Suddenly Married

Suddenly Married
Jangan Menahannya Lagi


__ADS_3

## Di bab ini banyak mengandung adegan yang hanya bisa dibaca oleh para reader yang sudah berusia 21 ke atas atau yang sudah menikah. Jadi harap bijak saat kalian membacanya ya ๐Ÿ™๐Ÿ™##


Rivan yang biasanya bersikap tenang kini menjadi begitu buas saat berada di dalam kamar yang terasa panas ketika dirinya bisa menikmati tubuh Tiara. Bibirnya terus mencumbu dan sesekali menghisap bagian tubuh Tiara yang sudah terbuka.


Tiara sendiri seolah lupa bahwa pada kenyataannya dirinya baru saja selesai mandi, dan kini tubuhnya sudah basah kembali dipenuhi oleh peluh keringat. Peluh yang bagi Rivan begitu menggiurkan karena membuat kulit Tiara semakin berkilat, seolah menggoda Rivan untuk semakin menjamahnya.


Tiara semakin pening dan tidak bisa berfikir lebih jauh lagi, tubuhnya menikmati apapun yang saat dino dilakukan oleh Rivan. Tapi apakah setelah dia sadar nanti, Tiara dapat menerima semuanya? apakah Tiara tidak akan menyesalinya nanti?


' Plak'


Suara sebuah tamparan yang terdengar menggema di telinga keduanya, membuat Rivan dan Tiara langsung terdiam. Karena ketakutannya, Tiara spontan menarik wajah Rivan menjauh dari tubuhnya dan langsung menampar pipi Rivan dengan keras.


Sementara itu Rivan sendiri yang terkejut dan langsung mematung dan tangannya memegang pipinya yang dipukul oleh Tiara. Sedangkan posisi tubuhnya masih terduduk di atas tubuh istrinya.


" Ehmm... m...mas... ma..maaf.." ucap Tiara dengan suara terbata merasa ketakutan dengan sikap kurang ajarnya yang sudah menampar Rivan dan pasti akan membuat suaminya marah.


" Kenapa nampar sih, sayang?!" ucap Rivan dengan suara yang terdengar berat dengan tangan mengusap pipinya bekas tamparan istrinya.


Tangannya yang besar langsung terlihat menutupi wajahnya. Tiara langsung bergidik ngeri saat mendengar suara suaminya yang terdengar penuh emosi. Apakah kali ini Rivan akan benar benar sangat marah padanya yang lebih menakutkan daripada sebelumnya?


" Mas... ma..maaf..." sekali lagi Tiara meminta maaf pada Rivan dengan penuh rasa penyesalan dan ketakutan.


Kepalanya dia miringkan ke samping supaya tidak melihat wajah Rivan yang menakutkan jika marah. Dia benar benar takut tidak ingin menerima amukan sama seperti waktu dengkulnya luka pada beberapa hari yang lalu.


Dada Rivan sudah semakin naik turun karena menahan emosinya. Selain itu juga gairahnya justru semakin memuncak dan seluruh tubuhnya terasa kepanasan. Tanpa berfikir panjang lagi dia langsung melepaskan polo shirt- nya yang sudah sedikit basah oleh keringat dari tubuhnya yang kepanasan.


Mata Tiara langsung terbelalak dengan sempurna saat melihat suaminya justru melepaskan kaosnya sendiri. " Ma?! kenapa buka kaos segala sih?!" tanya Tiara yang semakin bingung dengan reaksi yang dilakukan suaminya.

__ADS_1


" Kami sih, mainnya kasar!" sahut Rivan.


" Kok jadi aku sih, yang disalahkan?" tanya Tiara bingung dan tidak terima disalahkan oleh Rivan.


" Huuuhh..." Rivan menghembuskan nafasnya yang baru dihirupnya dengan berat. " Trus karena siapa lagi? kamu dengan pakaian seksi kamu... trus nampar aku... aku pusing, Ara!" lanjut Rivan kini ucapannya mulai berantakan dan sulit dipahami.


Tapi sejenak kemudian Rivan kembali mencium dan ******* bibir Tiara dengan kasarnya. Barulah kemudian Tiara paham apa yang terjadi pada suaminya. Gairah Rivan akan semakin menggebu jika diperlakukan dengan kasar.


Tiara tidak menyangka bahwa tamparannya yang begitu keras tadi justru malah membuat gairah Rivan membuncah dan memancing kebuasan Rivan. Saat ini suasana yang liar dan penuh hasrat di dalam kamar mereka semakin lama tidak bisa dikendalikan dan sulit untuk ditolak.


Baik Tiara ataupun Rivan semakin tenggelam dalam keinginannya untuk hanya sekedar bermesraan saja. Mereka ingin berhubungan yang lebih, bukan hanya sekedar berciuman atau bercumbu saja.


" Please.... katakan kalau kamu sudah siap, sayang...! aku sudah nggak kuat menahannya lebih lama lagi..." ucap Rivan disela geraman dan lumayan kasarnya di bibir Tiara.


Tiara mencoba menghindari serangan Rivan yang sudah mulai gelap mata, dan kini Rivan tengah sibuk menikmati sekitar area leher dan bahu Tiara. Dan ternyata hal itu sukses membuat Tiara tak kalan bergairahnya. Tangannya semakin meremas rambut dan menahan kepala Rivan seolah agar terus melakukan hal tersebut.


" Kenapa?" tanya Rivan dengan bibirnya yang terus menghisap pelan leher Tiara. " Aku gak mau nyakitin kamu, sayang" lanjut Rivan yang bilangnya tidak ingin menyakiti Tiara tapi lihatlah saat ini dia justru terus meremas rambut dan pinggang Tiara dengan erat.


Tentu saja apa yang dilakukan dirinya dan Tiara saat ini tidak akan cukup sampai disitu saja. Karena jiwa Rivan saat ini begitu kelaparan dan mereka tau apa yang bisa memuaskan laki laki ini dan menjinakkannya kembali.


Tiara yang matanya sempat sayu dan ikut tertutup oleh gairah akhirnya langsung tersadar. Tiara menatap Rivan yang tengah sibuk dengan tubuhnya, tapi tidak sekalipun Rivan berusaha membuka baju tipis yang dipakainya. Padahal seharusnya pria tersebut sudah dapat membukanya dengan mudah.


Tapi tidak! Rivan begitu menghormati Tiara dan keinginannya. Tiara yakin pria seperti ini tidak akan mungkin menyakiti dirinya.


Kala menyadari hal itu, ada sesuatu yang membuncah dalam diri Tiara. Sikap Rivan padanya membuat ledakan hasrat di dalam tubuhnya, kini dimata Tiara tidak ada yang lebih dia inginkan selain Rivan. Seorang pria yang begitu memujanya itu harus menjadi miliknya seutuhnya.


" Jangan menahannya lagi" ucap Tiara dengan tegas dan penuh keyakinan.

__ADS_1


Tiara meremas rambut cepak Rivan dan menatap mata pria tersebut dengan tajam. Ketakutannya akan hubungan malam pertama yang akan menyakiti fisiknya kini telah menguap entah kemana. Saat ini Taira hanya ingin segera menyatu bersama dengan suaminya.


" Hah?!" tanya Rivan yang bingung dan ragu dengan kata kata Tiara.


" Aku siap!" kata Tiara dengan tegas sambil menatap Rivan pandangan sungguh sungguh dan meyakinkan.


Rivan juga balas menatap Tiara mencoba mencari kebohongan di mata istrinya, akhirnya dia yakin bahwa istrinya bersungguh sungguh dan tidak sedang mempermainkan dirinya. Lagipula untuk apa istrinya mempermainkan dirinya disaat sudah seperti saat ini, disaat Tiara sendiri juga sudah diliputi oleh gairahnya yang menggebu.


Maka tanpa lebih banyak basa basi lagi, Rivan langsung menerkam tubuh Tiara. Dia mencium bibir Tiara kembali dengan penuh gairah, lalu turun kembali ke leher dan area dadanya. Dibenamkannya tubuh Tiara sampai melesak ke kasur, tangannya yang terus sibuk untuk melepaskan baju yang menempel di tubuh istrinya.


Kali ini kegiatan Rivan sudah tidak bisa ditahan ataupun dihentikan lagi oleh Tiara. Rivan akan menikmati setiap jengkal tubuh Tiara yang sudah didambakan selama ini. Dia terus mencumbu dan mencium dengan rakus mulai dari bibir, leher, telinga bahkan dada Tiara yang sudah tidak tertutup oleh sehelai benangpun.


Suasana kamar yang tadinya sudah panas kali ini semakin dan lebih panas lagi karena ulah Rivan. Bahkan hembusan udara dinginnya AC sudah tidak dapat mendinginkan ruangan tersebut apalagi tubuh mereka yang sudah dipenuhi oleh keringat yang keluar dari tubuh mereka.


" Masshhh..." suara ******* Tiara begitu memabukkan bagi Rivan.


Mereka saling berciuman, bibir saling bertautan, bibir saling membelit satu sama lain penuh gairah. Tangan Rivan tidak tinggal diam, satu tangannya bergantian meremas dengan pelan dada sintal Tiara yang terasa pas berada di genggaman.


Rivan terus mencumbu leher dan dada Tiara dengan kuat hingga meninggalkan banyak bekas merah di sana.


Tiara terus mendesah dan tubuhnya meremang saat merasakan tubuhnya disentuh dengan nikmat oleh suaminya. Tangannya terus meremas rambut dan kepala Rivan seolah membenamkan kepalanya di dada dan lehernya.


Mereka terus beradu di atas ranjang penuh dengan gairah yang sudah menggebu gebu. Alih alih berlaku pasrah, setelah dirinya merasa puas dengan sentuhan tangan dan bibir Rivan sebelumnya. Dia langsung membalikkan tubuh Rivan hingga kini tubuhnya bergantian berada di atas tubuh Rivan.


Harus lebih terangsang katanya.... berarti Tiara sendiri yang harus mencari rangsangan. Persetan dengan pasrah, Tiara harus mencari kenikmatannya sendiri.


Tiara juga ingin menikmati tubuh atletis suaminya dengan bibirnya yang selama ini hanya bisa dia nikmati lewat matanya saja. Tiara sungguh mabuk kepayang menikmati tubuh suaminya dan meliuk lihai di atas tubuh Rivan sehingga membuat Rivan semakin bergairah.

__ADS_1


## Maaf banget kalau bab ini ada konten 21+, jadi harap bijak membawanya๐Ÿ™๐Ÿ™


__ADS_2