Suddenly Married

Suddenly Married
Boleh Digigit


__ADS_3

Tiara mulai ketakutan, bibirnya sudah ingin berteriak memanggil nama suaminya untuk meminta pertolongan untuk menyelamatkan dirinya. Tapi Tiara tidak ingin membuat kegaduhan di depan umum.


" Dika... lepasin gue!" ucap Tiara dengan panik, jantungnya sudah berdegup dengan kencang, dia takut Dika akan berbuat lebih nekat.


Benar saja Dika tidak terus menarik tubuh Tiara agar tidak terlepas dari dirinya lagi, berusaha mendekatkan dan menyatukan bibirnya untuk menyatakan seluruh perasaanya.


Dengan sekuat tenaga Tiara menatap Dika dengan galak dan penuh permohonan agar dilepaskan. Sementara Dika sendiri menatap Tiara penuh dengan tatapan memohon, dia tidak berani melakukan apapun yang kini diperintahkan kepalanya terhadap Tiara.


Dika tau jika dia memaksa melakukan hal itu maka Tiara akan semakin menjauh. Dia hanya ingin Tiara mempertimbangkan dirinya bahwa dirinya sanggup melakukan apapun untuk demi Tiara.


" Tiara..." tiba tiba terdengar suara seseorang memanggil nama Tiara.


Belum habis rasa terkejut Tiara karena perbuatan Dika, kini dia harus dikejutkan kembali dengan kedatangan Rivan. Panggilan suaminya membuat Tiara menengok ke belakang dan kini dia sedang berjalan mendekat ke arahnya dengan ekspresi campur antara bingung dan khawatir.


Lalu dia sadar bahwa tangannya saat ini tengah dicengkeram dengan erat oleh Dika.


" Lepasin, Dik! kalau nggak aku akan teriak dan suamiku akan kesini lebih cepat!" ancam Tiara dengan terus berusaha melepaskan diri Dika.


Rivan terus bejalan semakin dekat dan Tiara tidak ingin dia salah paham tentang dirinya dan Dika.


Dika sendiri yang sedari tadi terus memegang erat tangan Tiara. Dia yang baru menunjukkan sisi lemahnya belum siap untuk menghadapi pria yang kini berada di hidup Tiara itu menggantikan dirinya. Lalu diapun langsung melepaskan cengkeraman tangannya.


Merasa tanggannya telah bebas dari cengkraman Dika, tanpa banyak berfikir Tiara langsung berbalik dan berlari ke arah Rivan. Tiara langsung berhambur ke dalam pelukan pria tersebut dan Rivan langsung mendekap tubuh Tiara dengan erat. Dan itu membuat Taira nyaman, aman dan terlindungi seolah dirinya telah pulang ke rumahnya.


" Are you okay?" tanya Rivan dengan suara yang dalam dan serius di dekat telinga Tiara.


Tiara mengangguk dan Rivan dapat merasakan anggukan kepala Tiara di dadanya.


" Aku mau nggak apa pa, aku cuma mau pulang, mas" jawab Tiara masih terus melesakkan pipinya di dada Rivan.


Rivan langsung merangkul Tiara dan menggiringnya menuju ke mobil. Tidak satu kali pun dia menengok dan menatap Dika meskipun dirinya tau bahwa dia siap untuk menghabisi pria itu jika tadi jawaban Tiara adalah hal yang sebaliknya.


Dika hanya bisa dia terpukau ditempatnya sambil memandangi Tiara yang terus menjauh dalam dekapan pria lain. Dia menyadari peperangan kali ini adalah hal tersulit dan terberat dari apapun dari yang pernah dia inginkan seumur hidupnya.


Dika mengepalkan kedua tangannya dengan erat, meskipun semakin menyulitkan, dia malah semakin menyadari bahwa dirinya semakin jatuh hati pada Tiara.

__ADS_1


Suasana di mobil sangat hening, Tiara nyaris tidak bernafas. Kini setelah dia jauh dari Dika perasaannya sudah stabil, dan diapun teringat dengan siapa dirinya saat ini di mobil.


Tiara tak habis pikir bisa bisanya dirinya tadi larut dalam situasi bersama Dika. Bahkan sampai terlihat oleh Rivan saat tangannya digenggam oleh Dika tadi. Entah apa yang harus dia jelaskan pada Rivan saat ini, dia hanya bisa diam dengan pikirannya dan menghembuskan nafasnya dengan pelan.


Sementara itu Rivan sendiri nampak fokus menyetir, tidak ada senyum di wajahnya karena memperhatikan jalanan. Tiara tidak tau apa yang sedang dipikirkan oleh suaminya saat ini. Rivan yang sama sekali tidak berucap sepatah kata ataupun bertanya pada dirinya membuat Tiara semakin merasa bersalah.


Sudah hampir 10 menit mereka terdiam didalam mobil tanpa ada yang memulai percakapan. Tiara merasa semakin canggung dengan situasi keheningan yang tidak wajar diantara mereka berdua.


" Umm... mas?" Tiara mencoba membuka percakapan untuk memecah keheningan di dalam mobil.


" Salam dari kek Gun" ucap Rivan tiba tiba.


Tiara terkejut karena Rivan berbicara dengan suara yang seperti biasa dengan senyuman tipis di bibirnya. Ucapan Rivan yang seolah sengaja ingin memotong ucapannya agar mengalihkan dirinya untuk tidak membicarakan kejadian yang baru saja terjadi.


" Hah...?" tanya Tiara dengan bingung.


" Dapat salam dari kek Gun, sayang" kata Rivan lembut sambil mengusap rambut Tiara.


Usapan tangan Rivan di rambut Tiara mengalirkan sebuah kehangatan dan ketenangan di hatinya. Rivan nggak marah, dia sudah bersikap seperti biasanya.Tiara merasa lega, karena awalnya dirinya merasa sangat bersalah dan ingin menceritakan perihal Dika tapi dirinya belum. siap melakukannya. Meskipun dia tau bahwa Rivan memang sengaja menghibur dirinya.


" Oh, iya... tadi kamu ketemu sama kek Gun?" tanya Tiara menyambut topik pembicaraan Rivan.


" Kapan? trus dalam rangka apa kamu ketemuan sama kek Gun?" tanya Tiara lagi yang selalu merasa penasaran jika sudah menyangkut tentang keluarga suaminya tersebut.


" Tadi, iseng aja ngajakin main" jawab Rivan dengan sedikit bohong.


Tadi sebenarnya Rivan memang sengaja ngunjungi kakeknya yang sedang santai di pulau pribadinya. Ada beberapa hal penting yang perlu dibahas oleh Rivan bersama kakeknya, makanya sebelumnya tadi dia bilang ke Tiara bahwa dirinya juga sedang lembur.


" Kalian tuh akrab banget ya sekeluarga" kata Tiara ada sedikit rasa iri melihat keakraban keluarga suaminya.


" Nggak juga sih. Kek Gun kalau ngajak main suka maksa. Pas ngajak Vani main, tiba tiba beliau muncul di depan Vani saat dia sedang ada rapat" cerita Rivan.


Tiara tertawa mendengarnya, bukan hanya karena cerita kek Gun saja. Dalam hati Tiara merasa lega karena merasa puas suaminya sudah mulai kembali bercerita panjang lebar.


Diluar itu semua Rivan sangat menyukai sikap Rivan dan juga Vani pada kek Gun. Meskipun mereka dari keluarga kaya raya mereka berdua begitu menghargai para orang tua, dan itulah yang membuatnya kagum dengan suaminya. Meskipun di luar tampak dingin tapi dia tipe orang yang sangat perhatian dan menghargai orang yang lebih tua. Dan Tiara begitu bersyukur bisa berjodoh dengan Rivan.

__ADS_1


" Aku gak pernah diajak main" ucap Tiara dengan nada suara dan wajah sendu.


Sepertinya seru juga jika dirinya bisa ngobrol dengan kek Gun meskipun hanya sekedar makan siang bersama. Dirinya baru bertemu sekali dengan kek Gun jadi merasa kurang puas belum bisa ngobrol panjang lebar.


Rivan melihat Tiara, lalu terkekeh sambil fokus menyetir.


" Aku kayak anak kecil, ya?" tanya Tiara dengan cengiran lebarnya.


Rivan kembali menatap Tiara sekilas, lalu mencubit dengan gemas pipi istrinya. " Anak kecilnya aku..." kata Rivan.


Tiara mengaduh dan menepuk nepuk tangan Rivan yang mencubit pipinya. " Sakit, mas! Kok dicubit beneran sih?" keluh Tiara sambil mengusap usap pipinya bekas cubitan Rivan.


Entah kenapa Rivan sepertinya tadi mengerahkan seluruh tenaganya saat mencubit Tiara hingga masih terasa nyeri. Tiara mencoba membalas mencubit lengan Rivan, tapi karena jas tebal Rivan dan otot lengan Rivan yang keras membuat usahanya gagal.


" Ah... gak bisa dicubit lengannya!" keluh Tiara dengan kesal dan bibir cemberut.


Rivan langsung tertawa terbahak bahak, istrinya itu begitu menggemaskan. Bahkan hanya Tiara yang mampu mencerahkan hatinya dengan ulah dan sikap tak terduga Tiara.


" Nanti aja di rumah, boleh digigit" kata Rivan dengan serius dan datar.


" Tergantung" sahut Rivan cepat.


" Tergantung apa?"


Rivan tersenyum tipis. " Kamu mau dibales nggak?" kali ini Rivan memperlihatkan minatnya pada kegiatan malam mereka yang sejak pertama kali melakukannya, akhirnya secara rutin mereka terus melakukannya.


Hampir setiap malam Rivan tidak memberikan istirahat untuk istrinya. Tiara selalu diajak lembur terus sama Rivan dan Tiara hanya nurut aja. Dikecup sedikit pertahanannya langsung runtuh.


" Kamu tuh nggak capek apa? nggak mau istirahat sehari aja gitu?" tanya Tiara penasaran.


" Nggak!" jawab Rivan dengan cepat dan singkat.


" Semangat banget sih kamu, mas" ucap Tiara sambil menepuk bahu suaminya sambil tersenyum malu.


Rivan mengulum senyum. " Habisnya susah banget sih buat dapetin kamu. Sekalinya dapet susah buat lepas" kata Rivan yang sebenarnya menyindir malam pertama mereka yang baru bisa mereka berdua rasakan setelah pernikahan mereka menginjak sebulan lebih.

__ADS_1


" Maafin istri kamu ini ya, mas" jawab Tiara dengan gaya penyesalan yang dibuat buat.


Bukannya merasa tersindir Tiara justru langsung menyemburkan kekehannya jika mengingat malam pertama mereka, dia juga merasa kasihan pada Rivan.


__ADS_2