
Panggilan telepon antara Tiara dan Rivan sudah berakhir, dan Tiara langsung memeriksa rekeningnya lewat aplikasi keuangan bank Tiara di ponselnya. Seketika Tiara langsung terkejut, tubuhnya langsung terdiam terpaku dan matanya membulat dengan sempurna.
Bagaimana tidak terkejut jika di dalam mobile bankingnya tertera uang yang dikirim oleh Rivan jumlahnya begitu banyak hingga nyaris 9 digit. Sekali lagi Tiara mengecek kembali jumlah saldonya siapa tau ada kesalahan atau matanya yang kurang teliti mengamati. Tapi berkali kali Tiara meyakinkan bahwa jumlah kiriman yang baru diterimanya dari suaminya memang sangatlah banyak.
Tiara benar benar tidak menyangka seorang Rivan akan memberikan dirinya uang sebanyak itu dengan begitu mudahnya. Uang yang dikirim Rivan hanya 10 persen saja sudah sebanyak itu, apa kabarnya dengan sisa yang 90 persennya lagi?. Itu yang ada di dalam pikiran Tiara saat ini.
Dalam hatinya Tiara merasa begitu keberatan dengan uang kiriman yang diterimanya. Dia yang selama ini juga sering memegang uang sebanyak itu, tapi itu adalah uang untuk usaha butiknya serta uang untuk menggaji karyawannya. Sedangkan uang pribadinya tidaklah sebanyak yang dimiliki oleh Rivan, tapi dia sudah lebih dari cukup memiliki tabungan untuk dirinya sendiri.
Menurut Tiara nanti saat di rumah dirinya akan membicarakan masalah itu lebih lanjut. Karena kalau harus berbicara melalui telepon rasanya kurang memuaskan. Dan juga rasanya tidak pantas jika pembicaraan mereka di dengar oleh orang lain yang tidak sengaja mendengar percakapan mereka.
" Woy... kenapa Lo!" seru Nita menepuk bahu Tiara saat melihat sahabatnya terdiam seperti patung.
Sontak saja Tiara langsung terjingkat saking terkejutnya dengan suara keras Nita. Tiara menoleh dan menatap sahabatnya tersebut dengan wajah kesalnya. " Kebiasaan! ngagetin aja Lo!" balas Tiara dengan berseru namun suaranya sedikit pelan daripada suara Nita.
" Kenapa muka Lo aneh sih?" tanya Nita tanpa menghiraukan tatapan tajam serta kekesalan Tiara.
" Gue baru dikasih duit belanja sama Rivan" kata Tiara akhirnya sudah tidak merasa kesal terhadap sahabatnya. " Lo lihat deh! ini beneran gak sih? apa mata gue yang bermasalah?" lanjut Tiara yang memperlihatkan bukti transfer pengiriman sejumlah uang dari Rivan di ponselnya kepada Nita. Bukannya mau pamer atau apalah namanya, Tiara hanya ingin memastikan bahwa matanya tidak sedang bermasalah.
Nita yang mengerti maksud Tiara, juga melihat bukti transfer kiriman uang di ponsel Tiara. Tidak hanya Tiara yang terkejut saat melihat, Nita sendiri juga langsung membelalakkan matanya dengan lebar saat melihatnya.
" Beneran nih?! ini duit kiriman dari laki Lo?!" tanya Nita yang masih tidak percaya dengan apa yang baru dilihatnya.
Tiara bukannya menjawab dia hanya mengangguk membenarkan apa yang ditanyakan oleh sahabatnya tersebut. Melihat reaksi yang ditampilkan Nita, akhirnya Tiara yakin bahwa apa yang dilihatnya tadi benar adanya.
" Wah gila emang ya si Rivan! belum 'dikasih' aja udah loyal kayak gini. Apalagi kalau udah Lo servis, Ara! semuanya pasti dikasihkan ke Elo!" seru Nita yang sudah mulai bicara menjurus ke pikiran joroknya.
__ADS_1
Tiara mulai geram dan menggeleng kepala mendengar ucapan Nita yang selalu disangkut pautkan dengan hal berbau s**.
" Duhhh... susah banget ya ngomong sama Lo, Nit! Ujungnya ngomong ke situ lagi, ke situ lagi. Udah ah, ngomongin hal yang lain aja, gue gak nyaman ngomongin hal personal kayak gini sama orang lain" minta Tiara agar sahabatnya itu berhenti ngomongin masalah yang berhubungan privasinya.
" Lo belum tau enaknya sih, Ara. Kalau udah ngerasain dan tau enaknya, Lo bakal ketagihan ngomongin ginian dan yang pasti Lo bakal minta lagi dan lagi" goda Nita sekali lagi dengan senyum liciknya mencoba mempengaruhi Tiara agar terbuka pikirannya.
Sekali lagi Tiara menepuk dahi Nita dengan pelan, berharap setelah itu kegesrekan otak di kepala Nita bisa diperbaiki. Nita pun paham dengan tepukan Tiara di dahinya itu sebagai tanda bahwa Tiara sudah merasa tidak nyaman dengan topik percakapan mereka.
Nita sering merasa gemas dengan sikap sahabatnya tersebut yang selalu bereaksi menggemaskan jika dirinya mulai berbicara jorok. Tiara yang masih polos, wajahnya pasti akan langsung berubah menjadi merah bahkan terkadang telinganya juga ikut memerah.
Dasar! padahal usianya hampir saja menginjak usia kepala 3. Tapi sikapnya masih saja kaku jika sudah membicarakan masalah gituan. Apalagi dia sudah menikah pikirannya masih saja terlalu polos dan kolot, mungkin karena dia memang belum merasakan jadi dia masih bereaksi seperti itu.
" Mumpung gue lagi baik hati nih, mending kita belanja sepuasnya dan gue yang bayarin" kata Tiara yang ingin mentraktir sahabatnya tersebut.
Menurutnya tidak masalah kan kalau sekali kali dirinya membayar belanjaan Nita. Apalagi dia baru saja mendapatkan rejeki nomplok dari suaminya dan sedikit berbagi dengan sahabatnya tidak masalah kan?. Pasti uang yang diberikan oleh suaminya tidak akan habis begitu saja hanya untuk membeli beberapa pakaian tidur di toko tersebut.
" Hemmm.." gumam Tiara sambil kepalanya mengangguk mengiyakan.
Dengan wajah bahagia dan senyum merekah Nita langsung berjalan mencari beberapa gaun yang diinginkannya. Begitu juga dengan Tiara yang juga mengambil beberapa daster berbahan satin dengan warna yang berbeda. Tidak ada yang lebih mirip dari perasaan balas dendam selain berusaha memakai seluruh uang yang ditransfer oleh Rivan.
Setelah dirasa dirinya cukup dengan belanjaannya, Tiara mendekati Nita yang masih asyik memilih beberapa lingerie yang terlihat tipis dan seksi di gantungan baju. " Sudah belum?" tanya Tiara yang tanpa sadar ikut menyentuh gaun yang terlihat sangat tipis tersebut.
Nita menoleh ke samping saat mendengar suara Tiara yang sudah berdiri di sebelahnya. " Sebentar ya" sahut Nita.
Melihat lingerie di depannya entah kenapa Tiara seolah juga ingin membelinya karena saat menyentuhnya tadi bahan lingerie tersebut sangat lembut. Tapi dia masih merasa ragu untuk bisa memakainya karena bisa dipastikan Rivan akan langsung menerkam dirinya saat itu juga jika dia memakai gaun yang kekurangan bahan tersebut.
__ADS_1
" Lo pake lingerie ini sekali aja, Ara. Gue yakin pasti Lo bakal ngalamin the first night" menempelkan satu lingerie di tubuh Tiara sambil tertawa puas menggoda Tiara yang langsung cemberut melihat tingkah Nita.
Tiara hanya bisa mendengus sebal dengan pikiran jorok Nita. Sepertinya Nita memang tidak pernah bisa lepas dari topik yang satu itu. Tapi tiba tiba terlintas satu hal dalam pikiran Tiara.
" Eh, Nit..." masih ragu untuk melanjutkan kata katanya.
" Apaan...?" tanya Nita balik karena Tiara tidak melanjutkan kata katanya.
" Sakit nggak sih?" tanya Tiara dengan suara pelan.
" Sakit...? Apaan?" tanya Nita yang bingung dengan pertanyaan Tiara dan langsung berhenti memilih lingerie.
" Yaa.... the first night" akhirnya Tiara kalah juga dan harus membuka topik tersebut.
Nita tertawa terbahak bahak melihat wajah dan telinga Tiara yang langsung memerah. Dirinya tidak peduli dengan sekitarnya karena mendengar suara tawanya yang menggema di toko tersebut. Baginya ini adalah salah satu kemajuan yang luar biasa yang telah dilakukan oleh Tiara karena bertanya padanya mengenai hal yang menurut Tiara tabu jika dibicarakan dengan orang lain.
Tiara sendiri hanya bisa tertunduk dan tersenyum malu karena saat ini mereka berdua menjadi pusat perhatian semua orang yang berada di dalam toko tersebut karena suara tawanya yang menggelegar. Sepertinya Tiara telah salah menanyakan hal tersebut di sana, seharusnya dia tadi bertanya saat mereka sedang berdua saja.
" Ya... tergantung..." kata Nita setelah tawanya reda. Nita menjawab sambil berfikir sekaligus mencoba mengingat ingat pengalaman malam pertamanya yang sudah berlalu sangat lama.
Tiara menautkan kedua alisnya dengan tajam mencoba mencerna jawaban Nita yang bukannya menjawab dengan gamblang tapi justru membuatnya malah bertambah bingung. " Tergantung...?" tanya Tiara lagi karena belum mengerti maksud dari jawaban Nita barusan.
' Apanya coba yang digantung?' batin Tiara semakin bingung.
Tiara pengen tau pengalaman yang pernah dialami oleh Nita sendiri. Dan apakah benar, apa yang pernah didengarnya selama ini sama dengan yang dirasakan Nita dulu saat melakukannya dengan suaminya. Mungkin dengan jawaban yang diberikan Nita akan membuka pikiran Tiara untuk menyiapkan mentalnya saat dirinya menyerahkan segalanya pada Rivan.
__ADS_1
Tapi lihatlah sekarang Nita bukannya menjawab pertanyaan Tiara dengan pasti, dia justru memberikan jawaban yang membuat Tiara semakin bingung dan tidak tau apa maksud dari jawaban Nita