Suddenly Married

Suddenly Married
Siap Bertemu Keluargaku?


__ADS_3

Malam yang ditunggu pun akhirnya tiba, Tiara dan Rivan sampai di rumah jam enam malam. Dengan panik Tiara buru buru masuk ke dalam rumah untuk bersiap siap karena takut telat datang ke acara yang disiapkan oleh Vani jam tujuh malam ini.


Tiara buru buru mandi, ganti baju dan berdandan sejenak. Semua dia lakukan sekitar setengah jam lamanya.


" Wow... cantik. Seleraku banget ini" puji Rivan yang sangat terpesona dengan penampilan luar biasa Tiara. Bagi Rivan, perempuan itu selalu tau bagaimana harus berpakaian dan merias diri.


Nafas Rivan terhenti ketika melihat wanita cantik dengan dress brokat dengan lengan sampai di atas siku dan panjang baju sedikit di atas lutut. Dengan tambahan aksen ikat pinggang satin yang langsung menyatu dengan bajunya. Kemudian bagian kerahnya melebar mendekati bahu memamerkan tubuh Tiara hingg nampak begitu elegan.


Untung saja bekas merah di leher Tiara sudah terlihat samar dan bisa tertutup sempurna oleh foundation sehingga Tiara tidak perlu memakai syal ataupun scarf. Make up Tiara yang tipis dan terlihat begitu natural namun membuat Tiara terlihat cantik. Bibir mungilnya diberi pulasan lipstik nude yang bernuansa merah merah muda.


Tiara sendiri terpukau dengan penampilan Rivan yang memakai kemeja berwarna biru laut yang membuat ketegasan pada tubuh Rivan yang gagah. Rivan begitu nampak sempurna di mata Tiara.


Wajah Rivan yang begitu tampan dan juga terlihat semakin maskulin dengan baju bagian lengan yang dia lipat. Celana warna biru dongker yang dipakai Rivan membuat tubuh Rivan nampak menggiurkan dengan celana tersebut. Sekaligus membuat Tiara tergiur hingga menggigit bibirnya sendiri.


Tiara mendekat ke arah Rivan yang berdiri mematung menatap penuh damba istrinya yang begitu cantik. Tiara berjinjit untuk menyentuh bibir Rivan dengan penuh gairah. Tak tinggal diam Rivan pun membungkukkan kepalanya dan tangannya menarik pinggang Tiara agar perempuan itu tidak bersusah payah untuk menciumnya.


" Masih ada dua puluh menit, kan? yuk"ucap Rivan dengan mata terpejam.


Tiara tertawa sambil membelai rahang tegas Rivan. Sebelum kesadarannya benar benar menghilang, Tiara harus segera menyadarkan mereka berdua sebelum tubuh mereka dikuasai oleh nafsu.


" Masa ke rumah utama kamu cuma butuh waktu dua puluh menit? jalanan macet banget loh" kata Tiara berusaha mengingatkan suaminya untuk segera tersadar.


Mana mungkin mereka rela buru buru untuk bersiap dan berdandan hanya untuk melepaskan semuanya dan menjadi berantakan kembali?. Kalau Rivan ok lah gak masalah karena dia hanya butuh mandi lalu berganti baju lagi, beda lagi dengan Tiara yang harus mandi dengan cepat kemudian berdandan dengan waktu yang tidak cepat.


Menurut Rivan suara Tiara yang dipenuhi ******* itu bagaikan suara yang penuh dengan rayuan. Dia kembali menyerang bibir Tiara dan menggiring tubuh tersebut mendekat ke ranjang.


" Deket kok..lima menitan pasti udah nyampe" bisik Rivan di telinga Tiara sambil bersiap menikmati tubuh istrinya yang sudah menjadi candu baginya.

__ADS_1


" Tunggu dulu..." tiba tiba suara Tiara sudah berganti tegas dan menahan dada Rivan untuk menjauh dari tubuhnya.


Rivan langsung menggeram, mengutuki keadaan mereka yang sudah mabuk kepayang tadi. Sekarang, lagi lagi dia harus merasa kepala tanggung, padahal ada sesuatu yang lebih penting yang harus dia beritahukan pada Tiara.


" Rumah yang paling deket dari sini tuh, ya rumah yang ada di jalan besar. Kita bisa sampai sana aja paling cepet sekitar 7 menitan lagi, mas. Ayo deh buruan, nanti kita beneran telat" kata Tiara yang kini sudah sepenuhnya sadar kembali.


Rivan menggeram sekali lagi sambil bangun dari ranjangnya. Dia tidak habis pikir dengan seorang perempuan, kenapa mereka bisa sekali kehilangan hasrat untuk melakukan 'itu' setelah tadinya mereka sangat ingin melakukannya.


" Ada sesuatu yang harus kamu ketahui, sayang" ucap Rivan yang mengulurkan tangannya untuk membantu Tiara bangun dari tidurnya, dan perempuan tersebut menyambutnya dan langsung berdiri dari ranjang mereka.


Sejenak Tiara merapikan pakaian, make up serat rambutnya yang sedikit berantakan karena ulah Rivan. Sedangkan Rivan hanya perlu merapikan kemana serta rambutnya saja.


Setelah itu Rivan mengajak Tiara untuk turun ke bawah. Saat mereka berjalan berdampingan di tangga, sesuatu langsung mengganggu pikiran Tiara. Mengingat cara Vani memberitahukan lokasi acara malam ini.


" Oh iya, mas... aku penasaran deh. Kenapa namanya rumah utama ya, mas?" tanya Tiara yang kembali mengingat pesan yang dikirimkan oleh adik iparnya. Menurutnya Tiara, kalau ada rumah utama berarti ada rumah pendamping, kan?.


Malam itu dengan perasaan yang berdebar Rivan menggiring Tiara yang setaunya itu adalah halaman belakang rumah mereka. Tiara hanya bisa diam dan terheran namun dia tidak ingin bertanya dan memutuskan untuk tetap mengikuti Rivan. Mereka berdua memakai sepatu sebelum akhirnya turun ke halaman belakang.


Tiara dan Rivan keluar dari pintu pagar yang dulu sempat dilewati oleh bunda Amel sewaktu beliau berkunjung ke rumah mereka. Rivan mengajak Tiara keluar dari pagar tersebut dan saat itu juga Tiara langsung terdiam dan mematung.


Bagaimana Tiara tidak terdiam dan terkejut saat melihat pemandangan dari tempat dia berdiri saat ini. Bayangannya selama ini sangat berbeda dengan kenyataan yang baru dilihatnya. Rumah Rivan terlihat sebagai sayap bangunan dari satu rumah yang super mewah dan super luas yang berjalan beberapa ratus meter dari tempatnya berdiri saat ini.


" Jadi... sebenarnya yang selama ini kamu pikir halaman belakang rumah kita itu adalah halaman depan, sayang" beritahu Rivan yang mengakui sesuatu yang tidak pernah dia niatkan untuk disembunyikan lama lama dari istrinya.


" Kamu... nyembunyiin rumah kamu supaya kelihatan lebih kecil dari yang seharusnya?" tebak Tiara yang mulai mengerti tujuan Rivan.


Rivan mengangguk, namun tatapan matanya memancarkan perasaan gelisah dan cemas sekaligus tegang menunggu reaksi Tiara.

__ADS_1


" Kenapa?" tanya Tiara penasaran.


" Cuma bawa masalah aja kalau cewek cewek tau luasnya perumahanku" jawab Rivan apa adanya.


Memang benar tebakan Tiara, dia memang sengaja menyembunyikan besarnya rumah yang dimiliki. Bukan tanpa sebab jika cewek yang dikenalnya mengetahui besar dan mewahnya rumah yang dia miliki pasti mereka akan langsung mengejar ngejar hartanya saja. Karena dia tidak suka berhubungan dengan seorang cewek yang materialistis.


" Hmm... termasuk aku?" tanya Tiara dengan mata menyipit penuh selidik.


" Ya, meskipun dengan alasan yang sebaliknya" jawab Rivan sambil mengangguk.


Bukan tanpa sengaja Rivan menyembunyikan luas rumahnya yang sangat luas pada Tiara. Tentu saja alasannya menyembunyikan dari Tiara bukan karena dia takut Tiara termasuk cewek yang materialistis, justru karena Tiara bukan orang yang seperti itu membuat Rivan takut kehilangan dirinya. Tiara memiliki sifat yang sangat berbanding terbalik dengan cewek pada umumnya, dia sering merasa tidak percaya diri dan minder karena memiliki pasangan yang jauh diatasnya. Itu yang menyebabkan Rivan tetap menyembunyikan semuanya dari Tiara karena takut Tiara akan menyerah dengan pernikahan merek hanya karena Rivan orang yang kaya raya.


" Tiara, are we okay?" tanya Rivan dengan khawatir. Rivan lihat Tiara yang terus terdiam, dia takut istrinya itu sebentar lagi akan langsung meledak.


" Kamu memang selalu penuh misterius, aku selalu siap menerima kekuatan yang selalu kamu berikan. Dan aku nggak akan pernah berhenti mendapatkan kekuatan dari kamu" ucap Tiara dengan senyum tipis sambil menatap Rivan dengan serius.


" Tapi setelah semua yang terjadi, aku yakin hati aku nggak akan pernah bisa berpaling dari kamu" lanjut Tiara penuh dengan keyakinan sambil memegang tangan Rivan.


Sementara itu Rivan yang terdiam mendengar perkataan istrinya ikut tersenyum, ada rasa haru yang membuncah yang tengah mencuat di dalam hati Rivan.


Perempuan di hadapannya saat ini memang sangat berbeda dari perempuan yang dulu sempat panik dan meributkan kekayaanya. Tiara yang sekarang ini terlihat siap untuk menjadi bagian dari hidupnya dan Rivan sangat bersyukur dengan hal itu.


Dengan cepat Rivan langsung menempelkan bibirnya dan membentuk satu kecupan manis yang menghangatkan tubuh dan hati mereka.


" Udah siap bertemu keluargaku?" tanya Rivan yang saat ini sudah berdiri di sebelah mobil yang terparkir di sana entah sejak kapan. Sebuah mobil Lamborghini yang belum pernah Tiara lihat sebelumnya karena Rivan memang tidak pernah memakainya.


Tiara menarik nafasnya dalam dalam, dia terlihat tegang setengah mati, mengingat hari ini dia akan akan bertemu dengan kakek dan ayah mertuanya.

__ADS_1


__ADS_2