Suddenly Married

Suddenly Married
Kamu Milikku


__ADS_3

Mereka terus tertawa dan mengobrol selama sisa perjalanan pulang ke rumah mereka. Suasana yang awalnya hening tanpa ada yang berbicara kini semakin ceria setelah mereka terus mengobrol dan diselingi candaan.


Mereka bahkan melupakan sosok laki laki yang tadi membuat hati mereka sakit, karena mereka enggan untuk membicarakan orang lain. Menurut mereka asalkan mereka terus seperti itu maka segala rasa sakit hati atau kesal di dada mereka akan hilang dengan sendirinya.


Tiara terus bersyukur bahwa hubungannya bersama Rivan dapat berjalan seperti biasanya. Untuk saat ini dia masih canggung jika harus membicarakan hubungannya dengan Dika karena dia tidak ingin menyakiti suaminya hanya karena masa lalunya.


Mobil terus melaju hingga akhirnya sampai juga di rumah mereka.


" Akhirnya sampai jugaaa" seru Tiara yang diikuti lirikan dan senyuman dari Rivan.


Jadi ini Tiara memang merasa lelah dengan banyaknya kerjaan. Dan malamnya menjadi panjang dan melelahkan karena harus bertemu dengan orang yang sama sekali tidak ingin dia temui lagi.


Tapi kini dia sudah berada di rumahnya bersama dengan pasangannya. Dia tidak ingin memikirkan tentang apa yang terjadi tadi. Dia ingin bersantai dan beristirahat dan karena besok adalah akhir pekan Tiara hanya akan berada di rumah menemani suaminya.


Sekarang ini untuk setiap hari Sabtu Minggu Tiara selalu meliburkan dirinya untuk menemani suaminya di rumah. Dan Tiara sudah memberikan tanggung jawabnya pada Nita untuk menjaga butiknya kecuali jika ada keperluan butik yang mendesak baru Tiara akan datang ke butiknya.


" Kamu sudah makan, mas? ini udah jam segini loh" kata Tiara begitu dia menyadari suaminya baru menyusulnya masuk ke dalam rumah.


Tapi Rivan hanya diam berdiri saja di depan ruang utama sambil memperhatikan Tiara yang sibuk bergerak.


" Kok diem aja? kalau belum makan biar aku masakin dulu nih" kata Tiara sambil berjalan ke kulkas dan mengecek segala persediaan memasak di dalamnya.


Lagi lagi tidak ada jawaban yang didengar oleh Tiara dan akhirnya dia menutup pintu kulkasnya kembali. Dan dia membawa satu botol kaca berisi air putih. Lalu mengambil dua gelas dan menuangkan air tersebut ke dalam gelas dan lekas memberikan salah satu gelas tersebut pada Rivan.


" Thanks.." ucap Rivan sambil tersenyum sebelum akhirnya menghabiskan air di dalam gelas dengan cepat.


Rivan kembali memberikan gelas kosong tersebut pada Tiara. Tiara yang juga sudah menghabiskan minumnya sendiri menerima gelas kosong tersebut dan meletakkan kedua gelas kosong tersebut diatas kitchen bar.


Rivan sendiri berjalan menuju sofa tengah di ruang keluarga. Terlihat tubuhnya yang kelelahan dan kurang bersemangat tapi masih setia berdiri.


" Mas... kamu kenapa?" tanya Tiara yang sudah kembali dan membukakan jas Rivan dari belakang.

__ADS_1


Rivan hanya mendesah lega ketika jas tersebut terlepas dari tubuhnya. Tanpa jas kaku itu, tubuh Rivan terasa lebih leluasa bergerak. Tiara kemudian meletakkan jas tersebut di bahu sofa dengan rapi.


Tiara bergeser ke dapan Rivan, dengan posisi mereka yang masih berdiri tanpa ada salah satu dari mereka yang berniat duduk di sofa.


Rivan mengusap rambut Tiara yang menjuntai didepan wajah dengan jemarinya. Tiara mengernyit sambil menengadah ke arah Rivan yang berdiri terlalu dekat dengannya itu.


" Hey, what's wrong?" tanya Tiara sambil mengusap bahu lebar suaminya yang sedang tersenyum.


" Kenapa? kok nanya ada apa?" bukannya menjawab Rivan justru balik bertanya.


Rivan menatap Tiara dengan tatapan yang tidak bisa Tiara terjemahkan. Sepertinya ada yang mengusik ketenangan suaminya dan Tiara tidak suka melihatnya.


" Kami nggak kayak biasanya mas, ada yang kamu pikirin?" tanya Tiara khawatir.


Rivan menutup matanya perlahan, lalu membenamkan wajahnya di bahu istrinya. Perlahan tapi pasti, Rivan mendekap erat tubuh Tiara.


" Capek kerja aja mungkin" kata Rivan daripada ribuan kata yang sebenarnya ingin dia ucapkan tapi terasa sulit mengatakannya.


Tiara mengusap pelan bahu suaminya dengan pelan berusaha untuk memberinya rasa tenang dan nyaman.


Tapi kini dihadapan Tiara dia dibuat begitu peduli dengan perempuan itu. Perasaannya begitu gamblang tak berhenti bersikap polos pada Tiara. Dirinya merasa ketakutan setengah mati setelah melihat Tiara berhadapan dengan seorang laki laki yang dia tau sebagai mantannya Tiara.


Laki laki yang mampu mengeluarkan aura kebencian terdalam Tiara, membuat Rivan menahan gelombang resah di dadanya. Rivan belum tau apakah cerita sudah sudah berlalu atau masih lanjut hingga sekarang. Dan itu yang membuatnya resah karena sudah beberapa kali dia memergoki Tiara berbicara dengan mantannya tersebut.


Ayu hal yang Rivan tau, melihat Tiara yang menangis tersedu sedu membuat wajahnya merah dihadapan laki laki tersebut dan membuat Rivan diam tak bisa bergerak. Pemandangan itu membuatnya syok dan mati rasa, dadanya sesak dan untuk sesat Rivan lupa untuk bernafas.


Tak bisa dia bayangkan sebesar apa perasaan Tiara pada laki laki itu, hingga dia tersadar saat tangan Tiara dicengkeram oleh laki laki itu. Saat itu Rivan mendekat dan memanggil Tiara, karena saat bukan waktunya dia diam terpaku dan termakan berbagai prasangka. Dia percaya pada Tiara dan dia hanya butuh ketenangan dan tubuh Tiara di dekatnya.


" Mas... kamu kalau kerja inget istirahat gak sih?" tanya Tiara dengan suara pelan.


Rivan hanya diam tanpa menjawab. Tiara mendekap erat tubuh suaminya yang terasa kelelahan sambil mengusap punggung menyalurkan seluruh perasaan sayangnya. Berharap dapat membuat perasaan Rivan semakin membaik.

__ADS_1


" Kalau kamu sakit aku harus gimana? aku pasti bakalan mikirin kamu terus.." Tiara tak tau harus bagaimana lagi selain meracau.


Suara Tiara membuat menyala dalam diri Rivan, begitu lembut dan perhatian membuat Rivan menginginkan lebih. Menginginkan Tiara seutuhnya, seluruh jiwa dan raganya. Dia begitu serakah dan tak berdaya menginginkan Tiara.


Tanpa berkata Rivan dengan gerakan cepat Rivan langsung menghamburkan tubuh Tiara sampai terduduk di sofa dan melahap bibir perempuan itu dengan penuh nafsu. Tangannya dengan gila meraba seluruh tubuh Tiara.


Rivan ingin Tiara menghapus laki laki itu dari hati dan kepalanya. Dia hanya ingin hanya dirinya yang ada di hati dan pikiran Tiara.


Awalnya Tiara terkejut namun perlahan dia menutup matanya, menikmati gerakan Rivan yang mendominasi. Kini bibir mereka bergerak saling menginginkan. Rivan membaringkan tubuh Tiara sambil terus menyerang bibir perempuan itu dengan bibirnya.


Tiara membuka matanya saat Rivan melepaskan cumbuan mereka. Ditatapnya Rivan yang terengah engah berada di atas tubuhnya sambil memperhatikan dirinya.


" Kamu milikku, Tiara" ucap Rivan dengan tegas dan jelas.


Tiara menelan ludah, apakah itu artinya suaminya memang memikirkan tentang dirinya dan Dika yang sedang berduaan tadi? Apakah Rivan mengkhawatirkan hubungan mereka berdua?


Tiara tau bahwa dia harus melakukan sesuatu, rasa resah di hari suaminya harus menguap. Dia harus memberitahu bahwa hanya ada nama Rivan, pria yang ada di hatinya.


Didorongnya tubuh Rivan pelan hingga akhirnya mereka terduduk. Tiara terus mendorong tubuh Rivan hingga tubuhnya bersender di sofa. Dengan gerakan perlahan tubuh Tiara bergerak naik ke paha suaminya.


Rivan membiarkan Tiara mengarahkannya sambil terpaku dalam tatapan mata Tiara. Nafasnya memburu cepat, jantung Rivan berdetak dengan kuat sekuat keinginannya. Dia tidak ingin melihat ada pria lain yang membuat Tiara berantakan, dia tidak ingin Tiara memberikan perhatian dan perasaanya yang besar terhadap pria lain selain dirinya.


Rivan mengelus punggung Tiara dan saat menyadari dress yang dipakai istrinya memiliki resleting di belakang. Lalu dibukanya perlahan resleting dress yang dipakai Tiara. Tatapan mereka saling beradu nyaris tidak ada yang berkedip sedikitpun. Lalu tangannya menyusup ke dalam pakaian Tiara.


Tiara memajukan tubuhnya dan mendesah panjang dan lembut yang memabukkan di telinga Rivan. Tiara mengusap telinga Rivan dengan bibirnya membuat Rivan memejamkan matanya erat erat.


" Aku milikmu selamanya, mas" bisik Tiara dengan suara lirih yang lembut.


Deru nafas Rivan semakin lama semakin cepat ketika mendengar suara lembut istrinya. Dengan cepat Rivan membuka seluruh pakaian Tiara dan menikmati tubuh Tiara seperti malam malam sebelumnya.


Tak perlu menunggu lama akhirnya mereka bersatu. Keresahan di hati mereka kini menghilang seiring dengan kenikmatan yang mereka rasakan.

__ADS_1


" Selamanya kamu milikku, sayang" bisik Rivan berkali kali di telinga Tiara.


Merekapun akhirnya sadar akan satu hal bahwa kini mereka berdua telah saling memiliki satu sama lain untuk selamanya.


__ADS_2