
Tiara langsung masuk ke ruangannya sendiri untuk melakukan pekerjaannya setelah menyapa beberapa karyawannya yang sedang bersiap siap untuk membuka butiknya.
Sebagai pemilik butik, Tiara bebas datang kapan saja sesuai dengan keinginannya. Dulu dia memang bisa melakukannya, tapi semenjak dia menikah dengan Rivan dia selalu berangkat lebih pagi. Ya tentu saja karena dia berangkat ke butiknya bersama dengan Rivan yang berangkat ke kantornya.
Di rumah mereka ada banyak mobil tapi Tiara sama sekali tidak ingin membawa mobil sendiri. Dia akan lebih memilih naik ojek online daripada harus menyetir sendiri. Selain itu Rivan lebih senang jika mereka berangkat bersama, menurutnya dengan begitu waktu kebersamaan mereka tidak berkurang lagi.
Saat dirinya sedang sibuk dengan pekerjaannya ponselnya yang dia letakkan di atas meja berdering. Tiara langsung melihatnya, dia mengira Rivan yang menelponnya tapi ternyata bukan.
" Hallo, Nit?" rupanya yang menelponnya sepagi ini adalah Nita. " Tumben jam segini Lo nelpon gue?" lanjutnya lagi dengan senyum tipisnya.
' Kangen gue sama Lo' jawab Nita dari seberang.
" Kangen... kangen... bilang aja Lo nelpon gue pasti ada maunya kan? sok bilang kangen segala!" kata Tiara dengan suara sewotnya tapi masih dengan menampilkan senyumannya. Tiara menyandarkan punggungnya ke belakang agar lebih santai berbicara dengan sahabatnya itu dan juga untuk merilekskan tubuhnya.
Dari seberang terdengar suara cekikikan dari Nita yang bukannya tersinggung dengan ucapan Tiara. Dia justru seneng bisa bikin sahabatnya merasa kesal dengannya meskipun dia tau kalau Tiara hanya bergurau saja. Apalagi sudah lama mereka tidak bertemu.
" By the way, jama segini Lo nggak dikekepin tuh sama si Doni?" dia penasaran biasanya kalau sahabatnya itu lagi santai di rumah selalu saja berduaan di kamar sama suaminya.
' Mas Doni lagi sibuk cari modal buat si kecil. Sekarang yang kerja kan cuma dia, Lo udah pecat gue dari butik. Lo nggak ingat?' terdengar suara tawa Nita dari seberang.
" Lo sendiri kan yang bilang mau fokus buat calon ponakan gue, malah nuduh gue yang mecat. Rese Lo!" balas Tiara dengan suara kesal tapi dia tidak kesal beneran. " Udahlah gak usah banyak omong, buruan kasih tau gue, Lo mau apa dari gue?" lanjutnya.
' Em.... hari ini Lo sibuk nggak?' tanya Nita kini dia mulai serius. ' Gue mau kontrol sekalian cek janin gue. Lo bisa nggak anterin gue?' lanjut Nita.
" Emang Doni sibuk banget apa! sampe nggak bisa anterin Lo kontrol?" tanya Tiara heran dengan suami sahabatnya yang tidak bisa meluangkan waktunya sebentar untuk melihat kondisi calon anaknya sendiri.
' Ra...' Tiara kaget, bukannya mendengar suara Nita tapi dia malah mendengar suara laki laki di teleponnya.
" Oh, iya Don" rupanya yang berbicara di seberang bukannya Nita melainkan Doni suami Nita.
' Sorry kalau ngrepotin Lo, pagi ini gue ada kerjaan penting di luar kota. Lo bisa nggak anterin bini gue kontrol?' rupanya Doni memang sibuk dengan pekerjaannya. ' Tadi gue bilang Nita buat nunda kontrolnya, nungguin gue pulang dari luar kota. Tapi dia nggak mau, ya udah gue bilang Nita boleh kontrol kalau ada yang nemenin. Dan gue lebih percaya sama Lo buat nemenin bini gue. Gimana Lo bisa nggak, Ra?' jelas Doni panjang lebar.
" Ooo.... gitu, ya udah gak masalah. Gue temenin Nita kontrol" jawab Tiara pasti.
__ADS_1
' Makasih Ra. Gue titip Nita ya' kata Doni
" Ok" jawab Tiara.
Tiara akhirnya menutup teleponnya setelah selesai berbicara dengan Nita sedikit panjang lebar setelah Doni memberikan ponsel Nita. Nita memberitahu Tiara jadwal yang sudah dia dapatkan sebelumnya dari dokter kandungannya. Dan kebetulan masih ada waktu untuk Tiara bersiap dan datang ke rumah Nita.
Sebelum dirinya berangkat ke rumah Nita, terlebih dahulu dia meminta ijin pada Rivan. Sebelumnya dia sudah ijin mau ke rumah ibunya dan sekarang dia harus nemenin Nita kontrol, makanya dia harus minta izin lagi sama Rivan. Mungkin nanti sehabis kontrol dia akan langsung ke rumah ibunya.
Rivan sudah memberi Tiara ijin, dan dia segera bersiap siap untuk pergi ke rumah Nita. Begitu sudah siap, dia memberikan tanggung jawab butiknya pada salah satu karyawannya yang sudah lama bekerja di butik untuk menjaga seharian ini.
Tiara segera naik ke dalam mobil online yang sudah dia pesan sebelumnya. Mobil tersebut langsung melaju menuju ke rumah Nita yang jaraknya lumayan jauh dari butiknya.
Tiara sudah tiba di depan rumah Nita. Perempuan yang tengah hamil itu sudah menunggu kedatangan Tiara di depan teras rumahnya sambil membaca sebuah tabloid. Tiara dapat melihat senyum bahagia menghiasi wajah cantik Nita saat menyambut dirinya yang baru saja keluar dari mobil taksi online.
" Lo makin cantik aja, Ra. Pasti Rivan ngasih kebutuhan batin Lo dengan sangat baik dan memuaskan, ya?" ledek Nita dengan pikiran mesumnya.
" Suka ngawur deh kalau ngomong!" sahut Tiara.
" Nit, jaga bicara Lo. Ponakan gue dengerin loh itu!" sahut Tiara gemas dengan kata kata yang keluar dari mulut sahabatnya.
Nita terbahak sambil mengelus perutnya dengan sayang. " Dia juga tau kalau emaknya becandanya begini, Ra" kata Nita tak mau kalah.
Mereka kemudian masuk ke dalam rumah karena Nita harus berganti baju terlebih dahulu.
" Suami Lo udah berangkat?" tanya Tiara yang mendudukkan tubuhnya di sofa ruang tamu.
" Udah, tadi selesai telepon sama Lo dia langsung berangkat" jawab Nita yang berjalan menuju ke kamarnya. " Lo kalau haus ambil sendiri aja ya, Ra. Gak usah nungguin gue layanin ya, nyonya Rivan" ledek Nita yang masuk ke kamarnya untuk mengganti bajunya.
Tiara tidak menjawab dia hanya geleng kepala melihat kelakuan calon ibu dengan sikap yang masih belum berubah.
Tak lama Nita keluar dari kamar dengan pakaian ibu hamil yang lebih rapi. Dia langsung duduk di sofa bersebelahan dengan Tiara.
" Mau naik mobil gue atau mau pesen taksi online aja?" tanya Nita.
__ADS_1
" Pesen taksi online aja ya, biar kita bisa santai" jawab Tiara yang suka malas kalau harus nyetir, karena nggak mungkin kan dia nyuruh Nita yang tengah hamil buat nyetir mobilnya sendiri.
Nita hanya mengangguk setuju, karena dia tau sahabatnya itu paling malas kalau disuruh nyetir mobil. Tiara segera memesankan taksi online di ponselnya untuk mengantarkan mereka ke rumah sakit.
"Lo tau gak, Ra. Semenjak hamil gue jadi sensitif banget, mewek mulu gue. Ampe capek sendiri" ucap Nita.
" Biasa bawaan ibu hamil, Nit. Tapi gue lihat semenjak Lo hamil, hidup Lo lebih ketata. Kalau gitu mendingan tiap taun aja Lo hamilnya" ledek Tiara kemudian ketawa.
" Sialan Lo! bikinnya sih enak enak aja, Ra. Lah ngurusinnya itu loh berat, apalagi sekarang biaya pendidikan mahal banget. Belum biaya kesehatan, tabungan masa tua pokoknya banyak deh" kata Nita yang mulai bersikap bijak.
" Hemmm...." Tiara hanya bergumam seraya mengangguk kecil setuju dengan ucapan sahabatnya.
" Kalau Lo sih enak, Ra"
" Enak kenapa ?" tanya Tiara mengerut kedua alisnya bingung.
" Gimana gak enak, Lo sih tinggal ngakang gak perlu mikir biaya pendidikan, kesehatan, tabungan semuanya aman aman aja. Lah gue! ini aja laki gue lagi mati matian kerjanya" jelas Nita.
" Enak aja! emang gue cewek apaan yang tinggal diam aja gitu?!" jawab Tiara gak terima.
" Eh emang Lo udah ada rencana mau punya anak berapa?" tanya Nita penasaran.
" Gue sih pengennya rame, mungkin tiga kali ya" sahut Tiara.
" Yah tiga mah kurang Ra. tujuh baru rame " seloroh Nita
Kemudian mereka tertawa, sesekali melihat ke arah jalan siapa tau taksi pesanan mereka sudah nyampai.
Dan tidak lama terlihat sebuah mobil berhenti di depan rumah Nita, dan setelah mastikan bahwa itu adalah mobil taksi yang sudah dipesan oleh Tiara mereka segera keluar dari rumah Nita dan masuk ke dalam mobil.
Mobil segera melaju meninggalkan komplek perumahan yang ditempati oleh Nita menuju ke rumah sakit. Dalan hati Tiara senang bisa melihat sahabatnya yang akan memiliki seorang anak.
Dia berharap dirinya segera berada di posisi seperti Nita saat ini. Selama ini dia dan Rivan sudah ingin memiliki seorang anak dan memang tidak pernah menundanya. Mereka harus sabar, pernikahan mereka juga masih seumur jagung, mungkin Tuhan masih belum yakin menitipkan seorang anak di dalam perut mereka.
__ADS_1