
Mau dilihat dari manapun, hubungan Tiara dan Rivan memang tidak sehat. Meskipun mereka berdua terlihat mesra setiap waktu, semua orang tidak akan pernah percaya kalau selama ini Rivan belum pernah meniduri Tiara sama sekali.
Tiara memikirkan Rivan yang begitu dengan sabarnya menghadapi sikap Tiara. Mereka berdua sudah tinggal bersama di dalam satu rumah, satu ranjang setiap malamnya tapi mereka belum pernah melakukan hubungan suami istri. Rivan tidak pernah mendesak ataupun memaksa Tiara untuk melakukannya meskipun setiap malam mereka tidur dengan saling berpelukan.
Katanya seorang laki laki akan sulit sekali menahan hasratnya untuk melakukan hubungan intim, jika mereka berada di dekat perempuan yang mereka cintai. Kecuali laki laki itu gay, tapi Tiara ragu kalau Rivan salah satu laki laki tersebut, mengingat Rivan yang selalu mencumbunya setiap waktu dengan penuh gairah.
Katanya dia ingin segera menyelesaikan acara mandinya, kenyataanya saat air pancuran membasahi tubuh Tiara yang sedang mandi, matanya terpejam dan terbayang sentuhan Rivan. Sentuhan Rivan yang begitu menggoda dan mengecupnya penuh dengan cinta membuat Tiara terbuai dalam bayangannya.
" Wah... mulai gila nih gue..." Tiara membuka matanya sambil menggeleng. Tiara tidak percaya dirinya bisa membayangkan lanjutan adegan itu dalam kamar mandi, tanpa busana lagi!.
Fantasi Tiara sudah semakin liar, ia tidak sadar bahwa pikiran dan hati seseorang kadang tidak pernah sejalan. Bahkan kenyataan tidak sesuai dengan bayangan kita. Dia tau ada sebagian orang yang kecewa, karena menganggap malam pertama tidak sehebat dalam bayangan mereka sebelumnya.
Lalu bagaimana jika itu terjadi pada Tiara dan Rivan? bagaimana jika mereka melakukannya, lalu Rivan merasa itu biasa saja dan kecewa terhadap Tiara?
Tidak ingin larut dalam pikiran jeleknya terus, Tiara segera menyelesaikan ritual mandinya. Setelah itu dia mengambil handuk yang ada di di atas dengan mata tertutup karena wajahnya masih basah dialiri air dari rambutnya. Karena terburu buru mengambil handuk dengan kasar, tanpa sengaja tangannya menyenggol piyama yang dibawanya.
" Yaahhh..." ujar Tiara dengan lemas saat menyadari piyama yang akan dia pakai jatuh di lantai yang masih basah. Diambilnya dan dilihatnya piyama tersebut, tapi percuma saja karena piyamanya sudah terlalu basah tidak bisa dipakai.
' Basah ya, Ara' ucapan jahil Nita tadi di toko kembali berputar di kepala Tiara. Diikuti dengan tepukan pelan tangannya sendiri di dahinya.
" Nita sialan... otak kotornya udah nularin gue..." rutuk Tiara kesal.
Tiara pun meletakkan piyama basahnya di keranjang baju kotor dan segera mengelap seluruh tubuhnya dengan handuk yang ternyata cuma handuk hingga kering. Setelah itu dia berniat keluar untuk mengambil baju tidur lainnya.
" Sayang... kamu kok lama banget mandinya?" tiba tiba suara Rivan terdengar dari luar yang menandakan Rivan sudah berada di kamar mereka.
Tiara yang sudah memegang gagang pintu kamar mandi berniat untuk keluar, langsung mundur dan membatalkan niatnya. Tiara melihat sekeliling dalam kamar mandi, Tidak ada satupun yang bisa dia pakai untuk menutupi tubuhnya.
__ADS_1
Kemudian dia melihat handuk yang tadi dia gunakan, dia kebingungan kenapa handuk itu kecil sekali? terlalu kecil untuk dililitkan di dalam tubuhnya. Sepertinya Tiara sedang tidak beruntung, rupanya tadi Tiara tidak membawa handuk untuk tubuh, melainkan membawa handuk untuk mengeringkan rambut yang ukurannya jauh lebih kecil.
Tiara menghela nafas panjang sambil menutup matanya, lalu menghembuskannya dengan pelan. Apakah ini hukuman karena dia tidak memberikan jatah pada suaminya sejak mereka menikah.
" Sayang.... kamu bikin aku khawatir" ucap Rivan yang suaranya terdengar tidak sabar.
Tiara baru sadar kalau sejak tadi dia belum menjawab Rivan. " A..aku Nggak apa pa kok, mas..." jawab Tiara dengan gugup. Karena kalau Rivan melihat dirinya tanpa busana, dia yakin Rivan pasti tidak akan dapat menahan dirinya lagi.
Apakah malam ini akan menjadi malam pertama mereka??. Tiara melotot dan kepalanya menggeleng cepat. Jantungnya berdebar dengan cepat menandakan bahwa dia merasa tegang saat ini. Hingga tiba tiba diapun memiliki ide bagus.
" Mas, mas... tolong ambilin baju tidur buat aku dong. Piyamaku jatuh terus basah nih..." kata Tiara dalam kamar mandi.
Daripada dia bingung dengan keberadaan Rivan di dalam kamar, lebih baik dia memanfaatkannya untuk membantunya. Tiara tersenyum seolah kecerdikannya mampu mencurangi takdir.
" Baju yang mana?" tanya Rivan yang sedang membuka lemari pakaian milik Tiara.
Tiara yakin suaminya itu akan mengambilkan piyama atasan dan bawahan dengan asal asalan dan tidak seragam. Dan bayangan dirinya memakai piyama yang tidak seragam membuat Tiara tidak nyaman.
" Ambil yang baru aja mas, itu di dalam tas belanjaan aku barusan yang ada di atas kasur" kata Tiara memberi instruksi. Sepertinya tidak masalah bukan memakai daster yang baru dia beli tadi di toko, toh Kat penjualnya tadi pakaian yang ada di toko mereka sudah bersih semua. Namanya juga toko produk premium.
Sementara itu Rivan yang mendengar instruksi dari istrinya langsung mencari baju yang diinginkan istrinya. Rivan membuka beberapa kantong belanjaan Tiara dan menemukan lalu dibukanya kantong tersebut. Rivan terdiam, jantungnya terasa meletup dan nafasnya tertahan kala dia melihat pakaian yang menyembul dari kantong tersebut.
Rivan mengambil satu baju tersebut dan merentangkannya di udara. Baju tersebut sangat tipis dengan bahan yang sangat ringan. Rivan menelan ludahnya dengan berat. Ini kan... lingerie...
" Sayang... yang warnanya peach kan?" tanya Rivan dengan gugup mencoba mengonfirmasi, siapa tau Tiara salah.
" Iya, mas, bener yang itu" jawab Tiara yang tidak tau menahu akan apa yang ditemukan oleh Rivan. Satu hal yang dia tau adalah bahwa tadi dia memang membeli beberapa daster dan salah satunya yang berwarna peach.
__ADS_1
Wajah Rivan langsung memerah melihat lingerie transparan yang sangat pendek tersebut. Dari luar baju dapat Rivan lihat ****** ***** tipis yang menggantung di balik lingerie tersebut. Lalu di bagian dadanya dipenuhi brokat dengan belahan yang dalam dengan bentuk brokat menyerupai jupuk kupu... sungguh indah dimata Rivan.
Rivan menurunkan lingerie tersebut dan meremasnya dengan erat. Lingerie tersebut tak ada bedanya dengan pakaian dalam yang memperlihatkan seluruh bagian tubuh perempuan. Baju tersebut malah membuat fantasi liar Rivan akan istrinya saat memakainya.
" Ka..kamu... kamu yakin mau pakai ini, sayang?" tanya memastikan sekali lagi.
Berulang kali Rivan mengusap wajahnya dengan kasar, menahan debaran jantungnya yang mulai sulit dikontrol. Bayangan Tiara dalam balutan lingerie di tangannya tersebut telah memenuhi dan mengacaukan otak Rivan. Sesuatu dari dalam tubuhnya kini mulai timbul dan membuat tubuh Rivan kepanasan.
" Iya, mas, aku yakin mau makai baju itu aja" sahut Tiara terdengar meyakinkan di telinga Rivan.
Rivan menggeleng cepat, tidak mungkin Tiara sengaja menggodanya dan genit padanya, ini sama aja cari mati namanya.
" Tapi... kok gak sama kayak biasanya?" tanya Rivan lagi mencari jawaban Tiara, kira kira apa maksud dengan ini semua. Apakah ini tanda dari istrinya itu? apa ini artinya Tiara telah siap melakukannya?? Kalau Tiara melakukanya kepada Rivan hanya untuk menguji dirinya, sungguh Tiara tega sekali...
Sementara itu Tiara yang berada di dalam kamar mandi, berfikir bahwa pertanyaan Rivan mengacu pada model daster yang dia pilih tadi. Tiara yang biasa memakai piyama atasan dan celana dengan motif kartun yang lucu, dan kali ini Tiara ingin memakai daster dengan model yang simpel tanpa gambar kartun di sana.
" Iya, biar lebih praktis aja pakenya, mas. Simpel kan modelnya?" jawab Tiara dengan ringan.
Sekali lagi wajah Rivan semakin terlihat memerah dengan keringat dingin yang memenuhinya. Tubuhnya juga mulai menegang.
" A...aku... suka sih... mo...modelnya bagus" ujar Rivan dengan suara terbata dan gugup.
Mendengar suara Rivan barusan membuat Taira bertanya tanya dan bingung dengan dahinya mengernyit. Rivan yang biasanya bersikap tegas dan berwibawa kenapa sekarang suaranya terdengar menjadi gugup dan kaku?
" Hastjimm..." rupanya dingin juga rasanya malam malam nggak pakai baju sehabis mandi, apalagi dengan suhu kamar mandi yang lembab.
" Mas... buruan dong... dingin nih" Tiara sudah mulai tidak sabar.
__ADS_1
Rivan menatap kamar mandi dengan wajah tak percaya. Apakah ini petunjuk lain dari Tiara, setelah sebelumnya bersikap manja pada Rivan, menggodanya dan mengajaknya bermesraan secara tanggung. Lalu sekarang ini??