Suddenly Married

Suddenly Married
She is Hot


__ADS_3

Waktu terasa begitu cepat, setelah makan malam selesai ayah mengajak Rivan untuk duduk di teras depan untuk mengobrol. Sementara itu Tiara membantu ibunya membersihkan semua peralatan kotor bebas makan malam mereka. Di sini ibu dan dan anak itu berbincang membicarakan perihal rumah tangga dan tentunya bu Suci yang banyak memberikan wejangan untuk putrinya tersebut dan Tiara mendengarkan.


Setelahnya mereka berempat mengobrol panjang lebar di ruang tamu dengan ditemani camilan dan teh hangat yang dibuat oleh bu Suci. Hingga tak terasa waktu berjalan dengan cepatnya dan jam menunjuk pada angka lebih dari jam sepuluh malam.


Dan sepertinya mereka harus segera pulang ke rumah mereka karena besok pagi mereka harus beraktivitas seperti biasanya.


" Yah, bu... kamu pamit dulu, ya. Biar gak kemaleman" ujar Rivan dengan sopan setelah melihat jam yang melingkar di tangannya.


" Loh, kalian gak nginep di sini, toh?" tanya bu Suci yang mengira anak dan menantunya akan menginap di rumah mereka.


" Hehehe.... maaf Bu, kita nggak bisa nginep di sini besok pagi pagi kita juga harus kerja" sahut Tiara.


Bu Suci hanya bisa menghela nafas dengan rasa sedikit kecewa. " Ibu kira kalian nginep dan besok kalian berangkat kerja dari sini" ucap bu Suci masih ada sedikit perasaan kecewa padahal dirinya masih ingin berbincang lebih lama lagi dengan putri dan menantunya.


" Maaf, bu. Tadi kita gak sempet bawa baju kerja untuk besok" kata Rivan yang sedikit merasa bersalah karena sudah mengecewakan ibu mertuanya. " Nanti kapan kapan kita ke sini lagi dan kita pastikan akan nginep di sini" lanjutnya kali ini berjanji pada bu Suci untuk menginap di rumah mertuanya jika mereka berkunjung ke sana lagi.


" Iya Bu, nanti kalau kita ke sini bakalan nginep" Tiara ikut menyahut perkataan suaminya.


Karena tidak ingin anak dan menantunya kemalaman sampai di rumah mereka sendiri, akhirnya bu Suci mengangguk membiarkan mereka pulang dan tidak memaksa mereka untuk menginap di rumah mereka.


Mereka segera berjalan ke luar rumah dan kini mereka berempat berdiri di depan pagar rumah.


" Janji kalian bakal nginep di rumah, kalau berkunjung ke sini" sekali lagi bu Suci mengingatkan anak dan menantunya untuk menginap di rumah saat mereka berkunjung ke sana lagi.


Rivan mengangguk dengan yakin. " Iya Bu, pasti" jawab Rivan meyakinkan dan sopan.


" Tapi lain kali, juga gantian. Ibu sama ayah main ke rumah Tiara pokoknya...." tambah Tiara dengan suara manjanya.


" Iya bawel!" jawab bu Suci dengan tak acuh. Bu Suci biasa berbicara ketus.


Gaya bicara bu Suci jika berbicara dengan Tiara berbeda jauh jika sedang berbicara dengan Rivan. Namun meskipun begitu bisa Rivan lihat meskipun ibu mertuanya terlihat acuh bahkan terlihat sering berselisih paham dengan istrinya. Dalam hati bu Suci begitu sangat menyayangi putri semata wayangnya. Itu mungkin karena sifat mereka yang hampir sama.


" Ayah...." kini Tiara mengadu pada ayah Hendra dengan suara manjanya.


" Nanti kita atur, ya" pak Hendra pun menengahi dengan cara diplomatis.

__ADS_1


Meskipun istrinya sudah tidak tinggal bersama orang tuanya, tapi tiap mereka bertemu peran mereka tetap tidak berubah. Istri dan ibu mertuanya yang sering berselisih setiap saat, sementara pak Hendra yang selalu menjadi penengah diantara keduanya.


Melihat pemandangan yang menggemaskan di depan matanya itu, membuat Rivan tertawa dengan kelakuan ibu dan anak itu.


Akhirnya Rivan dan Tiara segera berpamitan lalu mereka masuk ke dalam mobil mereka yang terparkir tidak jauh dari rumah pak Hendra. Rivan segera menyalakan mobilnya dan membawa mobil tersebut keluar dari kawasan perumahan keluarga Hendrawan.


" Makasih ya, mas" ucap Tiara yang sedang duduk di samping kemudi.


" Sama sama, sayang" balas Rivan ikut tersenyum tipis sambil membelai lembut rambut Tiara.


Seharian itu hari Tiara dan Rivan merasa sangat bahagia bisa berlibur bersama menikmati indahnya pantai Ancol. Ditambah lagi mereka berkunjung ke rumah orang tua Tiara dan makan malam di sana membuat hati Rivan dan Tiara berkali lipat bahagia.


Bahkan Rivan yang awalnya sedikit meremehkan tempat tersebut yang menurutnya tidak sebanding dengan indahnya pantai lain. Ternyata dia merasa kerasan juga berada di sana, itu mungkin karena adanya Tiara yang berada di sampingnya. Jadi di manapun kita akan terasa menyenangkan kalau ada Tiara di sampingnya.


Kringg.... suara dering dari ponsel Rivan membuat keduanya langsung terdiam. Tiara langsung mengambil ponsel Rivan yang kebetulan dia bawa di dalam tasnya.


" Ada yang telpon, mas" ucap Tiara.


" Dari siapa, sayang?" tanya Rivan yang membiarkan istrinya melihat id pemanggil di ponselnya.


" Tolong angkatin dong, sayang. Siapa tau penting" kata Rivan meminta tolong. Dan Tiara langsung menerima panggilan tersebut.


" Rivan my darling, ini aku sayang ..., aku sekarang ada di Jakarta" Tiara terkejut saat mendengar suara seorang perempuan yang menyapa telinganya dengan riang penuh *******. Ada rasa jijik yang dirasakan Tiara saat mendengar suaminya dipanggil dengan mesra oleh perempuan lain.


" Maaf, ini siapa ya?" tanya Tiara dengan suara yang tegas


" Heh! kamu yang siapa!" suara di seberang malah terdengar marah dan tentu saja hal itu langsung membuat Taira sewot.


" Duh... mbaknya ini aneh ya. Saya ini lagi megang Hp suami saya. Dia lagi nyetir sekarang. Mau titip pesan apa marah marah. Kalau nggak saya tutup telponnya" ucap Tiara dengan kesal.


" Kamu istrinya!? hahaha...." perempuan bersuara genit dan nakal itu tertawa terbahak bahak saat mendengar pengakuan Tiara sebagai istri Rivan.


Mendengar itu membuat Tiara kesal dan tak nyaman. " Saya tutup, ya" kata Tiara dengan kesal dan sedikit memberikan gertakan.


" Katakan pada sama suami kamu. Bilang kalau Bella, cinta matinya udah balik ke Indonesia. Aku ingin berbicara dengannya. Bisakah kamu memberikan ponselnya?" kata perempuan tersebut yang katanya bernama Bella.

__ADS_1


Tiara menjauhkan ponsel Rivan dari telinganya lalu menatap ponsel tersebut dengan kerungan dalam. Dadanya panas mendengar ucapan demi ucapan yang perempuan itu keluarkan.


" Dari siapa?" tanya Rivan yang menangkap gelagat tidak beres dari istrinya.


" Bella katanya" jawab Tiara.


".... oh" kata Rivan dengan datar. Dia langsung merebut ponselnya dari tangan Tiara dan langsung mematikan panggilan dari kontak perempuan yang bernama Bella itu.


Sikap Rivan itu tentu saja mengundang tanda tanya dalam pikiran Tiara. " Mantan kamu, ya?" tanya Tiara tanpa basa basi lagi.


" Iya" jawab Rivan lugas tanpa berusaha untuk menyembunyikan.


Suasana di dalam mobil pun seketika menjadi semakin hening dan tidak nyaman. Tanpa diduga beberapa detik kemudian Tiara langsung memukul mukul bahu Rivan dengan kesal. Rivan yang sedang menyetir pun dibuat terkejut olehnya.


" Apaan sih, sayang?! cemburu...?!" tanya Rivan seenaknya.


" Kesel!! mantan kamu ngeselin banget!!" kata Tiara. Dia tidak mampu menahan dirinya. Dadanya kini sudah memanas kala mengingat ucapan mantan pacar suaminya benar benar menyiksanya.


" Kalo dia yang ngeselin kenapa aku yang dipukulin?" tanya Rivan yang masih berusaha menangkis pukulan pukulan yang diberikan istrinya.


" Ya, kamu sih mau maunya pacar sama cewek macam gitu!" ucap Tiara masih kesal dan berulang kali masih berusaha memukul bahu Rivan. Apakah ini cemburu? dia benar benar emosi dan tidak bisa mengontrol dirinya sendiri seperti itu.


" She is hot, sayang" sahut Rivan seenaknya. Tapi setelahnya raut wajahnya langsung berubah dan menyesal saat melihat mata istrinya melebar dan raut wajahnya yang memerah siap untuk marah.


" Jadi menurut kamu dia hot?! seksi?! lebih seksi dari aku?! terus kenapa nggak jadian sama dia aja terus?! kenapa nikah sama aku, hah?!!" rentetan pertanyaan Tiara yang semakin kesal dengan jawaban Rivan.


Rivan sungguh menyesali kalimat yang dia lontarkan tadi, tanpa bisa membaca reaksi wanitanya.


" Dia selingkuh. Aku udah nggak mungkin mau sama dia" jawab Rivan pelan pelan dan lembut. " Udah ya...." lanjutnya membujuk sang istri agar tidak lagi membahas hal itu.


Tiara berhenti memukuli bahu Rivan, dia bisa melihat gelagat suaminya yang juga merasa tidak nyaman. Telepon tadi telah berhasil merusak suasana hangat yang sudah muncul diantara mereka berdua seharian ini.


" Kamu nggak mau cerita lebih lanjut?" tanya Tiara.


Rivan mendesah. " Aku ceritain kalau kamu juga mau cerita tentang mantan kamu" ucap Rivan.

__ADS_1


Mata Tiara terbelalak dengan sempurna. Dia pun akhirnya menyadari bahwa dirinya tidak lebih baik dari Rivan.


__ADS_2