Suddenly Married

Suddenly Married
Pulang dari Rumah Sakit


__ADS_3

Dua hari kemudian Rivan telah pulih dan sudah diperbolehkan untuk pulang. Tentu saja hal ini membuat Tiara senang, apalagi melihat wajah Rivan yang kemarin pucat dan sekarang sudah segar kembali.


Tiara segera mengurus segala urusan administrasi kepulangan Rivan, dan setelah selesai semuanya Tiara langsung kembali ke kamar rawat Rivan. Suaminya telah berganti pakaian dari pakaian pasien berganti pakaian kasual. Dan hal itu membuat Tiara terpesona dengan ketampanan suaminya itu.


Kemudian Tiara membulatkan matanya dengan lebar saat melihat Rivan telah memegang kunci mobil sembari memutar mutiara kunci tersebut di jari telunjuknya.


" Aku yang nyetir, mas. Jangan protes!" Tiara berhasil mengambil alih kunci mobil di jari Rivan.


Tiara menatap dengan gemas ke arah Rivan yang menatapnya seolah tak terima jika kunci mobilnya kini beralih di tangan istrinya.


" Aku kan udah sembuh, sayang" ujar Rivan dengan sedikit protes.


Rivan tentu saja merasa kepikiran kalau Tiara yang harus menyetir mobilnya, karena dia tau istrinya itu kelelahan karena dua hari ini dia menjaganya di rumah sakit. Apalagi samar samar Rivan melihat kantung mata di wajah istrinya dan kini Tiara dan masih saja kekeuh menyetir sampai rumah.


" Tiara menggeleng dengan cepat. " Kamu baru aja dibolehin pulang, jadi aku yang nyetir" kata Tiara tetap kekeuh ingin menyetir.


" Aku telpon pak Rudi aja. Kamu juga butuh banyak istirahat juga, sayang. Lihat kantung mata kamu, sekarang ini kamu udah mirip banget kayak panda" Rivan juga kekeuh tidak mengijinkan Tiara menyetir karena dia tau tubuh istrinya juga lelah.


Tiara baru saja ingin mendebat, tapi tangan Rivan terangkat tanda penolakan. " No coment" kata Rivan sok galak.


" Hallo, pak Rudi.... bisa ke rumah sakit sekarang?" tanya Rivan langsung begitu panggilan teleponnya diterima dari seberang.


" Biasa, nyonya nggak bolehin saya nyetir sendiri. Padahal sekarang nyetir sampai Bandung pun saya kuat" katanya sambil melemparkan pandangan meledek yang langsung dihadiahi cubitan oleh Tiara.


" Auw... jangan main kasar di sini, sayang. Jangan sampai satu rumah sakit ini gempar kalau aku sampai lepas kendali, sayang" godanya dengan tersenyum tipis sambil mengedipkan satu matanya dengan genit.


Mereka sama sekali tidak peduli dengan sambungan telepon yang masih terhubung dengan pak Rudi. Sementara wajah Tiara sudah berubah bersemu merah. Untungnya mereka berdua masih berada di dalam rawat inap, coba aja kalau sudah ada di koridor atau di lobi rumah sakit, Tiara bisa malu setengah mati dengan sikap Rivan.


" Saya tunggu ya pak, makasih..." kata Rivan pada pak Rudi dan kemudian menutup panggilannya.


" Kasihan pak Rudi kalau harus ke sini terus nganter kita pulang, mas. Kenapa sih, nggak aku aja yang nyetir?" ucap Tiara membela pak Rudi merasa kasihan.

__ADS_1


" Aku lebih suka memakai jasa taksi daripada harus kamu yang menyetir mobil sampai rumah. Serius! kamu nggak lebih baik daripada aku, sayang" kata Rivan membawa Tiara menghadap ke cermin untuk menunjukkan kantung mata Tiara yang sudah menghitam karena kurang tidur.


Meskipun Tiara tidur di atas ranjang dengannya, tetap saja posisi itu kurang maksimal. Badan akan terasa sakit semua karena tidak bebas untuk bergerak.


Taira memperhatikan refleksi dirinya di cermin, meskipun dirinya sering lembur dengan pekerjaannya atau lembur bersama Rivan, tidak pernah kantung matanya berubah menjadi hitam seperti saat ini. Biasanya dia sering maskeran minimal menggunakan krim di bawah mata, sehingga esok paginya ketika bangun pagi matanya kembali segar. Tapi seingatnya beberapa hari ini dia tidak sempat apalagi selama Rivan di rawat di rumah sakit.


Rivan kembali membalikkan tubuh Tiara hingga menghadap dirinya lagi. Telapak tangannya membingkai dengan lembut wajahnya dan mengecup lembut bibir istrinya tersebut. Keberadaan mereka yang masih di kamar rawat tak menyulutkan dua insan yang terus menerus di mabuk cinta itu saling menyecap. Keduanya larut dalam buaian hasrat bibir mereka yang makin terpaut dengan kuat.


" Sayang..." ucap Rivan dengan nafas tersengal.


" Hemm..." sahut Tiara


" Udahan ya, aku nggak kuat kali dilanjutin. Kita lanjutin di rumah aja, gimana?" keluh Rivan menahan hasratnya


Tiara langsung menyemburkan tawanya ketika mendengar suara Rivan yang begitu tersiksa. Rivan dengan reaksi polosnya yang selalu membuat Tiara senang dan dia tidak ingin melewatkan hal itu.


*


*


Tidak berselang lama mobil yang dikendarai pak Rudi telah terparkir dengan rapi di garasi rumah mereka Tiara dan Rivan. Tiara dan Rivan keluar dari mobil untuk masuk ke dalam rumah. Rivan yang cekatan keluar dari dalam mobil langsung membawa satu tas jinjingnya yang berisi pakaian serta perlengkapan dirinya dan Tiara selama di rumah sakit. Awalnya Tiara dan pak Rudi ingin membantu membawakan tas tersebut, tapi langsung ditolak oleh Rivan.


Rivan memiliki prinsip selama dirinya masih bisa melakukan semuanya sendiri, dia tidak akan merepotkan orang lain. Apalagi hanya untuk membawa barang yang ringan seperti itu. Baginya keberadaan sopir, satpam ataupun asisten rumah tangga hanya untuk meringankan tugas tugasnya disaat dirinya harus mengerjakan tugas yang lain.


Rivan langsung naik ke atas menuju ke kamarnya setelah disapa sebelumnya oleh asisten rumah tangganya. Sementara Tiara bergegas ke dapur untuk mengambil dua gelas kosong serta botol berisi air mineral untuk dibawanya ke kamar mereka.


" Mas" panggil Tiara saat dia masuk ke dalam kamar dan tidak mendapati suaminya di sana.


Tiara langsung meletakkan gelas dan botol berisi air tersebut di meja nakas samping tempat tidur mereka untuk mencari keberadaan suaminya. Sesat kemudian, dirinya dipeluk oleh lengan kekar namun pemiliknya selalu bersikap lembut padanya.


" Iya, sayang...." sahut Rivan semakin merekatkan pelukannya.

__ADS_1


Embusan nafasnya terasa menggelitik di leher Tiara. Jantung Tiara langsung berdebar tidak karuan. Perlakuan Rivan, sentuhan Rivan selalu berhasil membuatnya resah tak karuan.


" Kamu mau ngapain, mas?" tanya Tiara yang sudah kehabisan kata kata. Tiara berharap saat ini Rivan tidak mendengar detak jantungnya yang sudah menggila.


Rivan membalikkan tubuh Tiara untuk menghadapnya dan langsung merapatkan tubuhnya. Sebelah tangannya memegang pinggul Tiara dan sebelahnya lagi menyibakkan rambut Tiara.


" Terima kasih atas semua perhatian yang kamu berikan untukku, sayang" ucap Rivan sambil menatap Tiara dalam. Lama kelamaan kening dan hidung mereka saling beradu.


" Mas... kamu masih harus istirahat" kata Tiara yang sudah mengetahui kemana arah sikap Rivan saat ini.


Rivan mengecup bibir Tiara sekilas. " Aku sudah sembuh, sayang. Gak percaya? mau bukti?" kata Rivan yang kekeuh dengan keinginannya.


Tanpa menunggu jawaban dari istrinya, Rivan langsung melabuhkan ciumannya pada Tiara, dan menggiring Tiara untuk masuk ke dalam kamar mandi.


Akhirnya cumbuan panas mereka berakhir dengan kegiatan panas mereka menjelang sore hari di dalam kamar mandi. Inilah salah satu alasan Rivan kenapa dia begitu merindukan rumahnya.


" Nanti kita jadi ke rumah bunda kan, mas?" tanya Tiara memastikan.


" Jadi, sayang. Nih bunda juga udah nanya nakya. Kayaknya bunda kangennya sama kamu bukan sama aku...." sahut Rivan dengan raut wajah yang dibuat sedih. Saat Rivan memberitahu bahwa mereka akan berkunjung ke rumah utama setelah dirinya pulang dari rumah sakit. Bundanya menyambut dengan senang, malah suaranya terdengar antusias saat mendengar nama Tiara.


" Mas cemburu?" ledek Tiara dengan senyum tipis.


Rivan menggenggam tangan istrinya dan mengecupnya mesra. " Nggak dong... aku malah seneng bunda kangennya sama kamu" ucap Rivan senang, tandanya bundanya sudah menerima Tiara sepenuhnya menjadi menantunya.


" Masa sih? aku aja kalau mas udah disanjung sanjung sama ibu suka sebel sendiri, loh. Nggak sebel juga sih.... cuma lebih kayak apa ya... ' ini kayak kebalik gitu, anaknya yang mana menantunya yang mana?' gitu sih" ucap Tiara terkekeh. " Eh, tapi apa gitu kali ya siklusnya?" lanjutnya.


" Siklus apa?" tanya Rivan bingung.


" Siklus menantu dan mertua. Kita baru bisa dibilang anak, kalau si anak sendiri merasa tersaingi perhatian ibunya ke menantunya" ucap Tiara dengan pikirannya sendiri.


" Bagus dong berarti, itu berarti seorang menantu sudah dianggap anak sendiri sama mertuanya. iya, kan?" sahut Rivan.

__ADS_1


Mereka mengobrol sebentar sebelum akhirnya segera bersiap siap untuk segera berangkat ke rumah bunda Amel, sesuai dengan janjinya pada sang bunda bahwa Rivan akan berkunjung untuk makan malam bersama di rumah utama setelah kepulangannya dari rumah sakit.


__ADS_2