
Tiara memberikan bingkisan kecil yang tadi dibawanya. Saat di dekat kek Gun, Tiara sedikit menurunkan kakinya dan setengah berlutut agar kepalanya bisa sejajar dengan kek Gun yang tengah duduk di kursinya.
Sebelumnya dia sudah menyiapkan satu hadiah ulang tahun untuk kek Gun. Dia membelikan hadiah tersebut bersama dengan Nita yang selalu memberikan dirinya saran dan masukan apa yang harus dia berikan untuk kakeknya Rivan.
Dia memang tidak meminta Rivan untuk menemaninya saat dia membeli hadiah untuk kek Gun. Karena dia yakin jika mengajak suaminya, maka bisa dipastikan Rivan yang akan membayar hadiah tersebut dengan uangnya.
Dari awal Rivan juga sudah melarangnya untuk tidak membelikan hadiah untuk kakeknya. Apalagi jika harus menggunakan uang tabungan Tiara sendiri yang sudah dia kumpulkan selama ini. Karena menurutnya hal itu hanya akan membuat semuanya sia sia karena kek Gun tidak akan menerimanya mengingat beliau bisa mendapatkan apa saja yang dia inginkan di dunia ini dengan mudahnya.
" Wah... kamu tuh nggak usah repot repot" kata kek Gun dengan tatapan heran.
Selama ini pemberian basa basi bingkisan mahal dari rekan bisnisnya, perusahaan ataupun beberapa vendor yang memberikan penghormatan sangatlah banyak dan menumpuk dalam satu kamar khusus. Itupun kek Gun sama sekali tidak berniat untuk membuka bingkisannya.
Justru yang biasanya bersemangat membuka bingkisan ataupun hadiah itu adalah Vani, dan kek Gun membiarkannya. Kadang juga hadiah tersebut akan dipakai oleh Vani jika dia menyukai hadiah yang telah dibukanya.
" Wajar kalau ada yang memberi hadiah saat berulang tahun, kek. Saya mohon dapat diterima hadiahnya" ucap Tiara meyakinkan kek Gun agar mau menerima hadiah pemberiannya sambil tersenyum dengan ramah.
Entah kapan terakhir kali kek Gun menerima hadiah ulang tahun. Kekayaan yang melimpah ruah sehingga dia bisa mendapatkan apapun yang diinginkannya di dunia ini.
Kek Gun yang saat itu memakai busana kasual dengan polo shirt warna putih itu terpaku menatap Tiara. Bukan hanya karena kecantikan yang dimiliki perempuan itu melainkan juga karena sikap keberanian Tiara dalam menghadapinya secara langsung tanpa terkesan dengan sikap yang genit.
Pada awal pertemuan mereka beberapa menit yang lalu, kek Gun terus mengamati dan mencari cari apa yang membuat perempuan itu begitu spesial sampai Rivan dengan terburu buru menikahinya. Tiara memang cantik, tapi perempuan cantik bukanlah sesuatu yang langka bagi Rivan. Karena dia selalu dikelilingi oleh perempuan yang cantik dan juga menawan.
' Apakah perempuan ini cerdas? atau karena karakternya yang berbeda?' tanya kek Gun dalam hati sambil matanya sesekali terus mengamati Tiara.
Tapi kek Gun masih belum bisa membaca hal spesial yang dimiliki Tiara. Beliau ingin mengamati lebih lama lagi, satu hal yang pasti beliau tidak akan mentolerir lintah darat yang siap menguasai hartanya lewat anak cucunya.
Tapi kali ini kek Gun dapat merasakan aura yang bisa dipercaya . Auranya mirip dengan bunda Amel yang baru pertama kali masuk ke dalam keluarga Sanjaya. Membuat kek Gun tersenyum senang membalas senyuman Tiara.
__ADS_1
" Kek Gun langsung dibuka dong!" ucap Vani begitu penasaran. Tentu saja Vani begitu penasaran, apakah anggota keluarga baru mereka bisa membuat kek Gun terkesan dengan pemberiannya.
Karena Vani sudah berkali kali memberikan hadiah untuk kakeknya tapi sama sekali tidak membuat kek Gun terkesan sedikitpun. Sebelum akhirnya dia menyerah untuk memberikan hadiah untuk kek Gun.
Kek Gun dengan pelan pelan membuka hadiah dari Tiara. Jantung Tiara berdebar setengah mati, takut hadiahnya kurang pantas meskipun dia sudah membelikan hadiah tersebut dari uang tabungannya.
" Wahhh...." seru kek Gun dengan senyum di bibirnya saat melihat kotak hadiah yang terbuka. Kotak itu berisi sebuah jam tangan yang entah kenapa membuatnya tersenyum seperti mengingat nostalgia tentang dirinya.
Kek Gun langsung terkesima begitu melihat sebuah jam tangan antik yang diberikan oleh Tiara. Jam tangan dengan merk terkenal yang memiliki desain yang sangat sederhana dan sangat cocok digunakan oleh pria tua seperti kek Gun.
Rivan yang baru tau hadiah yang diberikan oleh Tiara langsung terkejut, mengingat jam tangan tersebut harganya sangat mahal bahkan seharga mobil. Dia langsung melihat Tiara dengan penuh khawatir ke arah istrinya yang sudah duduk kembali di sampingnya.
" Kamu terlalu berlebihan, sayang" bisik Rivan. Baginya uang seratus juta itu adalah uang yang begitu banyak bagi Tiara. Terlepas apa artinya dari keluarga Sanjaya.
" Well, keluarga kamu juga ekstra. Pemberian aku pasti nggak lebih dari uang jajan kakek kamu hanya dalam seminggu, kan?" jawab Tiara dengan ikut berbisik di telinga Rivan.
" Tabungan aku buat apa sih, mas?" bukannya menjawab Tiara justru membalikkan pertanyaan Rivan. "Nikah udah dijalani, rumah sudah punya, mobil juga sudah ada bahkan lebih dari satu. Trus tabungan aku buat apa dong?" lanjut Tiara terus memberikan pertanyaan yang masuk akal untuk Rivan.
Mendengar ucapan istrinya membuat Rivan terdiam mencerna setiap kata yang keluar dari bibir manis istrinya.
" Ini nggak ada apa apanya dibanding keinginan aku untuk bisa bergabung sama keluarga Sanjaya" kata Tiara penuh dengan keyakinan.
Dada Rivan langsung berdesir mendengar ucapan Tiara yang pelan tapi terdengar tegas dan meyakinkan. Dari untaian kata dari Tiara terdengar memperjuangkan dirinya dan keluarganya, Rivan bisa merasakan hal itu.Tidak pernah dia sangka bahwa akan ada masa dirinya diperjuangkan oleh seorang perempuan yang setulus Tiara.
Sementara kek Gun masih tersenyum penuh rindu. Jam tangan tersebut seketika langsung mengingatkan dirinya akan mendiang istrinya yang sudah meninggal 6 tahun sialan. Jam tangan sederhana berwarna putih dan berangka hitam itu mengingatkan kembali apa yang telah membuat dirinya menjadi seperti sekarang ini.
Setitik air mata jatuh dari mata sayu pria tua tersebut dan seluruh keluarga terkejut hingga membuat mereka membuka mata dengan lebar melihat kejadian yang sangat langka itu. Sementara Tiara merasa takut telah menyinggung perasaan kek Gun karena jam tangan pemberiannya yang kurang mahal.
__ADS_1
Tidak lama kemudian kek Gun langsung tertawa terbahak bahak, dia juga langsung memakai jam tangan pemberian Tiara.
Lagi lagi pemandangan ini membuat seluruh anggota keluarga Sanjaya semakin terbelalak dan terheran.
" Selera kamu bagus juga, Tiara" puji kek Gun
" Terima kasih kek" ucap Tiara mengangguk sambil melempar senyum bahagia.
" Iyalah, makanya mau sama Rivan" dengan cepat Rivan ikut menimpali dengan bangganya.
" Selera kamu juga bagus, Van" kata kek Gun yang secara gak langsung memuji keberadaan Tiara.
" Makasih, kek" sahut Tiara sambil menyunggingkan senyum lega. Dia tau bahwa kek telah menyukai jam tangan hadiah pemberiannya.
Semua orang ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh Tiara. Dengan begitu kek Gun telah menerima Tiara sebagai salah salah satu anggota baru di keluarga mereka. Begitu juga dengan ayah Tama yang juga sudah menerima Tiara menjadi anaknya sendiri bukan sebagai menantu.
" Ini adalah hadiah yang spesial untuk kakek, tapi kedatangan kamu di keluarga kami menjadi hadiah yang paling spesial buat kakek" kata kek Gun dengan tulus.
" Terima kasih, kek. Sudah menerima Tiara menjadi anggota keluarga ini" ucap Tiara sambil tersenyum manis.
" Kamu gak usah terlalu maksain diri beliin hadiah kalau ada keluarga yang sedang ulang tahun ya, Ra" kali ini ayah Tama yang berbicara. " Bagi kami, bisa berkumpul begini sudah menjadi hadiah bagi kami. Dengan kesibukan masing masing, ayah bersyukur" lanjutnya penuh dengan bahagia bisa berkumpul bersama dengan seluruh anggota keluarganya terutama kedua anaknya yang selalu sibuk.
" Itu itikad baik Tiara, yah. Biar bagaimanapun juga Tiara masih baru di keluarga ini. Tiara harus menunjukkan etika yang baik, kalau nggak ibu Tiara pasti akan memarahi Tiara" ujar Tiara setengah polos karena telah merasa nyaman berada di sana.
Ayah Tama tertawa terbahak bahak begitu juga dengan yang lainnya yang tersenyum bahagia mendengar ucapan Tiara. Ayah Tama bisa memahami apa maksud Tiara, karena dia sendiri juga mendidik Rivan dan Vania dengan kedisiplinan yang tinggi agar menjadi anak yang tau etika dan tata krama.
Malam itu berjalan dengan sempurna dan dia bersyukur telah memberanikan dirinya malam ini. Ternyata keluarga Rivan sangat baik padanya serta dapat menerima Tiara apa adanya.
__ADS_1