanpa bisa berkata lagi dan menatap wajah suaminya dengan cemas. Dia bingung apa yang harus dia lakukan saat ini, apa dia harus berkata jujur atau berusaha menutupinya.
Melihat reaksi Tiara yang tidak menyahut ataupun mengatakan apa yang sedang terjadi membuat Rivan yakin bahwa memang ada sedikit masalah yang sedang dihadapi istrinya saat ini. Makanya dia akan dengan sabar sekaligus mendesak istrinya agar mau mengatakan semua padanya.
" Sayang.... kita sudah menjadi suami istri, sudah seharusnya kita saling berbagi, entah itu dalam keadaan suka ataupun duka" ucap Rivan dengan pelan namun penuh dengan penekanan.
" Aku ini suami kamu, apa kamu masih belum bisa mempercayai aku untuk menjadi teman berbagi kamu?" tanya Rivan sekali lagi dengan wajah sendu karena merasa dirinya belum bisa mengambil hati istrinya untuk bisa mempercayai dirinya.
Tiara mendesah pelan dengan raut wajahnya yang sedih saat melihat wajah sendu suaminya. Tiara ikut merasa bersalah dengan apa yang dirasakan oleh suaminya.
Dia masih merasa bingung dan ragu ragu bagaimana dia harus mengatakan semuanya pada Rivan. Dirinya juga takut jika dia mengatakan semuanya, maka Rivan akan berfikir buruk tentangnya.
Tapi jika dia tidak mengatakan semuanya bisa dipastikan Rivan akan marah dan merasa dirinya tidak dihargai sama sekali sebagai seorang suami. Sepertinya Tiara memang harus mengatakan semuanya pada Rivan dan apapun yang kan dipikirkan oleh Rivan itu adalah haknya.
" Sebenarnya... aku..." ucap Tiara dengan terbata. Rivan diam mencoba mendengarkan dengan seksama setiap kata yang diucapkan istrinya tanpa ingin menyela.
__ADS_1
Sekali lagi Tiara menghirup udara bebas dengan pelan. " Uang itu... mau aku pakai untuk... membayar kontrak toko bajuku" ucap Tiara dengan suara pelan, menghembuskan nafasnya.
Rivan mengerutkan kedua alisnya dengan tajam. " Toko baju kamu di mall ini?" tanya Rivan yang mengetahui bahwa istrinya memiliki butik dan juga toko yang ada di mall yang sama dengan restoran tempat mereka makan siang saat ini.
" Iya, mas" jawab Tiara dengan kepala mengangguk. Dia sudah tidak peduli lagi dengan pikiran buruk Rivan tentang dirinya lagi.
Rivan menganggukkan kepalanya pelan namun berkali kali dan tidak lama terbit senyuman tipis di bibirnya, entah apa yang yang membuatnya tiba tiba tersenyum.
" Baiklah, gunakan uang itu untuk membayar kontrak toko kamu, sayang" ucap Rivan dengan senyum yang menenangkan.
Mata Tiara langsung membuka lebar kala mendengar ucapan suaminya yang langsung mengijinkan dirinya memakai uang tersebut dengan mudahnya. " Beneran? aku boleh menggunakannya?" tanya Tiara ingin memastikan.
" Hemm..." jawab Rivan hanya dengan bergumam dengan bibir tersenyum dan kepalanya mengangguk penuh keyakinan.
Tiara sangat senang dan bahagia akhirnya permasalahan yang sedang dihadapinya bisa diselesaikan. Kini dia mulai mengerti bahwa mulai sekarang dia harus bisa lebih terbuka pada Rivan dan lebih percaya padanya bahwa suaminya itu adalah orang bisa dipercaya dan tidak akan pernah mengecewakan dirinya.
" Yuk, sayang" ajak Rivan yang sudah berdiri dari duduknya dan memberikan tangannya pada Tiara.
Tiara langsung ikut berdiri dan menerima uluran tangan suaminya. Rivan langsung menggenggam tangan tersebut dengan erat dan mengajaknya untuk keluar dari restoran tersebut.
" Kamu mau pulang langsung atau ke toko dulu?" tanya Rivan saat mereka berjalan menuju ke tempat parkir.
" Aku mau nemuin manajer dulu untuk melakukan pembayaran, mas" jawab Tiara.
Kepala Rivan beberapa kali mengangguk pelan tanda mengerti. " Ya udah, gimana kalau kamu tunggu aja di toko, nanti pulang dari kantor aku langsung jemput kmu di sini?" tanya Rivan.
" Hemm... baiklah, aku tunggu kamu di sini ya" sahut Tiara tidak lama berfikir. " Aku juga bingung di rumah mau ngapain kalau nggak ada kamu" lanjut Tiara.
Baru pertama kali ini Tiara berada di rumah suaminya, dan dia merasa bingung ingin melakukan kegiatan apa. Mau olah raga atau lari di atas treadmill paling lama hanya satu jam aja, setelah itu bingung mau ngapain lagi. Apalagi tidak ada Rivan di rumah yang bikin Tiara kesepian meskipun ada bik Yanti dan Ani, asisten rumah tangga mereka.
" Ya udah... nanti aku jemput kamu di sini, ya" kata Rivan setelah mereka sampai di parkiran dan tepatnya di samping mobil Rivan. Tiara langsung mengangguk mengiyakan sambil tersenyum.
" Aku balik ke kantor dulu ya, sayang" ucap Rivan lalu setelah itu langsung mencium kening istrinya dengan lembut.
__ADS_1
Tiara juga langsung mencium tangan kanan Rivan sebelum akhirnya Rivan masuk ke dalam mobil dan melajukan mobil tersebut keluar dari area parkir. Tiara melambaikan tangannya sampai mobil suaminya tidak terlihat lagi.
Tiara langsung masuk ke dalam mall kembali dan kali ini dia menuju ke toko baju miliknya. Dan dia akan membuat janji temu dengan manajer yang mengurus kontrak tokonya.
Sementara itu Rivan yang sudah sampai di kantornya langsung masuk ke dalam ruangannya. Terlihat semua karyawan sudah kembali bekerja dan dirinya memang sedikit terlambat, tapi hal itu tidak menjadi masalah bagi karyawan lainnya.
Rivan langsung duduk di tempat kerjanya dan langsung mengambil ponselnya, lalu menghubungi seseorang. Dalam dua kali dering ponsel tersebut langsung terhubung dan diangkat oleh seseorang di seberang sana.
" Hallo Ridwan, ini aku Rivan" kata Rivan begitu panggilannya di terima dari seberang.
"...."
" Kamu ada janji sama toko " Ara , yang hari ini ingin melakukan perpanjangan kontrak tokonya yang ada di mall" beritahu Rivan langsung tanpa basa basi.
" ...."
" Iya, nanti kamu jangan terima uang dari dia" suruh Rivan dengan santai layaknya dia menyuruh anak buahnya saja.
"...."
" Nggak, dia bukannya diusir. Dia tetap akan menempati tokonya, tapi jangan biarkan dia membayar uang kontraknya. Karena aku sendiri yang akan membayarnya langsung sama kamu" beritahu Rivan.
" Nanti kamu cukup berikan surat kontraknya yang sudah selesai dibayar langsung sama dia, setelah ini aku akan langsung transfer uangnya ke rekening kamu" lanjut Rivan tidak ingin dibantah.
" ...."
Orang yang di seberang telepon juga tidak berani membantah ataupun menolak perintah Rivan. Dia hanya bisa menuruti apa yang sudah dikatakan oleh Rivan.
" Ingat! jangan pernah bilang atau sebut sebut namaku di depan dia. Pokoknya cari alasan lain yang tepat supaya dia tidak curiga, bagaimana dia bisa menempati tokonya secara gratis" lanjut Rivan.
" ...."
" Ya sudah, habis ini aku akan kirim uangnya" kata Rivan yang kemudian langsung menutup panggilan teleponnya tanpa menunggu sahutan dari seberang.
__ADS_1
Tanpa menunggu lebih lama lagi Rivan langsung mengirimkan sejumlah uang pada seseorang yang bernama Ridwan tersebut yang baru saja dia telepon. Setelah selesai dia langsung meletakkan ponselnya dan segera menyelesaikan pekerjaannya.