Suddenly Married

Suddenly Married
Menangis Bahagia


__ADS_3

Makan siang di pantai bersama pasangan adalah hal yang sangat menyenangkan apalagi jika membawa bekal makan sendiri dari rumah rasanya sungguh nikmat. Ditemani dengan suara deburan ombak yang saling menghantam dan semilir angin sepoi dan sehat yang menerpa tubuh mereka membuat perasaan begitu bahagia.


Ini adalah pengalaman pertama bagi Rivan dan Tiara yang baru pertama kali pergi kencan ke pantai setelah mereka menikah. Rasanya begitu luar biasa meskipun hanya pergi ke pantai yang hanya ada di Jakarta saja.


Selesai menikmati makan siang, sejenak mereka menikmati lagi suasana pantai dengan puas sebelum mereka pergi dari tempat tersebut.


" Eh mas, habis dari sini kita mampir ke rumah orang tuaku dulu, boleh?" tanya Tiara selesai dengan makan siang mereka.


Kini mereka duduk bersebelahan menghadap ke arah pantai menikmati indahnya pantai Ancol. Rivan terus memeluk tubuh mungil istrinya agar selalu berada di dekatnya.


" Boleh dong, sayang. Udah lama ya gak ketemu sama ayah dan ibu" kata Rivan. " Tapi kamu harus ngabarin mereka dulu, takutnya mereka sedang pergi ada urusan di luar" lanjut Rivan.


Memang sudah lama mereka tidak berkunjung ke rumah orang tua Tiara. Karena mereka yang sibuk dengan pekerjaan dan sibuk dengan kehidupan rumah tangga mereka. Tiara dan Rivan hanya beberapa kali saling bertukar kabar dengan bu Suci dan pak Hendra melalui via telepon.


" Sudah, tadi aku sudah kasih kabar sama ibu. Aku juga mau pamerin masakan aku ke ibu" ucap Tiara penuh semangat. Tiara memang sengaja menyisakan hasil masakannya ke dalam wadah berbeda untuk dia tunjukkan sama ibunya kalau dia sekarang sudah bisa memasak.


Mendengar ucapan Tiara membuat Rivan tertawa pelan. Rivan sering tidak habis pikir melihat hubungan antara ibu dan anak itu. Mereka berdua saling menyayangi namun terkadang juga sangat kempetitif. Tapi demi Tiara, dia rela membiarkan istrinya mengajak dirinya kemanapun dia pergi.


Suasana begitu damai, mereka masih ingin m


berad di sana lebih lama lagi. Mereka juga tidak terburu buru untuk meninggalkan tempat tersebut karena waktu juga masih beranjak sore hari.


" Jadi, waktu aku kuliah dulu. Aku sama temen temen aku suka banget nongkrong di sini. Terus kita sering berandai andai kalau kita lagi nyantai di Maldives. Norak banget ya, hehehe..." kata Tiara sambil mengenang masa kuliah dulu bersama teman teman kampusnya.


Rivan menatap wajah cantik istrinya yang tengah menatap lurus ke pantai. " Kamu nggak perlu berandai andai, sayang. Kita bisa pergi ke Maldives sekarang kalau kamu mau" jawab Rivan.


" Iya, aku mau kok. Siapa sih yang nggak mau ke Maldives? tapi ya itu tempatnya jauh dan ribet banget ngurusin segala macemnya" sahut Tiara.


Selama ini Taira tidak pernah membayangkan sama sekali untuk bisa pergi liburan ke Maldives. Apalagi kalau bukan karena biaya yang harus dikeluarkan sangat banyak. Sekali menginap di sana satu malamnya saja sudah habis sekian juta. Sayangkan uangnya habis hanya untuk liburan ke sana.

__ADS_1


" Ke sana yuk, pas honeymoon" kata Rivan mengutarakan idenya untuk mengajak istrinya berlibur ke Maldives.


" Mau!" sahut Tiara tanpa ragu. Tidak apa kan kali sedikit boros untuk pergi ke sana waktu momen momen tertentu. Apalagi dirinya dan Rivan memang belum pernah pergi berlibur bersama dalam waktu yang lama.


Sepertinya tidak masalah jika dia menikmati kebersamaannya bersama Rivan pergi ke tempat yang cukup mahal. Dan dia yakin Rivan tidak akan mempermasalahkan biaya yang harus dikeluarkan juga, mengingat Rivan memiliki cukup banyak uang, dan dia juga tidak salah jika menikmati semua fasilitas yang diberikan suaminya.


Dalam hati Rivan dia ingin segera mewujudkan keinginan istrinya untuk bisa pergi honeymoon ke Maldives. Sepertinya dia akan secepatnya mengurus cuti kerjanya kurang lebih seminggu untuk mengajak Tiara berlibur ke Maldives. Untungnya Tiara memiliki usaha butik sendiri jadi dia tidak perlu repot repot meminta cuti pada atasan dan bisa cuti sesuai keinginannya sendiri.


" Sebelum pulang kita jalan jalan di pinggir pantai dulu yuk, mas" ajak Tiara.


Rivan hanya bisa menuruti keinginan istrinya untuk berjalan di bibir pantai menikmati segarnya air laut yang menerpa kulitnya langsung. Mereka meninggalkan barang bawan mereka di tempat semula hanya barang barang penting saja yang mereka bawa.


Mereka berdua berjalan menyusuri pantai sambil bergandengan tangan. Suasana di sekitar bibir panti cukup ramai karena banyak anak kecil yang bermain pasir bersama orang tua atau keluarga mereka. Ada juga para remaja yang berlari larian mengejar ombak bersama teman temannya.


Tiara menikmati pasir yang melewati jari jari kakinya saat dihempas ombak yang kemudian surut lagi. Rivan juga menikmati pemandangan indah laut sambil menggenggam tangan istrinya dan tidak pernah melepaskannya.


" Berlebihan gak ya, kalau aku mau sama kamu selamanya, mas?" kata Tiara sembari berjalan pelan bersama menyusuri pantai.


" Sampai setelah mati" kata Tiara.


Tepat setelah mengucapkan hal itu, ada gelombang besar di dada Tiara yang menghantarkan getaran hebat ke seluruh tubuhnya. Hari itu dia menyadari bahwa cintanya pada Rivan sudah begitu besar.


Tiara bahkan tidak bisa mengingat kembali bagaimana dirinya dulu sebelum Rivan hadir dalam kehidupannya. Dia juga tidak dapat membayangkan bagaimana dirinya tanpa Rivan di sisinya seperti sekarang ini.


" Sampai setelah mati, sayang. Aku selalu berharap bahwa kami yang akan selalu menjadi pasanganku" kata Rivan.


Tiara menatap wajah Rivan dan tanpa sengaja meneteskan air mata bahagia sembari tersenyum tipis. Hati Tiara dipenuhi rasa syukur yang berlebihan. Bertahun tahun memendam harap akan kebahagiaan, dan akhirnya tuhan berikan kebahagiaan itu sampai rasanya tak cukup dia bersyukur seumur hidupnya.


" Sayang...." Rivan tidak dapat berkata kata saat melihat tetasan air mata istrinya.

__ADS_1


Seolah tersadar Tiara buru buru mengusap wajahnya. " Ya ampun... maaf ya mas. Aku cengeng banget, ya?" ucap Tiara sambil tersenyum malu.


Mereka berdua saling memandang wajah pasangannya dengan intens. Rivan hanya bisa membelai lembut pipi Tiara. Jika saja mereka tidak sedang berada di tempat umum, Rivan pasti sudah mengecup dengan mesra bibir ranum Tiara untuk mendengarkannya.


" Aku paling takut lihat kamu nangis..." ujar Rivan.


Tiara hanya bisa menelan ludah sambil menatap wajah suaminya lekat lekat.


" Kenapa?" tanya Tiara dengan suara yang begitu lembut.


Masih asyik menatap wajah sang suami Taira begitu terpesona pada rahang dan alis tegas Rivan yang juga terus menatapnya itu. Dia tai suaminya saat ini sedang menahan diri untuk tidak mengecup bibirnya di depan umum apalagi begitu banyak orang yang ada di sana meskipun dia tau merek sedang sibuk dengan kegiatan mereka masing masing.


" Aku takut nggak bisa bahagiain kamu" kata Rivan dengan raut wajah yang terlihat gelisah memikirkan kebahagiaan istrinya.


" Hahaha...." Tiara tertawa sambil menutup mulutnya agar suara tawanya tidak terdengar kencang. Lalu dia menyentuh dada Rivan yang terlihat bidang dan seketika dada Rivan terasa hangat setelah mendapatkan sentuhan itu.


" Aku nangis saking bahagianya, mas" kata Tiara selepas tawanya berhenti.


Rivan langsung tersenyum dengan lebar ikut bahagia. Ada yang bersorak dalam hati Rivan saat mendengar pengakuan Tiara yang begitu bahagia bersamanya. Tiara juga ikut tersenyum saat melihat senyuman suaminya yang begitu menawan hingga membuat hatinya semakin jatuh cinta hanya dengan melihat senyumannya.


Tidak ingin larut dalam keromantisan yang tengah mereka rasakan, dan kalau tidak segera dibubarkan makan akan membuat tubuh mereka meronta untuk bisa saling menyentuh. Mereka kemudian melanjutkan menyusuri pantai lagi hingga waktu tak terasa semakin sore.


" Yuk mas kita balik" ajak Tiara. " Nanti keburu kemalaman kita nyampek di rumah ayah" lanjutnya.


Akhirnya mereka kembali ke tempat awal dimana mereka berdua duduk tak jauh dari pantai di bawah pohon rindang. Mereka segera mengemasi semua barang barang yang sudah mereka bawa dari rumah.


Sekali lagi Rivan membawa tas besar yang berisi bekal makanan. Sementara Tiara memasukkan ponsel Rivan ke dalam tas kecilnya.


Mereka keluar dari pantai Ancol bersamaan dengan beberapa orang pengunjung yang juga ingin pergi dari sana. Lalu berjalan menuju ke tempat parkir dimana mobil mereka terparkir.

__ADS_1


Rivan segera memasukkan barang barang bawaannya ke dalam kursi belakang. Sementara Tiara langsung masuk ke dalam mobil di kursi depan samping kemudi . Begitu semuanya sudah masuk dalam mobil Rivan menyusul istrinya duduk dibalik kemudi. Tidak ingin berlama lama di sana Rivan segera melakukan mobil sportnya menuju ke rumah mertuanya.


__ADS_2