Sungguh!! AKU MENCINTAIMU

Sungguh!! AKU MENCINTAIMU
#10 Keresahan Devan


__ADS_3

" Siapa yang mengirimnya? Apakah mungkin ada orang yang tidak suka denganku dikantor? Tapi siapa?" Devan berpikir keras sembari tetap dengan kesadarannya dalam menyetir dan fokus kearah depan.


" Siapa yang tidak suka dengan Bosnya sendiri? Itu mustahil, tapi bisa saja terjadi seperti menggunting dalam lipatan, di depan terlihat baik dibelakang menjadi jahat." Ucapnya sembari menghubungi sekretarisnya tersebut.


" Siap Boskuh, ada apa?" Jawab William diseberang sana.


" Kamu lagi apa sekarang?"


" Masih diruangan rapat Bos."


" Udah selesai rapatnya?"


" Udah Bos baru aja, memang kenapa Bos?ada perintah?"


" Nggak ada, nanti aja." Ucap Devan langsung saja memutus sambungan bicaranya secara sepihak.


" Idih! Bos ini bikin emosi mendadak aja sih, main putus sambungan sepihak melulu, jika bukan Bos udah ku gantung dipohon tomat! Hehehehe..." Ucapnya sembari terkekeh sambil merapikan dokumen yang dibahas dalam rapat penting itu.


Beberapa saat Devan berada didalam mobilnya yang terombang ambing dengan pikiran yang berkecamuk tentang gadis yang ada didalam rekaman Cctv itu, mobilnya pun berhenti didepan pintu lobby dan beralih tangan dengan securitynya untuk diparkirkan ditempat parkir.


Dia memasuki lift dan menuju lantai tiga tidak menuju keruangannya yang berada dilantai lain, dia keluar Lift dan menuju keruangan CCtv utama, sesampainya diruangan tersebut, pak Yanto yang tidak menyadari kehadiran Bosnya itupun fokus kelayar-layar tv yang ada, dan diapun dikejutkan dengan suara Devan.


" Pak Yanto, saya mau lihat rekaman diruang inyerview kemaren."


Pak Yanto yang rerkejut dengan teguran sang Bos pun langsung berdiri dan menganggukkan kepalanya memberi hormat sesaat pada sang presdir tampan yang berdiri dihadapannya itu.


" Maaf pak Bos, Rekaman yang ada diruangan interview kemaren sudah diambil, dan sudah diganti dengan yang baru." Ucapnya


" Hah?! Sudah diambil?" Ucapnya sembari mengerutkan dahinya sambil menatap kearah pak Yanto.


" Iya pak Bos."


" Siapa yang ngambil?"


" Pak William..."


" Sudah ku duga..." Gumamnya.

__ADS_1


" Ya sudah, terimakasih."


" Iya...pak..." Ucapnya sambari mengiringi langkah sang Bos yang sudah meninggalkannya itu keluar ruangan.


" Ada apa sih dengan rekaman itu, kemaren pak William yang ngambil sekarang pak Bos yang perlu, haduh! Bikin pusing aja sih, sudahlah lanjut kerja lagi..." Ucapnya kembali lagi keposisi awalnya.


Devan kemudian menuju kearah ruangannya kerjanya, dia menuju kearah mejanya dan menghempaskan tubuhnya dikursi kerjanya dan menyalakan laptop yang sudah tersedia dimeja kerjanya tersebut, dan memeriksa beberapa berkas yang sudah tersedia juga diatas mejanya, dia tidak langsung menghubungi William, tapi Devan langsung melanjutkan kerjanya yang tertunda barusan karena insiden sang Mamah pingsan mendadak.


William yang baru saja keluar dari ruangan rapat melangkah santai sambil tersenyum-senyum bila berpapasan dengan karyawan perempuan yang lain, saat dia melewati ruangan CCTV dia menegur pak Yanto yang lagi menikmati minumannya dan kuenya setiap hari.


" Lagi makan pak?" Ucapnya tersenyum, pak Yanto menoleh dan tersenyum langsung saja dia berdiri dan segera melangkah keluar memanggil William yang sudah berjalan meninggalkan ruangannya.


" Maaf pak Wil..." Panggilnya seraya melangkah mendekati William, William yang mendengar panggilan pak Yanto itupun langsung menghentikan langkahnya.


" Ada apa Pak?" Ucapnya sambil tersenyum-senyum.


" Begini pak, saya mau tanya tentang Rekaman yang kemaren bapak minta itu dicari sama pak Devan."


" Apa?!" Ucapnya terkejut dan seketika saja wajahnya tidak mengukir senyum lagi.


" Iya pak, tadi pak Devan menemui saya disini, menanyakan soal rekaman ruangan interview yang bapak minta kemaren."


" Ya saya bilang kalau rekaman itu ada pada bapak."


" Ya udah saya akan temui pak Devan sekarang, terimakasih informasinya.." ucapnya sembari menepuk pundak pak Yanto dan dianggukkan pak Yanto dengan senyuman, kemudian diapun kembali lagi keruangannya.


" Waduh!! Jangan-jangan pak Bos akan memarahi aku lagi, dan pasti dia akan memecatku, Emak!! Anakmu sekarang nasibnya berada diujung tanduk..." Ucapnya sembari berjalan memasuki Lift menuju keruangannya yang berada dilantai atas.


Dengan memegang berapa berkas yang harus ditanda tangani Devan dia berjalan menuju keruangan Bosnya itu, Devan memang sengaja tidak mengunci pintu ruangannya dan dibiarkannya terbuka lebar, William mengintip sesaat, dan Devan sudah mengetahui kedatangan William.


" Cepat Masuk, aku ada urusan dengan mu...!" Ucap Devan sembari tetap memeriksa berkas yang ada dihadapannya itu, William tersenyum dan melangkah mendekati Devan dan dia mengambil kursi yang ada dihadapan meja Bosnya itu dan diapun duduk sambil meletakkan berkas yang ada ditangannya itu.


Devan memasang muka murkanya pada William dan menatap wajah William dengan lekat.


" Waduh!! Mati aku, Bos berubah mengerikan." Ucapnya pelan dan terdengar Devan.


" Kamu tahu kesalahan kamu apa?"

__ADS_1


" Iya Bos, maaf kan saya Bos, bukan maksud saya untuk memberitahu pada Ibunda Ratu, tapi karena saya juga ingin mencarikan Bos pasangan, tapi Bos, syukur juga sih Bos, saya yang lebih dulu tahu isi rekaman itu, kalau tidak pastinya akan Viral tuh kemana-mana, seharusnya Bos berterimakasih dong sama saya, berkat saya Bos terlindungi " ucapnya sembari mengubah posisi duduknya dengan santai sambil terkekeh, seakan-akan tidak ada rasa bersalahnya pada sang Bos yang ada dihadapannya sekarang ini.


" Terselamatkan jidadmu lebar! Karena ulah kamu Mamah pingsan mendadak! Kamu tahu apa yang diderita Mamah?"


" Nggak Bos..."


" Mamah terserang virus langka."


" Virus langka? Yang benar Bos!"


" Itu adalah karena perbuatan kamu! Karena kamu mengirimkan rekaman itu membuat Mamah sakit! "


" Maafkan saya Bos, jangan pecat saya ya Bos.please?!" Ucapnya memelas.


" Aku tidak pecat kamu tapi gajih kamu selama enam bulan tidak aku bayarkan."


" Hah?! Enam bulan Bos.." ucapnya terkejut.


" Dua tahun..!"


" Iya-iya Bos...baiklah enam bulan juga nggak apa-apa, yang penting tidak dua tahun, tapi bos sebenarnya kebanyakan Bos sampai enam Bulan, saya makan apa Bos?"


" Makan rumput!" Ucap Devan sembari berdiri dari duduknya dan melangkah menuju jendela, William hanya menatap langkah sang Bos yang terlihat resah.


" Ada apa Bos?"


Devan menghela nafasnya dengan berat dan memijit keningnya pelan dengan satu tangannya berada didalam saku celananya, kemudian dia menatap keluar jendela.


" Mamah menyuruh aku mencari gadis yang ada direkaman itu."


William tersenyum mendengar ucapan Devan.


" Jangan-jangan Virus langka itu adalah sandiwara ibunda Ratu lagi, virus ingin cepat dapat mantu dan cucu hehehe..." Ucapnya dalam batinnya.


" Aku harus mengikuti kehendak Mamah, kalau aku menolak sama aja aku membuat Mamah tambah sakit." Ucapnya lagi sembari berbalik badan dan menatap William dan diapun melangkah menuju sofa dan menghempaskan tubuhnya disofa tersebut.


" Gampang Bos, kemarenkan Bos yang menginterviewnya, Bos pasti tau siapa namanya, tinggal kita cari di CV nya." Ucap William.

__ADS_1


" Itulah masalahnya, aku lupa namanya wajahnya juga samar-samar aku ingat." Ucap Devan merebahkan kepalanya disofa sembari menatap langit-langit ruangannya.


" Tenang Bos, saya akan mengambil berkas semua pelamar kemaren, dan kita akan memeriksanya." Ucap William sembari berdiri dan melangkah keluar ruangan sang Bos, dan Devan tidak menghiraukan ucapan William namun pikirannya tertuju pada gadis tersebut, apakah dia bisa menemukannya atau tidak.


__ADS_2