
Sejak pulang makan malam dari rumah utama, wajah Tiara terlihat jarang tersenyum dan sering murung. Bahkan Tiara menjadi semakin pendiam hanya sesekali saja dia menggapai Rivan. Padahal di rumah utama kemarin Tiara banyak tersenyum dan tertawa. Entah kenapa sikap perempuan cepat sekali berubah?
Rivan ingat dulu Tiara pernah bilang padanya bahwa jika ada yang mengganggu pikirannya maka dia lebih cenderung untuk diam. Sebenarnya sama juga dengan sikap Rivan selama ini. Tapi dalam sebuah ikatan pernikahan berdiam diri bukanlah suatu yang baik. Apapun harus dibicarakan bersama pasangan kita sebelum akhirnya menjadi bom waktu yang bisa menghancurkan ikatan pernikahan itu sendiri.
Selain itu diam juga juga merupakan pupuk manjur yang akan menyuburkan akar permasalahan. Bahkan tidak sedikit yang akhirnya menghancurkan ikatan pernikahan karena terlalu banyak memupuk masalah sendiri. Meskipun akar masalah awalanya kecil tapi jika terus dipupuk masalah pasti akan menjadi besar.
Dia tau betul bahwa kedatangan Bella yang terus meneror mereka berdua adalah penyebab perubahan sikap Tiara yang menjadi pendiam dan murung. Tiba tiba sebuah ide muncul dalam pikirannya dan sepertinya dia akan mencobanya malam ini. Dia tidak ingin masalah ini berlarut larut.
" Sayang..." panggil Rivan saat Tiara tengah menyiapkan makan malam untuk mereka berdua.
" Hmmm.." sahut Tiara dengan hanya berdehem bahkan tanpa menoleh sedikitpun pada Rivan karena dia sedang fokus dengan acara memasaknya.
Rivan hanya bisa menghela nafas saat melihat Tiara yang tanpa menoleh menatapnya meskipun hanya sekilas. Padahal biasanya Tiara akan langsung menoleh begitu mendengar panggilannya. Rivan mengernyit apa mungkin lauk yang sedang dimasak istrinya itu lebih penting daripada dirinya yang sedari tadi hanya jadi penonton?
Rivan hanya bisa menggeleng dan mengelus dadanya sekaligus menghela nafas dengan panjang. ' Ternyata rasanya begini kalau seorang suami dicuekin oleh istrinya sendiri' batin Rivan.
Dengan langkah yang sangat pelan Rivan berjalan mendekati istrinya dan langsung melingkarkan tangannya ke perut sang istri perlahan. Rivan memeluk Tiara dari belakang dan menumpukan dagunya di pundak kiri Tiara.
Tiara sendiri sempat terkejut dengan pelukan suaminya yang tidak dia ketahui tapi beruntungnya Rivan melakukannya dengan perlahan sehingga dia langsung bisa menghentikan keterkejutannya. Dia sedikit terganggu dengan tingkah suaminya namun dia hanya bisa mengedikkan bahunya seolah ingin mengusir kepala Rivan dari pundaknya.
" Istriku yang cantik ini kenapa mendadak jadi cemberut dan irit bicara sih?" Rivan masih meletakkan dagunya di pundak Tiara tanpa memperdulikan penolakan dari istrinya.
" Masa, sih? perasaan aku biasa aja, mas" jawab Tiara dengan masih terus melanjutkan masaknya dan mencoba untuk tidak merasa terganggu dengan keberadaan suaminya yang terus memeluknya. Walaupun sebenarnya Tiara sedang kesal dan tak ingin dipeluk seperti ini. Dengan cekatan Tiara langsung membalikkan ayam yang tengah dia goreng agar matang dengan sempurna.
" Kamu masih kesal karena kedatangan Bella kemarin malam?" tebak Rivan.
Tubuh Tiara langsung menegang beberapa detik dan Rivan bisa menangkap respon alami itu karena dia tengah memeluk istrinya. Dengan gemas Rivan langsung mengecup pipi Rivan.
__ADS_1
" Kamu nggak perlu khawatir dengan semuanya, sayang. Aku nggak akan kemana mana, kamu adalah hadiah yang paling sempurna, sayang " ucap Rivan." Lagian.... nama Tiara dan Rivan enak kan diucapinnya" lanjutnya menggoda Tiara dengan tersenyum jahil.
Tiara mencerna perkataan suaminya dan sikapnya hari ini. Biasanya dia mampu mengendalikan emosinya dengan baik, tapi entah kenapa kali ini dia mudah sekali terpancing. Jangankan Rivan dirinya sendiri juga merasa heran kenapa dirinya Samapi merasa kesal seperti sekarang ini. Sangat jelas jika Rivan tak akan berpaling, mengingat ekspresi Rivan saat melihat Bella ketika Bella datang bertamu ke rumah mereka.
Melihat kedatangan Bella beberapa kali pandangannya langsung buram karena cara berpakaian Bella yang membuat matanya sakit. Tak mungkin kan suaminya akan tergoda dengan perempuan seperti Bella. Dulu mungkin, saat Rivan masih tersesat, tapi kalau sekarang tidak mungkin. Rivan sudah punya Tiara dan Tiara percaya dengan kesetiaan Rivan.
Karena tidak kunjung mendapatkan respon dari istrinya, Rivan dengan sigap langsung mematikan kompor dan langsung saja dihadiahi cubitan kecil oleh Tiara. Seenaknya saja Rivan mematikan kompornya saat dirinya tengah memasak.
" Aku lagi masak untuk makan malam kita, mas" protes Tiara dengan ulah Rivan. " Jangan bercanda kalau lagi begini!" lanjut Tiara dengan melotot kesal ke arah Rivan yang hanya cengar cengir merasa tak bersalah.
Rivan tersenyum tipis melihat istrinya sudah kembali ke sifat biasanya, walaupun masih kentara sekali Tiara menahan amarahnya.
" Nggak usah masak deh kalau gitu, kita makan malam diluar aja, yuk" ajak Rivan tiba tiba.
" Harus banget malam ini?" Tiara tak begitu yakin dengan ide Rivan yang mendadak seperti ini.
Tiara ingat, dulu tiap pulang kerja saat mereka baru menikah dan belum tinggal satu atap. Mereka sering sekali makan bersama di berbagai restoran berbeda entah untuk makan siang di restoran yang berbeda. Entah itu makan siang ataupun makan malam. Hal itu tak lain demi pendekatan dan pengenalan diri satu sama lain setelah pernikahan mendadak mereka.
" Apaan sih, mas" Tiara mengulum bibirnya saat ingatan manis itu terlintas di benaknya.
Sekali lagi Rivan mengecup pipi Tiara. " Yuk siap siap, sayang" kata Rivan lalu mengajak Tiara pergi menuju ke kamar mereka.
Rivan menunggu Tiara yang sedang berdandan dan itu menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi Rivan. Rivan tidak kesal, dia justru dengan sukarela mau menunggu berapa jam lamanya Tiara memoles wajahnya. Berapapun waktu yang dibutuhkan Tiara, toh akan terbayar ketika melihat hasil riasan Tiara. Hampir setengah jam Rivan menunggu Tiara sambil membaca berita online di ponselnya.
" Mas..." panggil Tiara yang sudah selesai berdandan
Rivan langsung mengalihkan pandangannya dari ponselnya ke arah Tiara. Ditatapnya Tiara dari ujung kepala hingga ujung kakinya.
__ADS_1
" Cantik" puji Rivan degan senyum merekah.
Benarkan, Rivan tidak pernah salah menunggu selama apapun istrinya untuk berdandan. Kesabarannya terbayar sudah dengan melihat penampilan istrinya yang begitu cantik dengan gaun yang melekat sempurna di tubuh istrinya. Ditambah lagi make up tipisnya menampilkan aura kecantikan yang terpancar sempurna. Rivan yakin orang orang yang akan melihat Tiara tak akan ragu mengatakan bahwa Tiara memang sangat cantik.
Ada sedikit rasa sesal di hati Rivan mengajak istrinya untuk makan malam di luar karena mendadak Rivan ingin mengunci Tiara di dalam kamar dan menghabiskan malam mereka dengan kegiatan lainnya. Rivan sedikit menggeleng, dia menyingkirkan pikiran nyelenehnya itu. Fokusnya sekarang adalah mengembalikan senyum istrinya terlebih dahulu, setelahnya biarlah terjadi setelah usahanya yang satu ini berhasil dulu.
" Jadi nggak, mas?" wajah Tiara tak berhenti Meron karena ditatap seperti itu oleh Rivan.
Suara Tiara membuyarkan lamunan Rivan. Dia mengangguk kecil lalu tersenyum cerah ke arah Tiara. " Yuk, nyonya Rivan" ucap Rivan sembari memegang tangan Tiara.
" Kita mau makan malam dimana, mas? tanya Tiara saat mereka sudah berada di dalam mobil.
Rivan menghidupkan mobil. " Rahasia" Rivan melemparkan senyumnya pada Tiara. " I want you to be happy" lanjut Rivan masih dengan senyum tipis di bibirnya.
Pipi Tiara langsung merona dan memerah. " I am happy, mas" sahutnya.
Rivan menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. " You are happy, aku tau. Tapi suasana hati kamu aja yang gak lagi bahagia, kan?" Rivan melirik ke arah Tiara.
Tiara meremas sedikit kedua tangannya. Ternyata susah sekali menyembunyikan perasaan kesalnya pada suaminya sedari kemarin.
" Ketara banget ya, mas?" tanya Tiara yang sedikit merasa bersalah karena tidak bisa menyembunyikan kekesalannya, padahal perasaan itu tidak ditujukan pada suaminya.
Sebelah tangan Rivan menangkap tangan Tiara dan menggenggamnya dengan erat untuk menenangkannya. " Aku semakin tau banyak tentang kamu setelah kita hidup bersama, sayang" ucap Rivan pelan dengan senyum tipis di bibirnya untuk menenangkan sang istri.
Tiara ikut tersenyum bahagia karena bisa memiliki seorang suami yang begitu perhatian dan menyayangi dirinya. " Makasih, mas" ucap Tiara lalu mencondongkan tubuhnya mendekati Rivan dan langsung mengecup pipi kiri Rivan sekilas.
Tentu saja tindakan yang dilakukan oleh Tiara barusan membuat Rivan senang dan tersenyum cerah.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan mereka menuju ke restoran, mereka habiskan dengan obrolan ringan yang mampu membangkitkan mood Tiara menjadi lebih baik. Rivan tersenyum dan misinya mengembalikan senyuman istrinya kembali, sepertinya akan berjalan dengan lancar.