Suddenly Married

Suddenly Married
Kayak Orang Kurang Jatah


__ADS_3

Pagi yang seharusnya diawali dengan penuh semangat yang luar biasa oleh semua orang ketika akan pergi bekerja dengan pasangan. Tapi pagi ini sangat berbeda dengan pagi sebelumnya bagi Rivan dan Tiara. Pagi tadi mereka yang awalnya begitu penuh bahagia dan semangat, semuanya langsung hilang begitu saja setelah kedatangan tamu di rumah mereka.


Tamu seorang perempuan yang tidak pernah Rivan ingin temui lagi seumur hidupnya. Ya! tamu itu adalah Bella, mantan kekasihnya yang menorehkan luka yang teramat dalan di hatinya karena perselingkuhan. Tidak tanggung tanggung pria yang menjadi selingkuhannya dulu merupakan sahabat baik Rivan.


Tiara sendiri tidak ambil pusing kedatangan tamu yang baru dia ketahui bahwa perempuan yang sedang ada di depannya itu adalah mantan kekasih suaminya. Dia ingin mengetahui terlebih dahulu apa yang diinginkan oleh perempuan yang Bella itu.


" Aku yang kayak gini kamu tolak, dan sekarang kamu malah nikah sama dia?!" tunjuk Bella pada Tiara dan menggelengkan


kepala sambil berdecak. " What the hell are you doing?" lanjut Bella tidak bisa membayangkan apa yang ada di dalam pikiran Rivan hingga menikahi perempuan yang biasa.


Rivan langsung menatap tajam ke arah Bella. Dia patut berterima kasih pada Tuhan karena pada saat itu dia belum bisa memantapkan hatinya untuk Bella. Ternyata skenario Tuhan tetapkan padanya memberikan kejutan yang luar biasa, bertemu dengan Tiara.


" You know. Menikah dengan Tiara adalah anugerah dia perempuan yang sempurna luar biasa" Rivan menjawab dengan santai dan masih memeluk pinggang Tiara, seolah ingin menunjukkan pada Bella kalau dia bisa melanjutkan hidupnya tanpa Bella di sisinya. Ngakan bahasa tubuh mereka telah menunjukkan bahwa mereka adalah pasangan yang tak terpisahkan satu sama lain.


Tiara langsung menyunggingkan senyum, dia menatap lawan yang berada di depannya yang selalu terbakar api cemburu. Wajah Bella langsung memerah dan kedua tangannya langsung mengepal menahan amarah.


Tiara sangat suka dengan gaya bicara Rivan yang membuat lawan bicaranya mati kutu seperti saat ini. Kemesraan yang ditunjukkan Rivan dihadapan Bella adalah nyata dan pas sesuai porsinya.


" Kalau nggak ada urusan lagi dengan suami saya, pintu pagarnya ad di sebelah sana, mbak" ucap Tiara dengan sopan meskipun kata katanya terkesan mengusir tamu istimewanya dengan menunjuk ke arah pagar rumah mereka yang masih terbuka.


Menurutnya lebih cepat lebih baik, jika wanita yang bernama Bella itu segera menyingkir dari rumah mereka.


Bella yang sudah MB arah semakin tidak terima dengan semuanya. Dia yang lebih dulu mengenal Rivan bahkan sangat lama dan berharap dia yang menjadi pendamping Rivan. Tapi pada kenyataannya dia mendengar kabar jika Rivan telah menikah. Tentu saja kabar itu membuat Bella merasa dipermainkan.


" Kamu nggak bisa biaya aku kayak gini, Van" nada suara Bella berubah menahan amarahnya. Tatapannya berubah menjadi nyalang, menatap Rivan dengan aura penuh amarah.


" Loh...! kenapa mbak malah marah sama suami saya?" Tiara menatap Bella dengan tatapan geli, dia masih menikmati perubahan sikap Bella terhadap Rivan.

__ADS_1


" Sepertinya nggak ada yang perlu dijelaskan lagi" Rivan menatap Bella dengan tatapan biasa.


Vanilla sendiri merasa sesak ditatap seperti itu oleh Rivan. Karena Rivan pernah menatapnya dengan tatapan penuh cinta dan sekarang hilang begitu saja tanpa jejak.


" Kamu bisa lihat sendiri, sekarang aku sudah menikah. Aku harap ini jadi pertemuan terakhir kita" lanjut Rivan untuk mengakhiri pembicaraan mereka sekaligus pertemuan terakhir mereka.


Tanpa ingin menunggu jawaban dari Bella, Rivan langsung menutup pintu rumahnya dan meninggalkan Bella yang masih berdiri di sisi pintu sebelahnya. Masih terdengar suara ketukan pintu dan suara Bella yang bersahutan. Tapi Rivan tidak peduli dan mengajak Tiara berjalan menuju pintu belakang rumah mereka.


Pintu belakang yang justru terasa menjadi pintu utama sejak kedatangan Tiara di hidupnya. Keduanya bergegas pergi dari rumah untuk berangkat bekerja.


Suasana di dalam mobil menjadi canggung tidak seperti biasanya. Tiara memijat pelipisnya, paginya kali ini disambut dengan kejadian yang luar biasa. Tiara merasa sangat heran masih ada perempuan seperti Bella di dunia ini. Dengan penuh percaya diri datang ke rumah mantan pacar lalu berkata dengan sinisnya.


Walaupun Tiara sendiri tau bagaimana perasaan Rivan sekarang ini, namun dirinya tetap saja merasa berbeda. Bayangan Rivan yang dulu mencintai perempuan itu, bayangan Rivan memperlakukan Bella sama seperti Rivan memperlakukan dirinya membuatnya tidak rela.


Kalau tadi saat berhadapan langsung dengan Bella, dirinya nampak tenang. Kini tak ada lagi yang perlu dia tutupi saat dia hanya berdua saja dengan Rivan.


Rivan yang sedang menyetir, tau bahwa kejadian tadi pasti sangat mengganggu pikiran Tiara. Rivan menggenggam telapak tangan kanan Tiara dan membawanya untuk dia kecup. Sedangkan tangan satunya lagi sedang fokus memegang kemudi.


" Dia sudah tidak berarti, sayang" ujar Rivan usai mengecup tangan Tiara.


Reaksi Tiara selanjutnya sungguh diluar perkiraan Rivan. Tiba tiba Tiara mengecup pipi kiri Rivan dengan gemasnya dan menatap suaminya itu dengan tatapan jahil. Tiara tersenyum ke arah Rivan merasa bahagia mengingat cara Rivan membuat Bella mati kutu di hadapannya.


Tiara patut berterima kasih pada Tuhan karena telah mengirimkan seorang laki laki yang begitu sempurna untuk dirinya. Penantian panjangnya telah terbayar lunas dengan menemukan laki laki yang baik dan mencintai dirinya seperti Rivan.


" I know. Aku tidak akan pernah bisa disamakan dengan perempuan sekelas the *****, mas" ucap Tiara dengan penuh percaya diri sambil mengerlingkan matanya sok nakal.


Rivan menatap sekilas ke arah istrinya yang pura pura bersikap genit padanya membuatnya melongo. Karena selama ini jangankan bersikap genit dan nakal, istrinya itu biasanya selalu jual mahal dan akan bersikap liar jika dia sudah menyentuhnya. Kemudian Rivan menyunggingkan senyum tipisnya, dia tau bahwa sebenarnya istrinya itu sedang menggodanya.

__ADS_1


"Upppsss" Tiara menutup mulutnya seolah sedang terkejut. " Jangan marahnya kalau mantannya aku bilang gitu" lanjut Tiara yang sengaja menggoda suaminya.


Rivan sudah pernah bilang kan, kalau tawa Tiara itu menular? Untuk itu, Rivan juga langsung ikut tertawa usai mendengar sindiran istrinya.


" Itulah kenapa aku menikahi kamu, sayang. Kamu itu sangat berbeda jauh dengan dia. Jauh lebih sempurna" jawab Rivan dengan senyuman yang begitu bangga.


Rivan kemudian membalas kecupan Tiara dan syukur saat itu lampu lalu lintas berwarna merah. Jadi Rivan bisa menikmati bibir ranum istrinya untuk beberapa saat lebih lama.


Awalnya Rivan hanya memberikan kecupan kecupan ringan di bibir Tiara, tapi beberapa saat kemudian kecupan itu malah berubah menjadi ******* yang menuntut.


" Lampunya udah hijau, mas" Tiaralah yang pertama menyadari jika lampu lalu lintas telah berubah warna menjadi hijau.


Kalau Tiara tak segera memberi tahu, bisa jadi mereka kebablasan nantinya. Bisa jadi mobil di belakang mereka menyerbu dengan suara klakson yan keras.


Rivan melepaskan pagutannya dan menatap rambu lalu lintas dengan perasaan kesal. Padahal dia belum sempat mengeksplorasi semua bibir Tiara, tapi malah harus segera melajukan mobilnya.


Melihat raut muka suaminya Tiara hanya bisa terkikik di sebelah Rivan. Dia pasti sangat kesal karena harus berhenti di saat sedang seru serunya.


" We have a lot of time, mas. Jangan kayak orang kurang jatah gitu, deh!" Rivan tertawa lagi sebelum menjalankan mobilnya.


Selama 15 menit perjalanan, Rivan tak henti menggenggam tangan Tiara. Bahkan ketika mobil Rivan telah berada di depan butik istrinya, Rivan sama sekali tidak ada niatan untuk melepaskan genggamannya.


Tiara memegang dada bidang Rivan yang terhalang oleh kemeja putih dan jas hitam formalnya. seperti yang sudah sudah Tiada akan memberi ciuman padanya. Ciuman perpisahan sementara karena mereka harus bekerja. Hal itu tidak disia siakan oleh Rivan, dia menyambut baik undangan yang diberikan oleh istrinya.


" Kalau nggak ingat kerja, aku bakalan makan kamu, sayang" bisik Tiara dengan suara parau menahan gairah.


Tiara sangat tau bagaimana membuat Rivan tak berkutik. Meskipun ciuman Rivan begitu mendesaknya tapi dia menyukainya. Sama seperti saat mereka sedang bercinta, meskipun Rivan tidak bisa mengontrol gerakannya menjadi lembut, Tiara tetap suka.

__ADS_1


Akhirnya dengan berat hati, Rivan melepas Tiara untuk keluarga dari mobil. Tiara berbalik menghadap ke arah kaca jendela yang terbuka, kemudian dia melemparkan senyumnya pada Rivan. Kemudian Rivan melakukan mobilnya dan menghilang dari pandangan Tiara.


__ADS_2