Suddenly Married

Suddenly Married
Kita Pulang Saja


__ADS_3

Tiara masih diam saja duduk di atas paha Rivan dengan posisi menyamping serta tangan yang melingkar di leher Rivan agar dirinya tidak terjatuh. Sementara itu tangan Rivan juga melingkari perut Tiara untuk menahan tubuh istrinya agar tidak bergeser.


Dengan posisi mereka yang seperti itu ditambah lagi suasana rooftop yang terlihat indah dan romantis membuat Rivan terbuai. Dengan cepat Rivan langsung menyambar bibir mungil Tiara yang tepat berada di depannya. Tiara juga menikmati ciuman yang diberikan oleh suaminya dan membalasnya. Mereka berdua larut dalam ciuman mesra yang lembut.


Angin malam hari yang dingin menerpa kedua insan yang selalu dimabuk cinta tersebut. Ditambah suara gemericik air terjun kolam dan beberapa lampu remang yang menerangi ruangan santai di rooftop itu menambah kesan suasana yang semakin romantis.


Tidak lama kemudian Rivan melepaskan tautan bibir mereka saat dirasa mereka butuh oksigen untuk bernafas. Namun dengan kening yang masih menempel, sehingga hembusan nafas mereka ada saling menerpa kulit wajah keduanya dengan mata yang tertutup.


" Ayah memang begitu, kalau lagi marah serem banget. Tapi kalau lagi baik, hasilnya adalah taman bunga indah sebelah itu, tanaman bunga yang subur beberapa kali memenangkan kompetisi" ucap Rivan dengan pelan.


Tiara terkejut dengan kening yang berkerut serta menjauhkan kepalanya dan melihat ke arah taman bunga yang begitu indah yang berada di hadapannya. " Loh??ini?" tanya Tiara masih belum dengan apa yang barusan di dengarnya.


" Itu rumah kaca ayah, beliau yang hobi berkebun. Nggak nyangka ya?" kata Rivan dengan senyum tipis ikut melihat rumah kaca yang dibuat oleh sang ayah.


Tidak lama kemudian Tiara tertawa terbahak bahak setelah mengetahui kenyataan yang sangat gak terduga itu. Dan saat itu Rivan langsung terpesona pada tawa lepas Tiara yang baginya begitu indah.


Dimatanya, perempuan yang sedang duduk di pangkuannya tersebut berjuta kali lipat lebih indah daripada bunga bunga indah yang tumbuh subur di rumah kaca tersebut. Entah karena bau harum bunga mawar yang semerbak atau kecantikan Tiara membuat Rivan sedikit pening di kepalanya. Seolah dirinya begitu mabuk oleh keberadaan tubuh istrinya yang begitu dekat dengannya.


" Tapi untuk kasus yang satu ini, aku yakin aku yang benar. Memburu kamu untuk segera menikah denganku itu adalah sesuatu yang benar" ucap Rivan sambil menatap wajah cantik Tiara. " Kamu adalah keputusan yang paling membuatku bersyukur" " lanjutnya dengan suara pelan tapi penuh ketegasan.


" Mas...." Tiara menatap wajah suaminya yang tepat berada di depannya dengan raut wajah yang bahagia. Kata kata Rivan membuatnya terharu karena dirinya begitu didamba oleh seorang pria yang begitu tulus mencintai dirinya apa adanya.


Setelah itu Rivan kembali mencium bibir Tiara dengan mesra. Diremasnya pinggang Tiara dengan pelan agar tubuhnya semakin menempel sempurna dengan tubuhnya.


Tiara sungguh telah jatuh cinta pada pria yang mengulum bibirnya dengan lambat dan lembut tersebut. Mereka terlihat sangat romantis dan semakin memabukkan. Rivan selalu tau bagaimana cara memperlakukan Tiara. Bunga bunga di hati Tiara pun tak kalah bermekaran dengan bunga bunga yang ada di sekitar mereka.

__ADS_1


Dengan bersama Rivan membuat Tiara semakin utuh. Begitupun Rivan merasa hidupnya semakin sempurna setelah menikah dengan Tiara.


" Mas... kita terlalu lama hilang" ucap Tiara pelan saat merasakan bibir tebal Rivan yang susah menyusuri leher Tiara dan langsung membuat Rivan menggeram lemah kala aktivitas indahnya terganggu oleh ucapan istinya.


" Sebentar lagi, sayang" ucap Rivan lemas lalu kembali menyambar bibir manis Tiara.


Tiara kalah, dia tidak bisa menahan Rivan. Tidak saat dirinya sendiri merasa terbuai dan menikmati apapun yang sedang mereka lakukan saat ini. Suara Rivan saat memanggilnya, lumayan demi lumayan yang mencuri nafas dari mulutnya. Semua terasa begitu indah dan membuatnya menginginkan momen seperti ini lagi dan lagi.


Hingga tidak lama kemudian terdengar suara ponsel Rivan yang berdering. Mereka pun melepaskan tautan bibir mereka berdua karena konsentrasi mereka buyar saat mendengar suara dering ponsel Rivan.


" Nah... sepertinya ini adalah panggilan untuk kita kembali ke bawah" ucap Rivan saat melihat pesan masuk yang ternyata dari adiknya. " Tapi... apakah kamu masih ingin di sini atau kembali ke bawah?" lanjut Rivan ingin mengetahui keinginan istrinya saat ini meskipun saat ini mereka berdua ditunggu oleh seseorang.


" Ehmmm..." Tiara rasanya masih enggan untuk pergi dari rooftop tersebut makanya dia hanya bisa bergumam tanpa menjawab.


" Apa kita sebaiknya nginap di sini?" tanya Rivan lagi, mengerti keinginan istrinya yang masih ingin menikmati udara malam di rooftop kediaman keluarga Sanjaya.


Rivan tersenyum tipis dan mengangguk mengiyakan. Tiara langsung beranjak berdiri dari atas pangkuan suaminya dan langsung diikuti oleh Rivan yang juga langsung ikut berdiri. Kaki Rivan terasa kaku dan kram karena terlalu lama memangku tubuh Tiara di pahanya namun dia segera meregangkan otot kakinya hingga menjadi lemas.


" Kalau kamu mau, kita bisa membangun rooftop seperti ini di rumah kita" ujar Rivan sebelum mereka keluar dari rooftop.


Dengan cepat Tiara menggeleng. " Nggak perlu, mas. Kita sudah ada taman serta kolam renang di halaman rumah kita, tapi lihatlah kita belum pernah menikmatinya selama ini karena kita sama sama sibuk. Jadi sepertinya kita gak perlu membangun taman di rooftop lagi" sahut Tiara sebelum akhirnya mereka berdua masuk ke dalam kotak besi yang akan membawa mereka turun ke bawah.


Sepanjang perjalan menuju ke ruang keluarga, Tiara terus menyandarkan kepalanya di bahu Rivan. Dengan kedua tangan mereka yang saling terjalin.


Karena malam semakin larut, akhirnya Tiara dan Rivan pamit kembali ke rumah mereka pada bunda Amel. Karena kek Gun dan juga ayah Tama yang sudah beristirahat di kamar mereka masing masing. Begitu juga dengan Vani yang ikut pamit pulang ke rumahnya sendiri.

__ADS_1


" Kenapa kalian gak nginep aja sih?" tanya bunda Amel yang menginginkan kedua anaknya dan menantunya untuk menginap di rumahnya.


" Besok pagi kita harus kerja, bun" jawab Rivan dengan lembut. " Nanti kalau libur, kita sesekali akan nginep di sini" lanjutnya memberikan janji untuk sang bunda yang terlihat sedih.


Tiara mengangguk menyetujui perkataan suaminya. Memang seharusnya sesekali dia dan Rivan berkunjung ke rumah keluarga Sanjaya mengingat rumah mereka yang begitu besar dan hanya ditinggali oleh 3 orang anggota keluarga tentu saja mereka merasa kesepian setiap harinya.


Sedangkan para asisten rumah tangga, tukang kebun serta penjaga rumah ataupun sopir tinggal di paviliun besar yang ada di belakang rumah utama.


Dengan wajah sedihnya bunda Amel terpaksa membiarkan kedua anak dan menantunya pergi dari rumahnya. Namun bagaimanapun juga dia juga merasa bahagia karena telah memiliki seorang menantu. Dalam hatinya berharap Tiara secepatnya hamil dan memberikan cucu untuk dirinya.


Akhirnya mereka bertiga berjalan keluar dari kediaman keluarga Sanjaya.


" Mbak, gimana kalau besok pagi kita berlari mengelilingi rumah utama?" tiba tiba Vani bertanya penuh semangat mengajak Tiara jongging untuk besok pagi. Dia pikir akan senang dan seru rasanya bisa memiliki teman melakukan kegiatan itu.


Tiara tersenyum penuh semangat, dia ingin mengiyakan ajak Vani, tapi belum sempat berbicara sudah dijawab terlebih dahulu oleh Rivan.


" Malam ini, mbak Tiaranya mau lembur, dek. Kapan kapan aja kalian janjian" kawan Rivan langsung sambil merangkul bahu istrinya agar tidak mengiyakan ajakan adiknya.


Tiara hanya bisa tersenyum dan dengan mata tajamnya menatap Rivan penuh dengan pertanyaan maksud ucapan suaminya barusan.


" Oh... lagi banyak kerjaan ya mbak?" tanya Vani dengan wajah kecewanya namun masih berusaha menunjukkan senyumnya.


" Ada pesanan baju keluarga dari klien, dan besok harus menunjukkan hasil desain bajunya terlebih dulu. Nanti aku hubungin buat janjiannya, ya" kata Tiara ikut membohongi adik iparnya.


" Siaaapp.... ditunggu loh, mbak. Kapan kapan aku mampir ke rumah kalian" sahut Rivan penuh dengan semangat membuat Tiara hanya bisa tersenyum sedikit merasa bersalah.

__ADS_1


" Aku balik duluan ya" pamit Vani yang bergantian memeluk kakak dan kakak iparnya ,baru kemudian menaiki mobilnya sendiri untuk pulang ke rumahnya sendiri.


Jadi Rivan dan Vani sudah memiliki rumah sendiri, meskipun mereka belum menikah. Rumah tersebut memang dibangun oleh orang tua mereka yang terletak di bagian kanan dan kiri dari rumah utama. Jadi intinya ketiga rumah tersebut masih berada dalam satu kawasan lingkungan perumahan yang sama.


__ADS_2