
Dika terus berusaha membujuk Tiara dan juga berusaha menghancurkan tembok besar yang menghalangi dirinya dan Tiara. Dia tau perempuan disampingnya itu ingin sekali melampiaskan kekesalannya pada Dika terlebih dahulu, baru setelah itu Dika akan mencoba untuk mendekatinya lagi.
Dengan memprovokasi Tiara akan pernikahan perempuan tersebut dengan suaminya yang tidak akan bisa berjalan dengan bahagia. Sama seperti dirinya yang terpaksa harus menikah dengan seorang wanita bukan atas dasar cinta. Meskipun dia telah menikah dengan perempuan lain tapi pernikahannya sama sekali tidak pernah bahagia. Begitu juga dengan pernikahan Tiara yang tidak akan bisa bertahan lama karena dia yakin Tiara masih mencintai dirinya.
Dika begitu menginginkan Tiara sadar tentang betapa besarnya arti Dika dalam hidupnya. Dan Dika tidak ingin Tiara merasa malu untuk mengakui semuanya. Dia juga ingin Tiara tau bahwa dirinya juga merasakan hal yang sama.
Selama ini Tiara telah menjadi bagian yang besar dalam hidup dan dalam hati Dika. Dan dia yakin Tiara juga merasakan hal yang sama dengan yang dia rasakan.
" Siapa bilang gue harus mengorbankan perasaan gue sendiri" ucap Tiara penuh ejekan. " Gue justru sangat bahagia bisa menikah dengan Rivan dan gue juga sangat mencintai dia" lanjutnya penuh dengan perasaan bahagia dan bangga.
Coba bayangkan siapa yang nggak akan pernah merasa bahagia jika kalian mendapatkan seorang suami yang sangat perhatian dan mencintai kamu apa adanya. Ditambah lagi dia juga orang yang sangat kaya raya, tentu saja Tiara merasa sangat bahagia bisa menjadi seorang istri dari Rivan menantu keluarga besar Sanjaya.
" Nggak mungkin kamu bisa bahagia tanpa aku, Ra" masih nggak percaya dengan kebahagiaan yang diperoleh oleh Tiara saat ini. " Aku tau kamu hanya ingin berusaha mendorong aku sejauh apapun dari kamu. Tapi kamu harus tau, aku tetap akan kembali padamu, Ra" lanjutnya penuh dengan keyakinan.
Tiara hanya bisa menghela nafas panjang dan menggeleng tidak percaya dengan kata yang keluar dari mulut Dika.
" Sekarang gini deh ya. Dulu Lo putusin gue gitu aja hanya untuk mengejar hal lainya, dan sekarang Lo sudah siap buat ninggalin istri Lo hanya demi satu hal lain yang kamu inginkan. Apa jaminannya kalau Lo gak bakalan ninggalin gue lagi demi hal lain yang lebih kamu inginkan lagi?" tanya Tiara dengan sebuah perbandingan yang jelas jelas nyata telah dilakukan oleh Dika selama ini.
Tiara berharap penjelasannya barusan bisa membuat Dika lebih paham. Tapi dari pengalaman sebelumnya, Tiara kurang begitu yakin kalau Dika bisa memahami perasaan dan keinginan orang lain.
" Tiara, kamu tau cuma sama kamu aku kayak gini. Cuma sama kamu aku ngejar permintaan maaf dan cinta dari kamu sampai segila seperti saat ini, Ra" Dika terus memuntahkan seluruh perasaannya yang begitu meluap pada Tiara.
Tiara membenarkan apa yang dikatakan oleh Dika barusan, selama ini dia memang belum pernah melihat Dika dengan semangat gigihnya mengejar seseorang. Dulu dimata Dika hanya bervisi untuk mengejar kesuksesan semata agar dia tidak direndahkan oleh orang lain. Tiara sendiri hanyalah sebagai pengisi waktu luang dalam hidup Dika. Dan Tiara merasa bodoh membiarkan hal itu terjadi meskipun dia sendiri tau dan jelas melihatnya sendiri.
" I love you, Tiara" ucap Dika dengan suara yang tercekat seolah tenggorokannya tercekat oleh sebuah benda.
__ADS_1
" Heh... Lo udah gak pantas bilang itu sama gue" balas Tiara masih dengan nada suara sinis dan penuh ejekan.
Dika sama sekali tidak peduli dengan suara sinis penuh ejekan dan sikap dingin maupun ucapan penolakan dari Tiara. Dika tau bahwa dirinya saat ini harus lebih sabar untuk bisa memahami perasaan Tiara yang selama ini telah sangat terluka oleh perbuatannya dulu.
Dika menarik tangan Tiara agar bisa menghadapnya secara langsung. Entah kenapa Tiara sendiri hanya bisa diam dan menuruti ajakan Dika saat ini tanpa ada penolakan sedikitpun dari dirinya.
Tiara dapat melihat genangan air di mata Dika yang selama ini tidak pernah dia lihat sebelumnya. Tiara hanya bisa termangu saat menyadari genangan air di mata Dika yang akan langsung jatuh jika saja mata tersebut berkedip sekali saja.
" Aku salah, dan aku minta maaf" ucap Dika dengan sungguh sungguh meminta maaf pada Tiara tanpa adanya trik, taktik ataupun maksud tersembunyi di dalamnya.
Tiara dapat menangkap ketulusan permintaan maaf ya dari Dika. Tubuhnya ikut bergetar, tak kuasa menahan emosinya saat melihat Dika yang dengan sukarela menundukkan kepalanya dan merendahkan dirinya sekali lagi di hadapannya.
Tiara tertawa sini meremehkan sikap Dika, namun air matanya tanpa terasa ikut terjatuh. Dia sangat benci dengan perasaannya yang begitu bersimpati dan tanpa sengaja mengeluarkan air matanya jatuh membasahi pipinya. Karena ketulusan dan kesungguhan Dika memang sanggup mengetuk pintu hati Tiara.
" Lo yang nglepasin gue, Dik...." nada suaranya terdengar bergetar menahan tangisannya.
Sementara Dika sendiri tidak dapat berkilah atau menghindari dari kesalahannya di masa lalu. Dia hanya berharap penerimaan dari Tiara lagi pada dirinya, toh sekarang dirinya yang datang sendiri dan memohon mohon agar Tiara memaafkan dan kembali menerima dirinya kembali.
" Iya...." jawab Dika pasrah tidak ingin mendebat Tiara.
" Memangnya mudah apa, menerima dan melupakan perbuatan Lo ke gue? Lo seenaknya datang lalu pergi begitu saja dan sekarang datang kembali, jahat banget!" Tiara meluapkan kebencian dan kekesalannya yang sudah lama dia pendam selama ini.
" Maaf ..." hanya itu yang bisa Dika katakan dengan penuh penyesalan. Dia kan membiarkan Tiara terus meluapkan emosi dan kekesalannya terlebih dahulu.
" Dulu gue hancur tapi Lo sama sekali nggak peduli. Sekarang gue udah baik baik aja hidup tanpa Lo tapi Lo seakan nggak rela. Apa gue harus menderita kayak dulu lagi agar Lo bisa relain gue?" Tiara terus meluapkan kekesalannya dengan sikap Dika yang seenaknya saja memperlakukan dirinya selama ini.
__ADS_1
Mengingat hal itu air mata Tiara langsung turun membasahi pipinya, dia menangis dan kali ini terdengar isakan perih meskipun mati matian Tiara berusaha menahannya tetap saja dia menangis menahan sakit hatinya.
Wajah Tiara memerah dan dia berusaha menutupi wajahnya yang berantakan dengan kedua tangannya. Suara tangis Tiara yang terendam oleh mengisi ruang antara dirinya dan Dika.
Sementara itu Dika yang mendengar suara Isak tangis perempuan di depannya itu, tangannya langsung mengepal dengan kerasnya. Hatinya tersayat ikut menahan ngilu disaat melihat Tiara yang begitu hancur mengingat perlakuannya dulu.
Saat itu Dika ingin sekali langsung memeluk Tiara untuk menenangkan dan menghiburnya bahwa semuanya akan baik baik saja. Tapi Dika berusaha menahannya karena jika sampai dia melakukannya, saat itu juga Tiara pasti akan langsung menolaknya dan semakin waspada terhadapnya.
" Maafin aku, Tiara. Aku ingin bersamamu apapun yang terjadi" ucap Rivan.
Mendengar ucapan Rivan langsung membuat Tiara siaga. Tiara menghentikan tangisannya dan mengingat Rivan, suaminya. Pria yang menghargai dirinya, pria yang mampu mengambil hatinya dengan segala sikapnya yang lembut. Dan Tiara tau bahwa cintanya kini sudah dimiliki sepenuhnya oleh Rivan.
" Mulai sekarang jauhi gue dan biarin gue hidup bahagia bersama pasangan gue" ucap Tiara menatap Dika sekilas sebelum akhirnya dia memalingkan wajahnya dari Dika.
Tiba tiba Tiara merasakan sebuah tarikan kuat yang membuatnya terkejut seketika. Rupanya Dika mencengkeram lengan Tiara, dan seluruh tubuhnya tak mampu untuk menghadapi Tiara yang akan pergi.
" Maaf, aku nggak akan bisa menjauhi kamu lagi dan membiarkan kamu pergi bersama laki laki lain dan menghancurkan aku. Aku mencintai kamu dengan segenap jiwaku" Dika masih bersikeras untuk tidak melepaskan Tiara lagi dan tangannya masih mencengkeram lengan Tiara dengan kuat.
Kini Tiara mulai ketakutan, bibirnya sudah ingin berteriak memanggil nama suaminya untuk meminta pertolongan untuk menyelamatkan dirinya. Tapi Tiara tidak ingin membuat kegaduhan di depan umum.
" Dika... lepasin gue!" ucap Tiara dengan panik, jantungnya sudah berdegup dengan kencang, dia takut Dika akan berbuat lebih nekat.
Benar saja Dika tidak terus menarik tubuh Tiara agar tidak terlepas dari dirinya lagi, berusaha mendekatkan dan menyatukan bibirnya untuk menyatakan seluruh perasaanya.
Dengan sekuat tenaga Tiara menatap Dika dengan galak dan penuh permohonan agar dilepaskan.
__ADS_1
" Tiara..." tiba tiba terdengar suara seseorang memanggil nama Tiara.