Sungguh!! AKU MENCINTAIMU

Sungguh!! AKU MENCINTAIMU
#28 Cemburu


__ADS_3

" Buat apa kamu mau mengikuti Rania!" Tanya Devan sembari menatap kearah Vino.


" Aku cuma ingin tahu aja di mana ruangannya, siapa tahu besok aku bisa mengunjunginya." Ucap Vino sembari tersenyum santai.


" Tidak usah kamu mengunjunginya lagi."


" Memang kenapa?dia siapanya kamu?! "


" Dia adalah Kekasihku! jadi kamu tidak boleh untuk mendekatinya, tugas kamu sudah sampai di sini saja! dan kamu juga tidak ada urusan lagi dengan dia, di sini semuanya akan menjadi urusanku! karena aku adalah kekasihnya!" ucap Devan menatap ke arah Vino dengan penuh penekanan bicaranya.


" Hah? kekasih kamu ? Devan-Devan, apakah kamu mengatakan itu padaku? Kamu pikir aku langsung percaya dengan dengan ucapan kamu itu?! Tidak Devan!aku tahu sikap dan sifat kamu itu seperti apa!" ucapnya seraya menyentuh pundak Devan sembari mendorongnya pelan


Devan mendengus dengan kesal...


" Apa mesti aku bicara dengan kamu kalau aku memiliki seorang kekasih, kita berdua tidak ada hubungan keluarga, buat apa aku mengatakannya padamu!" Balas Devan.


" Devan! kamu tidak bisa melarang aku untuk menjenguk dia, walaupun aku baru mengenalnya hari ini, dan dia tidak mengenalku,tapi jika dia tahu aku adalah sang penolongnya,dia pasti ingin bertemu denganku, ditambah lagi aku ingin lebih dekat mengenalnya, apakah ada masalah denganmu? walaupun itu kamu mengatakan dia adalah kekasih kamu, dengarlah Devan! selama kamu dan dia tidak ada ikatan suami istri aku masih berhak untuk mendekatinya!" ucap Vino sembari tersenyum.


" Aku sudah memperingati kamu, tugas kamu sampai di sini saja, tidak ada lagi urusan kamu dengannya! Apakah pantas seorang pengusaha besar mau merebut kekasih teman bisnisnya.?!" Ucap Devan menyunggingkan senyum disudut bibirnya.


" Apa teman bisnis? aku dan kamu tidak ada teman bisnis! aku dan kamu adalah saingan dalam berbisnis! baik itu tentang perusahaan dan bersaing mendapatkan wanita yang baru saja aku antarkan ke rumah sakit ini!" ucapnya sembari tersenyum lagi dengan sinisnya ke arah Devan.


" Ya! memang saingan bisnis! Apa pantas kalau kamu itu merebut kekasih saingan bisnis kamu hah?! Apa kata dunia?! kalau sampai benar terjadi pasti kamu akan bertambah malu!!" ucap Devan sembari tersenyum santai menanggapi ucapan dari Vino.


Vino pun kemudian mendengus dengan kesal, dia pun langsung berlalu dari hadapan Devan dan menuju ke arah parkiran mobilnya, beberapa saat kemudian mobil Vino pun meninggalkan halaman rumah sakit dengan diiringi pandangan Devan.


Devan pun langsung menghela nafasnya dengan pelan sambil berucap.


" Ucapan Vino ini harus aku tanggapi dengan serius, karena omongan dia bukan sekedar omongan, aku tahu dengan sifatnya itu bagaimana, aku tidak ingin Rania jatuh ke tangannya, mulai saat ini aku harus eksklusif menjaga Rania." ucapnya sembari melangkah menuju ke arah ruangan di mana Rania dan yang lainnya berada.


Saat Devan memasuki ke ruangan itu, mereka semua menatap ke arah Devan terlihat wajah Devan yang sepertinya baru saja mengeluarkan emosinya, William pun kemudian mendekati Pak Bosnya itu.


" Ada apa Pak Bos? kenapa wajah Anda sangat seperti itu?"

__ADS_1


" Tidak ada apa-apa, aku tadi baru bicara dengan Vino aja." Jawab Devan sembari mengusap wajahnya dengan sedikit pelan.


" Masalah apa yang terjadi dengan pak Vino Bos? apakah Pak Vino membuat Pak Bos emosi?" tanya William.


Devan hanya menghela nafasnya dengan pelan.


Kemudian Tania mendekati mereka


" Maaf Pak Devan, William, saya mengantarkan Mbak Uti pulang dulu, nanti saya balik lagi ke sini, saya minta tolong dengan kalian jangan pulang terlebih dahulu, sebelum saya datang." ucap Tania dianggukan oleh Devan dan William.


William kemudian mengantar Tania ke luar ruangan.


" Cepat kamu kembali ke sini ya." ucap William dianggukan oleh Tania.


William hanya memandangi langkah Tania dan Mbak Uti menjauh dari ruangan Rania.


Devan mendekati Rania Dia kemudian duduk di samping ranjang rawat inapnya Rania tanpa sadar dia pun langsung menyentuh tangan Rania dia menatap ke wajah cantik Rania walaupun wajah itu terlihat sedikit pucat dikarenakan keterkejutan Rania saat terjadi kecelakaan itu yang menimpanya.


" Akhirnya ada juga yang melelehkan gunung es ini " ucapnya dalam batinnya, sembari menyunggingkan senyum diwajahnya.


Devan pun kemudian tersadar setelah dia melihat di sampingnya ada sosok William.


" Sejak kapan kamu masuk ke dalam?"


" Sejak tadi Pak Bos, tapi Pak Bos tidak menyadarinya." Ucap William sembari terkekeh pelan.


Devan yang masih memegang tangan Rania pun kemudian langsung melepasnya dan dia pun langsung berdiri dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya dan menatap William yang tersenyum-senyum padanya.


" Udahlah Pak Bos jangan jual mahal seperti itu, di ruangan ini cuma kita berdua aja yang ada, Raniakan sedang tertidur jadi dia tidak mengetahui kalau Bos sudah memegang tangannya, mulut ini bisa terkunci kok pak Bos." ucap William sembari mengekspresikan tangannya untuk menutup mulutnya Devan hanya menatap sesaat ke arah William kemudian dia kembali menatap ke arah Rania.


" Siapa yang berbuat seperti ini pada Rania?" Ucapnya pelan.


" Maaf Pak Bos kata Mbak Uti yang tadi diantar Tania itu, mengatakan kalau dia bisa dijadikan saksi akan kecelakaan yang menimpa Rania, dia melihat pasti kedua orang itu sengaja mencelakai Rania dan dia juga sempat mengabadikan kendaraan mereka." Ucap pak William.

__ADS_1


Mendengar ucapan William Devan pun langsung menatap serius ke arah William, William hanya menganggukan kepalanya dan kemudian menyodorkan ponselnya ke arah Devan.


Devan pun mengambil ponsel tersebut dan mengawasi kendaraan itu, dia pun memperbesar sedikit foto tersebut dan dia mengenali salah satu dari orang yang menggunakan kendaraan itu.


" Saya kenal dengan salah satu dari mereka ini." ucap Devan.


" Apa Bos? Pak Bos mengenalinya?"


Devan menganggukkan kepalanya, Kemudian dia menyerahkan ponsel William kembali, dan William mengambil kembali ponselnya dan memasukkannya ke dalam saku celananya.


Devan mengambil ponselnya dan dia melangkah keluar untuk menghubungi seseorang, beberapa saat Devan di luar ruangan Rania, dia pun langsung memasuki ruangan kembali.


" Kamu tenang aja Rania, semuanya akan beres di tanganku!" ucap Devan sembari menatap kembali ke arah Rania yang masih betah menutup matanya itu.


" Rencana Bos sekarang bagaimana? Kalau saya mau mencari tahu dengan teman saya tentang insiden ini."


Devan menoleh ke arah William.


" Kamu tenang aja, semuanya akan beres, mereka akan ditemukan dan mereka pasti akan mengatakan siapa yang menyuruh mereka untuk mencelakai Rania." ucap Devan, William pun menganggukan kepalanya.


Kemudian mereka berdua duduk di kursi yang ada di ruangan tersebut, hening! tidak ada suara sama sekali, tidak berapa lama mereka duduk dengan meresapi keheningan di ruangan itu, pintu ruangan itu pun terbuka, ternyata Tania yang datang, Tania pun kemudian menemui mereka yang sedang duduk itu.


" Maaf Pak Devan, sudah mengganggu waktunya Anda, untuk menunggu saya sampai kembali ke ruangan ini." ucap Tania.


Devan hanya tersenyum.


" Baiklah kalau kamu sudah ada di sini saya akan permisi, William kamu temani Tania, saya mau permisi dulu karena ada urusan yang perlu saya selesaikan." Ucap Devan.


" Tapi Bos bagaimana sama Bos?"


" Saya akan baik-baik saja, temani aja Tania kasihan Tania sendirian di sini, kalau terjadi apa-apa dengan Rania tolong kabari saya." ujarnya sembari berdiri dan langsung melangkah menuju ke arah pintu dan menghilang di balik pintu tersebut.


Devan kemudian melangkah menuju ke arah mobil pribadinya dan beberapa saat mobil itu pun meninggalkan halaman rumah sakit itu.

__ADS_1


__ADS_2