
Pak Hendra dan bu Suci sangat merasa canggung dengan keberadaan mereka di rumah besar tersebut. Ada kekhawatiran dalam hati mereka jika keluarga besar menantunya tidak akan suka dengan keberadaan mereka di sana, mengingat latar belakang keluarga pak Hendra yang berasal dari keluarga biasa saja.
Sungguh sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan keluarga besar Sanjaya yang memiliki rumah bak istana dan kekayaan yang berlimpah. Apalagi latar belakang keluarga mereka yang berasal dari salah satu keluarga pengusaha terkenal di Indonesia.
Meskipun begitu, beruntungnya dengan keberadaan bunda Amel yang ramah dan humble sehingga membuat suasana sedikit tenang. Satu persatu seluruh anggota keluarga Sanjaya memperkenalkan diri pada pak Hendra dan bu Suci, begitu juga sebaliknya.
Setelah saling memperkenalkan diri, mereka langsung melanjutkan acara makan malam dengan tenang tanpa ada satupun diantara mereka yang membuka mulutnya untuk berbicara. Hanya dentingan suara sendok dan garpu yang berdentingan dengan piring masing.
Hal itu sudah menjadi salah satu kebiasaan di keluarga Sanjaya yang tidak boleh berbicara saat mereka sedang makan. Sangat berbeda dengan kebiasaan di keluarga Hendrawan yang justru sering menjadi tempat bertukar pendapat atau bercerita disela sela acara makan mereka.
Tapi beruntungnya Bu Suci yang biasanya banyak bicara, kali ini beliau bisa mengendalikan diri dengan baik untuk tidak berbicara. Meskipun sebenarnya beliau ingin sekali mengomentari masakan yang disajikan tersebut sangatlah mewah dan enak.
" Sebelumnya kami benar benar minta maaf soal pernikahan mereka ya, pak Hendra, bu Suci" ayah Tama memulai percakapan yang masih merasa tidak enak hati dengan perihal pernikahan Rivan dan Tiara yang jauh dari kata 'normal'.
Saat ini dua keluarga yang sudah menjadi satu keluarga tersebut sedang bercengkerama bersama di ruang keluarga yang luas setelah mereka menyelesaikan acara makan malam bersama. Tapi disana sudah tidak tampak kek Gun yang ikut bercengkerama karena begitu selesai makan malam kek Gun langsung berpamitan lebih dulu untuk beristirahat di kamarnya mengingat kondisi badannya yang memang sedang kurang sehat.
" Saya dulu taunya juga dia yang bilang kalau dia sudah nikah dan punya istri. Siapa coba yang gak syok, untungnya saya gak punya riwayat penyakit jantung kalau punya entah apa yang terjadi sama saya" sambung bunda Amel dengan mendramatisir ucapannya.
Mendengar penuturan besannya ibu Suci hanya bisa tersenyum nyengir ketika mengingat bagaimana reaksi pertamanya saat tau status anaknya yang sudah berubah menjadi seorang istri tanpa sepengetahuannya.
" Saya juga minta maaf, sudah ngomel ngomel dan marah marah sama Rivan dulu Saya juga sama kagetnya waktu itu. Jantung saya tuh rasanya udah gak karuan!" cerita bu Suci. " Tapi yang bikin saya tambah marah tuh ayahnya Tiara! yang udah menikahkan mereka tapi nutupin semuanya dari saya" lanjut bu Suci dengan mata menyipit kesal menatap suaminya yang sedang duduk di sebelahnya.
__ADS_1
Pak Hendra yang ditatap seperti itu oleh istrinya hanya bisa nyengir merasa bersalah meskipun kejadiannya juga sudah lama berlalu. Selain merasa bersalah pada istrinya secara tidak langsung dia juga merasa bersalah pada keluarga Rivan yang langsung bersedia menikahkan putrinya dengan Rivan tanpa sepengetahuan keluarga menantunya.
" Iya saya seharusnya yang minta maaf karena sudah lancang menikahkan mereka tanpa sepengetahuan bapak dan ibu" ucap ayah Hendra meminta maaf sama kedua besannya.
" Gak apa apa pak , bu anak ini memang kebiasaan dari dulu suka gampangin semuanya, kalau ada apa apa gak pernah mau cerita atau bilang sama kita. Kalau udah kesampaian baru nanti dia ngomong tanpa merasa bersalah sedikitpun" sahut ayah Tama. " Tapi kali ini kelakuannya ini saya bersyukur dan bangga sama dia karena sudah berani menikahi wanita baik dan hebat seperti Tiara tanpa meminta persetujuan dari kita" lanjut ayah Tama sedikit memuji putranya.
" Iya pak, karena Tiara ketemu sama Rivan. Laki laki yang bertanggung jawab yang punya komitmen. Makanya waktu Rivan meminta saya untuk menikahkan mereka di KUA, saya langsung setuju tanpa berfikir panjang tanpa mencari tahu terlebih dahulu latar belakangnya. Karena yang ada dalam pikiran saya waktu itu mereka sepertinya memang sudah ditakdirkan untuk bersama" kata ayah Hendra menceritakan pengalamannya waktu itu. " Dan saya senang sudah bisa melepas putri saya satu satunya dengan orang yang tepat" lanjut ayah Hendra penuh wajah bahagia.
" Syukurlah kalau begitu, sepertinya memang sudah menjadi takdir mereka untuk bisa bersatu dengan cara seperti itu" sahut ayah Tama yang juga ikut bahagia.
" Tapi, sebagai gantinya, nanti kita bikinkan acara perayaan pernikahan untuk mereka berdua, bagaimana Bu Suci?" bunda Amel langsung menyampaikan gagasannya yang sudah pernah dia utarakan dengan anak dan menantunya dulu.
" Nanti kita pikirkan ya, Bu. Dua anak ini memang gak punya niatan buat diramaikan. Jadi sepertinya ibu ibunya nih yang harus turun tangan" ide bunda Amel. " Kalau gak diramaikan orang lain ngiranya mereka masih single belum ada pasangan, apalagi kalau mereka sudah ada anak, masyarakat pasti berpikiran negatif nantinya" lanjut bunda Amel.
Ibu Suci mengangguk setuju dengan perkataan besannya tersebut dan dia merasa senang bukan main. Karena keluarga besannya tersebut meskipun sangat kaya tapi mereka masing sangat menjunjung tinggi adat istiadat yang ada di masyarakat kita. Selain itu juga karena keluarga mereka sudah menerima Tiara dan juga keluarganya menjadi keluarga besar mereka.
Sementara itu Tiara dan Rivan sedang saling pandang. Menahan apapun itu bentuk penolakan yang kemungkinan mereka keluarkan. Prinsip mereka sebenarnya belum berubah tentang kesederhanaan berkomitmen. Tapi melihat rona bahagia pada wajah kedua orang tua mereka, tentu saja mereka tidak sampai hati menorehkan rasa kecewa di hati orang tua mereka.
" Aku sama Tiara ikut saja, yang penting kami gak mau ambil pusing" sahut Rivan akhirnya dan Tiara mengangguk setuju.
Tentu saja hal itu langsung disambut tepukan tangan kedua wanita paruh baya yang ada di sana dengan penuh bahagia. " Gampang itu, nanti kita bagi tugas aja ya, Bu Suci" kata bunda Amel dengan wajah yang sumringah begitu juga dengan ibu Suci yang mengangguk setuju dan tentunya bibirnya melengkung ke atas dengan sempurna.
__ADS_1
" Nanti aku juga bakalan bantuin nyiapin semuanya!" Vani yang juga sedang ikut bercengkerama disana langsung ikut menyahut penuh dengan semangat.
" Harus itu sayang, kamu kan yang ngerti style anak anak muda sekarang kayak gimana" sahut bunda Amel tidak kalah semangat dari yang lainnya.
Tentu saja perempuan di sana sangat antusias dan penuh semangat lain halnya dengan Tiara yang hanya bisa mendesah pelan melihat keantusiasan mereka.
Sementara kedua pria paruh baya yang ada di sana hanya bisa menggeleng dan tersenyum tipis dengan reaksi istri mereka yang penuh semangat.
" Oh iya ngomong ngomong soal anak nih, kalian kan sudah cukup lama juga nikahnya. Gimana apa sudah ada tanda tanda keberadaan cucu ibu?" kali ini bu Suci bertanya dengan ciri khasnya yang ceplas ceplos stelah dirasa suasananya semakin lama semakin akrab saja di keluarga besar tersebut.
Rivan dan Tiara hanya bisa tersenyum canggung dengan pertanyaan bu Suci. Apalagi semua orang yang ada di sana juga langsung ikut menatap ke arah Rivan dan Tiara yang juga penasaran dengan jawaban dari pertanyaan ibu Suci.
" Ibu mau cucu berapa?" bukannya menjawab, Rivan justru menimpali pertanyaan mertuanya dengan pertanyaan lagi yang langsung dihadiahi pelototan dari istrinya.
Menurut Tiara suaminya itu sudah salah meladeni pertanyaan ibunya. Seharusnya dia bilang aja apa adanya kalau memang belum ada tanda tanda keberadaan anak di dalam perutnya. Karena dia tau bagaimana sifat ibunya yang tidak akan pernah merasa puas bertanya sebelum pertanyaannya dijawab dengan pasti sesuai dengan keinginannya.
" Ibu sih, maunya kembar. Biar kita gak rebutan ngasuhnya ya, besan?" jawab ibu Suci seenaknya dengan mengkonfirmasi pada besannya, Bunda Amel.
Mendengar keinginan besannya bunda Ratu justru senang dan setuju sekali bahkan beliau langsung mengangguk dengan semangat. "Iya, maklum saya kan juga belum punya cucu. Jadi anaknya Rivan dan Tiara nanti bakal jadi cucu pertama di keluarga kita. Dan pastinya nanti saya pengennya bareng terus sama cucu ya, bu" timpal bunda Amel.
Semua orang yang mendengar perbincangan kedua besan perempuan tersebut hanya bisa geleng geleng kepala. Sepertinya kedua perempuan paruh baya tersebut sangat cocok satu sama lain terutama masalah cucu.
__ADS_1