
Suara tepuk tangan tersebut tentu saja langsung membuat dua insan yang sedang berada di dalam kamar terkejut bukan kepalang. Mereka tidak menduga akan ada seseorang yang datang tiba tiba ke apartemen Bella dan memergoki mereka sedang bercinta. Dan tentunya mereka masih belum tau siapa orang yang sedang berada di luar kamar tersebut karena Rivan belum menampakkan wajahnya di hadapan mereka.
" Wooooww.... permainan yang sangat bagus" Rivan membalikkan tubuhnya dan membuka pintu kamar tersebut dengan perlahan untuk memperlihatkan wajahnya di hadapan Bella dan Candra. Tak lupa dia juga menampilkan senyuman mengejek untuk keduanya.
Bella dan Candra langsung kebingungan begitu mengetahui bahwa yang menangkap basah tindakan mereka adalah Rivan. Bella bahkan sampai repot repot mendorong Candra dan menutupi tubuh polosnya dengan selimut putih.
Melihat wajah keduanya yang ketakutan sungguh membuat Rivan sangat muak dan jijik. Dia tidak menyangka dirinya akan dikhianati oleh dua orang yang sangat berarti dalam hidupnya. Kekasih dan sahabatnya sendiri telah mengkhianatinya entah sudah mulai kapan pengkhianatan itu mereka lakukan.Bisa jadi mereka sudah melakukannya sejak dulu hingga kini semuanya terbongkar dengan sendirinya. Sebuah perselingkuhan yang tidak akan pernah dia maafkan seumur hidupnya
" Kenapa berhenti? bukannya tadi kalian mau nambah satu ronde lagi?" pancing Rivan dengan sindiran yang pedas.
" Van, aku bisa jelasin..." Candra berusaha membujuk Rivan agar mau mendengarkan penjelasannya.
Mendengar bujukan sahabatnya itu hanya bisa membuat Rivan tersenyum kecut. Baginya sudah jelas bukti perselingkuhan mereka di depan mata kepalanya sendiri. Tapi bisa bisanya dia ingin membujuk Rivan dengan penjelasan. Penjelasan yang bagaimana menurut kalian?
" Aku bisa nunggu kalian di depan kalau memang kalian akan nyelesaiin apa yang belum selesai" ucap Rivan dengan tenang tanpa nada yang berapi api, seperti pada umumnya orang yang sudah dikhianati oleh orang yang kalian sayangi.
Bella tau betul bagaimana Rivan, dia memang bukan laki laki yang akan berapi api kalau sedang marah sama seseorang. Rivan akan selalu diam atau berbicara secukupnya tapi selalu bisa mengintimidasi lawannya. Mungkin karena pembawaan Rivan yang akan bersikap dingin selalu bisa mengintimidasi seseorang yang sedang dihadapinya.
" Sayang...." Bella turun dari ranjang dengan tubuh yang terbungkus selimut dan mencoba menghampiri Rivan yang masih setia berdiri di tengah pintu kamar.
Tanpa menjawab sepatah katapun Rivan hanya tersenyum kecut dan mengejek melihat tubuh Bella yang telanjang hanya terbalut selimut tebal saja. Rivan mencoba menepis dan menghindar dari tangan Bella yang mencoba menggapai tangannya.
" Please... aku bisa jelasin semuanya sama kamu dan aku punya alasan melakukan ini semua" Bella masih mencoba membujuk Rivan dan mencoba melakukan pembelaan.
" Gue tau___" Candra juga ingin memberikan alasan kenapa dirinya bisa melakukan hal menjijikkan dengan Bella dan harus mengkhianati persahabatan mereka.
Tapi belum sempat dia melanjutkan ucapannya sudah terpotong terlebih dahulu oleh Rivan yang mengangkat tangannya seolah menyuruhnya untuk berhenti berbicara.
" Sejak kapan?" tanya Rivan yang sudah muak dan ingin secepatnya pergi dari sana setelah mengetahui semua yang ingin dia ketahui.
" Vann...." rengek Bella yang sudah duduk bersimpuh di bawah Rivan dan terus mencoba menggapai tangan Rivan tapi selalu dia tepis.
__ADS_1
" Sejak kapan Lo punya hubungan sama Bella, Ndra?" Rivan langsung bertanya pada Candra menatapnya dengan tatapan bengis.
Kali ini Candra mulai bangkit dari duduknya setelah dia memakai celana boxernya. Dia menghampiri Rivan, sebelum membantu Bella berdiri yang duduk bersimpuh di bawah Rivan.
" Sejak Lo nggak pernah bisa penuhi kebutuhan Bella" jawab Candra dengan santainya tanpa rasa malu atau merasa bersalah sedikitpun. Bahkan dari ucapan Candra seperti menyalahkan Rivan yang tidak bisa membahagiakan Bella sebagai kekasihnya.
Rivan terkekeh merasa lucu dengan jawaban yang diberikan oleh sahabat kecilnya, tapi mulai sekarang dia sudah tidak akan menganggap Candra sebagai sahabatnya lagi.
" Menurut Lo, kebutuhan apa yang tidak bisa gue penuhi dari permintaan Bella?" tanya Rivan balik dengan senyum masam.
Bella dan Candra hanya diam mendengar pertanyaan Rivan. Memang benar kata Rivan, dia bisa memenuhi semua kebutuhan yang diinginkan Bella. Secara materi Rivan bisa memenuhi semua kebutuhan yang dibutuhkan oleh semua orang perempuan di Indonesia ini tak terkecuali kebutuhan Bella.
" Bella mau apartemen, gue kasih. Dia mau tas atau baju atau semua barang dari brand ternama atau yang limited edition, gue belikan. Perhiasan apapun aku kasihkan. Apapun yang dia minta selalu gue kasih" ucap Rivan dengan jelas.
" Tapi, jika keinginan yang Bella butuhkan adalah ****!? Gue gak memang gak bisa kasih itu" untuk yang satu itu memang Rivan tidak bisa memenuhinya.
Katakan saja kalau Rivan orang yang kolot, secara dia pernah tinggal di luar negeri dengan gaya hidup mereka yang bebas. Meskipun dia lama ditinggal di negeri orang, tidak menjadikan dirinya lupa dengan didikan dari keluarganya. Bunda Amel selalu mengajarkan dirinya untuk selalu patuh pada segala aturan, baik agama maupun negara dan salah satunya adalah **** bebas.
" Well, aku tidak akan membuatnya rumit. Mari kita selesai ini" Rivan kemudian mengambil tangan Bella dan menyerahkan buket bunga mawar dan kita cincin yang tadi dia bawa. " Ini buat kamu dan aku tidak akan mengambilnya. Kamu ingin menyimpannya ataupun membuangnya, itu terserah kamu"
Rivan kemudian menepuk pundak Candra yang telanjang. " Lo tau, kita udah temenan dari kecil, Ndra... Apapun kalau bisa gue bagi... gue akan bagi ke sahabat gue" t sama sekali tidak ada nada marah di suara Rivan.
Bella tau itu artinya Rivan sudah mengakhiri hubungan mereka. Tapi perkataan Rivan tadi menyiratkan, dia akan rela membagi Bella untuk Candra kalau saja laki laki itu memintanya.
" Kamu pikir aku barang, Van! jaga ucapan kamu!" Bella merasa tersinggung dengan ucapan Rivan tadi.
Tapi Rivan sama sekali tidak mengindahkan ucapan Bella. " So, dia sudah resmi jadi milik Lo" katanya pada Candra.
" Kamu nggak bisa mutusin aku dengan cara begini, Van! Kamu dengerin dulu penjelasan aku" Bella panik mencoba menggapai Rivan. Persetan dengan rasa tersinggung yang dia rasakan barusan. Dia tidak mau kehilangan Rivan yang menjadi tambang emas dan juga kasih sayang untuknya.
Rivan tidak peduli atau ambil pusing, dia memilih berbalik dan menuju pintu keluar. Bella masih terus berteriak tapi tidak mengejarnya karena Candra memegangi tubuh Bella yang akan jatuh.
__ADS_1
" Kamu egois, Van!" teriak Bella. " Kamu nggak pernah tau apa yang aku butuhin, kamu egois! kita udah dewasa, Van. Kita sama sama tau kebutuhan orang dewasa. Dan kamu egois, karena nggak bisa menuhin kebutuhan aku yang satu ini" Bella terus berteriak sambil menangis di pelukan Candra.
* * *
Rivan tersenyum, hatinya merasa lega karena dia sudah menceritakan semuanya pada Tiara. Sekarang sudah tidak ada lagi yang mengganjal dihatinya soal Bella. Dan dia berharap ini akan berdampak bagus untuk hubungannya dengan Tiara.
" Diselingkuhin itu emang sakit sih, mas. Tapi, ketika itu dilakukan oleh teman dekatmu, itu lebih menyakitkan ribuan kali" kata Tiara ikut merasakan sakit yang dirasakan oleh suaminya.
Rivan mengangguk setuju, tangannya memegang tangan Tiara dan senyumannya terukir dengan manis.
" Aku belajar banyak dari itu semua, sayang..." kata Rivan. " Mungkin karena dulu aku cuek banget, jadi ada celah buat mereka berdua berhubungan di belakang aku" lanjutnya juga menyalahkan sikapnya selama ini.
Tiara bergumam sambil mengangguk membenarkan ucapan Rivan.
" Makanya waktu aku ngerasa kamu adalah orangnya, aku harus memberikan yang terbaik untukmu" kata Rivan diiringi dengan senyuman yang tulus.
" You are, mas" sahut Tiara ikut tersenyum bahagia.
" Aku lega"
" Untuk?" tanya Tiara yang bingung maksud suaminya.
" Udah bisa cerita semuanya sama kamu, tapi tetap... gak ada yang biasa aja kalau kehilangan sahabatnya. Itu yang bikin aku susah banget buat lupa. Begitu juga
sama orang lain dan menilai mereka" mengeluarkan uneg unegnya yang selama ini dia pendam sendiri.
Tiara mengangguk setuju dengan semua ucapan Rivan. " Apakah kamu merasa nyaman?"
Rivan menggeleng " Nggak pernah, aku hanya merasa beruntung dan diberkati saja"
Rivan tersenyum hangat, mungkin beginilah cara tuhan mengirimkan seorang wanita yang tepat menjadi pendampingnya. Membuat mata hatinya terbuka dengan kejadian yabg yang tak terduga. Pertemuan heroik mereka yang membuatnya menjadi seorang pahlawan, lalu kencan singkat mereka hingga akhirnya mereka menikah.
__ADS_1