Suddenly Married

Suddenly Married
Disgusting


__ADS_3

Rivan merasa kesal dengan telepon yang baru diterimanya dari Bella, tidak ada niat bicara dengan Bella, dia langsung menutup telepon kantornya. Dia tidak menyangka Bella begitu berani menelpon dirinya dari telepon kantor di jam kerja.


Bella adalah seorang yang ambisius jika dia menginginkan sesuatu maka dia harus bisa mendapatkannya. Dan itu yang membuat Rivan kepikiran dan langsung tidak bisa konsentrasi dengan pekerjaannya.


Dan benar saja belum ada dua menit ponsel Rivan sudah berbunyi menandakan ada pesan masuk. 'Answer my phone atau i'm gonna find out about your lovely wife' sebuah pesan ancaman yang dikirimkan Bella untuk Rivan.


Rivan menarik nafas panjang, berusaha menghisap seluruh kesabaran yang mungkin tercecer di udara. Dia bingung apa yang harus dia lakukan sekarang, apalagi jika sudah menyangkut kenyamanan istrinya.


Tak lama ponsel yang dia pegang berbunyi lagi dan menandakan ada panggilan masuk. Dengan malas Rivan mengangkatnya tapu tidak bersuara sama sekali.


" Beibh... aku udah cerai. aku hancur sekarang... aku butuh kamu,Van" kata Bella dari seberang dengan suara sendu.


Tentu saja Rivan tidak peduli sama sekali ataupun mempercayai kesedihan yang dikatakan Bella. " Saya nggak peduli" kata Rivan dengan suara dinginnya. Sebenarnya dalam hatinya dia menahan untuk mengatai 'syukurin'


Namun dia tau bagaimana Bella mampu untuk memutarbalikkan kata katanya. Celaan bisa dia nggak pujian, amarah pun bisa dia anggap godaan. Jadi daripada serba salah Rivan menjawabnya dengan datar dan ingin segera mengakhiri percakapannya.


" Please... jangan gitu. Sekarang aku nyadar kok kalau Candra tidak lebih baik dari kamu"


" I'm not competing with him. Apalagi untuk kamu doang" sahut Rivan dengan malas. Dia sangat benci mendapati kenyataan bahwa perempuan berbahaya seperti Bella harus kembali masuk kedalam kehidupannya. Hidupnya yang kini sudah sempurna bersama Tiara.


" Jangan lupa dulu kamu begitu memuja muja si aku doang ini"


" Saya nggak ada waktu untuk kamu" sahut Rivan


" Ya ampun....kenapa sekarang kamu jadi dingin begini? hati aku jadi perih sama perlakuan kamu, beibh..." ucap Bella dengan nada genit tapi tidak lama Rivan mendengar suara tangis dari ponselnya memancing emosinya.


Rivan mengernyit heran. " Kamu nggak waras ya?" tanya Rivan yang tidak paham dengan apapun. Situasi saat ini, keberadaan Bella di dunia dan kenyataan dulu bahwa dia pernah mau dan begitu menyayangi perempuan itu.


" Beibh, aku tau kamu sakit hati dan sekarang aku datang untuk memperbaiki semuanya"


" nggak ada yang harus kamu perbaiki" sahut Rivan tegas


" Ada dong... hati kamu yang beku itu pasti karena aku. Aku mau nganterin hati kamu lagi..."


" Disgusting" sahut Rivan kesal


" Dengan cinta aku beibh...sekarang otak kamu udah mulai nakal, ya....."


Terdengar suara manja Vani dibalik telepon yang semakin mempertegas rasa jijik Rivan terhadap perempuan itu.

__ADS_1


" Saya sibuk, kalau gak ada yang penting saya tutup" ucap Rivan.


" Sejak kapan kalau aku harus ngomong sama kamu kalau penting doang?"


" Masih untung saya ladeni. Ya udah___" belum sempat Rivan menyelesaikan ucapannya sudah dipotong lebih dulu dari seberang.


" Cewek baru kamu boleh juga nih, bikin kamu cuek gini sama aku. udah berhasil ajak kamu nakal, ya??"


Ucapan Bella yang memotong kata katanya berhasil membangun emosi Rivan semakin naik, saat Bella kembali mengungkit Tiara dalam percakapan mereka.


" Jangan samakan Tiara dengan kamu!" ucap Rivan dalam satu kalimat yang dingin dan tajam.


" Ohhh... namanya Tiara. Iya.... aku akuin deh dia memang hebat. Lumayan lah udah bisa ngangetin kamu buat aku"


" STOP IT!!" ucap Rivan dengan keras dan lantang hingga membuat rekan kerjanya dalam satu ruangan terkejut dan langsung menatap ke arah Rivan semua. Tapi Rivan tidak peduli dengan tatapan mereka.


" Tapi bener kan? kamu udah ngerasain sama si.... what so called istri kamu itu? Ngerti kan kenapa dulu aku akhirnya mau sama Candra?"


" Kamu menjijikkan dan aku nggak ingin apapun dari kamu" sahut Rivan


" Dan harusnya kamu tau, kalau aku sudah mau nggak ada yang bisa menolakku. Termasuk kamu!"


" Kasihan kamu..." Rivan menggeleng kepala, kini dia merasa pusing


Rivan sudah tidak kuat lagi berbicara dengan Bella dan ingin segera mengakhiri percakapannya sebelum dirinya benar benar marah saat itu juga. Tapi seolah tau Bella langsung berbicara lagi hingga mau tidak mau Rivan mendengarnya.


" Satu lagi.... sampaikan salam buat Tiara, suruh dia siap siap, sebentar lagi jadi janda"


Rivan ingin memaki Bella, tapi teleponnya keburu ditutup oleh Bella. Dengan kesal Rivan langsung menggebrak meja sambil menggeram keras. Hingga membuat rekan satu ruangan terkejut lagi dan terjingkat namun tidak ada satupun yang berani menyapa atau bertanya padanya.


Belum selesai urusannya dengan mantan kekasih Tiara. Kini Rivan punya tugas baru lagi, melindungi Tiara dari setan bernama Bella.


*


*


*


Tiara terkejut saat masuk ke dalam mobil dan melihat wajah suaminya saat menjemputnya di butik. Rivan yang datang tanpa turun dari mobilnya tampak sangat lelah meskipun dia mencoba menarik senyum lemahnya.

__ADS_1


Rivan itu pekerja keras dan tahan banting. Sudah beberapa bulan mereka menikah dan tidak pernah Tiara lihat Rivan yang kelelahan seperti saat ini. Meksipun kehidupan mereka sebelumnya sangat jungkir balik pasca menikah.


" Mas, mau aku yang nyetir?" tanya Tiara khawatir.


Rivan menatap Tiara dan menggenggam tangannya lalu mengecup punggung tangan yang lembut itu.


" Nggak usah, ini udah semangat lagi, kok" kata Rivan.


" Mas, aku serius jangan dibales gombalan dong" Tiara yang merasa resah melihat wajah suaminya tidak terima begitu saja diperlakukan dengan manis oleh Rivan.


" Aku nggak ngegombal, sayang" sahut Rivan.


Tampaknya Tiara masih belum sadar bahwa sekeruh apapun hari Rivan Tapi saat melihat wajah cantik dan manis Tiara, langsung membuat perasaan Rivan jernih dan cerah kembali.


" Kamu kecapean begini, pasti kerjaan kamu hari ini banyak banget, ya?" tanya Tiara lagi.


Rivan tersenyum menatap wajah Tiara dan mengangguk singkat. Berbohong pada istrinya bukanlah hal yang menyenangkan, maka dia melakukannya sesingkat mungkin.


" Ya udah sini aku aja yang nyetir, biar kamu bisa istirahat. Aku bisa nyetir, kok. Lagian sesusah apa sih nyetir Porche? palingan nggak beda jauh sama mobil matic di rumah ayah" gerutu Tiara yang merasa tidak dipercaya suaminya untuk menyetir mobil mewahnya.


Rivan tertawa terbahak bahak mendengar gerutuan istrinya. Inilah yang membuat Tiara berbeda dengan perempuan lainnya yang bisa merubah moodnya dalam sekejap. Istrinya sudah cemberut aja di sampingnya, hingga membuat Rivan gemas dan tidak mampu menahan diri dan mengecup pipi Tiara dengan cepat.


" Aku yang nyetir, kamu temenin aku, okay!" ucap Rivan dengan lembut dan tegas memberikan perintah pada istrinya yang hanya bisa menurut dan mengangguk meski diiringi dengan helaan nafas tak rela.


" Nanti di rumah aku pijitin, ya" Tiara tetap ingin berkontribusi untuk meringankan beban suaminya hari ini.


Pikiran Rivan sudah di rumah sambil dipijitin oleh istri tercintanya di ranjang. Dia langsung melesatkan mobilnya membelah jalanan agar secepatnya sampai di rumah.


Sesampainya di rumah Tiara langsung mengambilkan air putih dan memberikannya pada Rivan. Setelah itu mereka langsung naik ke atas bersamaan ke kamar mereka.


" Aku siapin air mandi kamu di bathub dulu, ya" ucap Tiara begitu mereka sudah berada di kamar. Dia ingin tubuh suaminya rileks dan santai dengan berendam di air hangat


" Aku pakek shower aja, sayang" balas Rivan yang malas berlama lama mandi. Dia lebih memilih secepatnya bermesraan dengan istrinya sambil menikmati pijatan Tiara sesuai janjinya tadi.


" Yakin? padahal aku mau ikutan berendam loh sama kamu....Ya udah deh..." ucap Tiara pira pura kecewa.


Dia memang sengaja ingin memancing suaminya agar mengikuti keinginannya. Rivan butuh tubuh yang segar setelah menghadapi harinya yang penat. Dan berendam air hangat tentu sangat membantu


Rivan merasa dipermainkan, dia mendelik tak percaya dengan Tiara yang mencoba menggodanya. Kalau judulnya ditemani berendam tentu saja dia mau. Rivan kesal dan langsung membuka dasinya dan menarik lengan Tiara menuju kamar mandi dengan diiringi suara cekikikan Tiara.

__ADS_1


" Kamu tuh ya, emang paling bisa mainin aku!" ujar Rivan yang langsung menggebrak pintu kamar mandi.


Suara kekehan geli Tiara membahana sampai keluar dari kamar mandi saat suaminya secepat mungkin melepas pakaian mereka dan buru buru berendam air hangat bersama.


__ADS_2