
Tiara sedang mengeluarkan beberapa bahan memasak yang akan dia olah menjadi menu makan malamnya bersama keluarganya. Dia dengan penuh semangat mengeluarkan semua bahan yang dia butuhkan lalu dia letakkan di tempat kosong sebelah kompor.
Dia mengeluarkan ayam fillet, terong, kentang dan beberapa bahan bumbu bumbu dapur lainnya yang dia butuhkan. Dengan penuh semangat Tiara memakai celemek lalu menggulung rambutnya asal ke atas hingga memperlihatkan leher jenjangnya yang mulus.
Sementara itu ayah Hendra dan bu Suci yang duduk menunggu di kursi meja makan terus tersenyum melihat semangat putrinya yang akan memasak untuk mereka. Terlihat pancaran kebahagiaan yang terbit di wajah mereka saat melihat putrinya yang begitu semangat dan bahagia.
Sementara itu Rivan yang juga duduk di kursi bersama mertuanya juga terus memperhatikan istrinya dari belakang. Seperti biasa jika melihat istrinya sedang memasak rasanya dia ingin sekali langsung menghampirinya dan mengganggunya seperti biasanya jika Tiara sedang memasak.
Apalagi dengan penampilan istrinya yang ala kadarnya seperti itu, namun memberikan kesan seksi di mata Rivan. Hal itu benar benar menyiksa dirinya untuk tidak memeluk Tiara saat itu juga. Namun karena di sana ada kedua mertuanya dia hanya bisa menahan keinginannya.
" Aku mau masak ayam fillet crispy, terong balado sama mashed potato aja ya?" tanya Tiara meminta persetujuan ketiga orang yang masih terus memperhatikan dirinya.
Ketiga orang yang tengah duduk di kursi meja makan diam tidak mengiyakan ataupun menolak. Tapi kita tau bahwa jika kita bertanya dan tidak ada yang menjawab itu bisa diartikan mereka setuju atau mengiyakan.
" Atau ada yang mau pakai nasi?" tawar Tiara kemudian. Dan tanpa disangka ketiganya kompak menggeleng bersamaan, menolak ide menambahkan nasi di dalam makan malam yan!g akan disiapkan oleh Tiara.
Dan itu artinya Tiara tidak perlu memasak nasi untuk menu makan malam mereka nanti. Cukup dengan mashed potato sudah bisa menjadi pengganti nasinya.
" Apa kamu butuh asisten memasak?" Rivan menawarkan tenaganya untuk membantu sang istri dengan senang hati. Selain ingin membantu dia juga berniat untuk berada di dekat Tiara.
" Eh, jangan Van. Biarin aja Ara yang masak sendiri, kita lihat aja dari sini" larang Bu Suci. Pak Hendra hanya diam menggeleng.
" Gak apa apa Bu, biar lebih cepat selesai masaknya dan kita bisa segera memulai makan malamnya" sahut Rivan tanpa mengindahkan larangan ibu mertuanya.
Kemudian Rivan berdiri dari duduknya dan menghampiri sang istri yang tengah mengupas terong.
" Ada yang bisa aku bantu, sayang?" tanya Rivan yang sudah berdiri di sebelah Tiara.
Tiara meletakkan terong dan pisau di atas meja, kemudian mengambil celemek satu lagi. " Pakai ini dulu, mas" Tiara kemudian memakaikan celemek di tubuh Rivan agar baju yang dipakai suaminya tidak kotor atau kecipratan minyak.
" Kalau kayak gini, kita seperti chef profesional ya?" goda Rivan sambil menaik turunkan kedua alisnya.
" Tentu saja!" Tiara mengangguk mantap kemudian keduanya tertawa pelan.
__ADS_1
Pak Hendra dan Bu Suci ikut tersenyum dengan interaksi yang diperlihatkan oleh anak dan menantu mereka. Mereka ikut bahagia melihat putrinya bisa bahagia bersama dengan menantunya yang terlihat sangat menyayangi putri mereka
" Ibu baru ngeh, punya menantu ternyata sama kayak kita juga ya, yah?" bu Suci berkomentar saat melihat anak dan menantunya membagi tugas mereka dalam memasak.
" Sama gimana maksudnya, bu?" tanya pak Hendra bingung.
" Sama kayak ayah, Rivan gak malu gitu bantu istrinya ngerjain tugas rumah. Padahal Rivan kan dari keluarga ningrat" kata bu Suci sambil menerawang.
" Itu artinya didikan orang tuanya yang bagus, Bu" kata pak Hendra yang juga bangga melihat sikap Rivan yang baik.
Bu Suci mengangguk setuju dengan ucapan suaminya. " Zaman kayak sekarang, sangat jarang ada orang kaya yang mau susah susah begini, yah. Untung Tiara ketemu Rivan" sahut bu Suci dengan penuh syukur.
" Ayah juga ngerasa gitu, Bu. Rivan bertanggung jawab, itu yang penting. Ayah bisa percaya sepenuhnya sama dia buat jagain Tiara" ucap pak Hendra yang langsung diangguki oleh bu Suci
" Kita tinggalin aja mereka, yah. Biarin mereka masak ala pengantin baru" ajak bu Suci.
Pak Hendra mengangguk setuju dan langsung berdiri. " Kita tinggal ke depan dulu ya. biar kalian cepet masaknya. Kalau sudah matang jangan lupa panggil kita" pamit bu Suci setelah berdiri dari duduknya.
Bu Suci langsung berjalan menyusul suaminya yang sudah pergi duluan ke depan. Mereka duduk di teras sambil menikmati suasana malam di depan rumah mereka yang selalu ramai oleh anak muda atau bapak bapak di komplek mereka yang sering duduk di pos ronda sambil bernyanyi dan memainkan musik.
Sementara itu Rivan yang berada di sebelah Tiara sedang membantu mengupas terong yang tadi dikupas oleh Tiara sebelumnya.
" Terongnya mau dibelah jadi berapa, sayang?" tanya Rivan menimbang terong di tangannya yang sudah selesai dia bersihkan.
" Dibelah jadi delapan aja, mas" jawab Tiara dengan tangan yang masih fokus mengulek bumbu untuk terong balado.
" Ok!" sahut Rivan, lalu mulai memotong terong sesuai dengan instruksi istrinya.
Tapi, melihat kegiatan yang Tiara lakukan saat ini rupanya berhasil menyedot banyak perhatian Rivan.
" Kamu terlihat begitu seksi dengan yang kamu lakukan saat ini, sayang" kata Rivan yang suk
" Hah!" Tiara menghentikan kegiatannya sambil menatap wajah suaminya yang menatapnya.
__ADS_1
" Kamu dan ulekan. Kayaknya itu adalah definisi seksi yang baru buat aku" Rivan tertawa lepas setelah itu, mengabaikan tatapan mata Tiara yang melotot.
Rivan selalu suka menggoda dan melihat istrinya yang marah seperti itu karena menurutnya saat Tiara marah ataupun melotot seperti itu justru terlihat semakin menggemaskan di mata Rivan. Apalagi ditambah dengan pipi Tiara yang bersemu merah rasanya membuat Rivan ingin langsung mencubitnya dengan gemas.
" Mas" Tiara menggeram kesal. " Awas loh, itu kamu lagi pegang pisau!" lanjutnya sewot.
" Tenang aja, aku juga gak kalah ahli megang pisau kayak masterchef" sahut Rivan berlagak sombong.
Tidak lama setelah selesai dengan tugasnya mengiris terong, Rivan pun menghampiri Tiara. " Ada lagi yang bisa aku bantu?" tawarnya saat Tiara sudah selesai dengan bumbu ulek baladonya, dan beralih pada ayam fillet yang dipotong, dibaluri tepung dan siap untuk digoreng.
" Adukin mashed potatonya, bisa kan? tapi disaring dulu ya, mas. biar lembut hasilnya" Rivan mengangguk paham dengan perintah istrinya.
Diambilnya wadah, saringan juga kentang yang sudah dikukus. Tiara sudah menaruh bumbu entah apa pada wadah itu. Tugas Rivan hanya menghaluskan kentang itu dengan baik. Dia melakukannya dengan tekun sekali, dia betul betul memperhatikan whisk yang sedang berputar di atas adonan kentang.
Tidak lama Tiara sudah selesai dengan ayam krispinya. Begitu juga dengan terong baladonya pun juga sudah matang.
" Ini kayaknya bisa jadi pengganti buat ngebentuk otot lengan aku deh" ucap Rivan dengan cengiran kemudian.
Tiara mencicipi sedikit adonan mashed potato yang sudah dihaluskan oleh Rivan. Memastikan rasa yang pas sesuai dengan yang dia inginkan. Saat dia tengah asyik mencicipi, kemudian sebuah kecupan di pipi kirinya langsung mengagetkannya.
" Mas! kebiasaan deh, kalau ibu sama ayah lihat, malu loh!" protes Tiara.
" Ibu sama ayah paling ketawa, sayang. Maklum juga sih kayaknya" yang diomelin malah cengar cengir tidak berdosa. " Lagian mereka juga gak ada di sini" untungnya kedua mertuanya sedang tidak ada di sana jadi dia tidak perlu malu atau sungkan.
Tiara hanya bisa menghela nafas panjang dan menghembuskannya dengan pelan. Dia kesal dengan sikap Rivan yang selalu seenaknya tidak tau tempat mencuri mesra dengannya. Untungnya saat ini orang tuanya sedang tidak berada di dapur, kalau tidak tentu saja dirinya yang akan malu karena dia yang pasti akan diintimidasi terutama oleh ibunya.
" Kita itu bukan pasangan pengantin baru lagi, mas" ucap Tiara dengan kesal.
" Siapa bilang bukan? selama belum ada baby diantara kita, semua akan melihat kita seperti pengantin baru, sayang" ucap Rivan asal, bahwa dalam ucapannya terselip keinginan untuk segera diberikan malaikat kecil dalam rumah tangga mereka yang akan semakin memperkuat hubungan mereka.
Tiara diam tidak menyahut ataupun menyela ucapan suaminya. Tidak hanya Rivan, dia sendiri juga memiliki keinginan yang sama, tapi mereka harus bersabar untuk itu.
Mereka segera menata semua masakan di atas meja. Terlihat masakan itu begitu menggugah selera untuk segera menyantapnya. Mereka begitu puas dengan hasil yang sempurn
__ADS_1