
Setelah beberapa saat lamanya Tiara dan Rivan sibuk di dapur yang biasa dipakai oleh Bu Suci. Akhirnya acara memasak mereka berdua telah selesai meskipun sesekali diselingi dengan candaan ataupun curian adegan romantis yang selalu dilakukan oleh Rivan.
Sesekali Rivan terus mencuri kecupan singkat entah itu di pipi ataupun di bibir Tiara, meskipun hanya dengan kecupan saja. Dia tidak berani melakukan lebih karena akan berakibat fatal jika dia sampai melakukannya secara berlebihan.
Tiara sendiri sedikit kesal dengan sikap suaminya yang selalu suka curi curi kesempatan. Untung saja orang tuanya tidak melihat karena mereka berdua sedang berada di teras rumah.
" Lagian, kenapa kamu bengong gitu sih? ini mau ditaruh dimana makanannya?" tanya Rivan beralasan dengan makanan yang dipegangnya saat ini.
" Oh... taruh meja aja, mas. Bisa tolong kamu rapiin semuanya, mas. Aku mau cuci peralatan kotor dulu" kata Tiara pada akhirnya meminta suaminya yang menara menu makan malam mereka.
" Siap nyonya Rivan!" jawab Rivan dengan senang hati mengiyakan permintaan istrinya yang seperti perintah baginya.
Rivan dengan telaten menata semua menu makanan yang sudah dibuat oleh istrinya. Tentu saja dengan bantuan yang diberikan Rivan membuat Tiara lebih cepat selesai mengolah masakannya menjadi menu makan malam mereka.
Tiara sendiri masih sibuk dengan kegiatannya membersihkan peralatan kotor yang baru saja dia gunakan untuk memasak.
" Aku panggil ayah ibu dulu ya, sayang" kata Rivan setelah selesai membantu istrinya merapikan menu makanan di atas meja
" Iya, mas" jawab Tiara sambil mengangguk mengiyakan. " Sebentar mas!" Tiara menghentikan langkah Rivan yang akan keluar dari dapur dengan wajah bingung.
Tanpa berkata, Tiara langsung menghampiri sang suami yang masih berdiri di tempatnya. Lalu dia melepaskan celemek yang masih terikat di tubuhnya. Rivan hanya diam saja sambil tersenyum memandangi wajah istrinya.
" Sudah" kata Tiara begitu dia selesai melepaskan celemek di tubuh Rivan.
Sebelum Tiara berbalik Rivan menahan tangan Tiara lalu menyeka dahi Tiara yang sedikit basah dikarenakan keringat. " Makasih sayang" kata Rivan kemudian setelah mendaratkan kecupan di kening sang istri. Keduanya tersenyum lembut merasakan rasa cinta dan kasih sayang dari keduanya.
Tiara kembali menyelesaikan pekerjaannya sebelum kedua orang tuanya datang bersama suaminya yang memanggil mereka di teras depan rumah.
Tidak lama pak Hendra, bu Suci dan Rivan sudah berada di meja makan. " Sudah selesai masaknya?" tanya bu Suci sambil mengamati menu masakan yang dibuat oleh putrinya.
Meskipun suaranya terdengar sedikit mencibir kemampuan putrinya. Tapi dalam hatinya dia juga merasa bangga melihat Tiara yang sudah belajar menyelesaikan tugasnya sebagai seorang istri.
__ADS_1
" Kirain baru subuh nanti selesainya" ledek bu Suci lagi pada putrinya.
Tanpa berkomentar Pak Hendra langsung duduk di kursi yang juga diikuti oleh bu Suci dan Rivan.
" Sudah dong, Bu... siapa dulu yang masak?" sahut Tiara dengan bangga. Tiara langsung bergabung bersama dengan yang lainnya duduk di sebelah Rivan begitu selesai dengan semua pekerjaannya.
" Alah kok sombong.... coba tadi gak dapat bantuan dari suami kamu" bu Suci justru membanggakan menantunya. " Meskipun ibu tau sih, kalian masaknya pasti sambil bercandaan terus" lanjut bu Suci dengan ledekannya karena dia sempet mendengar candaan mereka.
Rivan hanya mesam mesem saja dengan ledekan ibu mertuanya. Berbeda dengan Tiara yang sudah menundukkan kepalanya menahan malu dengan ledekan sang ibu.
" Bawaannya pengantin baru emang gitu kan, Bu. Ibu kayak lupa aja gimana kita dulu" pak Hendra yang tau anaknya merasa malu langsung mengambil alih tugasnya sepeti biasa menengahi perdebatan anak dan putrinya yang dari dulu selalu terjadi. Dirinya yang selalu menjadi penengah diantara keduanya.
" Sebaiknya kita langsung aja nyoba masakan pengantin baru" lanjut pak Hendra setelah dirasa tidak ada lagi yang ingin berbicara lagi.
Bu Suci dan Tiara langsung bergantian mengambilkan makan di masih masing piring suami mereka terlebih dahulu. ' Jangan biarin suami kamu ambil makan sendiri, itu adalah tugas kita ngelayani mereka sebagai seorang istri' itu adalah pesan yang diberikan oleh Bu Suci. Dan ya... Tiara selalu melakukannya setiap kali mereka makan bersama.
" Selamat mencoba masakan pengantin baru, yah" ucap bu Suci sebelum akhirnya memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Pak Hendra juga melakukan hal yang sama.
Rivan yang juga melihat reaksi mertuanya ikut tersenyum melihat mereka menyukai masakan yang dibuat sang istri. Dia sangat yakin kalau mertuanya pasti akan menyukai masakan Tiara, karena dia sudah mencicipi masakannya setiap harinya. Akhirnya ia juga ikut memulai menyuap makanan dipiringnya ke dalam mulutnya.
" Kayaknya ilmu memasak ibu sudah turun sempurna nih ke Tiara" kata pak Hendra.
" Masih tinggian ilmu ibu lah, yah" sahut bu Suci tidak terima keahliannya bisa disaingi oleh anaknya sendiri. " Belum tinggi ilmunya kalau belum bisa masak sambil gendong anak yang lagi nangis" lanjutnya dengan sindiran keras.
" Nanti aku buktiin kalo aku bisa nandingin ilmu ibu" sahut Tiara dengan percaya diri.
" Emang udah jadi anaknya?" celoteh bu Suci dengan entengnya.
Rivan langsung tersedak mendengar celotehan sang mertuanya yang sedang menyindirnya. Tiara langsung memberikan segelas air putih untuk suaminya yang tiba tiba tersedak gara gara ucapan ibunya yang sangat frontal.
" Ibu ini kebiasaan deh__" belum selesai Tiara ingin memprotes ibunya tapi tangannya sudah dipegang terlebih dulu oleh Rivan dengan lembut sehingga dia menghentikan ucapannya.
__ADS_1
" Doain ya, bu. Semoga cepet dapet cucu buat ayah sama ibu" kata Rivan setelah selesai minum air putih. Tangan satunya juga mengusap perut istrinya yang sedang duduk di sebelahnya.
" Kita sih sudah pasti doain terus ya yah. Tapi percuma kalau usaha kalian kurang...." sahut bu Suci namun dipotong duluan oleh Tiara yang tau arah perkataan ibunya.
" Ayah bilangin dong itu istrinya..." Tiara merajuk dan meminta pertolongan ayahnya dengan sindiran ibunya. Wajahnya sudah dipastikan seperti kepiting rebus saat ini karena menahan malu.
Bukannya merasa kasihan, Rivan dan bu Suci justru tertawa melihat reaksi Tiara yang merajuk ke ayah Hendra.
Tiara itu hanya merajuk pada orang tertentu. Tentu saja hanya pada Rivan suaminya dan juga pak Hendra ayahnya. Berbeda kalau sama ibunya, Tiara pasti akan saling adu mulut setiap harinya ketimbang merajuk ditambah lagi dengan ledekan yang keluar dari mulut ibunya.
" Alah sudah punya suami kok ngadunya sama ayah" ledeknya sang ibu yang tidak akan berhenti sebelum pak Hendra turun tangan melerai perdebatan istri dan anaknya tersebut.
Akhirnya sisa makan malam itu dihiasi dengan canda tawa. Meja makan itu memang jauh dari kata romantis namun terasa begitu hangat dengan kebersamaan mereka menikmati malam ini.
Selesai makan Tiara langsung mencuci semua piring kotor bekas makan mereka. Sementara itu Rivan yang ingin membantunya langsung diusir oleh Tiara dan menyuruhnya untuk bergabung dengan orang tuanya yang akan mengobrol di ruang tamu.
Setelah selesai dengan pekerjaannya Tiara ikut bergabung dengan semuanya. Setelah dirasa sudah larut Tiara mengajak suaminya untuk pulang ke rumah mereka.
" Sudah malam, sepertinya kita harus pulang yah, bu" ucap Tiara.
" Loh... sudah larut kenapa gak nginap di sini aja sih?" tanya bu Suci yang mengira putri dan menantunya akan menginap di rumahnya.
" Ibu kan pengen cepet gendong cucu. Makanya biar cepet dapet cucu kita usahanya di rumah aja yaaa..." sahut Tiara membuat alasan yang bisa meyakinkan orang tuanya.
" Halah gak ada bedanya juga padahal. Kalian kan bisa di kamar atas berdua saja. Ibu dan ayah di bawah gak bakal kedengaran juga kalau kalian teriak teriak" sindir Bu Suci.
" Bu...." sungut Tiara kesal. Rivan sampai menaikkan alisnya tidak percaya dengan sindiran ibu mertuanya yang langsung menjurus.
" Sudahlah Bu, jangan meledek mereka terus. Ini sudah malam, biarkan mereka pulang" ucap pak Hendra berusaha menjadi penengah karena dia tau bukan hanya Tiara yang malu, Rivan juga terlihat malu dengan sindiran istrinya.
Akhirnya bu Suci tidak berani lagi membantah ucapan suaminya dan membiarkan putri dan menantunya untuk segera pulang karena waktu sudah tengah malam. Akhirnya Tiara dan Rivan langsung pulang ke rumah mereka.
__ADS_1