
Rivan yang sedari mereka makan malam di restoran hingga bercerita tentang kisah masa lalunya, baru kali ini senyumnya begitu merekah dan bahagia. Mendengar impian Tiara yang ingin memiliki anak banyak tentu saja sama seperti impiannya selama ini yang juga menginginkan anak lebih dari 2.
" Sepertinya aku harus berusaha lebih keras untuk mewujudkan keinginan kamu yang satu itu, sayang" kata Rivan yang selalu berfikir ke arah yang lain.
" Kurang keras bagaimana lagi, bukannya setiap malam kamu nggak pernah biarin aku beristirahat dengan tenang, mas" Tiara mutar matanya malas.
Rivan hanya bisa tersenyum mendengar sindiran istrinya. Mereka terus membicarakan banyak hal tentang anak anak yang mereka kelak. Membicarakan kebutuhan yang harus mereka penuhi untuk mendidik dan membahagiakan anak anak mereka nantinya.
Tiara tidak perlu khawatir lagi dengan kebutuhan yang akan diperlukan oleh anak anaknya nanti. Karena Rivan bilang bahwa dia sudah memiliki tabungan yang sudah dia sisihkan sejak dulu. Bahkan nominalnya bisa dipastikan bisa sampai anak anak merek lulus kuliah.
Tiara sangat sangat bersyukur telah menjadi istri dari seorang Rivan. Seorang pria yang tidak hanya mencintai, menyayangi dirinya dan menerima dirinya apa adanya. Bukan hanya itu saja, Rivan juga melimpahi dirinya dengan harta yang begitu banyaknya.
Meskipun Rivan adalah seorang yang kaya raya, dia selalu hidup sederhana dan tidak pernah sombong. Dia selalu menyisihkan uangnya demi masa depannya dan juga keluarga kecilnya. Bahkan Rivan juga rutin memberikan sumbangan untuk panti asuhan setiap bulannya.
Tiara ingat satu hal yang langsung membuatnya penasaran. " Ngomong ngomong, bagaimana kamu bisa menemukannya, mas? Dari tadi aku perhatikan di komplek ini nggak ada tanah dengan halaman yang seluas dan sebesar halaman kita tadi, mas?" tanya Tiara yang memang penasaran dengan luas rumah mereka.
Jika dilihat rumah baru mereka besarnya hampir sama dengan rumah lainnya yang ada di sekitar rumah mereka. Tapi yang membedakan adalah halaman rumah mereka yang terlihat begitu besar dibandingkan dengan halaman rumah yang lain. Padahal di komplek perumahan akan menjual tanah per kaplingnya sama persis ukurannya.
Tiara menatap Rivan dengan heran dan bingung. Dulu sebelum dia menikah, dia pernah bermimpi memiliki satu hunian di sana saat pihak pengembang memasang iklan besar besaran. Pihak pengembang tersebut membolehkan pemilik rumah mendesain sendiri rumah impian mereka. Itulah yang membuat Tiara langsung kepincut ingin memilikinya salah satunya.
Tapi sayang sekali selama ini dia belum bisa mewujudkan keinginan terpendamnya itu. Dan siapa sangka sekarang keinginannya yang terpendam tersebut bisa terwujud oleh tangan suaminya, Rivan.
" Biarkan itu semua menjadi rahasiaku, sunshine. Kamu hanya perlu tau dan menikmati semuanya, karena aku akan berusaha dan kasih apapun yang terbaik buat kamu" jawab Rivan.
__ADS_1
Setelah menikah dengan Rivan dan tinggal di rumah mereka yang saat ini mereka tempati, sudah menjadi berkah tak terhingga bagi Tiara. Karena setelah menikah dia tidak harus merasakan tinggal di sebuah rumah kontrakan atau berjuang bersama dengan suaminya dari nol. Tidak hanya rumah, segala kebutuhannya sudah dipenuhi oleh Rivan.
Akan tetapi hal itu tidak berarti menjadikan Tiara menjadi orang yang sombong atau berfoya foya menghabiskan kekayaan suaminya. Dia tetap menjadi pribadi yang baik, humble, hidup apa adanya dan tetap menyisihkan uangnya sendiri ataupun yang dikasih oleh Rivan.
" Duh.... lihat amat godanya, pak?" sahut Tiara sambil meledek.
" Loh, suami sendiri kok dibilangin gombal sih, sayang" Rivan hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Mereka terus mengobrol di perjalanan pulang ke rumah. Waktu yang sudah larut malam membuat suasana jalan raya sepi hanya ada beberapa mobil yang berlalu lalang karena tidak banyak warga yang melakukan kegiatan di luar.
Tiara terus mengajak Rivan ngobrol untuk menemani suaminya yang sedang menyetir. Rivan menyuruhnya untuk beristirahat, tapi Tiara tidak menuruti dan terus menemani suaminya berbicara dengan banyak topik pembicaraan lainnya.
Hingga setelah tiga puluh lima menit akhirnya mereka sampai juga di rumah lama, Rivan langsung memasukkan mobilnya di garasi. Dan mereka segera masuk ke dalam rumah lalu segera beristirahat.
Sinar mentari belum menyapa tapi Tiara sudah sibuk di dapur dengan segala bahan bahan masak yang akan dia olah. Hari ini di begitu semangat memasak, padahal semalam dia kurang istirahat tentu saja bayi besarnya meminta haknya. Dan kali ini Rivan dengan liciknya menggunakan alasan segera mewujudkan keinginan mereka memiliki anak. Tentu saja Tiara tidak bisa menolaknya.
Kesehatan Rivan yang baru saja pulih membuatnya harus lebih ekstra lagi memperhatikan apa yang masuk ke dalam perut suaminya. Dan beruntungnya Rivan tidak begitu pemilih soal makanan hanya saja dia tidak bisa memakan makanan yang terlalu pedas.
Dia selalu memakan apa saja yang dimasak oleh Tiara, dan satu lagi yang membuat Tiara senang....Rivan tidak malu membawa bekal ke kantornya. Padahal kalau dilihat dari jumlah saldo di rekeningnya, untuk membeli makanan di restoran manapun tidaklah susah untuk suaminya.
" Morning sunshine" sapa Rivan tiba tiba sambil memeluk pinggang Tiara dan mencium aroma tubuh Tiara yang khas.
" Mas! kebiasaan deh! aku lagi masak" protes Tiara ketika Rivan melancarkan aksinya dengan mencium di sekitar pipi dan leher Tiara.
__ADS_1
Tanpa mengindahkan protesan Tiara, Rivan terus melancarkan aksinya. Dia selalu suka menggoda istrinya setiap saat.
" Mas stop! atau kita tidak memiliki apapun untuk di makan pagi ini!" protes Tiara kini dengan wajah galaknya.
Rivan langsung menghentikan aksinya karena sudah mendengar protes dengan diwarnai sedikit ancaman. Rivan sangat suka menggoda istrinya saat dia sedang memasak, tapi kalau Tiara sudah melotot galak padanya Rivan takut juga. Istrinya itu bisa sangat menggemaskan kalau sedang marah marah. Rivan jadi semakin takut tidak bisa mengontrol dirinya.
" Aku bawain kamu bekal ya, mas. Kamu masih nggak boleh makan yang aneh aneh dulu" kata Tiara saat menyendokkan sarapan untuk Rivan, usai menyelesaikan acara masaknya.
Rivan hanya bergumam sambil mengangguk saja. Dia sudah larut bersama seporsi sarapannya. Mulut Rivan langsung terkunci dengan otomatis jika sudah merasakan makanan yang dibuat istrinya.
" Aku berasa lagi makan di restoran, setiap hari menu makannya baru ditambah dengan rasanya yang luar biasa banget" tak henti hentinya Rivan selalu memuji masakan istrinya yang selalu menggugah selera makannya setiap hari.
Tentu saja dia sangat senang mengingat dulu sebelum menikah dengan Tiara dia hanya makan roti dan meminum susu ultra sebelum berangkat kerja. Bahkan di jarang sekali makan di rumah karena nggak ada orang yang menemani dirinya makan. Tapi sekarang semua berubah tiga ratus enam puluh derajat setelah menikah dengan Tiara hampir tidak pernah dia telat untuk sarapan ataupun makan malam bersama dengan istrinya. Tentunya dengan hasil masakan Tiara yang selalu membuatnya berselera.
" Kamu itu benar benar seorang pengunit yang manis, mas!" Tiara menggeleng kecil, pujian yang Rivan lontarkan terlalu berlebihan. Dirinya tak sehebat seperti koki koki di sebuah restoran. Dia hanya suka memasak tapi hasil masakannya jelas kalah jauh jika dibandingkan dengan ibunya yang memang hobi dan membuat resep baru itu.
" Oh ya, mas nanti aku pengen main ke rumah ibu. Sudah lama aku nggak berkunjung ke rumahnya" meskipun Rivan bukan tipe suami pengekang, Tiara tetap memiliki kewajiban untuk meminta izin dari suaminya. Entah itu hanya untuk berkunjung ke rumah ibunya atau keluar bersama Nita atau pergi kemanapun Tiara selalu meminta ijin terlebih dahulu pada suaminya. Hal hal dasar berumah tangga yang selalu diajarkan oleh ibunya dulu sebelum dia memutuskan menikah begitu melekat pada otaknya.
Rivan mengangguk memberinya ijin. " Nanti mau aku anterin?" tanya Rivan
" Nggak usah, mas. Aku berangkat sendiri aja kalau kamu nganterin malah bikin kamu bolak balik nantinya, mas" tolak Tiara dengan halus.
" Ya udah, nanti pulangnya aku jemput di rumah ibu" kata Rivan.
__ADS_1
Mereka segera menghabiskan sarapan mereka. Setelah itu mereka langsung berangkat bekerja begitu Tiara sudah selesai bersiap siap. Seperti biasa Rivan akan mengantar Tiara ke butiknya terlebih dahulu, baru setelah itu dia langsung melajukan mobilnya menuju ke kantornya.