
Setelah acara serial drama Korea yang ditayangkan telah berakhir Tiara masih dengan posisi yang sama. Karena merasa bosan dengan tontonan lain membuat Tiara bosan dan mengantuk. Tanpa sengaja dia langsung tertidur di sofa dengan posisi tubuhnya yang masih duduk.
Melihat istrinya yang terlihat kelelahan dan tertidur Rivan langsung bangkit dari berbaringnya dan duduk di sebelah Tiara. Diperhatikan wajah lelah istrinya dan dibelainya, kemudian dia membaringkan tubuh istrinya di sofa dengan pelan agar Tiara merasa nyaman dengan posisi tidurnya.
" I love you, sayang" ucap Rivan lirih lalu dikecupnya dengan pelan dan lama kening Tiara dan membaca kembali bukunya serta membiarkan istrinya untuk beristirahat.
*
*
Tidak terasa waktu terus berjalan dan Rivan larut sendiri dengan buku bacaannya. Begitu juga Tiara yang terlihat tidur dengan nyenyak.
" Tiara.... sayang.... bangun..." Rivan membangunkan Tiara dengan suara lembut sambil mengelus rambut Tiara.
Tiara pun perlahan membuka matanya ketika mendengar suara lembut suaminya. Tiara menatap Rivan yang tengah tersenyum di sampingnya dan dia langsung bangun lalu duduk di sofa yang sama. Rivan beralih duduk di sebelah istrinya.
" Kenapa kamu nggak bangunin aku, mas?" tanya Tiara. Dia melihat jam di dinding yang menunjuk angka dua. Lalu beralih ke arah kitchen bar yang sudah tertata beberapa makanan.
" Ini juga aku bangunin kamu, sayang" sahut Rivan.
" Nggak maksud bangunin aku dari tadi, biar aku bisa masak tadi" kata Tiara sambil mengusap usap wajahnya.
" Nanti malam aja, masak buat makan malam, nanti aku bantuin. Tadi aku pesen makanan dari luar" ucap Rivan lalu mencium punggung tangan istrinya menenangkan.
" Tapi kenapa nggak bangunin aku?" tanya Tiara lagi merasa bersalah tidur sendiri tanpa menghiraukan suaminya.
" Kamu tidur nyenyak banget, sayang. Aku mana tega bangunin kamu" jawab Rivan apa adanya. " Udah yuk kita makan siang" lajut Rivan mengajak istrinya menuju kitchen bar dan Tiara hanya bisa mengekor suaminya saat tangannya terus digandeng oleh suaminya.
Berada di rumah menghabiskan waktu seharian bersama Rivan begini sepertinya membuat jantung Tiara mudah lelah. Habisnya dia dipaksa berdetak kuat setiap saat, karena mendapatkan perlakuan yang begitu manis dan memanjakan dari Rivan.
Tiara jadi merasa kalah dengan Rivan, entah kalah dalam hal apa dia sendiri juga bingung. Dan situasi ini tidak bisa dia biarkan begitu saja, dia tidak boleh lelah jantung sendirian.
" Hap!" tiba tiba Tiara melepas tangan Rivan dan langsung memeluknya dari belakang.
" Sayang.... apaan sih?!" tanya Rivan yang terkejut dengan sikap istrinya. Beberapa kali ia menengok ke belakang sambil mencoba menggapai istrinya yang tengah mendekapnya dengan erat.
" Aku cinta kamu, mas!" seru Tiara.
Rivan langsung berhenti bergerak dan diam seketika saat mendengar seruan dari istrinya itu. Dia mencoba meresapi suara Tiara hingga ke dalam relung hatinya yang terasa menghangat mendengar satu kalimat yang diserukan Tiara.
__ADS_1
" Jangan jadiin aku beban kamu, tanggung jawab kamu... aku juga bertanggung jawab atas kamu, tau" kata Tiara dengan suara yang biasa.
Seharian ini Tiara begitu dimanjakan oleh Rivan seperti seorang putri raja. Tadi dibuatkan sarapan, dibiarkan bersantai hingga lewat tengah hari, siang pun tidak memasak. Tiara bukanlah seorang putri raja, tapi istri Rivan. Dia tidak ingin Rivan kerepotan sendirian seperti ini.
Rivan melepaskan depakan Tiara dengan perlahan dan berbalik menghadap istrinya. Tapi kini Rivan justru menunduk dan Tiara mengetahui suaminya sedang memikirkan beban berat yang dipikulnya dan terus mengganggunya dari kemarin.
" Jangan pikul semuanya sendiri, mas. Aku juga ada buat kamu" ucap Tiara menangkup wajah Rivan dengan kedua tangannya.
Rivan hanya bisa memejamkan matanya meresapi tangan Tiara yang membelai pipinya. Rivan menurut saja saat wajahnya ditarik Tiara perlahan mendekat ke arahnya dan dia memberikan ciuman yang begitu dalam untuk menenangkan Rivan.
Rivan mengalungkan satu tangannya melingkari pinggang Tiara, sedangkan tangan satunya dia gunakan untuk mendorong kepala Tiara agar tidak melepas cumbuan mereka.
Rivan menjadi sepenuhnya menyadari keberadaannya sebagai suami Tiara. Dia ingin melindungi istrinya, menjadi kepala keluarga yang menimbulkan rasa tenang dan nyaman bagi anggota keluarganya. Kalau perlu ia akan mengorbankan dirinya sendiri agar Tiara tidak tersakiti dan hidup bahagia.
Tiara telah membawa arti lain keberadaan Rivan, dan pria itu tidak pernah berhenti bersyukur dapat memiliki Tiara dan menghabiskan waktunya bersama dengan perempuan itu.
" Makasih sayang" ucap Rivan setelah cumbuan mereka terlepas. " Maaf bikin kamu khawatir" lanjutnya lalu memeluk Tiara dan mencari kekuatan dirinya lagi dalam pelukan itu.
Akhirnya mereka duduk di kitchen bar untuk menyantap makan siang yang sudah dipesan sebelumnya oleh Rivan di salah satu restoran. Kini hati mereka kembali menghangat tanpa ada beban pikiran yang membuat hari mereka menjadi buruk.
" Cheers...." ucap Tiara dan Rivan bersaman sambil mengetukkan gelas berisi air mineral.
Tadi Rivan hanya menyiapkan segala keperluan makanan siap saji dengan sempurna di atas kitchen bar. Baru kemudian membangunkan Tiara yang masih tidur agar makanan tidak cepat dingin dan mereka bisa langsung menyantapnya.
" Selamat makan..." ucap Rivan pada istrinya.
" Selamat makan...." balas Tiara Tiara dengan wajah bahagianya.
Mereka segera menyantap makanan yang begitu menggugah selera makan siang mereka yang sudah lewat. Mereka makan dengan diselingi obrolan ringan dan candaan yang membuat mereka tersenyum bahkan tidak jarang mereka juga tertawa.
" Aku seneng banget bisa berduaan di rumah terus seharian sama kamu" ucap Rivan disela makannya.
" Kalau berduaan aja... nggak harus di rumah terus kan?" tanya Tiara.
" Kenapa? kamu mau main ke luar?" bukannya menjawab Rivan justru balik bertanya.
" Mau, biar segeran..." sahut Tiara. Seneng juga rasanya melihat suaminya sudah bisa menangkap kode, meskipun tadi nggak jelas kodenya mau kemana arahnya.
" Ke pantai, mau?" tanya Rivan. Dalam pikirannya dia sudah membayangkan Maldives, Raja Ampat dan Lombok. Baginya mudah saja untuk mengatur penerbangan dirinya bersama Tiara malam ini juga.
__ADS_1
" Ancol, yuk! udah lama nggak ke sana" ide Tiara ini pun langsung membuat Rivan tersedak. Dia buru buru meminum air putihnya dan Tiara terlihat mengkhawatirkan suaminya.
" Pelan pelan minumnya, mas" ucap Tiara.
Beberapa kali Rivan terbatuk-batuk dan setelah batuknya berangsur hilang, dia langsung tertawa.
" Kamu tuh ya...." ucap Rivan menggantung dan kembali tertawa.
" Kenapa sih? emang salah kalau aku mau ke Ancol?" tanya Tiara bingung.
" Kamu nggak mau ke pantai yang jauhan dikit, yang lebih bagus, gitu...?" tanya Rivan.
" Kayak Anyer, gitu?" tanya Tiara balik.
Rivan hanya bisa melipat bibirnya dan tersenyum. Perempuan di depannya itu memang benar benar unik. Dulu dia selalu dibujuk oleh mantan mantannya untuk liburan menyewa kapal pesiar lah, menuju pulau terpencil lah, atau kadang menyewa satu pantai seharian untuk dinikmati sendirian.
Tapi Rivan jarang sekali menerima ajakan dan bujukan tersebut dengan alasan sibuk banyak kerjaan padahal dirinya malas aja berlibur. Dan kini dia mendapat pasangan yang berbanding terbalik dan semakin lama bawaannya semakin ingin dia manjakan.
Rivan ingin mengajak Tiara travelling, jalan jalan ke tempat indah dan menyenangkan. Rivan ingin berpetualang bersama Tiara dan membuat mata indah Tiara mengagumi keindahan di belahan bumi lainnya.
" Nggak mau ke Lombok gitu misalnya" kata Rivan.
" Ngapain ke sana?" tanya Tiara heran dan itu sukses membuat Rivan melongo.
" Ya, main di pantai lah" jawab Rivan.
" Jauh. Sayang kalau cuma sehari. Itu nanti aja kalau kita bisa cuti seminggu baru ke sana" sahut Tiara.
" Kalau cuti seminggu, nggak mau ke Maldives sekalian?" tanya Rivan ingin sekali mengajak Tiara ke sana karena dia suka sekali ke sana bersama keluarganya.
" Nanti aja deh mikirnya kalau kita udah bisa cuti bersama. Sekarang mikirnya yang besok dulu, Ancol aja, ya?" bujuk Tiara.
Rivan berfikir untuk beberapa saat sebelum akhirnya dia menghela nafas panjang dan menghembuskannya dengan pelan. " Ya udah, besok ke Ancol" ucap Rivan pasrah.
Tiara tersenyum penuh kemenangan karena keinginannya terpenuhi.
" Tapi hari ini puas puasin dulu ya di kamar" kata Rivan tersenyum licik.
Senyum Tiara langsung memudar melihat wajah suaminya yang terlihat tidak ingin ditolak. Tiara mendesah lalu tersenyum maklum, hari ini sepertinya dia harus memiliki tenaga yang lebih untuk memanjakan suaminya.
__ADS_1