
Tidak lama mereka telah selesai dengan makan siang, dan Tiara meminta pelayan untuk membersihkan meja mereka terlebih dahulu dari sisa sisa makan siang mereka. Dan kini di meja meraka tertinggal beberapa camilan makanan ringan dan minuman yang akan menemani mereka selama mengobrol.
Rivan melihat jam tangan yang melingkar di tangan kirinya, dan terlihat waktu istirahatnya masih sedikit lama. Dan masih ada waktu untuk mengobrol dengan istrinya sebelum dirinya kembali ke kantor.
" Tadi kamu bilang, ada yang mau kamu bicarakan, sayang. Apa itu?" tanya Rivan yang merasa penasaran dengan apa yang ingin dikatakan istrinya.
Dirinya ingin segera mengetahui apa yang ingin dibicarakan oleh Tiara padanya. Mengingat tadi katanya dia akan menyuruh kurir mengirimkan makan siang untuknya, tapi tiba tiba Tiara mengajaknya makan siang bersama dan ingin membicarakan sesuatu.
" Ehhmm...." Tiara bingung ingin memulai bicara darimana, sementara dia tidak ingin Rivan mengetahui semua permasalahan yang sedang dihadapinya saat ini.
Rivan menautkan kedua alisnya sambil menunggu istrinya berbicara tanpa ingin menyela. Dirinya merasa sedikit gelisah saat melihat wajah istrinya yang berubah terdiam, bingung dan mengkhawatirkan sesuatu. Dan hal itu membuat dirinya semakin penasaran dan cemas.
" Sayang..." panggil Rivan dengan pelan sambil memegang kedua tangan Tiara yang berada di atas meja.
Tiara tersadar saat tangannya dipegang dengan lembut oleh Rivan. Matanya menatap sendu ke arah Rivan, dia bingung dan ragu antara ingin mengatakan atau tidak.
" Katakan, sayang... ada apa?" tanya Rivan dengan hati hati. Dia berusaha menenangkan istrinya agar tidak terlalu khawatir dan seolah mengatakan bahwa dirinya akan selalu ada untuk Tiara.
Tiara menatap mata suaminya yang selalu meneguhkannya sekaligus terlihat pancaran cinta dan sayang di sana, membuat Tiara menghela nafas panjang dan mengumpulkan keberanian.
" Mas..." panggil Tiara pelan dengan tangan balik meremas tangan Rivan. " Bolehkah... aku... pinjam dulu.... uang yang kamu kasihkan ke aku kemarin?" akhirnya dengan penuh keberanian sekaligus takut dan dengan suara terbata dan pelan, Tiara mengatakan apa yang ingin disampaikan para Rivan.
Rivan langsung mengangkat kedua alisnya dan membuka matanya dengan lebar. Dia masih belum yakin dengan pertanyaan yang dikatakan Tiara barusa, meskipun sebenarnya dia bisa mendengar dengan jelas apa yang dikatakan istrinya walaupun suaranya sangat pelan.
" Apa....? pinjam....?" tanya balik Rivan ingin memastikan bahwa dia tidak salah mendengar.
Tiara mengangguk dengan pelan sambil tersenyum kecut melihat reaksi Rivan. " Iya, mas" jawab Tiara dengan pelan dan kali ini dia hanya bisa menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Dia yakin suaminya pasti tidak akan mengijinkan dirinya untuk memakai uang tersebut. Dia juga yakin bahwa di dalam pikiran Rivan saat ini pasti belum bisa mempercayai dirinya. Rivan pasti berfikir bahwa Tiara sedang memanfaatkan kekayaan Rivan dengan pura-pura meminjam uang. Dan itu artinya sama saja dirinya cewek yang materialistis dan hanya memanfaatkan kekayaan cowok.
" Pft....pft....hahaha...." tiba tiba Rivan langsung tertawa dengan puas setelah di berusaha untuk menahan tawanya, tapi tidak bisa dia lakukan hingga akhirnya dia tertawa dengan keras hingga beberapa orang yang ada di restoran tersebut langsung melihat ke arah mereka.
Tiara sendiri yang mendengar suara tawa suaminya langsung mengangkat kepalanya dan dilihatnya, Rivan yang tengah tertawa terbahak bahak. Tiara menatap sayu tanpa berani berbicara lagi, Rivan pasti menertawakan kebodohannya yang sudah menunjukkan sifat materialistik dengan dalih meminjam uang Rivan.
Tiara merasa malu dan tidak ingin melihat wajah Rivan yang masih terus tertawa dan tidak segera menjawab pertanyaannya. Akhirnya dia menarik tangannya dan menundukkan kepalanya kembali melihat ke bawah. Nyalinya langsung menciut tidak berani menatap wajah Rivan yang masih tertawa meskipun sudah terdengar pelan.
Mengerti dengan gestur wajah istrinya yang langsung berubah dan terlihat ada ketakutan di sana membuat mencoba untuk menghentikan tawanya. Dia tidak menyangka dengan pertanyaan konyol yang dilontarkan Tiara.
Rivan menghembuskan nafas dengan berat dan mencoba meraih tangan Tiara yang masih ada di atas meja. Digenggamnya tangan tersebut yang terasa dingin itu dengan erat.
" Sayang...." panggil Rivan dengan pelan, namun tidak ada sahutan ataupun tatapan balik dari istrinya. " Sayang.... Ara...tatap aku!" kini Rivan memanggil nama Tiara dengan penuh penekanan.
Tidak ingin menambah kesan buruk lagi di mata Rivan, dengan pelan Tiara mengangkat wajahnya dan dilihatnya mata sayu suaminya yang tengah menatapnya. Rivan sendiri merasa iba saat melihat mata Tiara yang sudah memerah dan sepertinya istrinya itu sudah ingin menangis.
Tiara sendiri tidak menjawab atau mengiyakan, dia hanya menatap wajah suaminya dengan penuh rasa penyesalan karena pikiran bodohnya. Tadi dengan penuh keyakinan, bahwa Rivan pasti akan memberinya ijin untuk memakai uang tersebut, tapi sepertinya dia sudah salah mengira.
" Sayang.... kenapa kamu bilang seperti itu? aku sudah memberikan uang itu buat kamu. Jadi... kamu berhak sepenuhnya atas uang itu, kamu bisa menggunakan uang tersebut sesuka kamu dan tidak perlu meminta ijin dariku" jelas Rivan dengan pelan.
Tiara mendengar dengan seksama apa yang dikatakan oleh suaminya dan mencoba mencerna dengan baik setiap kata yang dijelaskan oleh Rivan, tanpa berniat menyela.
" Uang itu sudah menjadi hak kamu, dan kamu bebas menggunakannya untuk apa saja. Aku juga akan memberi setiap bulannya, dan jika kamu masih merasa kurang, kamu bisa meminta langsung sama aku, bukan malah meminjam seperti yang kamu katakan tadi, apalagi sampai harus meminjam sama orang lain. Mengerti?!" lanjut Rivan menjelaskan seolah itu adalah sebuah perintah bagi Tiara.
" Jadi, aku bisa bebas menggunakannya?" tanya Tiara dengan wajah yang sudah kembali ceria dengan senyum tipis menghiasi bibirnya.
Dengan cepat Rivan mengangguk dan tersenyum saat melihat wajah istrinya yang sudah kembali bahagia. " Tapi ingat!" seru Rivan begitu tersadar dan membuat Tiara terdiam kembali.
__ADS_1
" Gunakan uang itu dengan benar, jangan sampai aku tau uang itu kamu gunakan untuk hal hal yang jelek!" ucap Rivan dengan penuh ancaman.
Tiara langsung tertawa terbahak mendengar ancaman Rivan yang menurutnya sama sekali tidak masuk akal. Hatinya kembali lega karena permasalahan yang dihadapinya sudah mendapatkan jalan keluarnya. Dan setelah ini dia akan menggunakan uang tersebut untuk menyelesaikan tanggungannya.
" Oh ya, mas... menurut kamu hadiah apa yang tepat untuk kakek kamu?" tanya Tiara sambil mengunyah salad buah yang tadi dia pesan sebelumnya.
Rivan yang sedang menyesap kopinya langsung meletakkan kopi tersebut di atas meja begitu mendengar pertanyaan Tiara lagi. " Sayang... aku sudah bilang, kamu gak perlu repot repot membelikan hadiah untuk kakekku" sahut Rivan. " Atau jangan jangan kamu mau pake uang itu buat beliin hadiah buat kakek?" lanjut Rivan memicingkan matanya penuh selidik.
Tiara langsung menggeleng dengan cepat membantah tuduhan suaminya. " Nggak mas, aku mau gunakan uang itu untuk keperluan lain" bantah Tiara dengan cepat. " Aku kan juga sudah bilang, akan menggunakan uang tabunganku sendiri untuk membelikan hadiah untuk kakek kamu" lanjutnya.
" Kalau memang ada keperluan yang mendesak, kamu gak perlu gunakan uang tabungan kamu buat beliin hadiah untuk kakek, sayang" ucap Rivan lagi.
" Nggak mas, aku akan tetep beliin Hadian untuk Kakek!" seru Tiara sudah bulat dengan keputusannya.
Rivan hanya bisa menghela nafas panjang, sangat sulit jika harus berdebat dengan istrinya yang memang keras kepala. " Baiklah, tapi ingat kalau ada apa apa langsung bilang ke aku" akhirnya Rivan pasrah dengan keinginan sang istri.
" Makasih, mas" sahut Tiara dengan senyum merekah.
Rivan senang bisa melihat senyum bahagia di bibir istrinya. Baginya, sekarang senyum dan kebahagiaan istrinya adalah yang paling utama. Dan dia akan berusaha membuat Tiara selalu bahagia selamanya.
" Sepertinya jam istirahat kamu sudah hampir habis, mas" ucap Tiara sambil melihat jam tangan yang melingkar sempurna di pergelangan tangannya. Dia ingin beranjak dari duduknya, namun Rivan menghentikan niatnya.
" Tunggu dulu, sayang. Masih ada satu pertanyaan yang harus kamu jawab" ucap Rivan sebelum mengajak Tiara pergi dari restoran tersebut.
" Apa?" tanya balik Tiara.
" Kalau uang itu bukan untuk membelikan hadiah untuk kakek. Lalu kamu ingin menggunakan uang itu buat apa?" tanya Rivan penuh selidik.
__ADS_1
Dia ingin istrinya selalu terbuka dan mengatakan semua masalah yang terjadi dalam hidupnya pada Rivan. Begitu juga sebaliknya, dan hal itu sukses membuat Tiara langsung terdiam tanpa bisa berkata lagi dan menatap wajah suaminya dengan cemas.