Suddenly Married

Suddenly Married
Rooftop


__ADS_3

Rivan terus mengajak Tiara berjalan masuk ke dalam rumah besar dan mewah milik keluarga Sanjaya. Setiap ruangan nampak begitu mewah dengan berbagai fasilitas dan hiasan rumah yang sangat mewah dan tentunya harganya pasti sangat fantastis. Terdapat banyak guci guci besar dengan ukuran yang bagus menghiasi setiap ruangan.


Mereka berjalan berdua dengan tangan yang saling menggenggam. Akhir akhir ini tangan tangan itu seperti terbiasa saling mencari. Kalau sudah bertemu mereka seolah tak mau terlepas lagi. Tiara mencoba membayangkan bahwa beberapa bulan lalu dirinya dan Rivan adalah orang asing. Tapi rasanya sudah sulit untuk kembali dimana dirinya belum mengenal Rivan.


Setelah menyusuri beberapa ruangan terbuka di di rumah tersebut akhirnya mereka berhenti di depan sebuah pintu besi yang diyakini Tiara adalah sebuah lift. Dia tidak menyangka dan baru pertama kali mengetahui kalau ada rumah yang memiliki lift di dalamnya.


Dia heran kenapa Rivan mengajaknya naik keatas tidak menggunakan tangga saja, malah naik lift segala. Bukannya dengan berjalan naik turun tangga, itu kita bisa lebih sehat daripada harus naik lift.


Rivan segera memencet sebuah tombol kecil di sebelah pintu besi tersebut dan pintu langsung terbuka. Tanpa banyak bicara Rivan langsung mengajak Tiara untuk masuk ke dalam. Pintu langsung tertutup setelah Rivan memencet tombol tersebut.


" Gimana bisa ada lift di dalam rumah ini, mas?" tanya Tiara merasa kagum dengan rumah mewah keluarga Sanjaya.


" Sebenarnya lift ini dibuat kakek saat nenek masih ada. Kakek merasa kasihan jika nenek harus naik turun melewati tangga, makanya kakek berinisiatif membuat lift untuk mempermudah nenek naik turun" jelas Rivan.


" Kenapa tidak naik tangga saja, mas?" tanya Tiara heran.


" Gak apa apa, sayang. Biar nggak capek dan lebih cepat aja kita nyampek atasnya" sahut Rivan.


Tiara hanya diam tidak ingin membantah perkataan suaminya, sambil menunggu lift yang sedang naik ke atas itu berhenti di lantai yang dimaksud oleh Rivan.


Tidak lama lift berhenti dan pintunya langsung terbuka otomatis. Rivan segera menarik tangan Tiara untuk segera keluar dari kotak besi tersebut.


Begitu menginjakkan kakinya di luar lift tubuh Tiara langsung disambut oleh semilirnya angin yang berhembus dengan kencang. Ternyata saat ini dia sedang berada di ruangan terbuka di lantai paling atas rumah keluarga Sanjaya.


" Wow....." Tiara terpana begitu Rivan menuntunnya keluar dari lift.


Mulut Tiara langsung terbuka, matanya membelalak sempurna saat melihat pemandangan yang begitu indah di depan matanya. Dengan berjalan pelan Tiara memperhatikan ruangan yang nampak begitu indah.


" Bagus gak?" tanya Rivan.

__ADS_1


" Bagus banget mas..." jawab Tiara dengan mata yang terus mengamati sekelilingnya.


" Sekarang kita lagi ada di rooftop rumah ini, sayang" beritahu Rivan yang kemudian memeluk Tiara dari belakang yang sedang terdiam melihat ruangan tersebut dengan kagum.


Dapat Tiara lihat di sebelah kanan terdapat beberapa sofa santai berjajar yang tertata dengan rapi dengan beberapa tanaman hias yang cantik di sekitarnya. Dan bagian atasnya tertutup oleh atap kaca yang untuk melindungi dari panas dan hujan.


Kemudian di sebelah kiri terdapat rumah kaca yang penuh dengan bunga. Selain berbagai bunga mawar, ada juga beragam bunga cantik lainnya. Tidak hanya bunga bunga cantik namun juga beragam bunga mahal yang tertata dengan indahnya menghiasi ruangan tersebut.


Salah satu bagian sisi rumah kaca tersebut dibiarkan terbuka tanpa ada dinding kacanya. Sehingga bisa tercium aroma berbagai bunga cantik yang tumbuh di sana. Meskipun sudah malam harum segar bunga tercium di indra penciuman Tiara.


Dapat Tiara lihat ada bangku dan meja di tengah tengah taman bunga tersebut. Mungkin digunakan untuk bersantai menikmati indah dan harumnya bunga bunga di sana.


Terdapat beberapa lampu taman serta lampu hias menerangi ruangan tersebut sehingga menambah suasana tersebut terlihat begitu cantik dan indah. Tiara begitu terpesona dengan suasana rooftop di sana, jika saja Tiara tinggal di rumah itu, sudah pasti dia akan betah berada di sana.


Dapat Tiara dengar dengan jelas suara gemericik air seperti sebuah air terjun. Tiara melihat lurus ke depan dan dapat Tiara lihat pantulan cahaya lampu yang memperlihatkan sebuah kolam renang yang begitu jernih. Kolam renang yang terdapat air terjunnya sehingga menambah kesan yang sangat cantik saat melihatnya.


Kolam tersebut tepat berada lurus di depannya berbatasan dengan taman bunga melebar ke samping kanan. Disebelahnya juga terdapat 3 kursi santai untuk berjemur menikmati panasnya matahari setelah selesai berenang.


" Bagus banget..." ucap Tiara lirih dengan wajah yang begitu cerah saat melihat ruangan yang begitu indah tersebut.


" Kamu suka?" tanya Rivan yang masih asyik memeluk Tiara dari belakang.


Tanpa menjawab Tiara terus tersenyum senang sambil mengangguk pelan. Dia masih terpukau menikmati suasana rooftop rumah keluarga Sanjaya yang begitu indah. Dan Rivan membiarkan istrinya tersebut menikmati semuanya hingga puas.


" Mas... kamu tadi kenapa?" tanya Tiara begitu dia selesai mengagumi keindahan ruangan tersebut sambil membelai tangan Rivan yang melingkar di perutnya.


Rivan melepaskan pelukannya, lalu mengajak Tiara untuk duduk di sofa yang berada tepat di sebelah kanan mereka. Rivan duduk terlebih dahulu di sofa, baru kemudian dia menarik tangan Tiara dengan lembut dan menyuruhnya untuk duduk di atas pahanya dengan posisi menyamping.


Rivan memeluk dengan erat pinggang Tiara agar perempuan tersebut tidak terjatuh. Kemudian dia membenamkan kepalanya di bahu Tiara. Sementara itu Tiara mengusap rambut dan punggung suaminya dengan pelan berusaha menenangkan.

__ADS_1


" Habis dimarahin ayah..." Rivan baru bisa menjawab pertanyaan Tiara


Tiara masih diam tanpa ingin berkomentar terlebih dahulu sebelum mendengar cerita mengenai hubungan Rivan dengan ayah Tama. Tangannya terus membelai rambut Rivan dan membiarkan suaminya membenamkan kepalanya di bahunya.


" Aku cengeng ya?" tanya Rivan yang masih mendekap Tiara dengan erat.


" Aku nggak pernah lihat kamu kayak gini" sahut Tiara jujur.


Rivan tertawa pelan mendengar kejujuran istrinya terasa lebih menyegarkan dibanding hiburan kosong saat ini.


Kemudian Rivan menjauhkan kepalanya dari bahu Tiara, namun kedua tangannya masih memeluk pinggang Tiara. Saat ini dirinya sudah merasa lebih baik.


Tangan Tiara masih setia memeluk leher Rivan, lalu Tiara memberikan satu kecupan manis di bibir suaminya untuk memberikan ketenangan. Dan benar saja Rivan langsung tersenyum manis setelah mendapatkan kecupan sayang dari istrinya.


" Hubungan kamu sama ayah Tama baik, kan?" tanya Tiara dengan tatapan penuh perhatian. Ia berharap jawabannya tidak buruk.


" Baik, kok" jawab Rivan mengangguk sembari tersenyum lembut. " Ayah Tama itu sangat tegas, bahkan terkesan galak. Di dunia ini nggak ada yang bisa bikin aku takut kayak ayahku, sayang. Dia selalu tau gimana caranya bikin nyaliku ciut. Tapi aku tau bahwa setiap kali dia tegur aku, itu pasti karena aku udah ngelakuin kesalahan yang besar..." lanjut Rivan menceritakan pribadi ayah Tama.


" Setakut itu kamu sama ayah Tama, mas?" tanya Tiara memastikan dan Rivan mengangguk membenarkan.


" Beliau itu seram, sayang. Cara berargumen dan nada suaranya pas marah.... rasanya mau pingsan di tempat saja" kata Rivan sambil kembali membayangkan beberapa saat yang lalu saat ayahnya menegur dirinya habis habisan, karena tiba tiba menikah tanpa mengabari keluarga terlebih dulu.


Kalau bunda Amel itu marahnya dengan sindiran yang begitu dingin dan Rivan sudah biasa menghadapinya. Beda dengan ayahnya yang biasa membuat Rivan merasa bersalah sampai menguras emosi karena ketegasan dan nada suaranya yang kuat. Sangking kuatnya, jantung orang yang ditegur rasanya pasti mau melompat keluar dari mulut.


" Wah...nggak nyangka ya. Tadi ke aku baik banget padahal" kata Tiara yang setengah tidak percaya bahwa ayah Tama baru saja mengamuk pada Rivan.


" Kamu sih nggak masalah. Cantik, baik, perhatian sama keluarga suami... apa yang harus diamukin?" kata Rivan mencium pipi Tiara yang begitu menggemaskan.


" Apaan sih kamu" ucap Tiara merasa malu.

__ADS_1


Dengan posisi mereka yang seperti itu ditambah lagi suasana rooftop yang terlihat indah dan romantis membuat Rivan terbuai. Dengan cepat Rivan langsung menyambar bibir mungil Tiara yang tepat berada di depannya. Tiara juga menikmati ciuman yang diberikan oleh suaminya dan membalasnya. Mereka berdua larut dalam ciuman mesra yang lembut.


__ADS_2