
Indra yang memang sedang berdiri di depan Rivan sehingga dia dapat melihat secara langsung raut wajah yang ditampilkan oleh Rivan. Tadi pas baru sampai dia melihat Rivan yang tersenyum meskipun tipis tapi dia bisa melihatnya. Lalu setelah Indra bilang jangan bengong, justru Indra melihat Rivan tersenyum sendiri lagi.
Tentu saja hal itu sedikit membuat Indra khawatir dengan keadaan Rivan. Karir Rivan di kantor mereka sangatlah bagus, tapi berbanding terbalik dengan kisah percintaan Rivan yang sampai saat ini belum menikah itu sedikit membuat Indra khawatir.
Takutnya karena Rivan terlalu sibuk bekerja demi karirnya yang gemilang, dia lupa untuk mencari pasangan hidup.Apalagi melihat sikap Rivan yang aneh tidak seperti biasanya dalam beberapa hari ini semakin membuat Indra bertambah khawatir.
"Eh temen temen lihat nih, bos kita senyum senyum sendiri lagi. Gue takut dia jadi gila, gara gara cewek, nih..." kali ini Indra berbicara dengan beberapa rekan kerja yang lainnya yang juga berada di ruangan yang sama dengan Rivan dan Indra.
Spontan semua orang yang ada di sana melihat mereka berdua. Dapat Rivan lihat semua orang melihatnya dengan tatapan kasihan yang membuat Rivan langsung menggeleng. Sepertinya dia tidak bisa menyembunyikan lagi statusnya yang sudah berubah.
Akhirnya Rivan berdiri dari duduknya dan ingin meninggalkan semua orang yang sedang menatapnya iba. Tapi saat dia berada di pintu ruangan kerja, Rivan langsung membalikkan badannya.
" Aku udah nikah dan punya istri" kata Rivan kemudian karena gemas dengan sikap semua anak buahnya yang seolah mengasihani dirinya yang belum menikah di usinya yang sudah menginjak kepala 3.
Rivan juga menunjukkan jari manisnya yang tersemat cincin pernikahannya dengan Tiara. Sontak saja hal itu membuat semua orang yang mendengar langsung terdiam dan terbengong, dan Rivan puas melihat reaksi mereka semua.
Setelah puas mengerjai semua rekan kerjanya Tiara langsung keluar dari ruangannya dan berjalan melewati beberapa koridor ruangan lainnya yang juga berada di bawah pimpinannya. Dia langsung menaiki lift untuk menuju ke tempat pimpinannya berada.
" Permisi..." ucap Rivan sopan sambil mengetuk pintu yang sedikit terbuka.
Sebelum mengetuk pintu Rivan terlebih dahulu bertanya pada sekretaris pimpinan mereka. Dan saat itu juga sang sekretaris langsung menyuruh Rivan untuk masuk saja karena dia memang sudah ditunggu kedatangannya.
" Masuk dulu, Van" ucap seorang pria yang sudah berusia sekitar 50 tahun ke atas. Orang ini sudah seperti ayah Rivan sendiri jika sudah di lingkungan kantor. Dia yang
pertama kali menemukan Rivan dan segala bakatnya lalu menjadikan Rivan sebagai kaki tangannya.
Rivan langsung duduk di depan kerja pria yang saat ini sedang sibuk menelepon. Di atas meja terdapat sebuah papan nama, di sana tertulis nama seorang Gubernur Jakarta yang bernama bapak Ahmad. Sekitar 3 menit kemudian pak Ahmad selesai berbincang di telepon entah dengan siapa.
__ADS_1
Lalu pria paruh baya tersebut menatap ke arah Rivan dan tersenyum. " Bagaimana pekerjaan kamu akhir akhir ini? Aman?" tanya pak Ahmad terkesan berbasa basi.
" Aman, pak" jawab Rivan seadanya.
" Seberapa aman?" tanya pak Ahmad yang sebenarnya meminta laporan terperinci akan kegiatan Rivan selama ini.
Dan Rivan sudah hafal dengan gaya bicara pak Ahmad yang sebenarnya sedang menguji kemampuannya. Dengan yakin Rivan menjelaskan dengan rinci pekerjaan yang saat ini telah dia selesaikan. Terutama masalah tranportasi yang sudah selesai dikerjakan oleh Rivan.
" Van, aku dengar kali ini kamu sedang sibuk membangun beberapa bangunan pemerintah daerah?" tanya pak Ahmad.
" Bener pak" sahut Rivan langsung.
" Buat apa?" tanya pak Ahmad lagi seolah mengejar satu jawaban uang belum Rivan jawab dari tadi.
Rivan langsung memajukan tubuhnya dan menaruh tangannya di atas meja. " Menurut saya, pemerintah harus memperlihatkan komitmen dalam badan mereka sendiri. Saya akan membangun dua gedung yang nantinya akan menjadi contoh konsep ruang dan hidup yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Dari sana sedikit demi sedikit bangunan lama akan direnovasi. Kemudian saya akan ajak beberapa pihak swasta untuk mengikuti dan dengan demikian saya yakin konsep smart city akan lebih cepat terpenuhi" jelas Rivan dengan rinci semua rencananya yang sedang dia kerjakan.
" Van, semua mata saat ini tertuju pada saya. Jadi kita harus lebih transparan dikemanakan anggaran pembangunan kota" kata pak Ahmad mengingatkan Rivan.
Pak Ahmad menghela nafas seolah dirinya merasakan beratnya pekerjaan yang dipikulnya saat ini. " Minum dulu, Van" suruh pak Ahmad setelah sekretarisnya memberikan secangkir minuman untuk Rivan. dan langsung mengangkat cangkirnya yang berisi kopi dan menyesapnya.
Rivan sendiri juga ikut meminum minuman yang baru saja diberikan oleh sekretaris pak Ahmad yang ternyata teh hangat.
" Lalu bagaimana dengan dari sisi lingkungannya?" tanya pak Ahmad lagi setelah selesai menyesap kopinya.
" Bangunan pemerintah daerah yang akan saya bangun ini, justru akan saya jadikan menjadi contoh konsep standar untuk membangun ulang Jakarta. Pembangunan ini akan membentuk karakter masyarakat yang mati tidak mau harus membuang sampah pada tempatnya, hemat energi dan ramah lingkungan" jelas Rivan.
" Apa itu semua bisa dicapai lewat bangunan yang akan kita bangun nanti?" tanya pak Ahmad meminta kejelasan yang pasti pada Rivan.
__ADS_1
Rivan diam sejenak sambil menghela nafas panjang dan mencari kata kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan pak Ahmad yang meminta kepastian akan rencananya.
" Kelompok besar seperti warga kota akan lebih cepat dan mudah dituntun dengan petunjuk umum yang jelas. Dan saya percaya rencani ini akan berhasil" jawab Rivan akhirnya penuh keyakinan
" Harus berhasil" kata pak Ahmad. " Kalu membicarakan tentang Jakarta itu tidak ada habisnya, daerah ini punya pesona sendiri di mata dunia. Dan tugas kita membuat pesona itu tetap bisa dinikmati dan tidak meracuni" lanjutnya seolah memberikan perintah tegas pada Rivan.
" Saya juga tidak ada rencana untuk gagal, pak" jawab Rivan penuh percaya diri dan yakin dengan kemampuannya.
Baginya terlalu bertele tele jika harus menyampaikan dan menjelaskan seluruh isi kepalanya terkait teknis pembangunan yang sudah dia rencanakan. Tapi dia tau dan sadar bahwa dia sedang menuju ke arah yang diinginkan secepat mungkin.
Pak Ahmad melihat gerak gerik Rivan yang penuh percaya diri dan penuh keyakinan. "Saya percaya sama kamu, jangan kecewakan saya" kata pak Ahmad pada akhirnya mempercayai apa yang direncanakan oleh kaki tangannya tersebut. Dia juga memberi motivasi untuk Rivan agar dapat mengerjakan pekerjaannya dengan baik.
" Iya, pak Ahmad" kata Rivan dengan penuh keyakinan.
Rivan sadar apa yang akan dia kerjakan saat ini sangat berpengaruh pada nasib banyak orang, terutama bapak gubernurnya saat ini. Karena itu dia selalu berusaha untuk bekerja dengan baik dan berusaha untuk tidak bertindak gegabah. Jangan sampai rencananya ini dikotori oleh tindakan korupsi dari lini manapun.
Suasana di ruangan pak Ahmad kembali menjadi lebih santai setelah obrolan mereka berdua tentang pekerjaan sudah selesai dibicarakan. Mereka melanjutkan obrolan dengan topik yang lebih ringan dan sesekali pak Ahmad menyindir ataupun menggoda dirinya tentang kehidupan pribadi Rivan.
Dan kebetulan sekali anaknya juga seumuran dengan Rivan, namun sayangnya anaknya tidak berniat untuk terjun ke dunia politik seperti dirinya. Tapi pak Ahmad selalu mendukung apapun yang diinginkan oleh anaknya selama itu positif.
Makanya lewat Rivanlah, pak Ahmad merasa seperti memiliki regenerasi. Pak Ahmad mengajarkan apapun dari langkah politik, masalah sosial, budaya serta peraturan sebagai abdi negara kepada Rivan seperti memberikan warisan seperti anaknya sendiri. Dan itu membuat pak Ahmad begitu kentara menyayangi Rivan seperti anaknya sendiri.
" Kalau sudah tidak ada yang dibicarakan lagi, saya mau melanjutkan pekerjaan saya, pak" Rivan berniat untuk pamit.
" Ya, kamu bisa kembali" sahut pak Ahmad sambil mengangguk.
Rivan beranjak dari duduknya dan saat itu pak Ahmad ingin memberikan petuah terakhirnya. " Ngomong ngomong, kamu jangan lupa pikirin jodoh. Sesibuk sibuknya bekerja harus ada waktu untuk memikirkan kapan kamu nikah" kata pak Ahmad memberikan petuahnya.
__ADS_1
" Oh tenang, pak. Saya sudah nikah bulan lalu di KUA" jawab Rivan dengan santai lalu berlalu pergi meninggalkan ruangan pak Ahmad.
Pak Ahmad yang sempat melongo setelah mendengar jawaban Rivan langsung tersadar begitu mendengar pintu ruangannya tertutup. " Dasar bocah edan... orang tua kasih tau serius malah dibecandain.." kata pak Ahmad sambil menggeleng gelengkan kepalanya.