Suddenly Married

Suddenly Married
Rasanya Ngilu


__ADS_3

Tanpa sadar Tiara benar benar menanyakan apa yang telah menjadi ketakutannya selama ini, seperti yang dia dengar dari cerita beberapa orang. Apalagi masalahnya kalau bukan mengenai 'the first night' atau malam pertama yang biasa dilakukan oleh pengantin baru.


Tentu saja ada rasa ingin tau mengenai hubungan tersebut, karena hingga saat ini dirinya yang sudah menikah dengan Rivan hampir satu bulan ini bahkan belum melakukan yang namanya malam pertama. Sudah tentu penyebabnya karena Tiara yang belum siap, alasannya karena rasa takut setelah mendengar bahwa saat malam pertama akan begitu menyakitkan bagi kaum perempuan.


Jadi tidak ada salahnya kan, jika dia langsung bertanya pada Nita yang sudah merasakan the first night bersama suaminya. Selain itu jika bertanya pada Nita maka tidak akan ada rasa malu atau canggung yang dirasakan Tiara karena mereka Nita pasti akan menjawab pertanyaannya dengan sejujur jujurnya tanpa ada yang akan dia tutupi.


" Gue sama Doni pertama kali kan waktu melakukannya, dan kita juga masih polos kan waktu itu. Jadi dulu itu tuh rasanya ampun deh....nggak nembus dalam sekali percobaan" Nita mulai menceritakan kisah malam pertamanya setelah dia mengingat ingat kembali kejadian yang sudah lama sekali Nita dan suaminya lakukan.


Mendengar penjelasan Nita, mata Tiara langsung membelalak sempurna. " Hahh..?!" ujar Tiara yang merasa semakin ngilu di sekujur tubuhnya merasakan sakit yang dirasakan Nita.


" Iya, sakit banget! nggak kuat gue. Jadi ya dicicil deh" kata Nita dengan santainya menyamakan masalah malam pertama kayak membayar hutang di bank saja.


" What..!!" dari badannya yang tadi terasa ngilu hingga rasa sakit yang dikatakan Nita, membuat Tiara menutup idenya untuk melakukan hubungan itu selama lamanya.


Belum melakukannya, Tiara masih mendengar cerita dari orang lain dan juga mendengar pengalaman pribadi sahabatnya membuat Tiara merasa takut untuk melakukan hubungan itu. Rasanya dirinya tidak akan sanggup untuk bisa merasakan sakitnya.


" Eh…salah nih kayaknya gue ngomong kayak gini..." kata Nita yang merasa bersalah saat melihat raut wajah takut dan kesakitan ala Tiara.


" Ya menurut lo aja, Nit" ujar Tiara kesal.


Setelah akal sehatnya kembali berjalan Tiara mulai sadar kalau memang hubungan itu begitu sakit dan menimbulkan traumatis bagi kaum hawa. 'Tapi mengapa Nita suka sekali membahas hal yang menjurus kearah sana jika merasa sakit saat melakukannya?'. Itulah pertanyaan Yanga ad di otak Tiara saat ini.


" Lo jangan berpikir parno dulu... dalam cinta memang tidak ada yang namanya kata menyerah. Apalagi dalam hubungan bercinta" ucap Nita yang mengundang geli di perut Tiara karena bahasa Nita kalau sedang membicarakan hal yang satu ini memang suka asal cocok saja.


" Lalu lo memperjuangkannya dengan cara apa, Nit?, sampai sampai kamu merasa puas dan senang melakukan itu. Bukannya awalnya Lo sudah merasa kesakitan?" tanya Tiara merasa penasaran.

__ADS_1


Tiara ingin tau bagaimana Nita bisa menghilangkan rasa sakit dan traumanya setelah melakukan yang pertama dan bahkan katanya tadi mereka baru saja melakukan setengahnya Nita sudah merasa kesakitan. Dan apakah hal itu tidak menimbulkan traumatis karena merasa disakiti . Tidak masalah kan jika Tiara ingin bertanya lebih detail pada Nita, hitung hitung untuk menambah pengetahuannya.


" Jadi setelah nggak tembus sekali, kita langsung nyari ilmunya, Ara" kata Nita yang tidak risih membicarakan malam pertamanya dengan sahabatnya.


" Nyari ilmu?" Tiara benar benar sulit memahami bahasa Nita yang terkadang terlampau kreatif dan membingungkan bagi Tiara terutama mengenai hal berbau mesum.


" Dari film biru hehehe...." jawab Nita lalu terkekeh. " Akhirnya kita mencari pengetahuan itu dengan menonton bersama dari film dewasa yang menampilkan cara berhubungan untuk pertama kalinya agar si perempuan juga tidak merasakan sakit saat melakukannya untuk pertama kalinya" jelas Nita yang bicara sambil melihat lihat beberapa lingerie yang tergantung rapi di depannya dengan sesekali menatap kearah Tiara yang berdiri di sebelahnya.


Tiara hanya bisa diam menahan tawa yang siap menyembur dengan penjelasan Nita.


" Lah.. memang miring ya lo sama Doni tuh" sahut Tiara yang melempar tawa kecil dan menepuk bahu Nita tanda rasa geli yang sudah menjalar.


" Ya, tapi emang banyak yang bisa dipelajari dari sana" ujar Nita yang tidak memperdulikan anggapan Tiara mengenai dirinya dan suaminya.


" Seperti… kenyataan bahwa kalau ceweknya merasa rileks tanpa takut akan rasa sakit yang akan dirasakan dan melakukan pemanasan terlebih dahulu agar terangsang. Rasanya kan bisa nggak sesakit seperti yang kita bayangkan dan rasakan" jelas Nita. " Dari sana kita akhirnya mencoba sekali lagi dan akhirnya jadi nyaman banget. Nagih malah... hihihi..." lanjut Nita yang seolah terlena dengan penjelasannya sendiri, tidak menyadari bahwa wajah Tiara masih terlihat kecut dan ngilu.


" Aduhhh... gue dengernya malah ngilu nih, Nit" Tiara masih merasa ngilu dan nyeri di sekujur tubuhnya.


" Ya.. kalau waktunya datang, lo kudu rileks... tenang... coba nikmatin suasananya, jangan Lo ingat rasa sakitnya. Apalagi kalau Lo ngelakuinnya sama cowok yang Lo cinta. Pasrahin aja dan percaya sama dia kalau dia gak bakalan bikin lo kesakitan" ujar Nita memberi saran.


" Ah.. au ah! gue mau ke toilet dulu" Tiara tidak dapat membayangkan bagaimana menikamati suasana malam pertama dengan rasa sakit yang mendera dera karena semakin dibicarakan malah semakin membuat Tiara takut dan Tiara pun memutuskan untuk kabur setelah menitipkan keranjang belanjaan yang berisi beberapa daster yang telah dia ambil sebelumnya.


" Basah ya, Ara..." goda Nita.


" Kebelet gila!" sungut Tiara yang langsung lari ke belakang mencari toilet yang ada di toko tersebut setelah menanyakannya pada salah satu pegawai toko.

__ADS_1


Nita tertawa terbahak bahak, dia merasa puas telah berhasil mengolok olok kepolosan Tiara. baru saja bicara seperti itu wajah Tiara sudah memerah apalagi kalau sudah melakukannya.


" Kasihan juga si Rivan" ucap Tiara pelan dan membayangkan wajah Rivan yang harus menahan hasratnya tiap malam untuk bisa menyentuh Tiara.


Hingga tiba tiba tercetus ide gila di dalam otak kotor Nita. Dia langsung bersemangat memilih beberapa lingerie yang terlihat begitu nakal dan menggoda untuk memprovokasi suasana. Lalu mengganti dengan lingerie yang dari awal dia pilih. Pilihannya jatuh pada beberapa lingerie yang senada dengan warna daster yang dipilih oleh Tiara. Dan bahkan panjang lingerie tersebut hanya sebatas pinggul saja.


Kalau Tiara tidak bisa memberanikan dirinya sendiri, mungkin perlu ada dorongan dari seorang sahabat seperti yang memahami keadaanya. Dan menurutnya ini salah satu idenya untuk mendorong Tiara untuk bisa memberanikan diri melakukan malam pertama dengan Rivan.


Tidak lama Tiara telah kembali dari kamar mandi dan tidak mengetahui rencana licik Nita padanya. Mereka akhirnya menuju ke kasir dan sesuai dengan janjinya bahwa dirinya akan mentraktir Nita dan membayar semua baju yang dia inginkan. Dan juga beberapa daster dan pakaian dalam yang sudah Tiara pilih sebelumnya.


" Beneran sudah nih?" tanya Tiara sekali lagi setelah dia akan membayar tagihan beberapa belanjaan milik Tiara dan Nita.


" Sudah" jawab Nita yang berdiri di belakang Tiara tersenyum licik.


Mereka akhirnya berbelanja barang yang lainnya setelah Tiara mengajak Nita untuk mencari beberapa barang yang dia inginkan. Dan setelah dirasa sudah cukup belanjanya mereka harus segar pulang karena waktu sudah beranjak menuju malam.


" Thanks traktirannya ya, Ara" ucap Nita yang kini sudah berada di dalam mobilnya setelah meletakkan beberapa paper bag berisi beberapa belanjaan miliknya ataupun milik Tiara di kursi belakang.


"Sama sama... thanks juga untuk tumpangannya" balas Tiara yang tersenyum.


Nita membawa mobilnya dan melajukan mobilnya di jalan raya menuju ke rumah Tiara dan suaminya berada. Tiara segera memberitahu alamat rumah suaminya pada Nita, karena memang Nita belum tahu menahu dimana Tiara tinggal sekarang ini.


Mobil terus melaju dengan kecepatan sedang dan di dalamnya kedua perempuan yang sudah bersahabat cukup lama tersebut mengobrol ringan dan sesekali bercanda. Hingga tidak lama kemudian mobil berhenti disalah satu rumah dengan pagar yang menjulang tinggi.


Nita berdecak kagum saat melihat rumah Rivan dari dalam mobil, meskipun dia hanya melihat bagian depannya saja. Dapat dia pikirkan bagian dalam rumah tersebut pastilah sangat mewah dengan perabotan rumah tangga yang mahal dan berkelas. Tapi decakannya langsung berhenti ketika Nita mengingat sesuatu yang harus dia lakukan saat ini.

__ADS_1


__ADS_2