Suddenly Married

Suddenly Married
Pertemuan Dua Keluarga


__ADS_3

Malam ini di ruang makan rumah kediaman keluarga terlihat ramai daripada sebelumnya. Tentu saja rupanya keluarga tersebut kedatangan tamu spesial. Untuk pertama kalinya keluarga tersebut kedatangan anggota keluarga baru.


Rupanya kedatangan bunda Amel ke rumah Rivan tadi pagi ingin Tiara mengundang kedua orang tuanya untuk makan malam di rumah kediaman keluarga Sanjaya. Bunda Amel ingin bertemu untuk pertama kalinya serta berkenalan dengan keluarga besannya tersebut yang belum pernah sekalipun keluarganya temui.


Dia sendiri merasa kesal dan marah dengan sikap acuh putranya yang sudah kelewat batas. Bagaimana bisa Rivan sampai saat ini belum pernah mempertemukan dan memperkenalkan mertuanya pada keluarganya sendiri padahal dia sudah menikahi Tiara berbulan bulan lamanya di KUA.


Makanya tadi pagi bunda Amel langsung mendatangi rumah putranya dengan tiba-tiba. Bahkan di hadapannya langsung bunda Amel menyuruh menantunya itu untuk langsung menghubungi orang tuanya dengan maksud untuk menyampaikan undangan makan malam di rumahnya. Sehingga mereka tidak memiliki alasan untuk menghindari pertemuan kedua keluarga.


" Selamat datang di kediaman keluarga kami Bu" sapa bunda Amel dengan wajah sumringah begitu beliau menyambut kedatangan besannya yang datang bersama dengan putra dan menantunya. Wanita paruh baya yang terlihat memukau itu langsung memeluk dengan erat besannya tersebut dengan bahagia tanpa merasa sungkan.


Sementara itu ibu Suci yang dari awal kedatangannya hanya bisa diam karena kagum melihat sebuah rumah yang bak seindah istana tersebut. Perempuan paruh baya tersebut yang biasanya selalu cerewet dan suka mendebat itu langsung diam penuh kagum dan tidak percaya dengan apa yang sudah dilihatnya. Bahkan beliau perempuan tersebut masih belum percaya kalau keluarga besannya sangatlah kaya.


Bunda Amel yang merasakan keterdiaman besannya yang tidak membalas pelukannya langsung melepaskan pelukannya. Dan dilihatnya perempuan paruh baya yang dilihatnya seumuran dengannya tersebut hanya diam terpaku. Bunda Amel hanya tersenyum tipis melihat pemandangan tersebut.


" Apa kabarnya bu besan?" kali ini bunda Amel mengulurkan tangan kanannya mengajak besannya untuk berjabat tangan, mengingat tadi saat beliau memeluk perempuan tersebut sama sekali tidak memberinya respon. Bunda Amel mengira besannya tersebut merasa canggung karena baru pertama kali mereka bertemu dan beliau langsung memeluknya seolah mereka sudah mengenal lama.


" Bu...!" bisik pak Hendra di dekat telinga bu Suci sambil membelai tangan istrinya yang berdiri di sebelahnya yang masih terdiam tanpa membalas jabatan tangan bunda Amel.


Langsung saat itu bu Suci tersadar dari lamunannya dan tersenyum dengan canggung. Tangannya langsung menjabat tangan bunda Amel dengan erat, tanpa diduga bu Suci juga langsung gantian memeluk besannya tersenyum dengan senyum bahagia.


" Senang sekali bisa bertemu dengan Bu besan" ucap bu Suci kali ini dengan nada bicara yang ceria seperti biasanya. " Apa kabarnya bu?" bukannya menjawab pertanyaan bunda Amel, bu Suci yang malah balik bertanya setelah melepaskan pelukannya.


" Baik...., saya juga senang sekali bisa bertemu dan berkenalan langsung dengan Bu besan" jawab bunda Amel dengan senyum bahagia melihat keceriaan besannya.

__ADS_1


Rivan dan Vani yang kebetulan ada di sana hanya bisa tersenyum senang melihat keakraban kedua besan yang baru bertemu itu. Mereka bisa memaklumi itu karena sudah lama mereka ingin sekali memiliki besan.


Tentunya berbeda dengan Tiara dan pak Hendra yang tersenyum malu melihat sikap bu Suci. Mereka berdua tau bagaimana keseharian bu Suci selama ini dan berharap wanita paruh baya tersebut bisa mengendalikan sikap dan ucapannya yang suka ceplas ceplos di depan keluarga Sanjaya.


" Bu sudah.... jaga sikap ibu, jangan buat putri kita malu di depan keluarga mertuanya" bisik pak Hendra dengan hati hati menasehati istrinya. Sekali lagi bu Suci tersadar dan akhirnya tersenyum dengan canggung tidak ingin besannya berpikiran buruk terhadap dirinya maupun keluarganya.


" Mari Bu... Pak ... silakan masuk" tidak ingin berlama lama menyambut kedatangan besannya di luar rumah bunda Amel mengajak besannya untuk masuk ke dalam.


Akhirnya mereka semua masuk ke dalam rumah yang besar tersebut bak istana. Bu Suci melihat sekeliling rumah tersebut dengan tatapan penuh kekaguman. Beliau tidak pernah menyangka bahwa anaknya akan menikah dengan seorang konglomerat.


Padahal dulu dia beberapa kali selalu menjodohkan putrinya tersebut dengan anak anak dari temannya atau anak dari kenalannya yang memiliki latar belakang hampir sama dengan keluarganya. Tapi ternyata nasib putrinya begitu mujur dengan dinikahi oleh Rivan yang entah darimana datangnya yang memiliki latar belakang jauh di atas keluarganya.


Hingga akhirnya mereka sampai di ruangan makan yang cukup besar dengan meja panjang dan beberapa kursi yang berada di tengah tengah ruangan tersebut. Di sana terlihat dua orang pria paruh baya yang satu terlihat seumuran dengan pak Hendra.


Kedua pria tersebut langsung menyambut kedua besannya dengan senyum bahagia seperti yang dirasakan oleh bunda Amel sebelumnya. Berbeda sekali dengan pak Hendra dan bu Suci yang merasa canggung berada di tengah tengah keluarga kaya raya tersebut.


" Selamat datang di keluarga besar Sanjaya" ucap ayah Tama yang mengulurkan tangannya untuk mengajak berjabat tangan.


" Terima kasih..." sahut pak Hendra dengan senyum canggung sambil menjabat tangan besannya. Dan bergantian dengan menjabat pria tua yang dia ketahui bernama pak Guntur Sanjaya.


Begitu juga dengan bu Suci yang bergantian menjabat tangan kedua pria tersebut dengan senyum tipis. Kali ini beliau harus bisa mengendalikan sikapnya agar tidak mempermalukan putri dan suaminya di depan keluarga konglomerat tersebut.


" Mari silakan pak" ayah Tama mempersilakan kedua besannya untuk menuju kursi mereka.

__ADS_1


Rivan yang sudah mengerti dengan lirikan mata bundanya langsung berjalan mengarahkan kedua mertuanya untuk duduk di kursi makan. " Silakan duduk yah" ucap Rivan dengan senyum bahagia sambil menarik satu kursi di ujung yang berhadapan dengan kek Gun untuk diduduki oleh ayah mertuanya.


Ayah Hendra mengangguk pelan dan berjalan menuju kursi yang ditarik oleh menantunya., tapi masih dengan posisi duduk karena dilihatnya seluruh anggota keluarga besannya masih berdiri di masing masing tempat duduk mereka.


Setelah itu Rivan juga menarik satu kursi lagi di sebelah kanan pak Hendra untuk diduduki oleh ibu mertuanya. Baru setelah itu dia menarik kursi untuk istrinya dan terakhir untuk dirinya sendiri.


" Silakan duduk" kali ini kek Gun yang memberikan aba aba pada semua orang untuk duduk di kursi yang sudah disediakan.


Semuanya langsung duduk setelah melihat kek Gun yang terlebih dahulu duduk di kursinya sendiri.


Ruangan makan tersebut menjadi terasa sedikit canggung tanpa ada yang berani memulainya berbicara. Mungkin itu yang sedang dirasakan oleh pak Hendra dan bu Suci. Mereka pasti merasa minder karena perbedaan derajat dua keluarga tersebut. Maka mereka berdua berusaha untuk bersikap sopan dan mengendalikan diri sehingga tidak berbicara atau bersikap kurang sopan.


Tiara yang sedari tadi bisa melihat dan merasakan sikap canggung dan tegang dari kedua orang tuanya, juga ikut merasa was was dan canggung. Dulu dia juga pernah merasakan hal tersebut saat pertama kali dia datang ke rumah tersebut. Meskipun dia tau bahwa anggota keluarga mertuanya adalah orang orang yang begitu welcome terhadap siapapun tanpa memandang derajat orang lain.


Tentunya berbeda sekali dengan sikap Rivan yang merasa tenang dan lebih banyak tersenyum meskipun hanya tipis. Dia tau betul bahwa keluarganya pasti akan menerima dengan senang kedua mertuanya menjadi keluarga besar mereka. Dia tau saat ini Tiara merasa gelisah dan was was, makanya tangannya langsung memegang tangan kiri Tiara untuk menenangkan sang istri.


" Selamat datang di keluarga besar Sanjaya bapak dan ibunya Tiara..." ucap bunda Amel dengan sikap yang ramah dengan senyum bahagia sehingga mengalihkan suasana yang terasa canggung tersebut menjadi lebih tenang.


Bu Suci dan pak Hendra hanya mengangguk bersama dengan tersenyum tipis masih merasa sedikit canggung.


" Sebelumnya saya ucapkan terima kasih pada bapak dan ibu yang sudah berkenan memenuhi undangan makan malam keluarga kami" lanjut bunda Amel.


" Justru kami yang merasa sangat tersanjung dan bahagia bisa mendapatkan undangan makan malam bersama keluarga yang hebat ini" balas pak Hendra dengan sedikit tenang setelah beliau bisa mengendalikan perasaan canggungnya. Untungnya beliau adalah seorang guru sehingga bisa menguasai sikapnya menjadi lebih tenang.

__ADS_1


__ADS_2