Suddenly Married

Suddenly Married
Bikinin Ponakan Yang Lucu


__ADS_3

Dengan perasaan yang campur aduk akhirnya Tiara bersedia menerima satu set perhiasan dari bunda Amel. Bagi Tiara semua yang baru diucapkan oleh bunda Amel menyiratkan sebuah misi baginya. Misi untuk dirinya mempertahankan nama baik keluarga Sanjaya.


Petuah itu menggema di dada Tiara, dia mengangguk dengan yakin bahwa dirinya pasti bisa menjaga amanat dan pesan yang tersembunyi dibalik ucapan ibu mertuanya. Dia melihat bahagia set perhiasan tersebut sebelum menutup kotaknya, bukan karena kilauan permata tetapi karena perasaan telah diterima seutuhnya menjadi salah satu bagian dari keluarga Sanjaya.


Diatas semua itu Taira merasa lega karena dia tidak harus berpura pura menjadi orang lain dengan status sosial serta ekonomi dari kalangan atas. Dirinya cukup menjadi diri sendiri dan apa adanya.


Tiara keluar dari kamar bersama dengan bunda Amel sambil membawa kotak itu dengan baik baik. Mereka kembali ke ruang keluarga dan ternyata di sana hanya ada Vani yang sedang asyik menonton film.


Tiara duduk berseberangan dengan Vani dan meletakkan kotak tersebut di meja yang berada di depannya. Tiara ikut melihat tontonan film yang dilihat Vani sambil menunggu keberadaan Rivan yang sepertinya masih bersama ayah Tama.


" Sudah selesai, mbak?" tanya Vani yang melihat kakak ipar dan bundanya kembali duduk di sofa bersama dengan dirinya.


" Iya, Van" sahut Tiara tersenyum tipis sambil mengangguk pelan.


" Kakakmu belum keluar, Van?" tanya bunda Amel yang belum melihat keberadaan putranya ataupun suaminya.


Vani menggeleng " Belum, Bun... dari tadi aku belum melihat ayah atau mas Rivan" jawab Vani yang sedari tadi memang belum melihat keberadaan ayah ataupun kakaknya.


Tanpa berbicara bertanya lagi, bunda Amel langsung beranjak berdiri dari duduknya. Lalu beliau berjalan menjauh dari ruang keluarga tersebut meninggalkan putri dan menantunya tanpa mengucapkan sepatah kata. Sepertinya beliau akan menghampiri keberadaan Rivan dan ayah Tama.


Tiba tiba dalam hati Tiara merasa cemas dengan keberadaaan suaminya saat ini. Dia begitu penasaran dengan apa yang dilakukan oleh ayah mertuanya pada Rivan. Rasanya dia ingin sekali mencari keberadaan Rivan dan memberi dia dukungan. Tapi apa daya tidak mungkin dirinya dengan lancangnya ikut campur dengan urusan ayah dan anaknya tersebut.


Sesekali mata Tiara melihat ke arah dimana bunda Amel berjalan menyusul ayah Tama dan Rivan. Hatinya sangat gelisah dan tidak tenang sebelum melihat keberadaan suaminya saat ini. Dia takut ayah Tama tidak hanya akan memarahi Rivan, bisa jadi Rivan dipukul oleh ayahnya. Itu yang saat ini sedang ada di dalam pikiran Tiara.


" Gak usah khawatir, mbak... mas Rivan gak bakal kenapa kenapa kok" ucap Vani yang mengerti kalau kakak iparnya saat ini sedang mencemaskan kakaknya.

__ADS_1


Mendengar ucapan Vani langsung saja Tiara menoleh dan menatap adik iparnya dengan penasaran. " Kira kira mereka berdua ngapain aja ya, Van? apa ayah bakalan mukulin mas Rivan?" tanya Tiara yang sudah benar benar mencemaskan keadaan suaminya saat ini.


Mendengar pertanyaan kakak iparnya sontak saja membuat Vani langsung menatap ke arah Tiara dengan raut wajah yang terkejut dengan alisnya yang terangkat. " Hahaha...." akan tetapi tidak lama kemudian Vani malah tertawa terbahak bahak.


Tiara yang tidak menduga reaksi yang ditunjukkan Vani hanya membuat Tiara bengong sambil menatap Vani bingung.


" Mbak Tiara ini ada ada aja deh. Semarah marahnya ayah Tama, nggak mungkin ayah bakal mukulin mas Rivan, palingan ayah cuma marahin atau nyeramahin mas Rivan doang, mbak" jelas Vani tidak ingin membuat kakak iparnya itu tambah cemas dengan keadaan kakaknya.


Akhirnya Tiara bisa bernafas dengan lega saat mendengar penjelasan Vani. Raut wajahnya juga berangsur angsur kembali tenang seperti sebelumnya.


Tidak lama kemudian terlihat sosok bayangan Rivan yang berjalan mendekat ke ruang keluarga dimana Tiara dan Vani berada. Tiara tersenyum saat melihat suaminya dan langsung berdiri dari duduknya menyambut kedatangan suaminya yang terlihat berjalan semakin cepat mendekat.


Tapi wajah Tiara kemudian langsung berubah dengan kedua alisnya yang mengernyit tajam ketika dengan samar dia melihat wajah Rivan. Begitu Rivan sudah berada di dekatnya, Tiara bisa melihat dengan jelas wajah suaminya yang terlihat pucat dengan senyuman yang dipaksa.


" Mas.... kenapa?" tanya Tiara langsung begitu suaminya sudah berada di dekatnya.


" Aku nggak apa apa, sayang" ucap Rivan dengan suara lirih di telinga Tiara dengan masih memeluk dengan erat tubuh istrinya.


" Ekhemm...." Vani sengaja pura pura batuk dengan pelan. " Kalau mau bermesraan jangan disini, sana masuk ke kamar mas Rivan aja" lanjut Vani sengaja mengingatkan kalau saat ini dirinya ada di sana.


Mendengar sindiran adik iparnya membuat Tiara merasa sungkan dan tersenyum malu. Tiara berusaha mendorong tubuh Rivan agar mau melepaskan pelukan mereka. Awalnya Rivan enggan melepaskan tapi karena Tiara yang terus mendorong tubuhnya bahkan sesekali mencubit pelan perutnya, dengan terpaksa dia melepaskan pelukannya.


" Kamu itu apaan sih, dek! gangguin orang aja!" seru Rivan yang kesal dengan sikap adiknya yang seperti pengganggu. " Kalau gak mau lihat kita berdua, ya udah pergi aja sana" lanjut Rivan dengan wajah ditekuk.


" Mas....!" Tiara mencubit pelan pinggang Rivan saat mendengar ucapan Rivan pada Vani.

__ADS_1


" Hello....! dari tadi juga aku yang ada di sini". ujar Vani yang tidak terima diusir oleh kakaknya. " Kalau mau bermesraan, sana ajak mbak Tiara ke kamarnya mas" lanjut Vani yang sebenarnya tidak marah dengan ucapan Rivan, dia hanya ingin sedikit menggoda pasangan pengantin tersebut.


Tiara yang mendengar godaan adik iparnya hanya bisa menunduk malu. Meksipun tadi mereka hanya berpelukan saja, tapi entah kenapa dia merasa memang tidak sepantasnya mereka melakukannya di sana. Apalagi jika mengingat rumah Sanjaya yang begitu luas tentu saja mereka bisa melakukannya di tempat lain yang tidak terlihat oleh orang lain.


" Kita ke kamar yuk, sayang. Daripada nanti digangguin terus sama dia" ucap Rivan mengajak Tiara pergi dari ruang keluarga, sekaligus menyindir adiknya.


" Udah sana, ajak mbak Tiara ke kamar, bikinin ponakan yang lucu buat aku" ucap Vani dengan senyum yang menggoda.


Mendengar godaan adik iparnya membuat Tiara langsung malu dan menundukkan wajahnya tidak berani menatap Vani. Dia yakin saat ini wajahnya sudah pasti merah.


Vani hanya bisa tersenyum melihat kakak iparnya yang terlihat menunduk yang menurutnya sedang menahan malu.


Rivan sendiri juga tau kalau istrinya malu dan tidak ingin adiknya terus menggoda Tiara, dia mengajak Tiara untuk pergi dari sana. " Yuk, sayang kita ke kamar" bisik Rivan dengan suara pelan agar Vani tidak mendengarnya dan berusaha menarik tangan Tiara.


" Sebentar mas..." Tiara menarik tangan Rivan kembali yang akan mengajaknya pergi dari sana. Tiara segera melepaskan tangan Rivan sebentar, lalu tangannya meraih sebuah kotak perhiasan di atas meja yang tadi diberikan oleh bunda Amel.


" Kita tinggal dulu ya, dek" pamit Rivan setelah Tiara membawa kotak tersebut.


Vani mengangguk dan tersenyum melihat kakak iparnya yang masih saja menunduk tidak berani menatapnya. " Selamat bersenang senang, kak... semangat ya bikin dedeknya" goda Vani lagi dengan senyum yang tidak pernah luntur dari bibirnya.


Tiara langsung mengajak Rivan untuk pergi dari sana sebelum adik iparnya tersebut terus menggodanya. Rivan menggandeng tangan Tiara dan menuntunnya untuk pergi menyusuri lorong lorong setiap ruangan di rumah tersebut.


" Itu apa, sayang?" tanya Rivan saat mereka berjalan menjauhi ruang keluarga, dia penasaran kotak yang dibawa istrinya yang dia yakini sebuah kotak perhiasan yang diambil Tiara tadi.


" Ini kotak perhiasan mas. Tadi bunda yang ngasih" jawab Tiara. " Di dalam kotak ini berisi satu set perhiasan, dan kata bunda ini perhiasan turun temurun keluarga Sanjaya" lanjut Tiara memberitahukan apa yang ada di dalam kotak tersebut.

__ADS_1


Rivan hanya mengangguk dengan sudut bibirnya yang melengkung sempurna. Dia senang karena kek Gun, ayah Tama dan bunda Amel sudah bisa menerima Tiara menjadi bagian dari keluarga Sanjaya.


Mereka berdua terus berjalan sambil bergandengan tangan. Mereka naik ke lantai atas dengan menggunakan lift keluarga. Begitu sampai di lantai atas, Rivan langsung mengajak Tiara keluar dari lift.


__ADS_2