Suddenly Married

Suddenly Married
Cuma Kamu


__ADS_3

Setelah seharian ini hati Tiara dan Rivan begitu menghangat, tapi semua itu hilang dalam sekejap hanya karena telepon dari mantan Rivan yang membuat Tiara sangat kesal. Apalagi mendengar suaminya yang begitu memuja sang mantan karena perempuan yang bernama Bella tersebut seksi menurut Rivan.


Namun Tiara berusaha meredam emosinya yang tidak bisa dia tahan tadi setelah melihat gelagat suaminya yang tidak nyaman membicarakan mantannya.


Tiara merasa penasaran dan ingin mendengar cerita lebih lanjut mengenai mantan suaminya. " Aku ceritain, kalau kamu juga mau ceritain tentang mantan kamu" ucap Rivan yang langsung membuat Tiara menyesal dengan rasa penasarannya mengenai Bella.


Akhirnya Tiara terdiam dan menyadari bahwa dirinya juga tidak lebih baik dari Rivan. Dirinya yang beberapa kali kepergok oleh Rivan saat sedang bersama dengan Dika, meskipun dalam konteks yang berbeda. Bahkan Tiara sendiri seolah enggan untuk yg menceritakan tentang mantannya pada Rivan.


Tapi Rivan sendiri sama sekali tidak bertanya lebih lanjut perihal mantan kekasih istrinya. Tapi meskipun begitu Rivan terus memendam dalam hatinya, bahkan Rivan juga sempat merasa gelisah dan takut saat melihat Tiara pernah menangis saat bersama mantannya.


" Kalo gitu, saat kita sama sama siap, kita sharing. Ok" kata Rivan yang tidak ingin memaksa untuk bercerita tentang masing masing mantan mereka. Tiara hanya bisa mengangguk lemah.


Tiara terus kepikiran tentang Rivan dan mantannya, sungguh dia ingin tau. Tapi dia juga tidak ingin bercerita akan masa lalunya, yang berarti dia mengakui bahwa dulu Dika termasuk orang yang penting baginya. Tiara tidak mau, bukankah sekarang ini Rivan yang sudah merajai kepala dan hati Tiara? bahkan Rivanlah pria pertama yang memiliki tubuhnya seutuhnya.


Tiara tidak ingin ada Dika diantara dirinya dan Rivan. Dia tidak ingin membahas masa lalu yang telah dia kubur dan dianggap tidak ada itu. Saat ini dan seterusnya dia hanya ingin ada Rivan yang berarti dalam hidupnya.


Rivan terus melajukan mobilnya dengan pelan dan kini keadaan di dalam mobil terasa semakin hening. Baik Tiara maupun Rivan membawa ganjalan di hati mereka sampai ke rumah. Mereka segera masuk ke dalam dan mengganti pakaian tidur dengan mata saling bertatapan tapi terlihat canggung.


Akhirnya, sebelum tidur Tiara benar benar merasa tak kuat lagi. " Aku nggak bisa kayak gini" kata Tiara tiba tiba dengan tubuh yang duduk menyandar di atas ranjang.


" Kayak gimana maksudnya?" tanya Rivan yang mendudukkan tubuhnya di sebelah Tiara dan mengarah pada istrinya.


" Hari ini harusnya jadi hari yang sempurna. Kita memulai semuanya sedang baik, kita pergi jalan jalan dengan bahagia. Tapi kemudian...." Tiara masih begitu jijik mendengar suara perempuan lain yang memanggil mesra suaminya. Rivan adalah suaminya, dia miliknya, seharusnya tidak boleh ada perempuan lain yang memperlakukan dia seperti itu selain dirinya.


" So, apa yang kamu mau, sayang?" tanya Rivan frustasi. Rivan sungguh tidak ingin bertengkar dengan Tiara, apalagi karena topik ini. Dia ingin sekali membuktikan bahwa mereka lebih baik dari pasangan yang berseteru karena mengungkit masa lalu.


Tiara menghadap Rivan yang tengah duduk di atas ranjang. Dirinya sama seperti Rivan terlihat frustasi, hingga menarik nafas dengan dalam. Tapi alih alih mengajak Rivan beradu mulut, Tiara justru menarik kepala Rivan dan membungkam mulut Rivan dengan bibirnya.


" Aku mau hari ini juga berakhir sempurna" kata Tiara selesai m*****t bibir Rivan dengan pelan.


Entah karena nafasnya tercuri atau karena gairahnya yang membuncah, nafas Rivan terengah-engah. Nafasnya semakin cepat dan menggebu, dia tersenyum dan membalikkan keadaan. Dia menikmati bibir manis Tiara, lalu membaringkan tubuh istrinya di atas ranjang.

__ADS_1


Entah apa yang mereka khawatirkan, mereka seharusnya tau. Entah masa lalu ataupun masalah baru yang menerpa rumah tangga, mereka harus siap menghadapinya bersama sama. Tidak seharusnya mereka menghindari setiap masalah yang datang.


*


*


Sementara itu di bandara seorang wanita cantik, dengan bentuk tubuh yang padat bagian dada dan paha sedang berjalan dengan menarik koper. Dia berdecak kesal sambil menatap ponselnya, karena mantan kekasihnya baru menutup panggilan teleponnya.


Dia terus berjalan tanpa memperdulikan pandangan mata yang menggila dari para pria yang lewat. Bukannya merasa risih, dia justru merasa bangga ditatap dengan wajah wajah yang senonoh oleh para pria yang melewatinya.


Sementara itu beberapa perempuan yang melihatnya merasa risih. Nyaris tengah malam begini dia memakai pakaian yang nyaris tipis dan mini. Perut dan bahunya bahkan terpampang tanpa terbalut sehelai benang pun.


Objek yang menjadi tatapan risih dan juga tatapan lapar dari semua orang yang ada di bandara itu, tidak ambil pusing dia justru berjalan dengan santai. Lagipula hanya satu yang kini dipikirkan oleh seorang Isabella Shofia, yaitu mendatangi mantan kekasihnya Rivan Dimas Sanjaya.


" I' m coming, Beibh..." ucapnya pelan dengan suara manja sambil berjalan penuh percaya diri menuju ke tempat mangkal taksi.


*


*


*


" Are you okay?" tanya Rivan yang sudah duduk di kitchen bar. " Harusnya gak usah repot bangun pagi pagi kamu tuh. Semalam kan capek" lanjut Rivan yang siap memakan roti panggangnya.


" Nanti kamu mau makan apa? kalau aku nggak siapin sarapan?" tanya Tiara.


" Ya ngunyah roti tawar aja kan juga bisa, sayang" sahut Rivan seenaknya.


" Mana boleh kayak gitu! Kamu tuh kan kerjaannya banyak, jadi sarapan harus maksimal! Aku nanti lebih repot kalau kamu sakit karena sering sarapan seadanya" omel Tiara.


" Kenapa lebih repot?" tanya Rivan setelah menelan roti yang sudah dia kunyah.

__ADS_1


" Karena khawatir lah" jawab Tiara santai.


Rivan terdiam dan tidak langsung menjawab ucapan istrinya itu. Dia justru tersenyum tipis karena suka dengan jawaban Tiara yang penuh perhatian itu.


" Justru aku lebih mengkhawatirkan kamu tahu, jam enam kamu sudah buru buru bangun" ujar Rivan yang tak kalah khawatir dengan kondisi istrinya saat ini. " Padahal semalam kita kan baru tidur jam tiga, inget nggak?" tanya Rivan mencoba mengingatkan Tiara.


Tiara merekahkan senyumnya yang indah, dan senyuman itu langsung membuat perasaan Rivan cerah kembali.


" Mana mungkin aku nggak inget. Kalau bukan aku yang kasih tau kamu, kita bisa keterusan sampai pagi ini tau!" kata Tiara pura pura merajuk. Tapi senyumannya yang terukir tidak bisa bohong, dia tau bahwa dirinya juga nyaris keterusan, kalau saja dia tidak menengadah dan tak sengaja melihat ke arah jarum jam di dinding.


Dan tidak perlu dijelaskan kenapa Tiara sampai harus menengadah di atas ranjang saat itu.


" Harusnya biar aja keterusan, tiap habis main sama kamu aku bukannya lemes tapi menjadi lebih bersemangat" kata Rivan.


Tiara tertawa geli. " Aku yang lemes tau" kata Tiara yang sudah menghabiskan sarapannya lalu beranjak ke wastafel dan mencuci piringnya.


Tubuh Tiara langsung terkejut, ketika tiba tiba tubuh Rivan menghambur memeluk tubuhnya dari belakang. Tangannya sudah nakal meraba Tiara dan membuat wajah Tiara langsung memerah.


" Mas, kebiasaan" ucap Tiara yang malah berbalik dan meladeni suaminya.


Bagi Tiara sesulit itulah untuk menahan diri dari godaan Rivan. Sepertinya tanpa usaha pun dirinya dapat jatuh ke dalam dekapan pria itu dan membiarkan bibir mereka saling menyatu. Mereka saling melepaskan cumbuan mereka saat Tiara tak dapat lagi menahan desahannya.


Rivan tertawa. " Oh, I love your voice, Tiara..." gumam Rivan. Rivan menyandarkan kepalanya di dada Tiara dan dapat dia dengar dengan jelas debaran jantung Tiara yang bekerja cukup cepat. Rivan menutup mata, ada yang melompat di hatinya saat mengetahui debaran jantung istrinya saat mereka berdekatan.


" Cuma... kamu ...." ucap Tiara dengan mencuri nafas.


" Apa?" tanya Rivan.


Tiara menarik nafas panjang sebelum akhirnya berbicara lagi. " Cuma kamu yang bikin aku kayak gini mas. Aku nggak pernah bisa ngontrol diri aku setiap kamu sentuh" ucap Tiara.


Rivan melihat wajah Tiara yang memerah, mengakui dirinya lemah bukanlah kebiasaan Tiara. Rivan tau betul besarnya arti ucapan tersebut. Dia mengecup Tiara kembali, namun kali ini kecupannya lebih lembut dan membuai.

__ADS_1


" Kamu pikir aku sanggup ngontrol diri aku tiap ada kamu? Kamu membuat aku bertekuk lutut, tau nggak" balas Rivan.


Rivan kembali menyatukan bibir mereka, dan kali ini lebih ciumannya lebih bergairah dan menuntut lebih. Hingga akhirnya mereka mengulang kembali kegiatan panas mereka sehingga Rivan terlambat berangkat ke kantor.


__ADS_2