
Setelah kepergian Vino Devan kemudian mendekati Rania, Rania menatap ke arah Devan,tapi dia tidak mengeluarkan suara sama sekali, Devan kemudian mengangkat tubuh Rania agar kembali seperti semula di tempat tidurnya itu.
" Maaf Pak Devan, katanya Bapak ke kantor polisi? kenapa bapak kembali lagi ke sini?" tanya Rania memberanikan diri bertanya pada Devan yang hanya diam seribu bahasa itu, setelah mengalami kemarahan terhadap Vino.
Devan hanya menghela nafasnya dengan pelan dan mengambil kursi yang tidak jauh dari tempat tidur Rania, dia pun kemudian duduk, namun dia tidak langsung menjawab pertanyaan dari Rania itu, dia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi tersebut dan menatap ke arah Rania, saat Devan menatapnya Rania jadi salah tingkah, dia pun kemudian mengerjakan pekerjaan yang tidak penting seperti menarik selimutnya dan menutup sebagian wajahnya. Karena dia merasa Devan masih marah dengannya.
" Apakah Vino sempat memegang kamu?" tanya Devan pada Rania.
" Eh buset, Bos manja ini malah bertanya denganku, pertanyaanku dia tidak menjawabnya sama sekali." Gumamnya.
Rania tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
" Baguslah kalau seperti itu! Lain kali kalau ada Vino, kamu harus menghindarinya, karena saya tidak ingin kamu berhubungan dekat dengannya." ucapnya dengan tegas.
" Memangnya kenapa? kalau saya berhubungan dekat dengan dia, karena saya kan tidak ada yang melarang, lagi pula dia cuma ingin berteman dengan saya. Terus kenapa Anda yang memarahi saya untuk berteman dengannya, serta bertemu dengan lelaki itu dan di haruskan menghindarinya." Protes Rania
" Karena kamu adalah kekasihku!" ucap Devan tanpa mengalihkan pandangannya ke arah Rania, Rania mendengar itu pun langsung terkejut dia menatap lekat ke arah Devan.
" Maksud Anda kekasih, saya nggak mengerti, saya adalah karyawan Anda yang bekerja untuk Anda, kenapa langsung dibilang kekasih." Ucapnya merasa tidak yakin dengan perkataan lelaki yang ada di hadapannya sekarang ini.
Devan kemudian berdiri dari duduknya dan mendekati Rania, Rania menatap ke arah Devan tapi dia tidak menggeser tubuhnya seperti yang dia lakukan saat Vino mendekatinya, Devan mendekatkan wajahnya, Rania pun terdiam.
__ADS_1
" Ayo kita menikah..!" ucap Devan, Rania terkejut, dia pun membelalakkan matanya dengan lebar, jika seandainya tidak ada kelopak matanya itu, mungkin matanya itu sudah jatuh ke lantai, dan mulut Rania yang terbuka lebar. Devan pun kemudian menyentuh dagu Rania untuk menutup mulutnya dan memberi sentilan di jidat Rania agar mata Rania tidak terlalu terbuka lebar.
" Aawww!" Ucap Rania mengaduh pelan sembari menggosok jidatnya tersebut.
Devan kemudian beralih dari Rania, Rania menghela nafasnya dengan pelan, kemudian dia menatap Devan sembari cemberut.
" Saya tidak mau menikah!" ucapnya sambil mensedekapkan tangannya di dada dan menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidurnya tersebut.
Devan kemudian membalikkan tubuhnya kembali ke arah Rania dan semakin dekat membuat Rania tidak bisa bergerak lagi ke sana kemari, karena dia merasa terkunci dengan kedua tangan Devan yang menyandar di samping kiri dan kanannya.
" Apa yang ingin Anda lakukan pada saya, sehingga membuat Anda bersemangat sekali mendekati saya seperti ini." ucap Rania karena jarak wajah Rania dan wajah Devan tidak terlalu jauh, Rania pun kemudian memalingkan wajahnya ke arah kiri, menghindari wajah Devan yang dekat dengannya itu sembari menyipitkan sebelah matanya, kemudian Devan beralih dari wajah Rania sembari tersenyum.
" Kamu tidak membaca kontrak kerja yang kamu tanda tangani itu ?!"
" Jangan-jangan kamu amnesia setelah kecelakaan itu, sehingga kamu tidak mengingat sama sekali tentang isi kontrak kerja yang sudah disepakati."
" Iya, saya tahu, tapi di kontrak itu tidak ada pekerjaan untuk menikah terlebih dahulu, tapi hanya tentang pekerjaan yang sudah ditetapkan." sangkalnya sembari menatap ke arah Devan dengan muka cemberutnya itu.
Devan kemudian tersenyum kembali sembari membasahi bibir bawahnya dengan lidahnya, Rania menatap wajah Devan yang semakin tampan dengan gayanya seperti itu.
Devan kemudian melanjutkan bicaranya kembali, Dia mendekatkan wajahnya ke arah Rania dan Rania pun spontan menutup kedua matanya, karena hembusan nafas Devan sangat terasa di wajah Rania membuat jantungnya berdebar dan badannya terasa panas dingin karena baru kali ini wajah seorang lelaki berada sangat dekat di wajahnya, degupan jantungnya semakin kencang saat Mata Rania yang terpejam merasakan Hidungnya tersentuh hidung Devan, Devan menikmati wajah cantik wanita yang ada di hadapannya itu, dia pun tersenyum manis ke arah Rania, tapi sayang Rania tidak melihatnya karena mata Rania terpejam.
__ADS_1
" Pihak pertama bisa melakukan apa saja pada pihak kedua." ucapnya
" Jadi Aku bisa saja melakukan sesuka aku denganmu, salah satunya menikah denganmu, dan kamu akan tinggal bersama denganku."
Rania kemudian membuka matanya dan Devan pun tersenyum padanya, membuat Rania tak berdaya karena senyuman Devan yang sangat menggoda hatinya dan perasaannya yang tidak menentu saat ini, antara menolak dan mengiyakan ucapan lelaki tampan yang ada di hadapannya itu.
" Setelah hari ini kamu mendapatkan keterangan dari Dokter tentang keadaan kamu, aku tidak ingin kamu berlama-lama tinggal di rumah sakit ini lagi, kamu akan dirawat di rumah setelah kamu sembuh, kita akan segera menikah." ucapnya kembali sembari berdiri dari duduknya dengan posisi kedua tangan berada di saku celananya, tapi kedua bola matanya masih lekat menatap ke arah Rania.
Rania memasang muka cemberutnya dan tidak mau menatap ke arah Devan Dia memalingkan wajahnya ke arah kiri sembari memainkan jari jemarinya.
" Kenapa aku mesti menandatangani kontrak kerja itu sih, kalau akhirnya aku akan terperangkap dan terjerat di kehidupan Bos manja ini." gumamnya dalam batin sembari memainkan bola matanya ke kiri dan kanan dengan wajahnya yang cemberut itu.
" Tapi ini terlalu cepat dan ini juga tidak ada dalam bayangan saya yang seharusnya saya bekerja dan menghasilkan uang yang banyak untuk menebus rumah peninggalan kedua orang tua saya, tapi impian itu kandas di tengah jalan kalau saya menikah dengan Anda." ucapnya sembari menundukkan kepalanya dan menatap jari jemari tangannya yang masih memainkan ujung selimutnya itu.
Devan tersenyum.
" Walaupun kamu sudah menikah denganku, kamu tetap akan bekerja setiap hari denganku, kerjaanmu ringan, cuma selalu ada di sisiku tidak boleh pergi seorang diri dan jangan pernah bertemu dengan Vino." Ucapnya sembari mensedekapkan tangannya dan berjalan ke ujung tempat tidur Rania dan kemudian memegang ujung ranjang tersebut sembari menatap terus ke arah Rania.
" Tapi setidaknya Anda harus memberikan saya waktu untuk memantapkan hati dan bersiap-siap untuk tinggal di rumah Anda, karena saya takut kalau seandainya saya tidak bisa menyesuaikan diri berada di rumah Anda, karena saya dan Anda baru saja bertemu dalam hitungan hari." ucapnya masih dengan posisinya tetap menundukkan kepalanya itu
" Kamu tidak perlu menyiapkan apapun ataupun memantapkan hatimu, kamu hanya selalu berada di sampingku dan tinggal bersamaku untuk selama-lamanya dan tidak boleh keluar sendirian lagi di saat malam tiba terkecuali bersama denganku, kebutuhan dan keperluanmu aku yang akan mencukupinya, kamu bisa berkata apa saja yang kamu inginkan yang bisa membuat kamu bahagia aku akan memenuhinya."
__ADS_1
Rania tidak bersuara dia hanya menatap ke arah Devan dan memonyongkan mulutnya sembari kedua tangannya menusuk-nusuk pipinya sendiri, Devan yang melihat ulah Rania itu pun hanya bisa tersenyum tersembunyi tanpa Rania mengetahui arti senyuman Devan itu.
Devan sengaja berbuat seperti itu agar Rania tidak diganggu oleh Vino lagi, di sisi lain Devan juga merasakan kalau ia merasa tenang dan bahagia berada di samping Rania, sebenarnya dia juga tidak memahami akan perasaannya terhadap Rania, kalau dikatakan cinta dia juga tidak tahu, Apakah dia sudah jatuh cinta dengan Rania,tapi dia merasa sakit hati dan merasa marah kalau Rania didekati oleh Vino,dan saat dia mengatakan ingin menikahi Rania Rasa bahagia dirasakannya dan sulit untuk diungkapkannya