
Selesai dengan kegiatan pagi mereka di ruang studio olah raga tadi, mereka langsung membersihkan tubuh masing masing. Sebelum akhirnya mereka turun ke dapur untuk menyiapkan sarapan mereka sendiri karena hari ini bik Yanti dan Ani libur bekerja.
Tadi Rivan memaksa untuk menyiapkan sarapan untuk mereka berdua, jadi mau tidak mau Tiara membiarkan suaminya kali ini yang membuat sarapan untuk mereka berdua. Bahkan Rivan juga menolak bantuan yang akan diberikan oleh Tiara.
Tiara bingung mau ngapain karena Rivan pasti membutuhkan waktu yang lama untuk memasak. Akhirnya Tiara kembali ke kamar dan membersihkan kamar mereka yang terlihat sangat berantakan. Tidak hanya kamar mereka saja, Tiara juga membersihkan beberapa tempat yang bisa dia kerjakan dengan menggunakan alat pembersih otomatis.
Tiara segera turun ke lantai bawah setelah dirasa kamarnya sudah bersih. Dia juga ingin memastikan apakah suaminya sudah selesai membuatkan sarapan untuk mereka berdua.
" Yuk sarapan, sayang" ajak Rivan yang sedang menyiapkan sarapan mereka di atas kitchen bar.
Tiara yang sedang turun dengan memakai kaus oblong dan celana pendek terlihat begitu cantik natural tanpa ada polesan make di wajahnya. Tiara pun tersenyum dan buru buru turun ke bawah untuk menyambut sarapan gratisnya dengan riang gembira dan langsung duduk di kursi yang berhadapan dengan suaminya.
Kali ini Rivan membuat telur dadar, sosis panggang dan juga daging asap panggang. Tak lupa juga ada roti yang dipanggang dengan menggunakan mentega karena Tiara sangat menyukainya.
" Selamat makan!" seru Tiara dengan senang dan penuh semangat.
Rivan hanya bisa tertawa mendengar seruan istrinya itu yang begitu terlihat senang saat melihat makanan kesukaannya. Wajah Tiara berseri seri dan segera memenuhi mulutnya dengan daging asap diatas roti panggangnya. Selain lapar, hatinya pun juga merasa sangat bahagia.
" Enak?" tanya Rivan penasaran yang sedari tadi hanya memperhatikan istrinya yang sedang makan.
Tiara mengangguk berkali kali sekaligus cepat cepat mengunyah dan menelan makanannya agar segera mengomentari masakan suaminya. " Banget!" seru Tiara memberi mengomentari masakan yang dibuat Rivan.
" Kalau dimasakin jadi enak banget ya, mas?" tanya Tiara sambil melahap sesuap lagi roti dan daging asapnya.
" Itu kode biar dimasakin terus?" kali ini Rivan bertanya sambil ikut menyuapkan potongan sosis dan telur dadar yang sudah ditusuk di garpu ke dalam mulutnya.
" Nggak mau! Sehari hari biar aku aja yang masak..." protes Tiara yang tidak setuju dengan pertanyaan Rivan.
" Kenapa?" tanya Rivan heran. Bukankan tadi Tiara bilang sarapan yang dibuatnya kali ini enak dan bukannya enak kalau dimasakkan?
" Biar aku makin jago masak. Sejak tinggal sama kamu hobi masak aku muncul lagi nih" ucap Tiara dengan gaya yang penuh semangat.
__ADS_1
" Kok bisa?" tanya Rivan dengan kedua alisnya menyatu tapi bibirnya mengembang sempurna.
" Nggak tau. Reaksi kamu yang makan makanan aku tuh bikin aku semangat, hihihi.." jawab Tiara sambil terkekeh sendiri.
" Kamu emang jago masak, sih" balas Rivan dengan pujian. Bagi Rivan masakan Tiara itu memang enak, rasanya itu sampai membuat perasaan Rivan lebih baik dan bersemangat.
" Dulu tuh aku males banget masak. Males harus nyiapin keperluannya, bangun pagi pagi trus nyuci peralatan yang kotor, rasanya ribet banget" cerita Tiara sambil sesekali memasukkan roti panggangnya.
" Tapi, sejak aku masakin buat kamu ternyata ribetnya nggak seberapa sama rasa seneng waktu lihat kamu lahap makan masakan aku, hahaha...." lanjut Tiara dengan penuh bahagianya.
Hati Rivan menghangat mendengarnya, Tiara yang ada dihadapannya saat ini tak beda dengan Tiara yang dia ajak makan di restoran dan mengajaknya kencan. Dia tidak tau bahwa perempuan yang dulu pernah dia selamatkan, ternyata menjadi bagian terbesar dalam hidupnya.
" Makasih udah masak setiap hari ya, sayang" kata Rivan.
Kini Rivan sadar bahwa begitu rumitnya mempersiapkan makanan bahkan untuk sarapan sederhana sekalipun yang dia buat tadi.
" Makasih juga udah masakin sarapan hari ini, mas" balas Tiara.
Selesai dengan pekerjaannya Tiara langsung menuju kulkas dan mengambil sebotol besar jus jeruk dan dua gelas kosong. Lalu dibawanya jus tersebut di sofa keluarga dan meletakkannya di atas meja. Lalu dia menuang jus tersebut ke dalam gelas dan setelahnya duduk dan meminum salah satu gelas berisi jus tersebut.
Tiara langsung menyalakan tv dan mencari Chanel tv yang dia sukai. Dan tanpa sengaja dia menemukan satu serial Korea yang dia sukai sedang ditayangkan. Matanya langsung semangat menonton acara tersebut.
Sementara itu Rivan yang sedari tadi ada di lantai atas kini turun kebawah sambil membawa buku yang cukup tebal. Dia lalu duduk di sebelah Tiara dengan kedua lengan mereka yang menempel.
Sofa yang sedang mereka duduki saat ini sangatlah besar, tapi Rivan duduk begitu mepet dengan istrinya sambil membaca buku. Tiarapun nampak tidak begitu keberatan akan hal itu, karena dia sedang serius menonton serial Korea yang dia sukai.
" Hari ini di rumah aja ya, mas. Aku mau ngabisin satu series ini, seru banget nih. Udah lama aku gak nonton" kata Tiara tanpa mengalihkan pandangannya dari tv.
" Ok" jawab Rivan yang juga asyik membaca bukunya.
Begitulah, akhirnya Tiara dan Rivan memutuskan untuk mengisi hari libur mereka dengan bersantai di rumah saja. Tampaknya mereka memiliki keinginan yang sama untuk menghabiskan hari libur itu dengan tidak bepergian keluar rumah.
__ADS_1
Tak berapa lama Rivan merasa haus, dia baru saja akan beranjak menuju ke kulkas. Tapi dilihatnya ada sebotol jus jeruk dan dua gelas yang tertata rapi di atas meja. Dilihatnya dua gelas sudah terisi oleh jus tersebut dan satunya tersisa setengah.
" Ini yang satunya buat aku, sayang?" tanya Rivan menunjuk gelas yang berisi jus jeruk.
" Iya" sahut Tiara menoleh sekilas ke arah Rivan dan kembali fokus melihat acara kesayangannya di tv.
" Makasih, sayang" Rivan tersenyum lalu mengambil salah satu gelas dan langsung meminumnya beberapa teguk.
Tatapan Tiara benar benar fokus pada Tv sehingga dia tidak menyadari betapa manisnya perhatiannya itu menurut Rivan. Rivan kemudian mengecup puncak kepala Tiara dan kembali menyender pada perempuan tersebut.
Untuk beberapa saat mereka bertahan dengan posisi tersebut hingga kemudian Tiara merasa pegal karena terlalu lama disenderin suaminya. Saat itulah Tiara baru sadar kalau sejak tadi Rivan duduk dengan memepet tubuhnya. Tiara memandang bagian kosong sofa yang cukup besar, sementara sedari tadi suaminya memepet dirinya sampai ke tepi sofa.
" Mas..." panggil Tiara.
" Hmm.." sahut Rivan dengan gumaman sambil terus membaca bukunya.
" Duduknya sanaan gih. Pegel disenderin kamu" ucap Tiara.
" Ya udah aku tiduran aja" jawab Rivan yang masih sibuk membaca sambil meletakkan kepalanya di paha Tiara.
Kini Tiara pun semakin tidak leluasa untuk bergerak. " Mas, kamu nggak risih denger suara tv sambil membaca? apa masih bisa konsentrasi?" tanya Tiara yang justru dirinya yang merasa risih saat kepala suaminya tidur di pahanya.
" Aku lebih nggak bisa konsentrasi kalau kamu nggak ada di samping aku" jawab Rivan yang masih tetap membaca bukunya.
Mendengar jawaban suaminya niat jahil Tiara pun muncul. Dia langsung menutupi jalan yang sedang dibaca oleh Rivan denga kedua tangannya. " Sok manis kamu, kalau aku gangguin kamu kayak gini masih bisa konsentrasi?" tanya Tiara sambil tersenyum senang bisa menggoda suaminya.
Rivan langsung menegakkan tubuhnya sambil menarik tangan Tiara, hingga dia kembali duduk dengan tegak di sebelah Tiara. Tiara berfikir kalau suaminya pasti marah.
Rivan mengarahkan tubuh Tiara ke arahnya, dan dalam satu gerakan cepat Rivan langsung mencium bibir Tiara dengan satu ciuman yang dalam dan mampu mencuri semua nafas Tiara. Tiara diam terpaku setelah ciuman yang sangat intens dan tanpa permainan tersebut.
Rivan pun gantian tersenyum saat melihat istrinya yang langsung diam terpaku setelahnya. " Sekarang kamu nonton yang tenang, kalau nakal aku cium lagi" bisik Rivan di telinga istrinya yang masih melongo dan Rivan kembali meletakkan kepalanya di atas paha Tiara.
__ADS_1
Tiara hanya bisa mengangguk dengan mulut yang masih menganga, nyawanya belum kembali ke tubuhnya. Jantungnya tidak kuat menahan ledakan hasrat untuk menerima ciuman dari Rivan tadi. Jadi dia putuskan untuk menuruti perintah suaminya menonton dengan tenang tanpa mengganggu suaminya.