Suddenly Married

Suddenly Married
Aku Kangen


__ADS_3

Begitu masuk ke dalam rumah bersama dengan suaminya, Tiara melepaskan pelukan sang suami yang sedari tadi memeluk pinggangnya. Dia langsung mendudukkan bokongnya di sofa untuk mengistirahatkan tubuhnya yang kelelahan. Dia mendesah dengan panjang menandakan bahwa dirinya merasa sangat kelelahan.


Kebiasaan Tiara jika sehabis berbelanja, dia akan langsung menaruh kantong belanjaannya di kamar dan langsung merapikannya. Tapi karena rasa lelah dan juga banyaknya belanjaan yang dia beli tadi, membuat Tiara lelah dan langsung meletakkan kantong belanjaannya di meja sofa utama.


Rivan tersenyum menatap istrinya yang kelelahan dan terlihat malas. Rivan melangkah mendekati sofa dan ikut meletakkan beberapa kantong belanjaan sang istri yang sebagian tadi dia bawa masuk dan meletakkan dia tas meja berjejer dengan kantong belanjaan yang ditaruh oleh Tiara.


Lalu dia ikut mendudukkan tubuhnya di samping yang istri yang terlihat kelelahan setelah jalan jalan dan belanja seharian bersama dengan Nita. Nita sendiri tidak bergeming sama sekali dari duduknya saat merasakan tubuh Rivan yang duduk di sebelahnya.


" Kamu capek, sayang?" tanya Rivan dengan perhatian setelah mendudukkan tubuhnya di sebelah Tiara yang terlihat menutup matanya.


Tanpa menjawab ataupun membuka matanya sejenak, Tiara hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan Rivan.


" Mau aku pijitin?" tanya Rivan lagi yang merasa kasihan melihat tubuh istrinya terlihat kelelahan dan lemas.


Ditengah rasa lelah yang menderanya, saat mendengar suara Rivan yang menawarkan pijatan itu terdengar bagai laki laki sejati di telinga Tiara. Karena perhatian yang selalu dicurahkan oleh suaminya, Tiara yakin dirinya lama kelamaan tidak bisa berkutik lagi dan mungkin sebentar lagi akan hatinya akan langsung meleleh.


Sepertinya Tuhan memberi Tiara suami yang begitu sangat manis bahkan manisnya melebihi manisnya madu. Tuhan juga begitu adil terhadapnya setelah penantiannya yang cukup panjang. Akhirnya semua terbayar dengan dia bisa mendapatkan sosok suami secara mendadak yang melebih dari kriterianya selama ini. Inikah yang namanya jodoh??


" Kamu gak marah, aku tinggal seharian kayak tadi, mas?" tanya Tiara yang sudah membuka matanya dan menatap heran ke arah suaminya.


Biasanya laki laki lain akan merasa kesal kalau ditinggal seharian oleh istrinya. Apalagi sang istri tidak melayani mereka sampai seharian begini, ditambah lagi sang istri yang sudah menghabiskan uangnya hanya untuk berbelanja dan bersenang senang seperti dirinya tadi.


" Aku bukan anak kecil lagi, sayang. Nggak harus kamu jagain setiap waktu" kata Rivan tersenyum menatap wajah istrinya yang juga menatapnya. " Lagian, sekali kali kamu juga perlu keluar have fun bareng sahabat kamu, sayang" lanjutnya yang menarik tubuh Tiara agar duduk tegak.

__ADS_1


Kemudian Rivan memutar tubuh Tiara agar membelakangi dirinya. Lalu tanpa ada yang menyuruh Rivan benar benar memijat bahu Tiara dengan pelan. Tiara sendiri hanya menuruti tanpa menolak saat pijatan tangan suaminya yang begitu lembut. Rasanya dia begitu dimanjakan oleh suaminya dengan pijatan lembut darinya.


" Seharian tadi kamu ngapain aja, mas?" tanya Tiara menutup matanya untuk merasakan pijatan suaminya.


" Nge-gym di atas" sahut Rivan. Di rumah mereka ada studio fitnes sendiri untuk berolahraga lengkap dengan segala peralatan yang berada di lantai tiga. " Udah lama aku gak nge-gym... jadi tadi seger juga badan aku rasanya..." lanjut Rivan dengan tangan masih terus memijat bahu Tiara dengan pelan.


Sejak Tiara tinggal di rumah tersebut, sudah beberapa kali Tiara menggunakan fasilitas fitnes di rumah tersebut. Setiap hari setelah bangun tidur dan sebelum melakukan kegiatan rutinnya, Tiara selalu berlari pagi di atas mesin treadmill yang ada di ruangan tersebut, padahal terlihat Rivan jarang sekali menggunakan alat tersebut.


Tiara meminta Rivan untuk menghentikan pijatannya setelah dirasa badannya sudah sedikit lebih rileks. " Udah lama gak nge-gym, tapi badan kamu tetep aja jadi ya?" ujar Tiara yang menoel otot bisep tangan Rivan yang terasa keras.


" Tau darimana kamu kalau badan aku jadi?" tanya Rivan yang geli dan hanya ingin menggoda istrinya saja.


" Pura pura nggak tau lagi" ujar Tiara dengan bibir cemberut. " Bukannya kamu sering ya, ganti baju di depan aku. Sengaja kan pamer perut sixpack kamu di depan aku, sok seksi gitu deh..." lanjut Tiara yang terlihat menggemaskan sambil memukul dada Rivan berkali kali dengan pelan.


" Kalau nggak pamer ke istri, aku harus pamerin tubuh aku ke siapa lagi, sayang..." ujar Rivan dengan suara pelan hingga membuat tubuh Taira meremang karena nafas Rivan yang menerpa wajahnya.


Dengan gerakan cepat Rivan langsung mencium bibir istrinya dengan pelan hingga Tiara terbuai dan membalas ciuman tersebut. Namun hanya sebentar saja karena Rivan langsung melepaskan ciuman mereka karena dia tidak ingin sampai kebablasan sebelum Tiara siap untuk melakukan lebih.


" Boleh juga nih, ngarahin pembicaraannya..." kata Tiara menunjuk pada ciuman Rivan barusan setelah menggodanya terlebih dahulu dengan kata kata manisnya.


Namun meskipun begitu Tiara merasa bangga pada suaminya, karena Rivan selalu berhasil menekan keinginannya untuk bertindak lebih jauh. Sedangkan Rivan hanya bisa tersenyum tipis meskipun sebenarnya dirinya sudah tidak bisa menahan lebih lama lagi untuk bisa menyentuh istrinya.


" Kamu sudah makan, mas?" tanya Tiara mencoba mengalihkan pembicaraan mereka dan bersiap berdiri untuk membuatkan makan malam untuk suaminya.

__ADS_1


" Udah. Kamu istirahat dulu sini" jawab Rivan sambil menahan pergelangan tangan Tiara dan menyuruhnya untuk duduk kembali. Tiara tidak menolak dan dia duduk kembali di tempatnya sambil menatap suaminya dan tersenyum. Istirahat dengan ditemani Rivan rasanya begitu nyaman bagi Tiara.


Kali ini Rivan memeluk pinggang Tiara dan mendekatkan tubuh mereka, lalu membawa kepala Tiara agar bersandar di bahunya.


" Tadi kamu belanja apa saja, sayang?" tanya Rivan menikmati kebersamaan mereka setelah seharian tidak melihat istrinya.


" Macam macam, dari baju main, baju tidur, daster dan beberapa pakaian dalam" sahut Tiara. " Awalnya aku hanya ingin beli 2 buah daster aja, tapi begitu kamu kasih uang belanja ke aku, langsung aja aku beli beberapa baju lagi. Aku juga bayarin baju yang dibeli Nita" lanjut Nita dengan senyum senang saat mengatakan semua barang barang yang telah dia beli tadi bersama Nita


Rivan tersenyum merasa senang bisa membahagiakan istrinya dengan pemberian uang belanja sehingga istrinya bisa belanja sepuasnya bersama dengan sahabatnya. Selama ini Rivan bingung cara menghabiskan uang yang dihasilkan dia selama ini yang jumlahnya tidak sedikit. Mau diberikan untuk keluarganya, tapi mereka punya penghasilan sendiri yang tidak kalah banyaknya.


Padahal selama ini dia sudah banyak menggunakan uangnya untuk dia sumbangkan ke panti asuhan atau untuk membantu orang tidak mampu tiap bulannya, tapi uangnya masih tersisa banyak. Makanya saat ini dia merasa bahagia, karena mulai sekarang dia bisa memberikan uang belanja tiap bulannya untuk keperluan pribadi istrinya.


Saat ini mereka berdua saling melempar senyum untuk beberapa saat. Rivan mengecup sekilas bibir ranum istrinya. Dalam benak Tiara terlintas satu pertanyaan sesat setelah Rivan mengecup bibirnya.


" Kangen gak?" pancing Tiara dengan wajah ingin tahu. Jujur saja, Tiara merasa merasa kehilangan saat tidak menghabiskan waktu bersamanya dengan suaminya, meskipun tadi dia menjalani hari harinya dengan bersenang senang bersama Nita.


Kedua alis Rivan mengernyit sambil menatap dalam mata istrinya. Dia bingung dan serba salah saat dihadapkan pertanyaan seperti itu. Kalau dia menjawab tidak kangen takut membuat istrinya cemberut, kalau bilang kangen takut terdengar penuh tuntutan. Makanya dia tidak langsung menjawab mencoba mencari jawaban yang tepat.


" Aku kangen..." justru Tiara yang menjawab pertanyaannya sendiri dengan memberikan petunjuk karena tidak kunjung mendapatkan jawaban dari Rivan.


Mendengar ucapan istrinya membuat Rivan langsung bernafas lega dan tersenyum senang. Dan tanpa dia duga Tiara memeluk pinggangnya dan memeluk dirinya dengan erat dengan kepala dibenamkan di dalam dadanya. Rivan membalas pelukan Tiara hingga tubuhnya berada dalam dekapannya yang membuat jantung Rivan berdesir hebat. Sepertinya istri cantiknya ini ingin dimanja. Laki laki macam mana yang tidak akan luluh olehnya?


Tangan Rivan bergerak mengelus rambut Tiara dengan lembut dan pelan, lalu mencium pucuk kepala istrinya sembari mencium wangi rambut Tiara yang beraroma stroberi. Dia membalas pelukan istrinya dengan erat dan mendekap tubuhnya untuk lebih melesak ke dalam rangkulannya sehingga kepala Tiara melekat di dadanya.

__ADS_1


__ADS_2