
#57 Urusan Selesai.🌈
Setelah sampai dirumah sakit mobil terparkir dengan rapi, namun mereka tidak langsung turun dikarenakan ditahan oleh William.
" Kita kerumah sakit ini bertemu dengan yang akan kita cari."
" Maksud kamu?"
" Kita liat saja nanti...Ayo kita ketemu dengan pak Renaldi sekarang..." ucapnya mengajak mereka turun semua.
" Maksud kamu Renaldi mantan suamiku?" tanya Tania dianggukkan William.
" Aku kira Renaldi yang lain?" tanya Rania.
" Iya Aku kira juga Renaldi yang lain, Terus buat apa kita bertemu dirumah sakit? siapa yang sakit?" tanya Tania.
" Sebenarnya kita kerumah sakit ini bertemu dengan siapa sih Will?" tanya Devan yang juga bingung dengan William yang kurang jelas memberikan infonya pada mereka.
" Begini Bos, kita kesini ya ketemu dengan Renaldi mantn suaminya Tania, dan kita tidak perlu lagi jauh-jauh mencari istrinya dan anak Tania, karena mereka semua ada dirumah sakit ini." ucap William, dan sontak saja Tania langsung keluar dari dalam mobil dengan tergesa-gesa dan setengah berlari menuju kearah dalam koridor rumah sakit, dan langsung saja dipanggil William karena Tania salah melangkah.
" Tania! anakmu ada diruang UGD." ucap William dan langsung saja Tania memutar langkahnya menuju kearah UGD.
Mereka sampai didepan UGD dan langsung disambut Renaldi.
" Mana anakku?" tanya Tania dan langsung dirangkul William karena takutnya Tania marah tidak terkontrol.
" Tania kita duduk dulu disini ya.." ucap William, dan kemudian Renaldi menjelaskan pada mereka semua termasuk Tania, karena Tania diberikan kesabaran oleh William diapun hanya menghela nafasnya dengan panjang, ditambah lagi dia mendengar keterangan Renaldi yang didapatnya dari dokter yang merawat Syakilla, kalau Syakilla tidak apa-apa, Saat mereka berbicara serius Citra menemui mereka dan langsung bersimpuh didepan Tania sambil berucap.
" Mbak Tania, maafkan aku, karena sudah memisahkan Mbak Tania dengan Syakilla, sejujurnya karena aku yang takut kehilangannya." ucapnya, Rania dan Devan saling pandang, mereka berdua menatap Kearah Tania, mereka takut kalau Tania hilang kendali, tapi sayangnya pikiran mereka salah, Tania justru meraih tubuh Citra untuk membawanya duduk disampingnya, Tania langsung memeluknya, sontak membuat mereka tersenyum menyaksikannya itu.
Karena tidak terlalu serius keadaan Syakilla yang sudah berada didalam ruangan rawat itupun ditemui kedua orang tuanya dan ibu sambungnya, terlihat rona bahagia diwajah Sykilla karena sudah bertemu dengan sang Mamah dan bisa berkumpul lagi dengan orang yang disayanginya.
" Tania, aku akan penuhi janjiku untuk menyerahkan Syakilla bersamamu, dan setelah dia keluar dari rumah sakit ini, kamu bisa membawanya pulang kerumah mu."
" Bagaimana dengan Citra..."
" Aku Akan berangkat keluar Negeri dan mungkin akan menetap disana."
__ADS_1
" Kenapa? kalian akan berpisah?" tanya Tania.
Renaldi menggeleng tapi Citra mengangguk, membuat Tania merasa heran.
" Ada apa dengan kalian? Kenapa kalian tidak kompak seperti ini? Apakah kalian bermasalah?" tanya Tania sembari menatap ke arah Renaldi dan Citra.
" Baiklah, maafkan aku mungkin aku tidak pantas ikut campur urusan keluarga kalian, tapi setidaknya kalian berdua tetap baik-baik saja, masalah rumah tangga kalian itu kan bisa dibicarakan baik-baik, biar Syakila sama-sama memiliki dua orang Ayah dan dua orang Ibu." ucapnya sembari tersenyum membuat Renaldi dan Citra terkejut dengan ucapan Tania.
" Apakah kamu mau menikah Tania?" tanya Citra.
Tania hanya menganggukkan kepalanya sembari mengukir senyum di wajahnya dia sengaja berbohong kepada mereka karena dia takut kalau kedekatannya dengan Renaldi saat ini disalah artikan oleh Citra dan membuat masalah di keluarga mereka, sedangkan William yang sedari tadi memasang pendengarannya itu ke arah mereka walaupun sebenarnya William berbicara dengan Devan dan Rania.
Kemudian William meninggalkan mereka berdua menuju ke arah Tania yang sedang berbicara dengan Renaldi dan Citra sembari membenarkan perkataan Tania.
" Memang benar apa yang dikatakan Tania, kalau Tania ingin menikah, sayalah calon suaminya." ucapnya sembari merangkul Tania dan dianggukan oleh Tania, Renaldi yang awalnya terkejut pun kemudian tersenyum dia merasa bahagia karena Tania sudah menemukan calon suaminya yang tepat untuknya, karena yang dia tahu William adalah laki-laki yang baik.
" Aku senang mendengarnya karena kalian sudah mau menikah, aku bahagia karena Tania sudah mendapatkan jodohnya." ucap Renaldi dianggukan oleh Citra.
" Baiklah, sebentar ya, aku mau bicara dulu dengan Citra berdua." ucap Renaldi sembari menarik pelan Citra menjauh dari mereka berdua, terlihat dari jauh mereka berdua sedang berbicara sangat serius, Tania dan William hanya saling tatap dan kemudian mereka berdua tersenyum bergabung kembali dengan Devan dan Rania.
Beberapa saat mereka berada di rumah sakit tersebut, kemudian Devan dan Rania pun berpamitan dengan mereka.
" Apa yang kamu lakukan? turunkan aku." ucapnya pelan ditelinga Devan, namun Devan hanya tersenyum dan langsung memasukkan Rania kedalam mobilnya, kemudian mobil Devan meninggalkan rumah sakit itu menuju pulang kerumah, sedangkan William masih menemani Tania di rumah sakit tersebut.
Didalam Mobil...
" Masih sakit kakimu?"
" Sudah nggak!"
" Yang benar?"
" Iya beneran kok." ucapnya berbohong padahal masih terasa sakit dirasakannya.
Mobil Devan terus melaju menuju kearah tempat tujuan.
*****
__ADS_1
Di kediaman Devan.
Setelah mereka menyantap makan malamnya, mereka pun kemudian bersantai di ruang tengah rumahnya tersebut, sedangkan Devan menuju ke arah ruang kerjanya karena ada beberapa dokumen yang harus diperiksanya.
Sedangkan Rania, Lana, dan Bu Melany berbicara di ruang tengah rumah tersebut, Beberapa saat mereka berbicara, mereka pun langsung memasuki kamar mereka masing-masing.
Rania sesaat melihat kearah ruangan kerja Devan yang tertutup rapat itu.
Kemudian Rania langsung saja menaiki anak tangga satu persatu menuju kearah lantai atas dimana kamarnya tersebut berada.
Dengan sedikit rasa sakit dipergelangan kakinya karena insiden terpelesat saat berada dirumah sakit itupun membuat dia sedikit meringis,dia tetap melangkah kedalam kamarnya dan berusaha mencari salep untuk sedikit mengurangi rasa sakitnya tersebut, Rania kemudian mengoleskan salep tersebut sembari memijat ringan kakinya yang menimbulkan rasa sakit dan sesekali dia mengaduh menahan sakitnya.
Devan yang sudah selesai memeriksa dokumen kantornya itupun langsung melangkah kekamarnya, dia menatap kepintu kamar Rania sesaat dan dia tersenyum, Devan memasuki kamarnya dan mengambil remot otomatisnya untuk membuka dinding ruangan pembatas antara kamarnya dan kamar Rania, dia melihat Rania membelakangi dinding yang terbuka itu dengan duduk sambil memijat pelan kakinya sesekali dia terdengar meringis dan dia juga tidak mengetahui kalau dindin pembatas tersebut sudah terbuka tidak ada lagi penghalang antara ruangan tidurnya dengan ruangan tidur Devan.
Devan menatap Rania sesaat dan diapun langsung mengambil obat salep yang dengan cepat menghilangkan rasa sakit tersebut.
Devan langsung menarik pelan kaki Rania dan membuat Rania terkejut.
" Aauu!! bikin kaget aja sih!nggak bisa apa jangan bikin kaget datangnya.. isht!!" ucap Rania, tapi Devan tidak bersuara dia langsung memijat kaki Rania dengan saleb yang ampuh yang ada ditangannya itu.
Dengan pelan tapi pasti Devan memijat pergelangan kaki Rania yang sakit.
Saat dipijat Devan, Rania merasakan sakit, diapun langsung meraih tangan Devan agar menghentikan pijatannya dan wajah Rania berdekatan dengan wajah Devan mereka saling bertatapan sesaat reflek pijatan itupun terhenti,dan Rania tersadar dia langsung bersuara membuang rasa tersipu malunya.
" Pelan-pelan, sakit tau rasanya!" ucapnya.
Devan tersenyum sembari menatapnya.
" Lain kali kalau kaki mu masih terasa sakit, bilang padaku jangan cuma hanya diam, kamu sendirikan yang merasakaanya, tadi udah aku tanya, sakitnya masih apa nggak, kamu jawab sudah nggak, tapi nyatanya masih sakit kan." ucapnya dan Rania hanya menatap Devan yang sedang memijat kakinya.
Setelah selesai mengoleskan salep dan memijat sebentar Devan menatap kearah Rania sembari berbicara.
" Sekarang kamu istirahat aja dan besok kita akan bertemu dengan salah satu keluargamu."
" Apa? keluarga ku?"
Devan menganggukkan kepalanya, dan dia pun berdiri dari duduknya dan melangkah meninggalkan Rania dan Rania hanya bisa menatap kepergian Devan dari kamarnya sampai dinding pembatas itu tertutup otomatis.
__ADS_1
Rania merebahkan tubuhnya dikasur empuk tersebut dan dia memikirkan ucapan Devan kalau besok akan bertemu dengan keluarganya, sampai akhirnya diapun tertidur.