
Pagi itu Rivan terlihat lebih bersemangat, bahkan dia bersiul kecil ketika baru keluar dari kamar mandi. Aroma sabun yang menguar di udara membuat aroma tubuh maskulin Rivan semakin kuat. Rivan tersenyum ketika mendapati istrinya sudah menyiapkan seragam kerjanya. Hal seperti ini saja sudah mampu membuat senyum Rivan mengembang.
Rivan mengingat lagi bagaimana proses penyatuan mereka semalam. Berapa kalipun dia melakukannya dengan Tiara, dia seolah tak pernah merasa puas. Hanya berada di dekat Tiara saja jiwanya terus meronta untuk bisa menyentuh tubuh Tiara.
Seperti pagi ini mereka telat bangun pagi lagi karena 'lembur' semalam. Rivan seperti tidak tau waktu kalau sudah beraktivitas di ranjang bersama Tiara.
Sementara Tiara yang sudah bangun tidur lebih awal dan habis me time ala Tiara yang merupakan lari pagi mengelilingi kompleks rumah selama tiga puluh menit. Dengan cepat dia menyiapkan bahan untuk memasak, sebelum akhirnya mandi dan memasak sarapan untuk mereka berdua.
Setelah rapi, Rivan segera turun ke bawah menuju dapur. Dan ternyata benar saat ini Rivan melihat Tiara yang masih berkutat di depan kompor. Apapun yang dilakukan oleh istrinya mampu membuat Rivan terpesona. Bahkan disaat seperti ini Rivan malah ingin bermesraan kembali dengan Tiara
" Masak apa?" tanya Rivan sambil menarik kursi. Aroma wangi masakan tercium di udara.
" Omelette, nggak masalah kan?" ucap Tiara tanpa melihat ke arah Rivan karena dia sedang fokus pada masakannya.
Masak omelette atau telur dadar adalah masakan yang paling praktis dan cepat jika Tiara bangun kesiangan. Kali ini Tiara membuat omelette sayur, dan menambahkan salmon panggang di atas omelettenya.
" No problem" sahut Rivan.
Kemudian Rivan mengambil cangkir teh yang telah dibuat oleh Tiara. Dia menghirup aroma teh yang masih hangat itu lalu menyesapnya perlahan. Dia melirik ke arah Tiara yang nampaknya sebentar lagi menyelesaikan masakannya.
" Maaf menunggu lama, mas" Tiara meletakkan piring yang berisi omelette menuju meja makan dan tampak asap tipis yang menguap dari omelette tersebut.
" Nanti siang jangan lupa makan, dan inget jangan ditunda tunda" Tiara sepertinya harus memberi peringatan dini pada suaminya. Apalagi Rivan memiliki jam kerja yang padat dan pria itu akan mengabaikan jam makan siangnya jika tidak diingatkan.
Rivan yang hendak menyuap sarapannya mendadak berhenti. Lalu dia memandang Tiara dan menerbitkan senyum tipis di bibirnya.
" Iya, aku bakalan makan siang tepat waktu" kata Rivan dengan lembut.
Bukannya senang Tiara justru menyipitkan kedua matanya menatap Rivan yang seolah tidak serius.
" Kamu itu kalau nggak aku ingetin selalu lupa makan siang. Kalau nggak lupa, paling yang kamu makan cuma roti atau susu uht" jika menyangkut kesehatan Rivan, Tiara pasti akan sangat cerewet.
__ADS_1
Rivan hanya terkekeh pelan mendengar omelan istrinya. " Nanti aku fotoin sesekali biar kamu percaya" sahut Rivan dengan masih tertawa pelan.
" Enggak usah sampai segitunya, mas. Tapi janji makan siang yang bener kalau sudah waktunya, kerjaannya ditunda dulu" sekali lagi Tiara cerewet mengingatkan sang suami.
" Siap, sayang" kata Rivan dengan tegas tapi lembut.
Tiara menghentikan omelannya dan melangkah kembali ke meja makan sambil membawa kotak makan. Tiara langsung meletakkan kotak tersebut di depan Rivan yang masih melihatnya dengan senyuman manis.
" Nggak usah senyum senyum, tuh aku bawain makan siang" ujar Tiara yang kemudian melanjutkan kembali makannya yang belum selesai.
Rivan menatap Tiara penuh dengan cinta. Bagaimana tidak, mereka itu sudah bangun kesiangan tapi Tiara masih sempat membuat sarapan bahkan membawakan bekal makan siang untuknya. " Aku bisa pesan makanan lewat aplikasi atau makan di kantin kantor, sayang" kata Rivan
" Kayak kamu sempet aja mas pesen lewat aplikasi. Nanti ujungnya cuma minum susu uht. Mana bisa ada energi kalau makannya cuma susu" balas Tiara dengan sindiran keras.
Tiara menatap heran ke arah suaminya yang diam saja tidak menjawab tapi malah tertawa.
" Kenapa, ada yang lucu?" tanah Tiara heran
Rivan mendapati Tiara yang tengah menatapnya , untuk menunggu kalimat Rivan. Lalu Rivan mengambil tangan Tiara dan membawanya untuk dia kecup. " Terima kasih, semalam energiku sudah kembali terisi penuh" lanjut Rivan.
" Emangnya aku baterai?" Tiara menatap heran ke arah Rivan sambil terkekeh kecil.
Rivan tertawa. " Kamu itu baterai isi ulang yang daya tahannya sangat lama, sayang" balas Rivan mencoba menggoda istrinya tapi justru mendapatkan cubitan di lengannya.
Setelah dua puluh menit berlalu Rivan dan dan Tiara bersiap siap untuk berangkat pergi kerja. Mereka harus berangkat lebih awal jika tak mau terjebak kemacetan Jakarta.
Saat Tiara hendak mengambil tasnya, bel rumah mereka berbunyi dengan nyaring. Rivan menatap ke arah Tiara seolah mengatakan siapa tamu yang rajin bertandang ke rumah orang sepagi ini. Kalau salah salah satu keluarga Sanjaya bisa dipastikan bukan, karena jika mereka yang datang mereka akan langsung masuk dan memanggil manggil nama mereka.
" Aku bukain pintu dulu ya, mas" Tiara pun bergegas menuju ruang tamu dan Rivan menyusul Tiara di belakangnya.
Betapa terkejutnya Rivan saat mengetahui siapa tamu yang berada di depan rumahnya sepagi ini. Seseorang yang berada dalam daftar pertama yang tidak pernah ingin Rivan jumpai lagi.
__ADS_1
Tiara justru hanya menatap pada sosok wanita yang berada di depannya itu dengan tatapan aneh. Apakah tidak ada baju yang pantas untuk dipakai bertamu? Dress kurang bahan yang sangat ketat dengan belahan dada rendah. Kalau Tiara jadi pria, dia ogah memandangnya.
" Aku nggak nyangka kamu beneran nikah" ada nada meledek dalam suara wanita itu saat melihat siapa yang membukakan pintu.
Perempuan yang bernama Bella itu menatap Tiara dengan tajam penuh selidik. Dengan tatapan mencemooh dia menilai penampilan Tiara dari atas hingga bawah. Menurutnya wanita yang ada di depan Rivan itu sama sekali tidak pantas menjadi pendamping Rivan yang luar biasa.
Tiara sendiri hanya bersikap biasa karena dia belum tau siapa tamu istimewa yang berkunjung ke rumahnya. Tiara melirik Rivan dan mendapati raut wajahnya yang berubah keruh dan datar. Raut wajah yang dia ketahui jika suaminya bertemu dengan orang yang tidak disukainya. Masih pagi sudah ada masalah yang datang.
Rivan sama sekali tidak menanggapi pernyataan Bella. Menurutnya dengan keberadaan Tiara yang ada di rumahnya dan membukakan pintu rumahnya sudah sangat cukup untuk menunjukkan peran Tiara dalam hidup Rivan.
" Bagus. Sepertinya ini waktu yang cukup lama setelah kita tidak bertemu satu sama lain, tapi kamu tetap kelihatan.... sangat menarik, beibh" ujar Bella dengan senyum lebarnya yang terlihat centil dan nakal.
Bella ingin sekali memeluk dan mencium pipi kanan dan kiri Rivan. Tapi orang yang ditujunya justru bergeser dengan mengaitkan tangannya pada pinggang Tiara.
" Ada keperluan apa pagi pagi sekali kamu datang kesini, Bella?" tanya Rivan dengan suara datar. Rivan menekan suaranya agar tak terdengar seperti orang yang pendendam.
Bella menatap Rivan dengan tatapan penuh memuja bahkan dia masih sempat sempatnya mengerlingkan matanya ke arah Rivan.
Lalu tatapannya beralih menatap ke arah Tiara. " Jadi ini istri kamu?"tunjuk Bella ke arah Tiara.
Bella menunjukkan dengan jelas tatapan tidak sukanya pada Tiara. Jelas sekali menurutnya lebih cantik dan modis dirinya daripada perempuan yang berlabel sebagai istri Rivan itu.
Tiara sendiri tidak ambil pusing dengan sikap perempuan yang ada di depannya itu. seperti seorang yang tidak punya tata krama, datang pagi pagi ke rumah orang hanya untuk mengajak ribut.
" Dulu aku mau kamu nikahin aku, kamu malah selalu nolak. Sekarang kamu ngerti kan, sayang.... kenapa dulu aku lebih milih Candra?" Bella masih berusaha untuk memancing emosi Rivan.
Tapi sebaliknya, Rivan sama sekali tidak ada keinginan untuk menanggapi bahkan dia enggan menatap Bella. Tiara sendiri hanya hanya bisa memutar malas dan menghela nafas panjang lalu menghembuskannya dengan malas.
" Aku yang kayak gini kamu tolak, dan sekarang kamu malah nikah sama dia?!" tunjuk Bella pada Tiara dan menggelengkan
kepala sambil berdecak. " What the hell are you doing?" lanjut Bella tidak bisa membayangkan apa yang ada di dalam pikiran Rivan hingga menikahi perempuan yang biasa.
__ADS_1
Rivan langsung menatap tajam ke arah Bella. Dia patut berterima kasih pada Tuhan karena pada saat itu dia belum bisa memantapkan hatinya untuk Bella. Ternyata skenario Tuhan tetapkan padanya memberikan kejutan yang luar biasa, bertemu dengan Tiara.