
Akhirnya Rivan dan Tiara sampai juga di rumah mereka setelah perjalanan kurang lebih satu jam. Mereka segera masuk ke dalam rumah dan langsung berganti pakaian untuk mengistirahatkan tubuh mereka yang terasa melelahkan.
Rivan benar benar melakukan apa yang tadi dia katakan sebelumnya yang ingin segera mengabulkan keinginannya dan ibu mertuanya untuk segera memiliki seorang anak. Dia yang baru saja seluar dari walk in closed setelah mengganti baju, langsung naik ke atas ranjang setelah dilihatnya sang istri yang bersiap siap menyelimuti tubuhnya sendiri untuk beristirahat.
" Jangan berharap aku akan biarin kamu tidur dengan nyenyak malam ini" ucap Rivan yang langsung menarik selimut yang akan dipakai sang istri.
" Mas apa apaan sih!" tanpa sengaja Tiara berbicara dengan nada sedikit tinggi karena kesal dengan mata membeliak.
Tanpa merasa bersalah Rivan justru langsung menindih tubuh Tiara dengan senyuman licik. " Aku kan sudah bilang kalau aku mau membuat satu di sini" sahut Rivan sambil membelai perut rata sang istri sambil tersenyum lebar.
Hati Tiara menghangat saat mendengar ucapan suaminya yang begitu mendamba seorang anak yang akan tumbuh di dalam rahimnya. Sebenarnya dia juga berharap bahwa di dalam perutnya akan segera hadir benih benih cinta mereka.
Tanpa menunggu lebih lama lagi Rivan segera menyerang sang istri dengan lembut. Tubuh yang awalnya lelah menjadi lebih bersemangat dan bergairah setiap melakukan kegiatan olah raga bersama sang istri. Kegiatan yang tidak akan pernah membuat dirinya bosan dan bahkan tidak ingin berhenti untuk terus melahap sang istri.
Suara ******* dan erangan bahkan jeritan manja serta panggilan nama mereka beberapa kali keluar dari bibir mereka yang menggema di dalam kamar mereka yang kedap suara. Dinginnya hembusan AC sama sekali tidak bisa mendinginkan tubuh mereka yang terasa panas. Peluh serta keringat terus membanjiri tubuh mereka.
Rivan seakan tidak pernah merasa bosan jika melakukan kegiatan olah raga malam bersama Tiara. Hampir setiap malam dirinya selalu melakukannya bahkan tidak hanya sekali mereka melakukannya. Dirinya seperti seorang maniak **** yang tidak pernah bisa berhenti melakukannya.
Bukan hanya Rivan saja yang seperti itu, Tiara sendiri tidak pernah menolak melakukan kegiatan olah raga malam bersama sang suami. Meskipun tubuhnya terasa lelah tapi jiwa dan raganya meras puas tiap kali berhubungan badan dengan Rivan.
Apakah hal itu karena mereka yang masih menjadi pengantin baru dan baru merasakannya setelah mereka menikah. Atau karena mereka sudah saling jatuh cinta hingga melakukan itu terasa begitu membuat mereka ketagihan. Entahlah hanya mereka yang tau.
*
Dibawah selimut yang tebal dan hangat, sepasang anak manusia sedang bergelut dalam mimpi mereka dengan tubuh yang saling memeluk. Bahkan mereka masih terlihat polos tanpa sehelai benang yang menempel di tubuh mereka. Tentu saja karena semalam mereka melakukan kegiatan rutin setiap malamnya.
Untungnya hari ini adalah hari libur jadi mereka berdua tidak perlu bangun terburu buru untuk pergi ke kantor. Selain itu juga karena mereka baru saja memejamkan mata mereka sekitar beberapa jam yang lalu sehingga bisa dipastikan mereka berdua tidak akan terbangun dalam waktu singkat.
__ADS_1
Tapi kenyataannya suasana hening dan tenang di dalam kamar tersebut langsung lenyap ketika suara dering ponsel bergetar berkali kali di atas nakas. Keduanya langsung menggeliat merasa terganggu dengan suara tersebut. Dengan malas Rivan meraih ponselnya yang terus berdering tersebut dengan mata masih tertutup.
" Hallo..." sapa Rivan dengan suara serak tanpa mengetahui siapa si penelpon karena matanya masih saja tertutup rapat.
' Sudah jam berapa sekarang? kenapa kalian belum bangun juga?' terdengar suara seorang perempuan yang tidak lain adalah bunda Amel.
" Ada apa sih Bun?" bukannya menjawab pertanyaan bundanya dia justru balik bertanya dengan malas.
Tiara yang mendengar sekilas siapa gerangan si penelepon yang sudah membangunkan tidur mereka, langsung terperanjat dan membuka mata. Dengan sigap melepaskan salah satu tangan suaminya yang masih memeluk tubuhnya. Dia langsung bangun dari tidurnya dan tanpa sadar selimut yang awalnya menutupi tubuhnya langsung melorot kebawah sehingga tubuh atasnya yang masih polos langsung terekspos dengan sempurna.
Rivan sendiri ikut terkejut saat merasakan tubuh istrinya langsung terbangun dengan terburu buru. " Ada apa sayang...?" tanya Rivan dengan suara serak dengan dahinya berkerut bingung.
Padahal ponselnya masih terhubung dengan sang bunda. Dengan gerakan pelan dia juga ikut terduduk di sebelah istri dan melihat tubuh Tiara bagian atas yang tersekspos sempurna di depan matanya membuatnya langsung menelan salivanya.
" Sekarang jam berapa?" tanya Tiara dengan suara lirih dengan kesadaran yang belum utuh.
Sementara itu di balik telepon, bunda Amel yang bisa mendengar percakapan anak dan menantunya barusan merasa jengah. 'Rivan buruan bangun! bunda tunggu di bawah!' dengan nada suara tegas bunda Ratu hanya bisa menyuruh anak dan menantunya untuk segera turun ke bawah. Beliau langsung menutup panggilannya karena tidak ingin menguping percakapan suami istri tersebut.
" Bunda ada di bawah?" tanya Tiara ingin memastikan.
" Hmmm...." gumam Rivan sambil mengangguk.
" Ya ampunnnn..... gimana ini?" ucap Tiara dengan wajah gusar meraup dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
" Kenapa sih?" tanya Rivan tanpa malu langsung memeluk tubuh polos istrinya dari samping dengan tangannya dia letakkan di dada Tiara.
" Mas.... jangan lagi deh! bunda ada di bawah tau gak!" Tiara langsung menepis kedua tangan suaminya yang sudah bermain di atas dadanya. " Duh... gimana nih malu banget aq ketemu bunda" gumam Tiara dengan gelisah.
__ADS_1
Rivan yang masih bisa mendengar suara gumaman Tiara merasa bingung dengan sikap istrinya. " Kenapa mesti malu sayang... memangnya kamu ada masalah apa?" tanya Rivan masih belum sadar dengan apa yang dirasakan oleh Tiara.
Tiara kesal dan langsung menatap Rivan tajam yang tidak mengerti apa yang dia rasakan saat ini. " Tentu saja aq malu ketemu sama bunda sekarang mas.....! masa iya ibu mertua datang ke rumah siang siang, tapi menantunya masih tidur dan harus dibanguni dulu sama ibu mertuanya. Apa coba yang ada dalam pikiran bunda saat ini" jelas Tiara merasa gemas dengan sikap suaminya.
" Memang masalahnya dimana kita kan memang baru tidur sebentar sayang. Lagian salah bunda sendiri kenapa pagi pagi udah datang aja bertamu ke rumah menantunya" sahut Rivan yang justru menyalahkan bundanya.
Tiara hanya bisa mendengus kesal, suaminya itu benar benar tidak bisa diajak bicara dengan benar. Pembicaraan mereka juga tidak akan pernah ada habisnya kalau dirinya harus terus meladeni suaminya. Dan bisa jadi dirinya semakin lama untuk menemui ibu mertuanya karena terus berada di kamar.
Tanpa memperdulikan suaminya Tiara langsung menyibak selimut dan beranjak berdiri tanpa merasa malu lagi dia berjalan menuju ke kamar mandi dengan tubuh polosnya tanpa merasa canggung karena kesal.
Mata Rivan langsung membulat melihat tingkah istrinya yang belum pernah melakukan hal itu. Dengan senyum mesumnya Rivan langsung melonjak ingin mengikuti istrinya ke kamar mandi.
" Sayang tunggu aku!!" teriak Rivan yang tengah menyusul Tiara masuk ke dalam kamar mandi.
Tanpa mengindahkan teriakan suaminya, Tiara langsung menutup pintu kamar mandi tidak peduli dengan keberadaan Rivan. Dia tau apa yang ada di dalam pikiran suaminya itu, apalagi kalau bukan pikiran mesumnya.
" Sayang.... buka pintunya" Rivan terus mengetuk pintu kamar mandi berharap istrinya akan membukakan pintu untuknya.
" Nggak!" sahut Tiara dari balik pintu setelah dia mengunci pintu kamar mandi. Lalu berjalan menuju ke bawah guyuran shower untuk mandi lebih cepat dan bisa secepatnya menemui sang mertua.
" Sayang.... aku juga pengen mandi..." Rivan terus mengetuk pintu hingga lelah dan kembali ke ranjang dengan lesu setelah mendengar suara air shower menyala di dalam kamar mandi.
Wajah Rivan kini sudah ditekuk dengan raut wajah kecewa. Tadinya dia berharap bisa mandi bersama dengan sang istri dan membayangkan dirinya kembali melakukan kegiatan panas mereka di dalam kamar mandi.
Rupanya semua angan angan dan harapannya harus pupus karena Tiara sudah mengunci pintu kamar mandi dan langsung mandi di bawah guyuran shower.
Tidak lama pintu kamar mandi terbuka dan Tiara langsung keluar dengan rambut yang masih basah dan hanya menggunakan bathrobe untuk menutupi tubuh polosnya.
__ADS_1
Rivan segera beranjak dari duduknya dan gantian menuju ke kamar mandi setelah dipaksa oleh Tiara. Dengan wajah malasnya Rivan akhirnya masuk ke dalam kamar mandi dan secepat mungkin melakukan ritual mandinya.