
Mendengar ucapan istrinya membuat Rivan langsung bernafas lega dan tersenyum senang. Dan tanpa dia duga Tiara memeluk pinggangnya dan memeluk dirinya dengan erat dengan kepala dibenamkan di dalam dadanya. Rivan membalas pelukan Tiara hingga tubuhnya berada dalam dekapannya yang membuat jantung Rivan berdesir hebat. Sepertinya istri cantiknya ini ingin dimanja. Laki laki macam mana yang tidak akan luluh olehnya?
Tangan Rivan bergerak mengelus rambut Tiara dengan lembut dan pelan, lalu mencium pucuk kepala istrinya sembari mencium wangi rambut Tiara yang beraroma stroberi. Dia membalas pelukan istrinya dengan erat dan mendekap tubuhnya untuk lebih melesak ke dalam rangkulannya sehingga kepala Tiara melekat di dadanya.
Sejenak mereka berdua merasakan dekapan dalam tubuh mereka sambil menghirup lekat wangi tubuh pasangan masing masing yang telah menjadi candu bagi mereka. Bahkan mereka terlihat seolah enggan untuk melepaskan pelukan masing masing.
" Kalau aku rasa rasain seberapa kangennya aku ke kamu itu, aku bisa gila, sayang" ucap Rivan yang kali ini tidak bingung menjawab sesuai dengan yang dirasakannya.
Embusan nafas Rivan sampai terasa di puncak kepala Tiara, sehingga membuat dirinya menghangat. Begitu juga saat telinganya bisa mendengar secara langsung detak jantung suaminya yang berdetak dengan cepatnya. Sama persis dengan detak jantungnya yang berdetak dengan hebatnya membuat Tiara dapat merasakan bahwa hati suaminya tengah membuncah dan bahagia sama seperti dirinya.
" Kok gila?" tanya Tiara yang menengadahkan kepalanya untuk melihat wajah suaminya dengan kedua alisnya yang bertaut dengan sempurna karena bingung dengan jawaban suaminya.
Rivan menatap lekat wajah Tiara dan tersenyum lalu menghembuskan nafasnya dengan pelan hingga mengenai kulit wajah Tiara. Dan dapat Tiara hirup hembusan nafas suaminya dengan aroma mint.
" Ya bayangin aja, di detik kamu nggak ada di dekat aku, saat itu juga bayangan wajah kamu langsung melekat dalam otak aku. Kalau aku rasa rasain saat keberadaan kamu gak ada di samping aku itu, aku langsung habis kemakan oleh kangen" jelas Rivan dengan panjang lebar sesuai dengan apa yang dirasakannya tanpa ada sedikitpun kebohongan di matanya.
" Masss...." Tiara tertegun saat mendengar penjelasan Rivan yang begitu memikirkannya.
" Ya, sayang" sahut Rivan dengan nada suara yang lembut.
" Kamu garing banget deh!" entah kenapa rasanya Tiara ingin sekali menggoda suaminya saat ini, hingga Rivan langsung tertawa terbahak bahak dengan sikap Tiara yang selalu bisa menjungkir balikkan suasana perasaannya.
" Aku tuh terobsesi banget sama kamu, sayang" kata Rivan dengan jujur, lalu menggesek gesekkan hidungnya di hidung dan pipi Tiara dengan gemasnya.
__ADS_1
Hal itu langsung membuat Tiara merasa geli dan tertawa kecil sambil menyentuh lembut rahang Rivan dengan tangannya.
" masshh..." tanpa sengaja Tiara malah mendesah ketika hidung dan bibir Rivan turun kebawah, lalu mencium leher Tiara dengan lembut. Tangan Rivan yang tadinya mendekap tubuhnya gini membelai punggung Tiara naik turun.
Sesaat Tiara menikmati kemesraannya dengan Rivan. Matanya terpejam menikmati sentuhan hidung dan bibir Rivan yang mencium pipi dan lehernya. Sementara tangan Rivan yang terus menari nari di punggungnya membuat Tiara terlena.
Hingga tidak terasa kini bibir Rivan telah mencium bibir Tiara dengan lembut dan bermain main di sana. Karena terbuai Tiara juga membalas ciuman Rivan dengan tak kalah lembutnya. Sejenak mereka saling merasakan rasa manis bibir mereka, hingga kemudian Tiara tersadar dan melepaskan ciuman mereka dan menahan dada Rivan.
Bayangan tentang sakitnya berhubungan itu kembali menghantui pikiran Tiara. Mereka saling bertatapan mencoba mengembalikan kesadaran mereka hingga penuh. Nafas mereka terdengar saling memburu hingga saling menyentuh kulit wajah mereka.
" Hmmhh..." Rivan mencoba menahan gerakannya dengan berdeham dan menahan gairahnya yang hampir memuncak.
Saat itulah Tiara mengambil kesempatan untuk bisa melepaskan diri dari dekapan suaminya yang terasa longgar. Saat itu juga Tiara menjauh sedikit dari Rivan dan menatap penuh jahil ke arah suaminya yang langsung berwajah muram, saat menyadari istrinya telah melepaskan pelukan mereka.
" Baik! tapi setelah itu kamu akan berada dalam pelukanku semalaman" kata Rivan setelah tersadar sambil memberikan ultimatum pada istrinya tersebut.
" Deal" jawab Tiara dengan mantap tanpa ada keraguan sedikitpun.
Berpelukan sepanjang malam sampai mereka berdua tertidur memang sudah menjadi kebiasaan mereka selama beberapa hari ini. Dan berhubung hanya itu yang Rivan lakukan dengan Tiara, dia pun tidak ingin menghabiskan satu malam pun tanpa melakukannya.
Tiara langsung berjalan meninggalkan Rivan yang masih duduk di tempat sambil menatap kepergian istrinya yang selalu membuatnya hari harinya naik turun. Tiara menaiki tangga untuk bisa mencapai kamar mereka berdua yang berada di lantai dua dengan membawa beberapa kantong belanjaan berisi pakaian yang tadi dibelinya.
Tiara langsung meletakkan semua kantong belanjaan si atas ranjang. Dengan tubuh yang masih merasa lelah meskipun tadi suaminya sempat memijatnya, tapi rasa lelahnya masih dapat dia rasakan.
__ADS_1
" Rivan... Rivan..." ujar Tiara tanpa sadar saat dia mengingat kemesraan mereka di sofa tadi yang hampir saja kelepasan untuk melakukan hubungan ***** dan tentunya the first night baginya. Tapi untungnya dia langsung tersadar hingga menghentikan kemesraan mereka tadi.
Namun ada sesuatu yang bergejolak di dalam diri Tiara yang tidak ingin berhenti meminta lebih tiap kali Rivan menyentuhnya dengan merasa dan penuh gairah. Kalau bukan karena bayangan rasa ' sakit' saat melakukan the first night maka sudah dipastikan mereka sudah lama melakukannya.
' Dengan kepercayaan yang Lo punya ke dia, apa Lo bisa masih mikir kalau dia bakalan nyakitin lo' ucapan Nita tadi kembali terngiang . Semakin lama ucapan Nita semakin masuk akal. Mengingat tubuh Tiara yang tidak menolak saat Rivan menyentuhnya bahkan meminta lebih. Tubuhnya tak berhenti mendambakan sentuhan Rivan.
' Apa jangan jangan... memang sudah waktunya...?' gumam Tiara dalam hati.
Tiara terus berfikir dengan perasaan takut, dia tidak ingin mengecewakan Rivan hingga rasa khawatir dan ketakutannya hingga Rivan pergi tidak memperdulikan dirinya lagi karena penolakannya yang dilakukannya berkali kali.
Tiara mendesah sambil menutup matanya sesaat, hingga tanpa berfikir panjang dia mengambil piyamanya dari lemarinya. Hingga tanpa sadar dia lupa untuk membereskan baju baju barunya ke dalam lemari dan membiarkan semua kantong belanjaannya teronggok di atas ranjang.
" Lebih baik aku cepetan mandi" ujar Tiara dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Tiara melepaskan seluruh pakaian yang melekat di dalam tubuhnya dan menyisakan pakaian dalamnya yang masih melekat di tubuhnya sebelum melakukan aktivitasnya. Sambil berdiri tegak di depan cermin besar, di dalam kamar mandi Rivan dan dapat dia lihat dengan jelas bentuk tubuhnya saat ini.
Dia terus bercermin sambil melihat lihat tubuhnya dengan teliti. Hingga dia bertanya tanya dalam hatinya, apa Rivan akan menyukai tubuh ini? Apakah Rivan akan memperhatikan perutnya yang lembek, ataupun pinggulnya yang rata dan tidak berlekuk seperti gitar spanyol. Apa ukuran dadanya terlalu kecil untuk selera Rivan.
Berbagai macam pikiran jelek menghantui pikirannya saat ini, padahal dulu dirinya berfikir untuk bisa melihat dirinya bukan karena tampangnya atau kecantikannya tapi mengantar orang lain melihat dirinya karena kemampuannya berkarir. Tapi lihatlah sekarang, seolah Tiara merasa takut dan kurang percaya diri, takut bentuk tubuhnya tidak sesuai dengan selera Rivan.
" Apakah Rivan akan menyukai bentuk tubuhku?" tanya Tiara pada dirinya sendiri dengan suara pelan sambil terus melihat tubuhnya yang terpampang dengan jelas di cermin. " Apakah aku bisa melayani dirinya dengan baik? apa dia akan merasa puas atau justru merasa kecewa dengan pelayanan nantinya" lanjutnya masih bertanya dengan semua ketakutan dalam hatinya sendiri.
Wajah Tiara langsung bersemu merah jika mengingat hal itu. Tidak ingin larut dalam pikiran konyolnya, Tiara langsung menuju shower dan menyalakan kran agar air hangat keluar dari pancuran yang cukup besar itu. Biasanya jika tubuhnya terasa lelah Tiara akan berendam terlebih dahulu di dalam bathtub agar tubuhnya kembali rileks.
__ADS_1
Tapi kali ini dia tidak melakukannya karena dia ingin cepat menyelesaikan acara mandinya, agar bisa segera keluar dan menghabiskan waktu bersama dengan Rivan. Hal itu dia lakukan untuk mengganti waktu kebersamaan mereka yang telah terbuang karena dia yang pergi jalan jalan bersama Nita.