Suddenly Married

Suddenly Married
Lebih dari Satu


__ADS_3

Rivan tersenyum hangat, mungkin beginilah cara tuhan mengirimkan seorang wanita yang tepat menjadi pendampingnya. Membuat mata hatinya terbuka dengan kejadian yabg yang tak terduga. Pertemuan heroik mereka yang membuatnya menjadi seorang pahlawan, lalu kencan singkat mereka hingga akhirnya mereka menikah.


Dia benar benar merasa lega sudah bisa menceritakan kisah kelam cintanya bersama Bella kepada sang istri. Sebenarnya sudah lama dia melupakan kisahnya tersebut karena dia tidak pernah bertemu dengan Bella ataupun Candra selama ini. Apalagi setelah dia mengenal Tiara hampir tidak pernah sekalipun dia mengingat mereka berdua.


Namun kedatangan Bella yang terus menerornya selama ini membuatnya mengingat tentang kejadian perih yang harus dia alami. Untuk itu dia harus membuat sang istri merasa nyaman tanpa diganggu lagi oleh Bella yang akan terus menerornya sampai keinginannya tercapai.


" Kalau gitu aku udah mutusin" ucap Tiara dengan senyum tipis tercetak di bibirnya. Sementara itu Rivan hanya bisa mengernyit bingung.


" Setelah dipikir pikir nggak ada salahnya juga kita pindah rumah. Kenangan bukan terletak pada barangnya kan, mas. Tapi bersama dengan siapa kita mengabiskan waktu kita dan membuat kenangan manis. So... Yuk kita pindah!" kata Tiara dengan penuh semangat.


Rivan langsung tertawa terbahak. " Kamu yang semangat seperti ini bisa bahaya banget loh, sayang" sahut Rivan dengan masih tertawa.


" Bahaya? Kenapa?" tanya Tiara heran.


" Kamu telah membangunkan seorang monster, sayang" sahut Rivan mengingatkan pada Tiara pada keganasannya jika sudah bergelut dengan sang istri.


Bukannya takut atau kesal dengan pernyataan suaminya, Tiara justru tertawa. Mau eksplor rumah baru ceritanya?" goda Tiara sambil mengeringkan sebelah matanya dengan genit.


" Astaga.... kamu bener bener nguji aku, sayang. Jangan salahin aku ya, kalau malam ini kita harus nginep di sini" dengan rakusnya Rivan langsung mencium bibir ranum istrinya tersebut.


Rivan hanya bisa merasakan bibir manis sang istri saja tanpa bisa melakukan kegiatan selanjutnya. Karena dia tau kalau perabotan di rumah baru mereka belum lengkap terutama ranjangnya. Rencananya dia ingin istrinya yang memilih semua perabotan yang akan mereka beli dan gunakan di rumah baru mereka.


Di dalam rumah tersebut hanya ada satu sofa saja yang saat ini sedang mereka duduki. Jadi mau tidak mau Rivan harus menghentikan kegiatannya sebelum nantinya dia kebablasan.


Tiara hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepala melihat sikap sang suami. Rivan dan hasratnya yang menggebu selalu berhasil membuatnya menggelengkan kepala. Bagaimana tidak... hampir tiap malam mereka bergulat, Rivan masih saja menunjukkan reaksi seperti ini kalau dipancing sedikit saja oleh Tiara.


Tiara juga merasa heran, bagaimana dulu Rivan bisa terus menahan hasratnya dan jiwa lelakinya saat bersama dengan Bella. Mengingat Bella adalah seorang perempuan yang begitu cantik dan seksi yang tentunya akan membangkitkan hasrat seorang laki laki. Bahkan sahabatnya sendiri sampai terpincut pada Bella sampai mengkhianati persahabatan mereka hanya karena seorang perempuan.

__ADS_1


" Coba saja perabotan rumah kita sudah lengkap, sudah aku lahap kamu sampai habis, sayang" kata Rivan dengan frustasinya.


Tiara tertawa sambil mengelus lengan sang suami. " Aku heran ya, mas. Hanya dengan godaanku begitu saja kamu tidak bisa membendung hasrat kamu, tapi bagaimana bisa dulu kamu bisa menahan hasrat kamu saat bersama Bella?" tanya Tiara penasaran. "Secara Bella adalah cewek yang cantik dan seksi, nggak mungkin kan kalau kamu tidak tergoda?" lanjutnya.


Rivan menghela nafas panjang dan menghembuskannya dengan pelan untuk meredam hasratnya yang sudah dalam mode on. " Kamu benar sayang, siapa sih yang gak tergoda dengan Bella, bahkan sahabat aku sendiri saja sampai rela mengkhianatiku" membenarkan ucapan sang istri.


" Aku pernah tinggal di luar negeri yang banyak menganut kehidupan bebas. Tentu saja dulu aku juga tergoda dengan Bella, sayang. Tapi aku selalu bisa menahannya karena selalu mengingat didikan yang diajarkan oleh bunda, ayah dan kek Gun terutama masalah **** bebas yang akan menghancurkan kehidupan kita selanjutnya" lanjut Rivan memberikan jawaban yang sebenarnya.


Tiara mengangguk setuju sambil tersenyum tipis merasa bangga pada suaminya. " Benar, mas. Selama ini ibu juga selalu menasehati ku untuk bisa menjaga diri sendiri dari pergaulan bebas yang akan menghancurkan hidup kita" sahut Tiara.


" Dan aku bangga dan bahagia karena semuanya telah berbuah manis. Aku orang pertama yang bisa memiliki kamu seutuhnya begitu juga sebaliknya" kata Rivan tersenyum cerah dan bahagia melihat wajah Tiara yang berseri.


Rivan mengucap syukur yang luar biasa dalam hati kepada Tuhan. Karena sudah mengirimkan seorang perempuan yang luar biasa seperti Tiara untuk menjadi pendamping hidupnya yang begitu sempurna. lalu mencium kepala Tiara dengan sayang.


" Mau lihat lihat ruangan lainnya?" tanya Rivan.


Rivan mengangguk setuju dan tersenyum tipis.


Tiara memandangi Rivan lalu berhambur memeluk tubuh suaminya. " Sebenarnya aku benci mengatakan ini tapi kamu benar, mas. Aku suka ini... so thanks you, mas" kata Tiara dalam pelukan Rivan yang terkekeh membalas pelukan istrinya.


Rivan mengajak Tiara keluar dari rumah baru mereka untuk pulang terlebih dahulu ke rumah yang mereka tempati. Sepertinya mereka akan segera memenuhi rumah mereka dengan semua perabotan yang dibutuhkan baru setelah itu mereka akan segera pindah ke rumah baru mereka.


" Sejak kapan kamu ada rencana buat pindah rumah, mas?" tanya Tiara penasaran karena selama ini suaminya itu tidak pernah menyinggung apapun mengenai rumah baru mereka.


Saat ini mereka berada di dalam mobil dalam perjalanan menuju rumah mereka.


" Sejak pertama kali kamu tinggal di rumah kita, kamu inget gak?" tanya balik Rivan

__ADS_1


Dulu waktu pertama kali Tiar menginjakkan rumah yang saat ini mereka tempati, dia bilang pengen banget punya rumah dengan halaman yang luas. Sebenarnya rumah mereka sudah memiliki halaman yang cukup luas dan asri. Tapi Rivan sudah berangan angan akan tinggal bersama dengan Tiara dan anak anak mereka kelak di rumah yang memiliki halaman yang sangat luas. Dan dia ingin istrinya yang akan mendesain sendiri rumah baru mereka mengingat rumah yang ada saat ini semuanya didesain sendiri oleh arsitektur.


" Baru kesampaian aja belinya dan kayaknya ini waktu yang pas buat kasih tau kamu. Apalagi kita harus secepatnya pindah untuk menghindari orang yang berpotensi buruk untuk menghancurkan keluarga kita. Kamu tidak boleh banyak pikiran agar kita disegerakan diberikan momongan" kata Rivan dengan jujur dengan keinginannya untuk segera memiliki seorang anak.


Rumah dengan 2 lantai tersebut yang dengan halaman yang super luas dan ditumbuhi rumput asri berwarna hijau. Rivan memang sengaja memilih rumah dengan halamannya lebih luas daripada rumahnya sendiri. Katanya supaya anak anaknya nanti bisa berlari larian dengan puas di rumah mereka sendiri, itu bayangan Rivan.


Halamannya sengaja belum aku apa apain, terserah nanti kamu mau bikin apa apa sesuai keinginan kamu, sayang" ucap Rivan.


Tiara menggumam. " Aku sih lebih suka dibuat taman bermain yang edukatif, mas. Bagaimana menurutmu?"


" Kolam renang, berenang bagus loh buat perkembangan motorik anak, sayang" sahut Rivan.


" Tentu saja mas, kolam renang akan menjadi tempat yang mereka sukai pastinya"


Ada satu kata yang mencuri pendengaran Rivan. " They...?" tanyanya dengan cengiran bibirnya yang tersenyum senang.


" Kening Tiara mengkerut bingung dengan pertanyaan suaminya yang seolah meminta penjelasan. Tapi melihat cengiran Rivan yang cukup lebar, dia tau kemana arah tujuan pertanyaan suaminya itu.


" Aku mau punya anak lebih dari satu, mas. Biar rame, aku anak tunggal dan kamu sendiri juga cuma berdua sama Vani. Seru aja gitu kalau di rumah diisi sama suara anak anak yang lagi main, lari larian, ketawa sampai nangis" kata Tiara dengan impiannya.


Rivan yang sedari mereka makan malam di restoran hingga bercerita tentang kisah masa lalunya, baru kali ini senyumnya begitu merekah dan bahagia. Mendengar impian Tiara yang ingin memiliki anak banyak tentu saja sama seperti impiannya selama ini yang juga menginginkan anak lebih dari 2.


" Sepertinya aku harus berusaha lebih keras untuk mewujudkan keinginan kamu yang satu itu, sayang" kata Rivan yang selalu berfikir ke arah yang lain.


" Kurang keras bagaimana lagi, bukannya setiap malam kamu tidak pernah membiarkan aku beristirahat dengan tenang, mas" Tiara mutar matanya malas.


Rivan hanya bisa tersenyum mendengar sindiran istrinya.

__ADS_1


__ADS_2