Suddenly Married

Suddenly Married
Tanpa Pembatas


__ADS_3

Lama mereka terdiam dan terpaku saling menatap satu sama lain. Ada perasaan membuncah bahagia dalam hati Rivan yang tidak bisa dia ucapkan dengan kata. Dia tidak menyangka bahwa apa yang dia pikirkan mustahil terjadi namun akhirnya semuanya bisa terwujud dengan jawaban Tiara yang mengabulkan persyaratannya.


" Beneran sayang, kamu gak bohongin aku kan?" tanya Rivan ingin lebih memastikan lagi akan apa yang baru saja dia dengar dari sang istri.


Tiara mengangguk pelan dan tersenyum tipis, lalu menundukkan kepalanya agar suaminya tidak melihat bahwa saat ini dia merasa malu. Dia yakin saat ini wajahnya sudah pasti memerah karena saat ini wajahnya terasa menghangat.


Sekali lagi Rivan begitu bahagia dia tidak dapat menahan rasa bahagianya dengan terus menampilkan senyumannya. Dia langsung melepaskan genggaman tangan mereka.


" Tapi kita hanya tidur bersama kan?" tanya Tiara memastikan permintaan suaminya yang hanya memintanya untuk tidur di ranjang yang sama. " Maksud aku kita gak akan ngapa ngapain kan?" sambungnya lagi, masih ada sedikit ketakutan yang dia rasakan tapi harus dia yakin bahwa suaminya pasti tidak akan menyakiti dirinya.


" Iya hanya tidur bersama sayang tidak lebih. Kamu bisa pegang kata kata aku" sahut Rivan menenangkan istrinya bahwa dia tidak akan memaksakan kehendaknya lagi. Dia sudah berjanji dalan hatinya bahwa dia akan dengan sabar menunggu istrinya membuka hati untuknya.


Akhirnya Tiara bernafas lega, dia yakin bahwa suaminya akan memegang janjinya. Dan dia tidak perlu merasa takut lagi untuk tidur bersama suaminya.


" Emm... sebaiknya kamu mandi dulu dan ganti baju kamu dengan piyama sayang" ucap Rivan yang kelabakan. " Tidak..tidak.. dengkul kamu masih sakit kamu pasti gak bisa jalan" lanjutnya berdiri dari duduknya sambil mondar mandir memikirkan cara


" Mas...." panggil Tiara dengan suara lembut. "Aku akan mandi dulu" Tiara berusaha untuk beranjak berdiri dari duduknya.


Dengan secepat kilat Rivan langsung berlari ke arah Tiara dan membantu Tiara untuk berdiri. Dengan perasaan cemas dia memegangi tubuh Tiara agar bisa berdiri dengan tegak.


" Aku gak apa pa, mas..." ucap Tiara dengan tersenyum mendapat perhatian yang diberikan oleh suaminya. " Ini sudah gak sakit lagi kok" sambungnya berusaha melepaskan tangan Rivan dengan pelan.


" Beneran kamu bisa sendiri?" tanya Rivan dengan wajah masih terlihat cemas.


Akhirnya Tiara bisa berdiri dengan tegak dan rasa ngilu di dengkulnya sudah hilang setelah dikompres dan diberi salep oleh Rivan tadi. Lalu kakinya berhasil melangkah dengan pelan dan hal itu membuat Rivan lega karena Tiara sudah tidak kesakitan lagi dan lukanya sudah tidak separah sebelumnya.


" Tolong piyamanya mas" ucap Tiara yang sudah berdiri di depan pintu kamar mandi lalu meminta tolong pada Rivan untuk mengambilkan piyama yang dipinjamkan oleh suaminya tadi.


Dengan cepat Rivan mengambil piyama yang tadi dia pilihkan yang setidaknya bisa dipakai oleh sang istri. Rivan kemudian membuka pintu kamar mandi dan meletakkan piyamanya di meja wastafel. Dengan cekatan dia langsung menyalakan air hangat di bathtub agar istrinya bisa berendam merilekskan tubuhnya. Kemudian dia juga menyiapkan segala keperluan yang dibutuhkan Tiara untuk mandi.

__ADS_1


" Aku sudah siapkan semuanya, kamu bisa berendam dulu untuk merilekskan tubuh kamu" beritahu Rivan ketika dia keluar dari kamar mandi.


" Makasih mas" katanya dengan lembut sambil tersenyum tipis dan langsung diangguki oleh Rivan.


Tiara langsung masuk ke dalam kamar mandi yang ternyata tidak kalah mewah dengan ruangan lainnya. Dia langsung mengunci kamar mandi dan mengamati kamar mandi tersebut dengan takjub. Kamar mandi yang luas dn mewah, terdapat bathtub besar yang sudah diisi oleh suaminya tadi, ada shower, terdapat produk produk perawatan mandi yang lengkap. Dan juga ada wastafel yang begitu luas dan kaca melingkar besar menempel di dindingnya. Baju dan handuk sudah disiapkan oleh Rivan di sana.


Dengan pelan Tiara melepaskan semua baju yang menempel di tubuhnya, lalu beranjak masuk ke dalam bathtub. Baru kali ini Tiara bisa merasakan mandi di bathtub yang luas dan mewah. Dan dia akan berendam di sana seperti kata Rivan agar dia bisa merilekskan tubuhnya yang terasa lelah.


Rivan menunggu di sana sambil memainkan ponselnya di sofa yang terdapat di ujung kamar tidur dan menghadap ke jendela besar. Dia akan mandi setelah Tiara selesai dengan ritual mandinya. Hingga 30 menit lebih Tiara belum keluar juga dan Rivan mulai merasa cemas.


" Sayang... kamu gak apa pa kan? ini sudah lama loh, kamu ada di dalam?" tanya Rivan langsung setelah sebelumnya dia mengetuk pintu kamar mandi


" Iya mas sebentar lagi aku selesai kok" sahut Tiara dari dalam yang langsung membuat Rivan merasa lega.


Rivan kembali duduk di sofa dan memandangi luar jendela yang hanya terlihat pohon pohon besar di sekitarnya.


" Maaf ya, kamu pasti kurang nyaman pakai baju itu" ucap Rivan dengan wajah sendunya merasa sedikit bersalah.


" Gak apa pa mas, ini lebih baik daripada aku harus pakai baju kerja saat tidur" sahut Tiara dengan tersenyum lembut.


" Keringkan dulu rambut kamu di meja rias ada pengering rambut" suruh Rivan. " Kalau begitu aku mandi dulu" pamitnya lalu masuk ke dalam kamar mandi.


Tiara berjalan ke meja rias dan membuka lacinya dan benar saja di sana ada pengering rambut dan dia langsung menyalakan alat tersebut untuk mengeringkan rambutnya agar rambutnya kering saat dia tidur nanti.


*


" Sayang... kamu gak perlu maksain diri sendiri" ucap Rivan setelah lama termangu dalam diam.


Saat ini mereka berdua sudah duduk berselonjor di di ranjang dengan jarak yang jauh karena mereka sama sama duduk di pinggir.

__ADS_1


" Aku kan sudah bilang tadi mas. Aku akan lakuin apa saja..." Tiara akan berusaha untuk bisa menerima dan percaya pada suaminya dengan idenya yang mengajak Rivan tidur seranjang.


" Tapi kamu takut sayang.." ucap Rivan dengan wajah sendu saat menyadari istrinya begitu takut jika berduaan saja dengannya.


" Aku gak takut mas. Kamu suami aku dan aku percaya kamu gak akan nyakitin aku" meskipun ada sedikit ketakutan di hatinya tapi dia harus berusaha menghilangkan rasa takut tersebut dan membuktikan sendiri bahwa suaminya tidak akan menyakiti dirinya.


" Sebaiknya kita segera tidur, ini sudah malam" ajak Rivan yang kemudian membaringkan tubuhnya tanpa memakai selimut dan dia akan membiarkan Tiara memakai selimutnya.


Tiara juga ikut membaringkan tubuhnya dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut sampai di atas dadanya.


" Mau dibatasi guling buat jaga jaga?" tanya Rivan.


" Nggak perlu mas" jawab Tiara.


Mereka terdiam dengan tubuh menghadap ke atas namun kepala mereka menatap ke arah pasangan. Tidak tau apa yang ingin mereka perbuat, saat itu hanya ada kecanggungan yang melingkupi suasana di kamar tersebut.


Jika biasanya pengantin baru akan tidur dengan pasangannya saling mendekap dan berpelukan, tapi berbeda dengan mereka berdua yang terlihat bingung dengan apa yang harus mereka lakukan. Meskipun mereka tidur di ranjang yang sama tapi, jarak mereka cukup terbentang.


" Good night" kata Rivan dengan canggung.


" Night" jawab Tiara seadanya.


Mereka menatap sambil melempar senyum kaku. Rasa tidur mereka malam ini teras ganjil karena kebersamaan mereka saat ini.


Rivan begitu menggemaskan dengan piyama warna biru muda yang dipakainya, namun Tiara tidak berniat untuk menggodanya. Jantungnya berdebar dengan cepat saat dia menyadari malam ini dia akan tidur dengan seorang pria dalam satu ranjang. Dan dia akan mencoba percaya bahwa Rivan tidak akan menyakiti dirinya dengan mengajaknya bercinta malam itu. Karena dia masih belum bisa melakukan hal itu.


Sementara itu Rivan berusaha menahan gairahnya saat dia bisa tidur di ranjang yang sama dengan istrinya. Dia akan berusaha dengan sekuat tenaga untuk menyelesaikan ujian hidupnya yang harus menahan hasratnya untuk bisa memeluk istrinya.


Akhirnya mereka tidur dengan saling membelakangi tanpa ada pembatas di antara mereka, tapi punggung mereka tak kunjung bertemu. Tiara tidur dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya dan Rivan tidur dengan memeluk guling. Mata mereka tak kunjung terpejam dan masih terbuka dengan lebar. Bagaimana mata mereka bisa terpejam jika sekujur tubuh mereka begitu terasa tegang. Namun karena kelelahan akhirnya mereka bisa menutup mata.

__ADS_1


__ADS_2