
Saat ini mereka berdua sudah berada di teras rumah utama keluarga Sanjaya. Hari ini semua orang merasa begitu bahagia tidak terkecuali Vani yang juga merasa sangat bahagia. Karena akhirnya dia bisa memiliki seorang kakak perempuan yang begitu baik terhadap dirinya dan juga keluarganya.
Sepertinya akan lebih bahagia lagi jika mereka bisa jalan jalan bersama menghabiskan waktu sebagai sesama perempuan. Apalagi jika bersama dengan bundanya sekalian pasti bakalan seru. Mungkin nanti dia akan mengajak kakak iparnya jalan jalan bersama bundanya entah main keluar negeri atau cuma jalan jalan di negeri sendiri saja, yang penting mereka bisa happy fun.
" Aku balik duluan ya" pamit Vani terlebih dahulu, yang kemudian bergantian memeluk kakak dan kakak iparnya. Setelah itu dia berjalan menuruti tangga dan masuk ke dalam mobil sportnya yang tadi dia bawa sendiri.
Tiara melambaikan tangannya mengiringi kepergian adik iparnya yang pulang terlebih dahulu meninggalkan dirinya dan Rivan. Setelah mobil Vani pergi, Rivan mengajak Tiara untuk menghampiri mobil mereka dan segera masuk ke dalam.
" Apa Rumah Vani ada di sebelah kiri, sama seperti rumah kita, mas?" tanya Tiara yang memang belum tau menahu keberadaaan rumah adik iparnya.
Tiara tidak dapat melihat dengan jelas keberadaan rumah Vani yang terletak beberapa meter dari rumah utama keluarga Sanjaya. Namun dia bisa melihat sekilas ada bangunan di sebelah kiri dari rumah utama keluarga Sanjaya, yang letaknya hampir sama dengan keberadaan rumah mereka sendiri
" Iya, Vani tinggal di rumah di balik tembok tinggi itu" sahut Rivan sambil menunjuk pada tembok dan pohon tinggi yang menutupi keberadaan rumah Vani.
Tiara memerhatikan tembok tinggi yang ditunjuk oleh suaminya berharap dia bisa melihat rumah adik iparnya, tapi sayang rumah tersebut masih tidak kelihatan karena terhalang oleh tembok dan pohon yang tinggi. " Dia tinggal sendirian, mas?" tanya Tiara penasaran.
Rivan menggeleng dengan pelan. " Nggak... dia tinggal dengan salah satu asisten rumah tangga yang sudah merawat Vani dari kecil" jawab Rivan yang membuat Tiara menganggu dan bernafas lega mendengar adik iparnya tidak tinggal sendirian di rumahnya.
Meskipun rumah Vani masih berada dalam satu kawasan perumahan yang sama dengan rumah utama dan rumah Rivan. Tentu saja masih ada sedikit rasa cemas dan khawatir jika membiarkan Vani tinggal di rumahnya sendirian apalagi jarak diantara rumah mereka cukup jauh.
Jadi Rivan dan Vani sudah memiliki rumah sendiri, sejak mereka belum menikah. Rumah tersebut memang dibangun oleh orang tua mereka yang terletak di bagian kanan dan kiri dari rumah utama. Jadi intinya ketiga rumah tersebut masih berada dalam satu kawasan lingkungan perumahan yang sama.
Kek Gun dan kedua orang tua mereka berharap saat mereka berdua menikah, mereka tidak perlu memikirkan tentang rumah untuk tempat tinggal mereka nanti dengan keluarga kecil mereka sendiri. Makanya mereka sudah membangunkan rumah untuk kedua keturunan keluarga Sanjaya agar mereka tidak tinggal jauh dari rumah utama.
" Apa rumahnya Vani sama bentuknya dengan rumah kita, mas?" tanya Tiara lagi yang mulai penasaran dengan keberadaan rumah adik iparnya.
__ADS_1
" Bedalah, sayang" jawab Rivan dengan cepat. " Kalau kamu pengen tau giman rumah Vani, kapan kapan kami bisa main ke rumah dia" lanjutnya memberikan saran pada istrinya untuk mendatangi rumah Vani.
Tiara tersenyum manis dan mengangguk mengiyakan ucapan suaminya, tidak ada salahnya bukan jika suatu saat nanti dia berkunjung ke rumah adik iparnya. Dengan begitu mereka juga akan semakin akrab dan bisa menghabiskan waktu bersama sebagai sesama perempuan.
Rivan mulai menyalakan mobilnya dan membiarkan mobil tersebut agar sedikit panas mesinnya. Sementara itu Tiara yang sedang duduk, tiba tiba kembali teringat dengan ucapan suaminya yang memotong percakapannya dengan Vani tadi.
" Mas... kenapa tadi kamu bohongin Vani, sih?" tanya Tiara.
" Bohongin Vani?" tanya balik Rivan yang menatap istrinya dengan kedua alisnya berkerut belum mengerti maksud pertanyaan istrinya. " Bohong soal apaan?" lanjutnya mulai penasaran dengan maksud pertanyaan Tiara.
Rivan benar benar masih bingung, dan Tiara sendiri nyaris tidak percaya dengan pertanyaan balik suaminya. Tadi bahkan dirinya ikut membohongi Vani tentang dirinya yang harus lembur karena tidak ingin terlihat berselisih dengan Rivan di depan Vani. Eh... sekarang malah yang amnesia dengan kebohongannya sendiri.
Sejenak Tiara menghela nafas panjang kemudian menghembuskannya dengan pelan. " Bohong soal aku yang harus lembur malam ini" jelas Tiara dengan sewot.
" Ohh.... soal itu" sahut Rivan santai dengan menampilkan senyum di bibirnya. " Aku gak bohongin Vani kok. Malam ini kamu kan memang lembur, sayang. Sama aku...." jawab Rivan sambil perlahan mengembangkan cengirannya dan menarik turunkan kedua alisnya menggoda istrinya.
" Dasar!!" seru Tiara kesal dengan suara yang sedikit keras. Sangking kesalnya dengan pikiran yang ada di otak suaminya, Tiara dengan beraninya menepuk dahi suaminya dengan kencang. Masa bodoh kalau dikatai sebagai istri yang durhaka, karena suaminya dulu yang mulai membuatnya sangat kesal.
" Jangan teriak teriak, sayang!" seru Rivan dengan panik. Saking paniknya dia sampai menutup mulut istrinya dengan tangannya agar memelankan suaranya.
Teguran keras ayahnya tadi kembali terngiang di telinganya. Dirinya tidak ingin ditegur lagi hanya gara gara bertengkar dengan Tiara di halaman rumah besar itu. Meskipun dia sendiri sangat yakin bahwa suara Taira tidak akan pernah terdengar sampai di telinga ayahnya. Tapi entah kenapa tiba tiba tiba dia merasa gugup dan takut suara istrinya di dengar oleh ayahnya.
Tiara melepaskan tangan Rivan yang membekap mulutnya karena panik. Mata Tiara langsung menyipit menatap ke arah Rivan penuh curiga melihat wajah Rivan yang dipenuhi oleh senyuman misterius.
" Kamu nggak mungkin mikir aku bakal ngebiarin kamu malam ini, kan. Setelah tadi dengan seksinya kamu menghiburku dan duduk di pangkuanku saat di rooftop tadi" ucap Rivan dengan gamblangnya.
__ADS_1
" Siapa yang nyuruh aku duduk di pangkuanku, tadi?" tanya Taira balik tidak dingin disalahkan atas apa yang tidak dia lakukan.
" Sial....! kamu sangat seksi, sayang... hingga aku tidak dapat berdiri lagi, tapi yang kamu duduki tadi sudah berdiri dengan sendirinya, sayang" sahut Rivan dengan kata kata mesumnya lagi.
Awalnya Tiara ingin protes kembali, tapi mendengar suaminya berbicara mesum, membuat Tiara terdiam menahan malu. Entah kenapa jika mengingat kegiatan panas di ranjang mereka membuat Tiara malu.
" Jadi... boleh?" tanya Rivan penuh harap.
Tiara menatap Rivan dengan ragu. " Kamu... nggak mau puasa dulu hari ini?" tanya Tiara dengan wajah lesu berharap suaminya bersedia mengurungkan keinginannya. " Aku gerah lama lam pake syal atau scarf siang siang" lanjut Tiara berkeluh kesah dengan kondisi tubuhnya yang harus dia tutupi dari jejak jejak merah yang ditinggalkan Rivan di lehernya.
Rivan tentu saja merasa keberatan dengan penolakan istrinya. Dia segera mencari cara agar keinginannya bisa terwujud malam ini, apapun yang akan terjadi. Rivan terdiam dengan matanya menyipit menari jalan keluarnya.
" Puasa leher..." ucap Rivan setelah mendapatkan ide.
Bukankah yang menjadi masalah Tiara adalah jejak merah yang dia tinggalkan di leher Tiara. Asalkan malam ini mereka tetap melakukan kegiatan panas mereka, jadi tidak masalah jika dirinya tidak meninggalkan bekas merah di leher Tiara. Bukankah dia masih bisa meninggalkan jejak merah di tubuh istrinya yang lain yang tidak terlihat. Lebih baik tidak bisa mengakses satu anggota tubuh istrinya daripada dia tidak dapat mengakses seluruh tubuh Tiara. Itu yang ada di dalam pikirkan Rivan saat ini.
" Janji?" tanya Tiara memastikan ucapan suaminya, sebagai seorang istri akan berdosa jika dirinya menolak ajakan suaminya untuk melayaninya di ranjang. Memberikan jari kelingkingnya di hadapan Rivan.
" Iya, janji!" sahut Rivan dengan yakin dan menautkan jari kelingkingnya di jati kelingking Tiara.
" Kalau batal, nggak akan dapat jatah selama satu minggu" ancam Tiara memberikan syarat pada suaminya, jika sampai suaminya tersebut melanggar janjinya sendiri.
" Ok! Deal" sahut Rivan yang kemudian menjabat tangan istrinya yang mana jari kelingking mereka masih terpaut. Lalu diciumnya tangan tersebut yang terasa halus dan lembut.
Tiara menganggukkan kepalanya tanpa bersuara. Dia juga tersenyum tipis melihat sikap Rivan yang begitu manis padanya.
__ADS_1
Kemudian Rivan menjalankan mobilnya yang sudah sedari tadi nyala. Dia menjalankan mobilnya dengan tersenyum lebar dan penuh semangat, layaknya bocah kecil yang akan diberikan sebuah mainan yang sangat disukai.