Suddenly Married

Suddenly Married
Kembar


__ADS_3

Rivan salah besar karena meladeni pertanyaan ibu mertuanya. Seharusnya dia bilang aja apa adanya kalau memang belum ada tanda tanda keberadaan anak di dalam perutnya. Karena dia tau bagaimana sifat ibunya yang tidak akan pernah merasa puas bertanya sebelum pertanyaannya dijawab dengan pasti sesuai dengan keinginannya.


" Ibu sih, maunya kembar. Biar kita gak rebutan ngasuhnya ya, besan?" jawab ibu Suci seenaknya dengan mengkonfirmasi pada besannya, Bunda Amel.


Mendengar keinginan besannya, bunda Ratu justru senang dan setuju sekali bahkan beliau langsung mengangguk dengan semangat. "Iya, maklum saya kan juga belum punya cucu. Jadi anaknya Rivan dan Tiara nanti bakal jadi cucu pertama di keluarga kita. Dan pastinya nanti saya pengennya bareng terus sama cucu ya, bu" timpal bunda Amel.


" Iya benar, biar hubungan perbesanan langgeng, gak saling rebut cucu. Makanya kalau bisa sih kembar. Kamu bisa kan, Ra?" tanya bu Suci pada Tiara.


Semua orang yang mendengar perbincangan kedua besan wanita tersebut hanya bisa geleng geleng kepala. Sepertinya kedua wanita paruh baya tersebut sangat cocok satu sama lain terutama masalah cucu.


Mendengar pertanyaan ibunya Tiara hanya bisa melotot. Dia juga gak tau harus jawab apa. Ibunya ini request pengen cucu kembar sudah kayak meminta porsi makanan double aja, yang tinggal tambah satu kemudian selesai dan langsung dikasihkan.


" Hush!! kamu ini, Bu. Kalau mau anak kembar, ya minimal harus ada keturunan kembar dulu baru bisa! keturunan keluarga kita mana ada yang kembar" Pak Hendra langsung menengahi sebelum perdebatan istri dan anaknya terjadi.


" Loh.... dijaman yang canggih kayak sekarang ini, gak ada yang gak bisa dilakukan, Yah. Lagian, meskipun gak ada keturunan kembar, kalau Tuhan sudah berkehendak mau kasih mereka anak kembar pasti bisa" sahut bu Suci masih kekeh dengan keinginannya.


" Saya ada keturunan kembar kok, Bu" Rivan yang dari tadi diam mendengarkan ucapan ibu mertuanya langsung ikut nimbrung. Dia merasa harus menyampaikan apa yang ingin mertuanya ketahui untuk membesarkan harapannya akan cucu kembar.


Mendengar ucapan Rivan, Tiara dan kedua orang tuanya langsung menatap ke arah Rivan terkejut. Berbeda dengan anggota keluarga Sanjaya yang hanya tersenyum tipis penuh arti menanggapi ucapan Rivan.


" Tuh kan, pas banget!" sahut bu Suci penuh semangat, bahkan tangannya sampai ikut bertepuk sangking senangnya.


" Nek Gin, istrinya kek Gun tuh dulunya kembar kan, Bun?" tanya Rivan pada bunda Amel.


Bunda Amel langsung mengangguk mengiyakan pertanyaan putranya sambil tersenyum tipis. " Iya. Bunda juga sebenarnya memiliki saudara kembar juga, tapi baru lihat dari fotonya, soalnya sudah meninggal dulu waktu usianya masih anak anak" terang bunda Amel.

__ADS_1


" Kamu bahas nek Gin, untungnya kek Gun gak duduk bareng kita sekarang, Van" seloroh ayah Tama. Beliau langsung mengulum senyum tipis mengingat reaksi wajah kek Gun yang menjadi mendung jika membahas soal mendiang istrinya.


" Laki laki tuh memang selalu gitu kalau ditinggal istri ya, Pak?" ayah Hendra berusaha mengambil alih topik pembicaraan.


" Iya. Beda dengan perempuan yang langsung bisa menjelma menjadi sosok apapun. Laki laki cenderung jadi lebih diam kalau pasangan sudah gak ada, pak" sahut ayah Tama yang sependapat dengan ayah Hendra.


Meskipun tidak bisa menjadi tolak ukur, beberapa kasus yang sering dan banyak terjadi memang seperti itu. Saat wanita yang kehilangan suaminya, wanita akan langsung menambal posisi yang ditinggalkan pasangannya. Terlebih lagi jika mereka sudah memiliki anak, menjadi figur seorang ibu sekaligus menjadi seorang ayah bagi anaknya seketika, sanggup dilakukan oleh seorang ibu.


Lain halnya dengan seorang laki-laki. Beberapa kasus, begitu pasangannya meninggalkan laki laki lebih dulu, maka mereka akan terasa sekali pincangnya. Biasanya laki laki tidak akan menambal posisi di sampingnya yang hilang itu, mereka malah cenderung menikmati perasaan ganjil. Sampai sampai mereka tidak sadar mereka telah menyakiti diri mereka sendiri dengan berlaku seperti itu.


Beruntungnya kek Gun masih diberikan umur yang panjang, kesehatan yang prima dan juga keluarga yang amat begitu peduli padanya. Kesendiriannya tidak lantas membuat beliau berubah menjadi pribadi yang pendiam atau murung. Alasan dari munculnya air mata yang menggenang tiap kali membahas mendiang istrinya adalah perasaan cintanya yang masih ada hingga saat ini.


" Terakhir yang bunda tau.... belum ada lagi keturunan kembar dari keluarga kita, Van" kembali bunda Ratu membahas topik keturunan.


" Nah!" seru bu Suci penuh semangat. " Katanya orang kalaupun punya keturunan kembar, biasanya nurunnya agak jauh. Gak mungkin ibunya kembar, anaknya juga kembar. Bisa jadi keturunan kembarnya nurun ke kalian" lanjut bu Suci semakin antusias.


" Periksa ke dokter Van. Sekalian buat program bayi kembar" ide bunda Amel.


" Bener tuh. Ibu juga setuju dengan bunda kamu, Van" sahut bu Suci penuh semangat.


Mendengar perkataan ibunya, Tiara langsung menoleh ke arah ibunya. " Bu, Tiara sama mas Rivan kan belum ada satu tahun nikahnya. Gak perlu terburu buru, masih bisa diusahain kok" sungguh Tiara berusaha menahan rasa malu menimpali perkataan ibunya. Dia bukan malu karena perkataan ibunya, melainkan membahas soal keturunan, proses mendapatkan bayi di depan seluruh keluarga secara terbuka seperti saat ini rasa rasanya masih tabu baginya. Apalagi sampai begitu detail harus pergi ke dokter segala macamnya.


Rivan yang sadar istrinya kurang nyaman membicarakan masalah proses mendapatkan bayi kembar ini langsung siaga. Diraihnya tangan Tiara dan menggenggamnya untuk mengalirkan kekuatan serta semangatnya untuk istrinya.


' Sabar sayang....' seolah itulah ungkapan yang disampaikan oleh suaminya. Tiara langsung tersenyum samar mendapat perlakuan lembut dari Rivan.

__ADS_1


" Jangan jadikan beban ya, Tiara. Ibu dan bunda kamu hanya terlalu excited pengen momong cucu. Diamini saja, siapa tau memang rejekinya tidak lama lagi hadir" ucap ayah Tama dengan bijak.


Ayah Tama ini memang persis dengan Rivan. Entah bagaimana, tapi Tiara merasa ayah mertuanya ini sungguh bisa membaca perasaannya. Orang yang paling Rivan takutkan ini justru terlihat bijak sekali. Pantas saja menurun pada putra semata wayangnya.


" Iya, yah. Tuhan paling tau kapan waktu yang paling tepat" jawab Tiara dengan tersenyum lembut.


Ketimbang ibu dan ibu mertuanya, ayah dan ayah mertuanya ini cenderung lebih tenang membicarakan soal keturunan mereka.


Tiara tentu saja tidak marah, dia memaklumi sekali. Kalau dulu ia bisa begitu sebal mendapat pertanyaan yang dia sendiri tidak bisa menjawab. Kali ini dia bisa lebih memaklumi.


" Maaf kalau bunda justru bikin kamu terbebani ya, Ra. Salahin anak bunda yang kelamaan jomblo! lama sekali pergerakannya. Coba kalau dari dulu dia sudah nemuin kamu, kan mungkin sekarang anak kalian, cucu bunda sudah bisa lari lari" kata bunda Amel merasa tidak enak juga dengan menantunya.


" Loh... gimana mau ketemu lebih cepet Bun, anak kamu itu kan lupa sama rumah. Dunianya kan cuma kerja, kerja, kerja. Mana ingat dia kalau masih ada orang tuanya" sahut ayah Tama.


Mungkin orang lain akan mengira kalau perkataan ayah Tama hanyalah candaan biasa yang ditujukan pada Rivan. Menurut Rivan dibalik ucapan ayahnya barusan, terselip pesan yang ingin disampaikan.


" Kalau ketemunya dari dulu, aku harus kerja keras, Bun. Tiara masih banyak dikelilingi oleh cowok cowok yang ngincer dia" sahut Rivan dengan candaan.


" Ya emang gitu, itu tandanya Tiara itu berkualitas. Bibit yang unggul untuk dijadikan istri dan ibu dari anak anak" puji bunda Amel.


Wajah Tiara memerah, ia tidak menyangka ibu mertuanya memuji dirinya seperti itu. Bukan karena tinggi hati, tapi Tiara merasa pujian bunda Amel masih jauh dari apa yang dirasakan oleh Tiara. Tiara tidak sepopuler itu, ia tidak semandiri itu. Dan yang parahnya, dulu Tiara sangatlah bodoh. Mau maunya dia menghabiskan waktu dengan orang yang egois.


Makanya aku jadikan istri langsung begitu tau dia sedang sendiri, Bun. Takut keburu diembat orang lain " balas Tiara sambil mengedipkan sebelah matanya pada Tiara.


Semua orang tersenyum mendengar perkataan Rivan, untuk kali ini anggota keluarga Sanjaya memberikan apresiasi yang luar biasa pada Rivan karena sudah menjadikan Tiara sebagai istrinya. Meskipun momen awal pernikahan mereka yang tidak melibatkan seluruh anggota keluarganya.

__ADS_1


Mereka semua terus bercengkerama mengobrol banyak hal terutama masalah cucu pertama keluarga mereka nantinya dan juga rencana resepsi pernikahan untuk Tiara dan Rivan.


Tidak terasa hingga waktu berlalu tengah malam, pak Hendra dan bu Suci akhirnya berpamitan untuk pulang. Rivanpun mengantar mertuanya untuk pulang ke rumah mereka dan tentu saja ditemani Tiara.


__ADS_2