
# Khusus untuk usia 21+ ya, tolong bijak dalam membaca#
Tiara berdecak kagum pada penampilannya kali ini, meskipun panjang baju tersebut sangatlah pendek tapi menurutnya tidak masalah mengingat baju tersebut adalah baju tidur dan tidak dipakai didepan umum.
" Wah... keren juga nih baju..." ujar Tiara pelan dalam hati merasa puas.
Dia merasa tubuhnya sangat bagus dan menarik saat memakai lingerie tersebut. Dia tersenyum sendiri melihat tubuhnya yang begitu seksi. Sepertinya dia akan rela bercermin seharian dengan menggunakan gaun seperti itu.
" Tiara....!!" suara Rivan yang keras dan ketukan di pintu kamar mandi mengembalikan kesadaran Tiara.
Benar juga Rivan masih setia menunggunya di luar. Tiara menengok ke sana kemari mencari sesuatu dan menemukan handuk kecil yang berada di atas wastafel. Handuk tersebut langsung disambar oleh Tiara untuk menutupi tubuh bagian depannya.
Tangan Tiara terasa dingin dan kaku, tubuhnya gemetaran harus menghadapi Rivan kali ini. Dulu dia pernah melihat kemarahan Rivan pertama kali saat dia mencurigai kekayaan yang didapat Rivan hasil dari korupsi.
Saat itu saja Tiara begitu ketakutan dan gemetaran menghadapi kemarahan suaminya yang marah karena tuduhan tersebut. Tapi kali ini sepertinya kemarahan Rivan lebih menakutkan dan menyeramkan dari sebelumnya.
Daripada dia tidak segera keluar dari kamar mandi dan membuat kemarahan Rivan semakin menjadi. Akan lebih baik jika dirinya langsung keluar dan menghadapi resiko yang harus dia hadapi.
" Ceklek!" terdengar suara pintu kamar mandi yang terbuka.
" Iya, mas..." ucap Tiara yang sudah membuka pintu kamar mandi.
Tubuh Rivan berada di depan Tiara dengan jarak sekitar 6 meter darinya dengan posisi memunggungi Tiara.
Rivan yang menyadari keberadaan Tiara yang sudah keluar dari kamar mandi, langsung berbalik dan berseru. " Kenapa lama banget sih?!" seru Rivan hingga melihat Tiara yang sedang berdiri di balik pintu kamar mandi.
Saat mendengar suara Rivan yang bersuara dengan keras langsung mengejutkan Tiara. Dirinya yang sangat gugup langsung melompat kaget dan tangannya yang sudah sangat dingin spontan langsung melepaskan handuk yang menutupi tubuhnya bagian depan.
__ADS_1
Saat berhadapan dengan Tiara, mata Rivan langsung melihat handuk kecil yang digunakan Tiara menutupi tubuh bagian depannya, meluncur dengan bebas ke lantai. Menyisakan tubuh Tiara yang hanya dibalut dengan lingerie tipis dan seksi yang tadi dia ambilkan.
Rivan tertegun menatap Tiara dan mereka berdua membeku saling bertatapan satu sama lain.
" Mas...." ucap Tiara dengan suara pelan dan takut.
Suara Tiara yang terdengar lembut di telinga Rivan seperti membangkitkan sesuatu dalam diri Rivan. Tanpa bersuara Rivan langsung melangkah cepat dan menghampiri istrinya yang membuat Tiara langsung terbelalak dan takut dengan gerakan Rivan lalu mundur sebisa mungkin. Sebuah benturan kecil menyadarkan Taira bahwa saat ini tubuhnya sudah menabrak pintu kamar mandi yang sudah tertutup kembali.
Tiara menengok lagi ke kanan kiri bahunya dengan panik mencoba mencari jalan keluar, tapi percuma karena saat ini dia sudah terdesak. Begitu dia menatap kembali ke depan, ke arah suaminya dan berusaha meyakinkan suaminya agar tidak bertindak gegabah. Tapi semua seolah sudah terlambat, Rivan sudah berdiri tepat di hadapannya.
Tidak ingin membiarkan Tiara kabur lagi, Rivan langsung memegang kedua tangan Tiara lali menahan pergelangan kedua tangan Tiara di atas kepalanya. Tiara terpekik kaget, membuat Rivan buru buru mencari bibir mungil Tiara.
Mata besar Tiara yang tengah terbelalak... bulu mata Tiara yang lentik dan panjang yang bergerak seiring dengan matanya yang berkedip panik....hidung mancung Tiara yang begitu indah... dan bibir Tiara yang menganga lebar, semuanya membaur sempurna. Membuat Rivan tidak dapat mengatur nafasnya, dadanya sudah naik turun melihat semuanya yang begitu sempurna di matanya.
" Maaf, sayanghh... aku nggak bisa.." ucap Rivan sambil menggeleng frustasi dan putus asa.
" Ma__" Tiara sudah tidak dapat melanjutkan kata katanya lagi, mulutnya sudah terkunci oleh bibir Rivan yang begitu rakus menciumnya.
Gairah Rivan sudah berada di puncak dan bibirnya kini turun kebawah menghisap leher jenjang Tiara yang terasa halus dan mulus. Dan itu sukses membuat Tiara tidak bisa mengendalikan dirinya lagi, serangan Rivan sukses membuatnya mabuk kepayang.
Alih alih mencoba membuat pertahanan dari serangan Rivan, kini Tiara malah memajukan tubuhnya untuk lebih melekat lagi pada suaminya. Tidak menyia- nyiakan kesempatan Rivan menerima tubuh Tiara dan langsung memeluknya dengan erat.
Sebaliknya tangan Tiara justru melingkar dengan sempurna di leher Rivan. Dengan bibir keduanya yang terus bertaut dan tubuh yang terus melekat, Rivan mengarahkan tubuh Tiara untuk mendekati ranjang. Tubuh Tiara direbahkan di atas kasur dengan pelan, lalu kembali melanjutkan percumbuan mereka.
Rivan terus menyerang Tiara, begitu juga dengan Tiara yang tak kalah membalas setiap serangan yang diberikan Rivan. Hingga lama kelamaan mereka berdua kesulitan bernafas dan segera butuh udara segar.
" Mas.. tunggu!" seru Tiara dengan terburu buru, begitu bibirnya terlepas.
__ADS_1
Kini posisi tubuh mereka sudah berbaring di atas kasur dengan tubuh Rivan yang menindih tubuh Tiara. Seluruh tubuh mereka sudah melekat, tapi hanya kepala mereka yang berjarak. Jika tidak ada sehelai benang pun yang menempel di tubuh mereka, maka sudah dipastikan kulit mereka akan langsung bersentuhan dan menyatu.
Rivan terengah-engah sudah kesulitan untuk mengontrol diri lagi. Berkali kali dia menggeram menahan hasratnya saat melihat perempuan yang berada di bawahnya dengan tubuh yang hanya dibalut dengan kain yang transparan dan terlihat menggairahkan. Seluruh tubuhnya terus mendesak Rivan untuk segera menyalurkan gairahnya yang sudah terlalu lama dia pendam selama ini dan dia sudah tidak dapat membendungnya lebih lama lagi.
" Kamu nggak lagi ngerjain aku kan, sayang?!" tanya Rivan dengan kesal dan frustasi lagi karena harus menahan diri lebih lama lagi.
" Bu..bukan aku....i.. ini ulah Nita!" kata Tiara terbata yang tidak ingin menerima kemarahan Rivan yang baginya begitu menyeramkan. Apalagi jika emosi Rivan sudah meledak ledak dan tidak bisa mengendalikannya membuat Tiara bergidik sangat ketakutan.
" Ini... ini jahat banget, sayang. Aku nggak bisa!" ujar Rivan dengan nafas yang terus menderu hebat dan dada yang naik turun.
Dia menutup matanya dengan kuat kuat, serta menahan tangannya agar tidak sampai ke bawah dan memaksa membuka apapun yang dikenakan Tiara saat ini. Rivan pun memutuskan untuk membenamkan kepala di kasur, tepat di sebelah kepala Tiara yang terlihat panik dan salah tingkah.
Dapat Tiara dengar Rivan yang kesulitan menahan hasratnya untuk tidak menyentuh dirinya membuat jantung Tiara berdebar. Dirinya tak menyangka bahwa ada sosok laki laki yang begitu mendambakan dan menginginkan dirinya, sampai membuat laki laki tersebut begitu tersiksa dan menderita seperti ini.
"Aauuww..." suara Tiara tiba tiba memekik karena ulah Rivan.
Pikiran mengenai Rivan yang begitu menderita karena dirinya tiba tiba buyar saat pria tersebut menggigit telinganya sambil menggeram. Rivan kemudian menghisap belakang telinga Tiara dengan kuat, lalu hisapannya turun ke leher jenjang Tiara.
Tadinya Tiara ingin protes pada Rivan, tapi ada sensasi hebat yang dirasakan di dalam tubuh Tiara. Tiara tidak tau apa yang dirasakannya yang pasti otak dan tubuhnya sudah tidak bisa diajak bekerja sama. Kini otaknya sudah dikendalikan sepenuhnya oleh tubuhnya yang seolah meminta lebih untuk disentuh oleh suaminya.
Tubuh Tiara bergejolak sampai sampai punggungnya melengkung ke atas merasakan sensasi yang sangat luar biasa. Dan kesempatan ini langsung diambil Rivan dengan melingkarkan tangannya ke pinggang istrinya. Rivan menggeram menikmati tubuh istrinya serta merasakan himpitan tubuh Tiara dengan tubuhnya.
Rivan yang biasanya bersikap tenang kini menjadi begitu buas saat berada di dalam kamar yang terasa panas ketika dirinya bisa menikmati tubuh Tiara. Bibirnya terus mencumbu dan sesekali menghisap bagian tubuh Tiara yang sudah terbuka.
Tiara sendiri seolah lupa bahwa pada kenyataannya dirinya baru saja selesai mandi, dan kini tubuhnya sudah basah kembali dipenuhi oleh peluh keringat. Peluh yang bagi Rivan begitu menggiurkan karena membuat kulit Tiara semakin berkilat, seolah menggoda Rivan untuk semakin menjamahnya.
Tiara semakin pening dan tidak bisa berfikir lebih jauh lagi, tubuhnya menikmati apapun yang saat dino dilakukan oleh Rivan. Tapi apakah setelah dia sadar nanti, Tiara dapat menerima semuanya? apakah Tiara tidak akan menyesalinya nanti?
__ADS_1
' Plak'
Waduhhh suara apa ya itu???