Suddenly Married

Suddenly Married
Mati Kutu


__ADS_3

Rivan berdiri di sebelah mobil berwarna merah menyala, sambil membukakan pintu sebelah kemudi untuk mempersilahkan Tiara untuk masuk. Sebuah mobil Lamborghini yang belum pernah Tiara lihat sebelumnya karena Rivan memang tidak pernah memakainya.


Tiara yakin masih banyak mobil mobil mewah yang belum Tiara lihat, entah itu milik Rivan sendiri atau dari keluarganya.


Jika ditanya bagaimana perasaan Tiara saat ini, senang karena dia memiliki suami yang sangat kaya raya atau sedih karena merasa dibohongi oleh Rivan. Sebagai kodratnya seorang perempuan, Tiara bukan cewek yang munafik, tentu saja dia merasa senang memiliki seorang suami yang sangat kaya raya seperti Rivan.


Bukan hanya kaya, Rivan juga pria yang tampan, penyayang dan juga sangat mencintai dirinya. Awal Tiara mengetahui bahwa Rivan termasuk orang kaya, dia merasa kurang percaya diri dan minder. Karena menurutnya bagaimana bisa seorang Rivan yang memiliki segalanya bisa memperistri dirinya yang hanya orang biasa.


Sebenarnya itu hal itu terjadi karena trauma yang pernah dialaminya ketika Dika meninggalkan dirinya hanya karena dia bukan orang kaya. Makanya Tiara takut jika Rivan juga akan melakukan hal yang sama terhadap dirinya setelah dirinya menyerahkan segalanya.


Tapi semua tidak seperti yang dia takutkan selama ini, ternyata Rivan sangatlah berbeda dengan mantannya. Rivan begitu mencintai dirinya, bahkan dia seolah takut jika Tiara pergi meninggalkan dirinya. Maka dari itu Tiara sudah mulai membuka hatinya untuk bisa menerima segala yang ada pada diri Rivan termasuk kenyataan yang disembunyikan oleh Rivan.


Tiara menarik nafasnya dalam dalam, dia terlihat tegang setengah mati, mengingat hari ini dia akan akan bertemu dengan kakek dan ayah mertuanya. yang belum pernah dia temui.


" Yukk..." Tiara berjalan menghampiri Rivan yang masih setia membukakan pintu untuknya, menerima uluran tangan Rivan dan masuk ke dalam mobil mewah tersebut.


Rivan tersenyum lalu berputar menuju ke pintu sebelahnya dan duduk di balik kemudi mobil. Rivan langsung menjalankan mobilnya mendekati rumah besar dan mewah bagaikan istana tersebut dengan pelan.


Mulut Tiara menganga ketika sudah berada di depan rumah utama keluarga Sanjaya. Dia tidak menyangka ada bangunan yang semewah itu di Indonesia yang bukan bertitel hotel berbintang lima. Dari luar saja Tiara dapat membayangkan isi rumah tersebut yang mampu membuat seseorang tersesat di dalamnya.


Kaki Tiara sudah terasa dingin dan kaku bahkan terlihat bergetar. Seandainya dirinya tidak bisa meyakinkan dirinya sendiri, maka bisa dipastikan dirinya akan langsung ambruk saat itu juga karena kakinya terus bergetar dan terasa lemas.


" Sayang, sini pegangan sama aku" kata Rivan, dia tau saat ini kaki Tiara sudah gemetar.


Mungkin selama ini Tiara sering berhubungan dengan orang dari kalangan orang atas, namun itu hanya sebatas klien saja. Berbeda dengan sekarang Tiara harus berhubungan dengan orang kaya seperti keluarga Rivan saat ini. Dia bingung bagaimana caranya dia harus bersikap dengan keluarga Rivan sebelum dirinya diterima sepenuhnya menjadi anggota baru keluarga Rivan.

__ADS_1


Seumur hidup Tiara baru kali ini merasa terintimidasi seperti saat ini. Kalau bukan karena Rivan, dia pasti akan langsung berbalik pulang karena merasa telah salah alamat. Rivan mengajak Tiara untuk tetap tenang dan menjalani acara makan malam ini tanpa gugup.


" Hallo mbak Tiara!" panggil Vani dengan ceria, yang ternyata sudah menunggu Tiara dan Rivan sejak tadi.


" Hai Van" sahut Tiara berusaha tersenyum agar Vani tidak melihat dirinya yang sedang tegang dan gugup.


Vani langsung memeluk kakak iparnya tersebut dengan bahagia. Ini adalah pertemuan kedua mereka setelah mereka berkenalan di restorannya beberapa minggu yang lalu. Hari ini Vani terlihat sangat elegan dengan dress berwana silver yang dipakainya saat ini. Rambutnya yang lurus hitam dia urai dengan hiasan jepit mutiara di rambutnya


" Hai dek" sapa Rivan setelah Vani melepas pelukannya pada Tiara.


Vani bergantian memeluk saudara laki lakinya sekaligus kakak satu satunya yang dia punya. Rivan juga membalas pelukan adiknya tersebut.


" Kalian baru nyampek?" satu pertanyaan dengan suara yang begitu bersahaja membuat ketiganya langsung terdiam dan menoleh ke arah seorang wanita yang sudah berumur lebih dari setengah abad, namun masih terlihat cantik dan anggun.


Ya, wanita tersebut adalah bunda Amel yang baru datang dari dalam rumah dengan penampilan anggunnya. Bunda Amel memakai dress panjang dengan potongan rok


Seketika Tiara kembali merasa menjadi butiran pasir di pantai.


" Yuk masuk, Tiara. Sudah saatnya kamu dikenalkan dengan pantas sama keluarganya Rivan" ujar bunda Amel sambil menyentuh lengan Tiara dengan lembut. Senyumnya begitu tulus membuat Tiara begitu bahagia dan senang sekali sekaligus membuatnya lebih tenang dan rileks dari sebelumnya yang begitu gugup. Tiara langsung mencium punggung tangan kanan ibu mertuanya.


" Bun" sapa Rivan sambil mencium punggung tangan bundanya.


Sang bunda menatap Rivan dan seketika senyumnya hilang. " Oh.. ada kamu" kata bunda Amel singkat, sebelum akhirnya menoleh ke Tiara dengan senyum yang sama lagi. Lalu mengajak Tiara masuk ke dalam rumah keluarga Sanjaya.


Rivan sungguh mati kutu jika diperlakukan demikian oleh bundanya. " Dek!" bisik Rivan mencaritahu penyebab kekesalan bundanya.

__ADS_1


" Bunda masih kesal sama mas, nikah gak bilang bilang. Terus jarang main ke rumah utama juga. Rasain!" ucap Vani, sebelum buru buru menyusul bundanya dan kakak iparnya masuk ke dalam rumah.


Mereka semua masuk ke dalam satu ruangan terbuka, di sana terdapat ruang makan yang cukup besar menghadap ke air terjun dan danau mini. Tiara tak salah lihat, rumah ini memang memiliki air terjunnya sendiri. Kalau Tiara masih kecil, dia pasti akan berlari dan main air di sini.


Di meja makan besar itu sudah duduk dua orang pria, pria yang satu berusia 50an ke atas namun tubuhnya masih tegap seperti pria yang masih berusia 30 tahunan. Sementara pria yang satu lagi seorang kakek yang Tiara tebak berusia sekitar 70 tahun lebih.


Mereka berdua tersenyum ke arah Tiara dan Tiara balik tersenyum meskipun masih sedikit gentar dengan ketegasan rahang dan alis kedua pria tersebut.


Rivan mendekati Tiara menggantikan posisi bunda Amel yang sudah pindah ke seberang meja. Sementara Vani sudah duduk di seberang Rivan, bunda Amel duduk di seberang Tiara dan disebelahnya ada suaminya. Di bagian tengah ada kakek yang sudah tidak sabar dengan apa yang akan terjadi.


" Tiara, bunda tau kamu menikah dengan Rivan serba mendadak dan seadanya. Tapi bunda tidak ingin berfikir bahwa sikap Rivan yang seenaknya dan tanpa persiapan itu sebagai representasi keluarga Sanjaya" ucap bunda Amel.


Tatapan bunda Amel memang tertuju pada Tiara, tapi semua yang ada di sana juga tau bahwa sebenarnya beliau tengah menyindir putranya.


Wajah Rivan langsung tegang dan kaku begitu bundanya menyindir dirinya habis habisan. Dan dia tau bahwa ini adalah cara bagi bunda Amel untuk menegur Rivan yang suka bertindak seenaknya. Setelah ini dia akan berbicara dengan bundanya dan kembali meminta maaf atas kesalahannya.


Sementara Tiara yang duduk di sebelah Rivan hanya bisa melipat bibirnya. Dia tak kuat melihat Rivan yang mati gaya karena serangan tajam dari bundanya.


Tapi bunda Amel tidak peduli dengan itu semua. Beliau langsung menatap Vani yang duduk di sebelahnya berusaha menahan tawanya yang hampir meledak. Bunda Ratu menyuruh Vani untuk memperkenalkan dirinya secara resmi meskipun sebelumnya mereka sudah bertemu dan saling mengenal.


Vani yang mengerti perintah bundanya langsung mengangguk. " Kenalin mbak, aku Vania Calistia Sanjaya, anak kedua dari bunda Amelia Sanjaya dan ayah Tama" pertama Vani yang memperkenalkan namanya.


" Usiaku sekarang 26 tahun, dan aku memiliki usaha di bidang kuliner. Rencananya kalau ilmu bisnisku mapan, aku mau narik satu atau dua perusahaan kek Gun, kayak bunda. Iya gak kek?" lanjut Vani yang mencoba mencairkan suasana yang terasa menegangkan.


" Langsung ambil dua ya berarti? kan usahamu sudah mapan, nih?" ucap pria tua yang panggil kek Gun tadi.

__ADS_1


" Kalau mapan gak mungkin renovasi kek..." keluh Vani.


Kek Gun langsung tertawa terbahak bahak mendengar keluhan Vani, dan itu sukses membuat Tiara ikut tersenyum melihat interaksi keluarga ini. Dia pikir keluarga kaya itu sangat kaku dalam berinteraksi, apalagi setelah dia bertemu bunda Amel dan ternyata tidak sama sekali. Tapi entah bagaimana dengan kakek dan ayah Rivan?


__ADS_2