
Devan langsung mendekati Mamahnya, dokter pribadinya langsung berdiri dari sisi tempat tidur dan mempersilahkan Devan duduk disamping Mamahnya itu, dia meraih tangan Bu Mellany dan menggenggamnya.
" Mamah...maafkan Devan karena membiarkan Mamah sampai pingsan seperti ini, sadarlah Mah, Devan tidak ingin Mamah kenapa-kenapa." Ucapnya sembari membelai tangan sang Mamah.
" Hehehe....yang harusnya minta maaf adalah Mamah nak, karena Mamah sudah terlanjur suka dengan gadis itu, kamu harus dapatkan dia nak, Mamah yakin kamu akan bahagia dengannya." Ucap Bu Melalany di batinnya dalam keadaan tertidur kepura-puraan hanya untuk mengerjain sang anak.
" Paman, kapan Mamah akan sadar?"
" Paman juga heran, kenapa Mamah mu belum sadar-sadar juga, padahal paman sudah memberikan obat yang ampuh untuk orang yang pingsan mendadak seperti Mamah mu, tapi kenapa lama benar ya, dalam ilmu kedokteran yang paman pelajari tidak ada yang seperti ini, apa penyebab Mamah kamu ini pingsan secara mendadak, gagal rasanya paman jadi seorang dokter." Ucapnya sembari mensedekapkan salah satu tangannya didada dan satunya berada didagunya sembari berekpresi bingung agar menyakinkan Devan kalau Mamahnya itu terjadi sesuatu yang sangat parah.
" Jadi solusinya gimana paman? Devan tidak ingin melihat Mamah seperti ini."
" Tenang Devan, paman akan berusaha mencari tahu pada teman paman tentang apa yang sebenarnya yang terjadi pada Mamahmu ini." Ucapnya sembari berjalan keluar dan seakan-akan menelpon seseorang yang dikatakannya temannya itu. Dia berpura-pura berbicara didepan pintu kamar Ibu Mellany dan seakan-akan terkejut dan menoleh langsung kearah Devan dan Devan pun sontak bertanya-tanya ada apa sebenarnya. Setelah selesai bicara dia pun langsung mendekati Devan dan memasukkan kembali ponselnya disaku jas dokternya, padahal dia tidak berbicara sama siapapun dan dia hanya berbicara sendiri, karena dia sudah masuk dalam skenario sandiwara yang dibuat Ibu Mellany.
" Ada apa paman? Apa kata teman panam?" Tanya Lana seakan-akan panik akan wajah dokter Kris.
" Hemmmm...begini Lana, Devan menurut keterangan teman Paman, tapi ini belum pasti juga sih, Mamah kamu itu terkena suatu virus, hem...virus langka, yang seakan-akan bisa fatal kalau tidak segera diobati, virus itu sebuah virus yang menyerang pada mata, dan lari keotak dan membuat tubuh tidak bisa berkomunikasi secara langsung dan menghilangkan kesadarannya, namun virus itu bisa disembuhkan."
" Apa paman?virus langka? Bagaimana cara menyembuhkannya?" Tanya Devan merasa khawatir dan tidak ingin sang Mamah pergi meninggalkannya.
" Mamah!! Bangun Mah..." Ucap Lana sembari menangis dan bersuara ditelinga sang Mamah, karena Devan yang fokus mendengarkan keterangan paman dokter itupun tidak menyadari kalau Mamahnya itu bersuara pada Lana, karena posisi Lana menutupi sebagian wajah bu Mellany jadi Devan tidak melihat aktifitas mereka berdua.
Ibu Melani berbisik pelan pada Lana.
" Jangan keras-keras bicaranya telinga mamah sakit karena suara kamu, dan lagi rambut kamu singkirkan dari hidung Mamah, karena gatal dan bisa membuat Mamah bersin." Ucap pelan ditelinga Lana.
Lana pun terkejut dan langsung merubah posisi kepalanya menghadap sang Mamah dan tertawa tidak bersuara membuat tubuhnya berguncang dan barulah Devan menyadari melihat posisi adiknya yang sedang merebahkan kepalanya didada sang Mamah, Devan mengira sang Adik menagis tanpa suara, Devan langsung meraih pundak sang Adik dan membangunkannya.
" Dek... bangun dek, kakak akan berusaha sekuat tenaga akan kesembuhan Mamah." Ucapnya.
Lana terkejut dan langsung menghentikan tawa pelannya itu, dan langsung saja dia memeluk kakaknya dan menangis tanpa Air mata dengan ekpresi kecil kesedihannya dan rasa terpukulnya sembari mengacungkan jempolnya pada paman dokternya, dan paman dokternya pun menurunkan kacamatanya sedikit dan membalas mengacungkan jempolnya sambil mengedipkan matanya.
Setelah terlihat Lana agak tenang, Devan langsung melepaskan pelukan sang Adik padanya dan Lana pura-pura menghapus Air matanya.
__ADS_1
" Bagaimana paman cara mengobati Mamah? Apakah kita harus membawanya keluar Negeri?"
" Tidak Devan, tapi memang sepertinya mengarah pada Virus langka tersebut, belum pasti juga sebenarnya sebelum diteliti lebih lanjut, virus ini menyerang kemata, karena ada yang dilihatnya yang membuat si penderita virus ini terserang seketika, misalnya Mamah kamu itu melihat sesuatu yang aneh, yah bisa saja dia melihat sesuatu yang membuatnya tidak menyangka begitu saja." Ucap paman Dokter sangat serius sekali.
Devan terdiam...
" Cara mengobatinya, kalian berdualah sebagai anaknya yang harus membahagiakan hati dan perasaan Mamah kamu, apapun keinginannya kalian harus memenuhinya dan jangan sampai ditolak keinginananya, karena hanya dengan cara itu memangkas virus langka itu." Ucapnya lagi penuh keyakinan memberikan keterangan pada Devan.
" Baik paman dokter, kami akan memenuhi apa saja keinginan Mamah." Ucapnya.
" Satu lagi jangan pernah menyakiti hati dan perasaan Mamah kalian berdua." Ucapnya dianggukkan Devan dan Lana.
" Yes! Akhirnya si Kris memang bisa diandalkan, pintar juga Kris mengatakan kalau aku kena virus langka, yaiyalah virus langka, virus ingin cepat dapat mantu hahahaha..." Ucap bu Mellany dalam batinnya tertawa senang diatas kegalauan sang anak.
Devan kemudian mendekati sang Mamah dan Lagi-lagi meraih tangan Mamahnya sambil berkata.
" Mah, sadarlah Mah, Devan akan menuruti apa yang Mamah inginkan, dan Devan akan membahagiakan Mamah..." Ucapnya sembari masih menggenggam tangan sang Mamah.
" Devan..." Panggilnya.
" Mamah, Alhamdulillah Mamah sudah sadar." Ucap Devan terlihat senang.
Ibu Mellany terlihat tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
" Kapan kamu datang nak?"
" Udah Mamah istirahat aja dulu, jangan terlalu memikirkan yang lain, nanti kita bicara lagi." Ucapnya sembari membenarkan selimut Mamahnya.
" Baik lah kalau begitu Mbak Mel, berhubung Mbak sudah siuman dan semoga cepat sembuh ya Mbak, saya permisi dulu." Ucap paman Dokter sembari tersenyum dan dianggukkan Bu Mellany dan Devan mengantarkan dokter Kris keluar.
Lana lemudian mendekati Bu Mellany sembari tersenyum.
" Mamah hebat banget, hebat banget...mampu membuat kak Devan cemas apalagi saat Lana bilang Mamah melihat sesuatu diponsel Mamah, kak Devan mengeluh karena tidak bisa membuka pasword ponsel Mamah hehehehe..." Ucapnya sembari terkekeh, dan mereka berdua sama-sama terkekeh.
__ADS_1
Devan kemudian masuk kembali kekamar Mamahnya itu, dan mereka berdua, Lana dan Bu Mellany mulai melancarkan Aksinya kembali. Devan kemudian menarik kursi rias sang Mamah dan duduk disamping Bu Mellany.
" Mah, ada apa sebenarnya sama Mamah, dan ada apa juga di ponsel Mamah?" Tanya Devan sembari meraih tangan Mamah tercintanya.
" Hem.. Mamah terkejut dengan sebuah video yang dikirimkan seseorang pada Mamah." Ucap Bu Mellany seraya menoleh kearah anaknya.
" Sebuah video?" Tanya Devan heran.
" Iya Nak, tentang kamu."
" Apa Mah tentang Devan,apa Mah videonya."
Lana kemudian memberikan ponsel Mamahnya itu dan dengan cekatan bu Mellany membuka paswordnya dan memberikanya pada Devan dengan sebuah Video yang ada diponselnya, Devan terkejut melihat rekaman video CCtv itu.
" Astaga! Rupanya vodeo Cctv ini yang membuat Mamah pingsan, siapa yang mengirimkannya pada Mamah, aku harus mencari tahu, karena tidak mungkin rekaman ini sampai begitu saja sama Mamah." Gumamnya.
" Tapi...sebenarnya cantik juga gadis yang ada di video rekaman Cctv ini." Ucapnya tersenyum.
" Carilah dia nak, karena Mamah tidak ingin keluarga kita malu kalau sampai rekaman itu beredar."
" Tapi mah..."
" Tidak ada tapi-tapian..."
" Devan dan gadis itu tidak melakukan apa-apa mah, itu hanya tidak sengajaan Devan, karena saat itu posisi Devan menginjak rok panjang yang digunakan gadis itu."
" Tidak ada tapi-tapian!!" Ucap bu Mellany lagi sembari membuang mukanya dari Devan.
" Kak, kakak sudah lupa ya apa yang dikatakan paman dokter tadi." Ucap Lana.
Devan menoleh sesaat pada sang Adik dan dianggukkan Lana, diapun mengusap wajahnya, bukan karena dia tidak ingin mencari tahu dimana sang gadis itu, tapi karena dia tidak ingat lagi siapa nama gadis itu dan dia juga tidak mengetahui lagi dimana berkas-berkas itu diletakkan William.
" Baiklah Mah, Devan akan mencarinya, ya sudah Devan mau kekantor dulu untuk mencari tahu data si gadis itu, Mamah istirahat aja dulu ya, secepatnya Devan akan beritahu Mamah, jaga Mamah ya dek..." Ucapnya sembari meraih tangan bu Mellany dan mencium punggung tangan tersebut dan menyentuh pundak sang adik, diapun langsung keluar dari kamar Mamahnya itu dan menuju kemobilnya, beberapa saat kemudian mobil pribadi Devan meninggalkan rumahnya menuju kearah kantor.
__ADS_1